content detail

‘Etika Mengantri’ vs ‘Pintar Matematika’ Bagi Anak SD

Post by: 28/03/2015 0 comments 1812 views
sumber: http://pixshark.com/
sumber: http://pixshark.com/

Kami tidak terlalu khawatir jika anak-anak sekolah dasar kami tidak pandai Matematika, kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri.

Menurut saya, topik ini ada baiknya harus kita ulang-ulangi terus menerus, dan kita tidak boleh menyerah dalam kebosanan.

Pernah suatu ketika mengobrol dengan seorang ibu di Jepang, dan sampailah topik obrolan kami membahas tentang orang Jepang yang sangat santun di dalam mengantri. Dimanapun, kapanpun, dan dalam keadaan mepet apapun, kalau sudah gilirannya mengantri maka orang Jepang akan melakukannya dengan sangat baik dan teratur meski tak ada yang mengatur. Misalnya, sudah tahu bakal telat masuk kantor, antrian di stasiun kereta tetap rapi dan teratur.

Bagi ibu itu, tidak ada yang spesial tentang budaya antri di Jepang, biasa-biasa saja katanya. Dalam hati saya, ya wajar karena sudah membudaya maka biasa-biasa saja bagi dia. Dia lalu bertanya, bagaimana dengan budaya antri di Indonesia. Saya jawab saja, tidak sebagus di Jepang. Namun dalam hati, saya berdoa dan optimis Indonesia pasti bisa seperti Jepang, dalam hal budaya mengantri. Amin.

Tadinya obrolan kami juga sempat muter-muter tentang kurikulum SD di Jepang yang tidak seketat dan seberat SD di Indonesia yang sejak awal sudah digenjot macam-macam. Saya amati, anak kelas 1,2,3 dan 4 SD di Jepang memang tidak digenjot harus hebat dalam Matematika. Mereka juga tidak digenjot harus dapat ranking di kelas. Apalagi sampai dileskan macam-macam, agar bisa memuaskan rasa penasaran dan menghilangkan rasa malu orang tuanya kalau sampai anaknya kalah prestasi akademiknya dari anak-anak tetangga atau anak-anak saudaranya. Ampun deh, kalau masih ada orang tua seperti ini di jaman sekarang.

MENGAPA MENGANTRI ITU PENTING?

Saya jadi teringat artikel yang sangat bagus tentang pentingnya mendidik anak sejak di sekolah dasar tentang budaya antri. Berikut ini saya kutip ulang tulisan yang diambil dari sumber thecrowdvoice.com

Budaya Etika Mengantri vs Pintar matematika

Seorang guru di Australia pernah berkata:

Kami tidak terlalu khawatir jika anak-anak sekolah dasar kami tidak pandai Matematika, kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri.

Sewaktu ditanya mengapa dan kok bisa begitu? Berikut ini jawabannya:

KARENA kita hanya perlu melatih anak selama 3 bulan saja secara intensif untuk bisa Matematika, sementara kita perlu melatih anak hingga 12 Tahun atau lebih untuk bisa mengantri dan selalu ingat pelajaran berharga di balik proses mengantri.

KARENA tidak semua anak kelak akan bekerja menggunakan ilmu matematika kecuali TAMBAH, KALI, KURANG DAN BAGI. Sebagian mereka anak menjadi Penari, Atlet Olimpiade, Penyanyi, Musisi, Pelukis dsb.

KARENA biasanya hanya sebagian kecil saja dari murid-murid dalam satu kelas yang kelak akan memilih profesi di bidang yang berhubungan dengan Matematika. Sementara SEMUA MURID DALAM SATU KELAS ini pasti akan membutuhkan Etika Moral dan Pelajaran Berharga dari mengantri di sepanjang hidup mereka kelak.

 

Sebenarnya pelajaran berharga apa saja dibalik MENGANTRI ? Banyak! Banyak sekali … Misalnya:

  1. Anak belajar manajemen waktu jika ingin mengantri paling depan datang lebih awal dan persiapan lebih awal.
  2. Anak belajar bersabar menunggu gilirannya tiba terutama jika ia di antrian paling belakang.
  3. Anak belajar menghormati hak orang lain, yang datang lebih awal dapat giliran lebih awal dan tidak saling serobot merasa diri penting.
  4. Anak belajar berdisiplin dan tidak menyerobot hak orang lain.
  5. Anak belajar kreatif untuk memikirkan kegiatan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan saat mengantri. (di Jepang biasanya orang akan membaca buku saat mengantri)
  6. Anak bisa belajar bersosialisasi menyapa dan mengobrol dengan orang lain di antrian.
  7. Anak belajar tabah dan sabar menjalani proses dalam mencapai tujuannya.

Dan sebagainya … masih banyak lagi tentunya.

Dan yang menjadi faktor super penting adalah orang tua. Jujur saja, siapa sih para pelaku yang menyebabkan budaya antri di Indonesia masih ngawur seperti sekarang ini, jawabannya adalah: sebagian dari para orang tua anak-anak kita. Yang penting mau sadar dan mau berubah.

Faktor penting lainnya adalah kreativitas para guru menerjemahkan kurikulum nasional ke dalam model pembelajaran yangtidak melulu kognitif. Oleh karena itu, para guru Indonesia harus lebih cepat berubah dan jangan sungkan belajar dari negara lain yang sudah melangkah di depan.

Tidak apa-apa. Saya yakin kondisi kita semakin membaik. Namun, memang setiap ada hal buruk pasti lebih cepat tersiar luas. Tetap positive thinking, tetap semangat, dan tetap optimis. Mari kita berbenah terus untuk Indonesia yang lebih baik.

 

Wikan Sakarinto, Pejuang Beasiswa tunas-indonesia.org – Dosen SV-UGM – Owner of Fasnetgama Training Center (fasnetgama.co.id) – Ketua Yayasan Tunas Indonesia Jepang-

Tulisan ini sebelumnya pernah dimuat di isigood.com. Selengkapnya dapat dilihat di sini.

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Loading...