content detail

Guru dan Murid Jadi Korban Sistem Pendidikan

Post by: 07/02/2018 0 comments 29 views

Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), Muhammad Nur Rizal, memberi pandangannya terhadap fenomena sikap buruk siswa terhadap gurunya dalam dunia pendidikan di Indonesia belakangan ini.

Baru-baru ini terjadi satu kejadian memilukan saat seorang murid melakukan pemukulan kepada seorang guru yang akhirnya merenggut nyawa sang guru. Sistem pendidikan menjadi salah satu faktor kuat yang dinilai mengakibatkan ini bisa terjadi.

Tentu banyak aspek yang harus dilihat dari kejadian ini. Dari aspek psikologi misalkan, efek otak remaja memang membutuhkan satu eksistensi diri.

Khususnya, dari satu bagian korteks yang memang membutuhkan efek-efek eksistensi dan kebahagiaan. Bila itu tidak didapatkan di sekolah, anak-anak tentu tidak memiliki ruang untuk membangun emosi secara seimbang.

Menurut pengamat pendidikan dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Muhammad Nur Rizal, hal itu dikarenakan anak-anak membutuhkan luapan, dan bila ketidakhadiran ruang itu di rumah sama seperti di sekolah, tuntutan itu semakin menguat. Baik dari sekolah, rumah dan mungkin masyarakat.

“Karena masyarakat itu hanya melihat mereka yang nilainya tinggi, sehingga anak ini merasa tidak punya eksistensi dan benefit kepada lingkungan sekitar, anak kemudian lari mencari aspek kebahagiaan itu,” kata Rizal saat dihubungi Republika, Senin (5/2).

Pengaruh Media Sosial

Sayangnya, lanjut Rizal, pencarian itu mungkin malah menemukannya ke suplemen lain yang tidak baik seperti kekerasan atau pemukulan. Terlebih, ada satu aspek lain yang menguatkan itu yaitu efek dari media sosial.

Terbukanya informasi turut mengakibatkan hal-hal seperti itu, mengingat berita yang dulu dibatasi saat ini begitu mudah diakses. Menengok ke belakang, di era Presiden Soeharto malah mungkin berita-berita itu tidak akan ditayangkan.

Rizal melihat, saat ini terjadi satu connecting cognitive karena kita semua terhubung satu sama lain melalui internet dan media sosial. Apalagi, dengan biaya internet dan teknologi yang semakin terjangkau.

“Kita semakin mudah menjangkau informasi itu, dan ketika kita memperoleh berita membunuh dan sebagainya itu biasa, karena diberitakan seolah itu biasa, anak-anak jadi lebih mudah memperoleh informasi kekerasan,” ujar Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) tersebut.

Ketika informasi itu mudah diperoleh, bukan tidak mungkin anak-anak memiliki ide kreatif yang terbilang negatif. Misalkan, anak memiliki pola pikir kalau pemukulan bisa dilakukan di luar rumah, perlawanan bisa dilakukan di dalam rumah, dan lain-lain.

Ia berpendapat, terbukanya hubungan kognitif dengan media sosial ini semakin meningkatkan kemungkinan kekerasan itu terjadi. Terlebih, seperti sekarang saat kemampuan berpikir kritis dan mencari eksistensinya tidak sehat secara emosi.

Pola Pikir Lama

Sebagai pendidik, Rizal melihat apa yang terjadi merupakan akumulasi mengingat teguran yang dilakukan sang guru kemungkinan berulang kali terjadi dan membuat emosinya terpendam. Dari sisi pendidik, mungkin pula sang guru memiliki pola pikir lama yaitu hak menegur.

“Tapi, ketika guru punya perspektif berbeda terkait karakter anak muda di era milenial, guru ini akan memandang apa yang dilakukan anak semata-mata negatif,” kata Rizal.
Padahal, tidur itu tentu merupakan suatu proses alamiah, tergantung bagaimana melihatnya. Karenanya, jangan-jangan pendekatan pembelajaran atau memang tidak tersalurkan stimulan-stimulan yang menantang otak anak, sehingga anak itu tertidur.

Artinya, banyak aspek yang harus dilihat karena guru perlu juga mencoba merubah gayanya mengajar, dari model lama ke model milenial. Sebab, anak milenial tidak bisa diceramahi melainkan lewat mentorship.

“Anak milenial itu tidak bisa dimarahi atau ditegur, tapi dibangun sisi positifnya, mereka tidak senang diungkit hal-hal negatifnya, tapi senang bila dibangun hal-hal positifnya,” ujar Rizal.

Artinya, guru di era milenial memang harus banyak memberikan apresiasi kepada anak atau murid. Sebagai manusia, mungkin mereka salah, tapi salah itu tidak harus selalu diungkit karena mereka tidak bisa menerima itu.

Sistem Pendidikan yang Kurang Adaptif

Selain itu, ia melihat, anak-anak di era ini memerlukan purpose of life, jadi ketika pengajaran harus dikaitkan dengan arti kehidupan kepada anak. Sehingga, penting bagi guru mengetahui latar belakang anak murid.

“Dengan mengetahui latar belakang anak, pengajaran nanti bisa dikaitkan dengan anak itu, itu tantangan pendidik, bagaimana anak dapat melihat pendidikan sebagai penyelesai persoalan-persoalan kehidupannya,” kata Rizal.

Menurut Rizal, kondisi itu yang terjadi saat ini, di mana sistem pendidikan malah mengalineasi pendidikan dengan persoalan nyata. Itu membuat pola pikir anak membenarkannya bebuat baik di sekolah, tapi berbuat seenaknya saat di luar sekolah.

Saat itu terjadi split personality, dan ketika personalitas negatif yang muncul, tentu anak bisa lepas kendali. Apalagi, ketika ruang emosi tidak dikelola dengan baik, dan saat itu muncul tentu bisa menghasilkan kekerasan.

Dulu, ia mengingatkan, ada tekanan sosial yang membuat anak tidak berani melawan guru, dan tekanan itu yang menghalangi anak melakukan kejahatan. Sekarang, ketika kognitif terbuka, ketakutan itu semakin berkurang.

Itu banyak dikarenakan anak yang semakin sering mendengar berita kekerasan, yang malah banyak diapresiasi kelompok-kelompok tertentu belakangan ini. Pola pikir anak malah senang karena diberitakan, dicari, seakan menjadi gangster, orang kuat atau sangat laki-laki.

Tanpa sadar, itu mempengaruhi ruang emosi, dan ketika split personality terjadi sangat mungkin kekerasan pula yang muncul. “Jadi, saya melihat guru dan murid jadi korban sistem pendidikan yang ada,” ujar Rizal.

Rizal melihat, sistem pendidikan yang dimiliki Indonesia sampai saat ini masih kurang adaptif dengan perubahan yang sangat cepat terjadi. Mulai dari perubahan ke era digital, sampai perubahan informasi yang begitu berlebih.

Penekanan sistem pendidikan yang ada dirasa terlalu terpacu kepada kognitif, apalagi kognitif itu berada di arah level rendah. Sistem pendidikan yang ada kurang menekankan pendidikan karakter dan daya juang.

“Mental kurang, dan kemiskinan aspek itu ada di sekolah-sekolah atau lembaga pendidikan Indonesia, dan ini bisa diisi secara salah melalui efek internet dan globalisasi,” kata Rizal.

Sumber: Guru dan Murid Jadi Korban Sistem Pendidikan | Republika

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Loading...