content detail

Celebration Night: Ketika Anak-anak Bicara

Post by: 12/03/2015 0 comments 799 views

Celebration Night

Clayton North Primary School (CNPS), Australia, adalah salah satu sekolah yang memiliki murid multikultural. Beragamnya asal usul para siswa, membuat sekolah dasar bernama Sekolah ini yang bediri tahun 1865 tercatat merupakan salah satu sekolah tertua di negara bagian Victoria. Untuk menjaga keragaman itu, CNPS pun memiliki perayaan bernama harmony day. Pada perayaan ini beragam seni budaya dari berbagai negara disajikan. Anak-anak berpakaian khas negaranya, dan tak lupa anak-anak diminta partisipasinya untuk membawa aneka makanan khas negara masing-masing.

Salah satu metode pengajaran yang menarik di sekolah ini adalah adanya tugas atau proyek (project) yang diberikan kepada para siswa sesuai tema/materi yang diberikan pada semester itu. Proyek itu akan dipresentasikan di setiap akhir semester, berbarengan, atau setidaknya berdekatan dengan acara celebration night. Pada acara inilah semua hasil karya siswa selama belajar satu semester dipamerkan di kelas masing-masing. Orang tua bisa melihat dan menikmati karya-karya anak-anaknya.

Proyek itu bermacam bentuknya, bisa dalam bentuk poster, pamflet, model, dan sejenisnya. Saat duduk di kelas tiga, anak saya Miko, memilih Steve Irwin untuk proyeknya yang bertemakan Outsanding Australians. Saat itu, anak-anak diberi kebebasan memilih orang-orang Australia yang hebat yang berkontribusi penting pada negaranya, menurut versi mereka. Miko memilih Steve Irwin, pemandu acara TV terkenal The Crocodile Hunter sebagai pakar binatang liar dan ahli konservasi yang sangat menyayangi binatang. Saat saya mengamati bagaimana anak-anak di kelas Miko melakukan presentasi proyeknya, saya pun takjub. Anak-anak yang datang dari berbagai negara itu melakukan presentasi dalam bahasa Inggris dengan kreativitasnya masing-masing.

Anak-anak ini sebelumnya telah dilatih bagaimana membuat tulisan yang baik, dalam bentuk eksposisi, persuasi, atau argumentasi. Ini berarti kemampuan menulis dilatih terlebih dulu baru kemudian dilatih untuk bicara. Ditambah lagi dengan kebiasaan membaca yang juga sudah ditanamkan sejak kecil. Menulis dan membaca adalah kemampuan dasar yang harus dimiliki anak-anak sehingga mereka terlatih untuk berpikir kritis sejak dini. Kedua skill ini juga berperan penting menumbuhkan ruang imajinasi bagi tergalinya kreativitas mereka.

Kemampuan setiap anak untuk melakukan presentasi ini berbeda-beda, tapi satu hal yang saya catat yaitu bagaimana rasa percaya diri itu ditumbuhkan pada diri setiap anak. Tak peduli bagaimana hasilnya atau bagaimana mereka melakukan presentasinya, semua anak yang tampil mendapat apresiasi yang sangat positif dari gurunya. Semua mendapat pujian atas usaha-usahanya. Di sini lah, rasa percaya diri ditanamkan.

Selayaknya cara pandang kita terhadap anak-anak kita juga diubah. Jangan lagi sistem pendidikan kita membuat dikotomi ada anak pintar dan bodoh. Ada anak nakal dan baik, dan seterusnya. Siap anak itu memiliki potensi. Setiap anak itu unik. Tinggal bagaimana orang tua, guru, dan lingkungan membentuk karakternya. Sudah selayaknya pula sistem pendidikan di tingkat dasar itu menanamkan nilai-nilai karakter, bukan menjejali anak dengan macam-macam pelajaran yang tak jarang sangat membebani sehingga belajar pun menjadi tidak menyenangkan. Sudah saatnya kita mengubah mindset, cara berpikir, menciptakan suasana belajar dan sekolah yang menyenangkan seperti yang dirasakan anak-anak ini di sekolah-sekolah di Australia.

 

Tulisan merupakan rangkuman dari tulisan Neng Yanti Khozana (PhD candidate di bidang Antropologi Monash University) yang dimuat dalam buku Sekolah itu Asik (2014). Tulisan lengkap dapat dibaca dalam buku tersebut.

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Loading...