content detail

Ibu, Membacalah Bersamaku

Post by: 29/03/2015 0 comments 1094 views
sumber: http://blogs.kqed.org/
sumber: http://blogs.kqed.org/

“Ini kesalahan saya karena tidak punya waktu menemani anak belajar bersama”. Mungkinkah kalimat itu diucapkan orang tua ketika mendapati rapor anaknya tidak sesuai harapan? Program DEAR memungkinkan orang tua punya keberanian untuk menyatakan hal itu.

Kalau berbicara tentang pendidikan, mengajar anak didik, semua orang menjadi kedengaran begitu pintar, cerdas dan benar. Tetapi sesungguhnya, yang paling memahami anak itu adalah orang tua dari masing-masing anak itu sendiri. Sayangnya alasan kesibukan seolah membuat kita menjadi lalai dan lupa bahwa kita memiliki anak-anak  yang menjadi alasan kenapa kita bekerja keras.

Saya ingin berbagi konsep pekembangan baca-tulis di Austaralia. Saya adalah seorang ibu dari dua orang anak usia sekolah dasar. Tulisan ini adalah refleksi dari pengalaman menjadi orangtua yang memiliki anak disekolah dasar di kelas satu dan kelas tiga, di antara kesibukan bekerja paruh dan kesibukan menulis disertasi S3 di Monash University, Melbourne, Australia.

Suatu ketika saya mendapat pamflet yang isinya, orangtua diminta secara sukarela untuk mengikuti program “DEAR” (Drop Everything and Read ). DEAR adalah program yang awalnya dikembangkan dari ide Beverly Cleary, seorang pustawakan asal Amerika dengan tujuan untuk meningkatkan budaya membaca dan membuat kegiatan membaca itu jadi lebih menyenangkan jika dilakukan bersama orang tua, teman, kakak, atau siapa pun di sekeliling kita.  Awalnya dimulai dengan memperingati hari lahir Beverly setiap bulan April, kemudian dijadikan kegiatan rutin yang berjalan sepanjang tahun di hampir semua sekolah di Amerika, Eropa, termasuk Australia. Makna atau inti slogan ini adalah tinggalkan semua pekerjaan, duduk sejenak, dan mari membaca bersama.

Program harian ini berlangsung selama  15-30 menit sebelum bel masuk atau pulang. Tujuannya bukan hanya mengajar anak membaca, tapi juga menciptakan minat membaca dan melatih anak berpikir secara kritis melalui bacaaan yang dibaca. Orangtua masuk ke dalam kelas, duduk di dekat anak, mendengarkannya membaca, meluruskan ucapannya dan berdiskusi tentang bacaan tersebut. Dan luar biasanya, orangtua tidak hanya duduk mendengarkan anak sendiri tapi juga mendengarkan anak-anak lainnya. Jadi kita bisa membuat perbandingan sejauh mana pencapaian belajar anak kita dengan adanya kesempatan duduk bersama kawan-kawannya.

Selain memberikan peran yang aktif kepada oarng tua, kegiatan DEAR juga bisa menilai langsung bagaimana perkembangan membaca sang anak. Dengan kegiatan ini pula orang tua menjadi dekat dengan guru dan sekolah. Dari program ini saya belajar memhami bahwa perkembangan baca-tulis setiap anak itu berbeda dan tidak bisa disamaratakan.

Adanya program DEAR ini membuka mata saya, bahwa membaca bukan hanya melafalkan kata tapi juga memahami makna di balik kata itu, dan itu tidak bisa terwujud jika tidak ada diskusi antara orang tua dan anak tentang bacaan tersebut. Diskusi membaca inilah yang melatih anak untuk berpikir kritis melalui kesempatan mendengarkan pendapat anak dan berdialog tentang bacaan tersebut.

Program  ini membuat saya menjadi begitu bangga akan anak saya, meskipun cara membacanya masih terbata-bata.  Hal yang mebuat saya bangga karena kemampuannya berpikir secara kritis dan menyampaikan pendapat berkembang dengan pesat.  Dengan membaca kemampuan berpikir kritis dan kreatif, anak dilatih melalui diskusi dan dialog secara terbuka. Kreativitas anak-anak dikembangkan dengan cara memberikan pertanyaan, melemparkan ide, dan mengarahkan berbagai kemungkinan yang dapat terjadi di luar teks cerita. Proses ini melatih daya kreatif dan imajinasi anak.

Membaca secara rutin dengan ditemani orang tua juga membuat anak lebih nyaman dan terbiasa mengemukakan pendapat, ide, saran secara sistematis dan beretika. Mereka juga diajarkan untuk mendengarkan pendapat, mendebat dan mebangun pendapat sendiri berdasarkan cerita  atau bacaan. Selain cara berpikir kreatif dan kritis yang dikembangkan juga sikap pribadi dan kemampuan bersosialisai serta etika berpendapat. Anak-anak menjadi berempati, terbiasa untuk memberikan kesempatan yang lainnya untuk berbicara, mengemukakan pendapat, dan menghargai pendapat orang lain.

Program ini sangat menarik untuk dikembangkan di Indonesia. Anak saya, untuk ukuran pendidikan dasar di Indonesia mungkin bukan anak yang “pintar”, tetapi saya bangga menjadi orangtua mereka karena saya ada dan terlibat dalam proses mereka belajar. Saya menikmati dan menjadikan setiap  waktu itu menjadi indah dan bermakna di sela kesibukan yang begitu padat. Pengalaman itu mengajarkan saya untuk belajar makna pendidikan dasar secara sederhana.

Pendidikan adalah sebuah proses dan produk. Dua kata, tapi yang selalu dingat  hanya satu kata, yaitu ”produk”.  Dua kata ini, dalam benak kita menjadi tanggung jawab sekolah dan guru. Selama ini kita mempercayai bahwa proses belajar hanya terjadi di sekolah, di dalam kelas dan produknya adalah rapor dengan nilai-nilai yang membanggakan. Namun, kalau nilainya buruk, maka tidak jarang sekolah atau guru yang disalahkan. Pendidikan dasar adalah tanggung jawab guru dan orang tua. Mereka harus saling bekerja sama untuk mengembangkan kemampuan anak-anak. Orang tua yang paling dekat secara visual adalah orang yang sebenarnya paling bertanggung jawab untuk mebuat isi kertas itu menjadi lebih terlihat indah.

 

Tulisan merupakan rangkuman dari tulisan Andi Armawadjidah Marzuki (menyelesaikan PhD di Faculty of Education, Monash University, Victoria, Australia) yang dimuat dalam buku Sekolah itu Asik (2014). Tulisan lengkap dapat dibaca dalam buku tersebut.

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Loading...