content detail

Fun Learning, Membuat Pembelajaran Menyenangkan

Post by: 04/05/2015 1 comments 4965 views
sumber: http://www.cambridgeforlife.org/
sumber: http://www.cambridgeforlife.org/

Sering sekali pelaku pendidikan mendengar atau bahkan menggunakan kata fun learning, namun konsep ini tidak seluruhnya dapat digunakan sebagai sebuah konsep belajar di sekolah yang formal. Fun learning baru sebatas metode atau cara yang juga biasanya digunakan untuk jenis mata pelajaran ekstra kurikuler, baru sebatas ice breaking agar siswa tidak jenuh atau bosan. Seperti misalnya bernyanyi, bermain, bercerita, meneriakkan yel-yel, dan sebagainya.

Fun learning belum digunakan sebagai konsep belajar di sekolah secara integral, di mana akan berkait dengan materi, media, metode dan manajemen. Mengapa hal itu diperlukan? Agar tujuan proses belajar dapat tercapai dengan baik dan sesuai dengan yang diharapkan. Tujuan proses  belajar di sekolah bukan untuk kepentingan guru yang harus memenuhi persyaratan jam mengajar, namun agar siswa dapat menerima dan memahami pelajaran yang disampaikan.

Mari kita bahas satu persatu. Mengapa anak cenderung sulit disuruh membaca buku pelajaran? Sebaliknya merasa senang membaca (setidaknya melihat) buku komik? Pelajari kembali apa bedanya? Ya, salah satunya adalah penyajian materinya yang berbeda. Kalau konten (isi) jelas berbeda karena yang satu membahas pengetahuan dan yang lain bercerita fiksi. Apakah tidak mungkin jika pengetahuan disajikan materinya seperti sebuah komik?

Buku pelajaran pada umumnya terlihat penuh tulisan dengan huruf kecil-kecil (semata agar materi pelajaran per semester dapat dimasukkan), sebaliknya komik lebih hemat tulisan dan banyak gambarnya. Anak usia sekolah dasar cenderung senang membaca buku yang bergambar. Lantas mengapa sejarah perang Diponegoro tidak bisa dibuatkan dengan cerita bergambar, misalnya? Mengapa proses terjadinya hujan tidak dibuat bergambar?

Kemudian media. Media yang digunakan untuk belajar sekarang ini sudah lebih beragam, mulai yang langsung pada alam, buku, film, panggung peran, komputer dan sebagainya. Ingin disampaikan bahwa konsep fun learning seharusnya tidak hanya menyediakan buku sebagai media pebelajaran siswa, melainkan banyak sekali media yang disenangi anak atau siswa. Saat ini siswa lebih senang melihat tayangan film/video ketimbang memegang buku.

Kini banyak perusahaan industri kreatif yang sudah membuat game virtual atau cerita animasi yang bermuatan pendidikan (media belajar anak) dalam bentuk VCD ataupun DVD. Anak dilatih mengenal perangkat komputer sejak dini sekaligus dapat belajar. Demikian juga dengan media alam (out class), dimana anak diajak untuk melihat, menyentuh dan mengenal secara langsung alam sekitarnya. Mereka dapat belajar tanpa merasa jenuh duduk dalam kelas.

Selanjutnya, metode sekaligus manajemen, yang mana hal ini lebih ditujukan kepada kemampuan guru. Tidak kurang-kurangnya pelatihan yang dilakukan agar guru lebih kreatif mengembangkan cara pendekatan dan cara menyampaikan materi pelajaran kepada anak. Namun sering kali gagal. Sepertinya tidak mungkin hanya menuntut guru kreatif sementara sistem pembelajarannya tidak mendukung.

Metode pembelajaran saat ini bersifat formil, konvensional dan searah. Guru hanya menyampaikan materi pelajaran di depan kelas sementara siswa wajib mendengarkan ataupun menyalin. Hampir tidak ada dialog dan interaksi antar siswa, dampaknya anak tumbuh secara individual di dalam kecerdasannya. Menganggap teman sebagai lawan bersaing dan bukan sebagai teman belajar bersama. Dapat dibayangkan jika proses ini berlangsung selama 6 tahun masa pendidikan di sekolah dasar.

Untuk itu perlu dikembangkan sebuah cara sekaligus pengelolaan proses belajar yang tepat dan berbasis kepada usia (khususnya usia 7-12 tahun). Secara psikologis siswa usia sekolah dasar memiliki rasa keingintahuan yang sangat besar, selalu aktif (tidak mau diam) dan senang bermain. Karena usia mereka berada pada fase pembentukan jati diri sehingga mereka rentan terhadap sesuatu yang mengejutkan dan akan berakibat kepada pengendapan memori yang tidak terlupakan.

Jika yang dialami dan dirasakan siswa baik dan menyenangkan akan berbuah kenangan manis sepanjang hidupnya, sebaliknya jika buruk maka menjadi trauma. Beberapa cara yang lebih sering berhasil untuk menyampaikan sesuatu kepada siswa dan kemudian mereka memahami bahkan melaksanakannya adalah jangan melarang tapi menjelaskan; jangan menyuruh tapi mengajak, dan; jangan mengatakan tapi menunjukkan serta selalu gunakan kata atau kalimat positif. Semoga belajar itu semakin menyenangkan.

 

Ailis Safitri, S.Hi

Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Macanan, Ngemplak – Sleman

Comments (1)

untuk metode fun learning ini apakah ada buku rujukannya. terimakasih

Balas

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Loading...