content detail

Guru Australia Isi Workshop Gerakan Sekolah Menyenangkan

Post by: 14/06/2015 0 comments 1152 views

Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) bekerjasama dengan Universitas Ahmad Dahlan, mengadakan workshopbertajuk Membangun “Dynamic and Positive Learning Environment” di Sekolah sebagai Wujud Implementasi Gerakan Sekolah Menyenangkan. Workshopyang berlangsung 9-11 Juni 2015 ini dihadiri puluhan mahasiswa pendidikan guru, serta guru SD, TK, dan PAUD Yogyakarta. Pembicara workshopadalah tiga orang guru yang didatangkan langsung dari Clayton North Primary School (CNPS), Australia, Joanne, Josie, dan Brad.

Selama tiga hari, peserta diberi berbagai materi mengenai membangun lingkungan belajar positif, yaitu bagaimana cara membuat anak merasa nyaman di sekolah, sampai dengan mengatasi bullying di sekolah. Guru–guru juga diajak berpikir kritis dan menciptakan tugas yang memunculkan sikap kritis siswa. Untuk itu, guru juga diberikan materi mengenai merencanakan pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa, serta menerjemahkan kurikulum nasional menjadi lebih sederhana untuk anak-anak. Hal tersebut guna membuat siswa merasa lebih aman dan nyaman untuk berada di sekolah dan mengikuti pembelajaran yang ada, serta tetap membangun soft skill yang dibutuhkan, seperti kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan inovatif.

Peserta dilibatkan dalam salah satu contoh game untuk melatih kreatifitas, kemampuan kerjasama, perencanaan, penyelesaian masalah, dan berpikir kritis.
Peserta dilibatkan dalam salah satu contoh game untuk melatih kreatifitas, kemampuan kerjasama, perencanaan, penyelesaian masalah, dan berpikir kritis.

Prof. Dr. Ibrahim Bafadal, M.Pd, Direktur Pembinaan Sekolah Dasar yang hadir sebagai perwakilan kementrian, sangat mengapresiasi kerjasama UAD dan GSM. Sekali lagi, ia menegaskan bahwa gerakan ini didukung oleh pemerintah karena memiliki tujuan yang sama, yaitu memajukan dunia pendidikan, sehingga sekolah tidak perlu khawatir untuk ikut menerapkan. Ia berharap, definisi sekolah menyenangkan dan indikator-indikatornya dapat segera dibagikan. Dengan adanya standar yang sama, diharapkan sekolah model Gerakan Sekolah Menyenangkan nantinya tidak hanya ada di jogja, tetapi berlanjut ke kota lainnya, dalam skala nasional.

Meski didukung kementrian, Muhammad Nur Rizal, Ph.d, Ketua GSM, menegaskan bahwa workshop ini bukan program dari pemerintah, melainkan kegiatan yang tumbuh dari hati dan keinginan. Keinginan dari guru dan kepala sekolah yang menginginkan sistem pendidikan baru yang lebih baik karena sudah jenuh dengan teori, serta keinginan guru-guru Clayton North Primary School yang secara sukarela berbagi. Sementara GSM yang ingin berkontribusi menjadi jembatan perubahan. “Guru CNPS yang jadi pembicara itu tidak dibayar. Mereka bahkan membiayai tiket dan visa sendiri. Ini murni karena ingin berbagi,” ujar Rizal.

Josie, narasumber, sedang menerangkan cara membuat rencana pembelajaran bagi siswa.
Josie, narasumber, sedang menerangkan cara membuat rencana pembelajaran bagi siswa.

Rizal menerangkan, kegiatan ini adalah salah satu bentuk perjuangan untuk mengubah sistem pendidikan melalui perubahan budaya sekolah. Menurut Rizal, sekolah seharusnya tidak lagi hanya menekankan aspek kognitif, tetapi juga kesejahteraan siswa secara utuh. Mulai dari potensi siswa, kemampuan sosial, kondisi emosional, karakter, termasuk kognitif. “Kalau well being (kesejahteraan) baik, suasana sekolah itu kondusif, menyenangkan, membuat siswa nyaman dan betah. Secara otomatis, akan meningkatkan performa akademik siswa, dan potensi siswa lainnya akan terbangun,” ujarnya.

20150611_135404

Rizal menambahkan bahwa kerjasama Indonesia dan Australia semacam ini merupakan hal yang baik untuk membangun partnership antar sekolah di negara yang berbeda. Selain itu, hal ini juga dapat mengurangi ketegangan politik yang dialami kedua negara. Lebih jauh, Rizal mengatakan bahwa jika kerjasama pendidikan ini nantinya berhasil, maka akan lebih mudah untuk menekan radikalisme yang saat ini makin gencar berkembang. “Anak yang memiliki kesejahteraan psikologis, kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan inovatif tidak akan mudah diajak melakukan kegiatan-kegiatan radikal. Hal ini tentu menguntungkan Indonesia dan Australia sebagai negara tetangga,” tuturnya.

Budi Lestari, guru TK ABA Pathukan Gamping, peserta workshop, mengatakan bahwa ia senang dapat mengikuti workshop GSM. Ia berharap, metode pembelajaran yang diberikan dapat segera diterapkan di sekolahnya. “Semoga anak-anak juga merasa senang nantinya, dan guru mengajarnya bisa enjoy. Agar anak-anak tidak merasa lelah dengan pelajaran yang ada, tapi indikator materi tetap tersampaikan, melalui bermain,” ungkapnya.

Peserta workshop lainnya, Lily Halim, Kepala Sekolah SD Kalam Kudus menilai bahwa sebenarnya ada beberapa hal baru dari konsep sekolah menyenangkan yang dapat melengkapi kurikulum 2013. Misalnya saja tentang bagaimana mengikut sertakan anak dan orang tua dalam aktivitas di sekolah. Hal ini membuat anak merasa menjadi bagian dari sekolahnya, serta bersemangat karena didampingi orang tua dalam belajar. Selain itu, orang tua dapat lebih peduli dengan pendidikan anaknya. Workshop ini sebenarnya juga berusaha menerjemahkan pengembangan sikap yang dimaksud oleh kurikulum selama ini, ke dalam bahasa praktis.

Brad, Jossie, Joanne, bersama tim GSM dan 17 sekolah model peserta workshop.
Brad, Jossie, Joanne, bersama tim GSM dan 17 sekolah model peserta workshop.

 

Shiane Anita Syarif, kontributor.

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Loading...