content detail

“I really miss Chris and my friends”

Post by: 10/03/2015 0 comments 863 views
sumber: http://www.childhoodaustralia.com.au/
sumber: http://www.childhoodaustralia.com.au/

Sekolah di mancanegara masih merupakan suatu keistimewaan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Maka ketika mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan studi di Australia, alangkah girangnya hati saya. Bukan semata karena kepentingan saya mendapatkan kesempatan, tetapi juga karena terbukanya kesempatan bagi keluarga kecil kami untuk mengecap pengalaman hidup di Negeri orang. Tentu ini merupakan pengalaman baru dan menantang bagi putri kami, Vania Nayla Nur Azizah, manakala ia harus melanjutkan sekolahnya di sini.

Vania mulai sekolah pada April 2013. Hari pertama sekolah ia tidak bisa lepas dari saya dan istri. Chris dan Kay, dua guru di kelas prep, tidak keberatan bila kami ikut di dalam kelas. Hari pertama Vania yang begitu malu-malu ketika masuk ke kelas, bahkan sesekali menangis bila setelah mengantarnya kami langsung pulang, sudah hampir setahun berlalu. Kini, Vania tumbuh berkembang di lingkungannya yang baru penuh dengan senyum ceria, percaya diri yang tinggi dan penuh keramahtamahan.

Setidaknya ada beberapa hal yang barangkali membuat sekolah demikian mengasyikkan bagi Vania. Pertama,Home Reading. Saat hari pertama masuk, Chris memberikan sebuah folder. Folder tersebut berisi sebuah buku yang di bagian dalamnya berisi kolom yang berisi tanggal dan judul buku, comment Vania, pilihan emoticon,  dan jumlah hari. Di bagian tengah buku, ada halaman yang tertempel stiker. Stiker tersebut hanya bisa ditempel bila Vania telah membaca buku hingga mencapai angka yang ditorehkan. Pola pendidikan yang diterapkan melalui bacaan menjelang tidur ini tak pelak memberikan dampak sangat positif. Kosa kata yang dimiliki bertambah, sementara itu, wawasan dan imajinasinya tak berbatas. Hal ini memiliki pengaruh pada cara mengekspresikan pendapatnya sendiri mengenai suatu hal. Yang lebih mengejutkan adalah minat bacanya yang terus bertambah dari hari ke hari.

Kedua, cara sekolah memberikan apresiasi setiap kemajuan perkembangan anak. Setiap bulan atau term, akan selalu ada penghargaan untuk anak-anak yang berprestasi. Di sekolah Vania dinamakan Shining Star Award. Definisi berprestasi ini tidak selalu nilai atau angka. Tapi mencakup berbagai perkembangan studi anak-anak, misalnya penghargaan “for her happy, helpful ways in the classroom

Ketiga, pelibatan orang tua dalam pendidikan anak. Sekolah mengadakan pertemuan rutin untuk membangun partisipasi orang tua dalam pendidikan anak di sekolah. Tiga kegiatan yang rutin diadakan adalah Family Breakfast, Working Bee dan Garden partyFamily Breakfast adalah kegiatan sarapan bersama seluruh siswa sekolah dengan orang tuanya masing-masing. Acara ini sejatinya hanya semacam acara keakraban antar stakeholder sekolah. Selanjutnya, working bee. Mudahnya  disebut sebagai gotong royong atau kerja bakti membersihkan sekolah dan kebun sekolah. Tujuannya hampir mirip dengan family breakfast, yaitu membangun keakraban antar warga sekolah sekaligus memupuk rasa memiliki terhadap sekolah. Sementara itu, Garden party merupakan pesta sederhana yang dirayakan untuk bersama-sama menikmati hasil kebun sekolah. Acara intinya selain makan-makan, akan ada performance dari siswa-siswa di bawah tenda kecil. Mulai bernyanyi hingga main gitar dan organ.

Suasana sekolah yang menyenangkan dan penuh keakraban ini membuat Vania begitu menikmati sekolahnya. ’I Have a lot fun today!’ demikian ia selalu berucap tatkala pulang sekolah. Ketika liburan panjang summer, ia selalu menanyakan kapan masuk sekolah lagi. ”I really miss my school, Chris, and all of my friends!” ucapnya. Kesan sekolah yang mengasyikkan di Australia dialami oleh banyak orang tua Indonesia lainnya yang anaknya sekolah di sini. Setiap proses di sekolah dilalui dengan sentuhan kemanusiaan untuk mendorong anak-anak didik menemukan dirinya sendiri melalui potensinya masing-masing.

 

Tulisan merupakan rangkuman dari tulisan Ahmad Imam Mujadid Rais (Postgraduate student di program Master of International Relations, Melbourne School of Government, University of Melbourne) yang dimuat dalam buku Sekolah itu Asik (2014). Tulisan lengkap dapat dibaca dalam buku tersebut.

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Loading...