Tips Dan Parenting

09/02/2017 1 comments 619 views
Pemanfaatan Hypnoterapi Dalam Pembelajaran
Oleh : Iwan A. Priyana

 

Sebagian besar aktifitas guru baik di dalam kelas maupun di luar kelas, saat  berinteraksi dengan muridnya adalah berbicara. Kata kata yang dikeluaran guru saat berbicara memiliki efek, baik positif maupun negatif. Di sinilah diperlukan kehati-hatian , sebab bisa saja kata-kata yang di kemukakan guru tersebut merupakan komentar negatif yang dapat membentuk mental blok siswa. Penelitian yang dilakukan Jack Can Field terhadap 100 orang anak berkaitan dengan komentar baik yang positif dan negatif yang diterimanya dalam satu hari; hasilnya, cukup mengejutkan , yaitu 460 komentar atau kritik destruktif diterima anak-anak, dan hanya 75 saja dari komentar positif yang diterimanya.
Lalu, apakah akibatnya bila seorang siswa sering menerima komentar negatif? Kata negatif yang sering di dengar oleh siswa yang dikemukakan oleh guru, juga orang tua akan tersimpan di dalam bawah sadar. Proses masuknya kata-kata negatf tersebut melalui pintu gerbang atau filter yang dikenal dengan istilah RAS (Reticular Activating System). Saat RAS dalam keadaan “terbuka” informasi masuk lalu  tersimpan dalam bawah sadar yang kelak akan mempengaruhi pola tingkah laku dan pikiran juga membentuk konsep diri seseorang.
Hal ini terjadi sebab, aktivitas kita sehari-hari 80 % aktivitas manusia dikendalikan oleh pikiran bawah sadar, dan hanya 20 % saja yang dikendalikan pikiran sadar.
Kata-kata negatif yang tersimpan dalam gudang bawah sadar tersebut bisa dibuang atau dihapus dengan cara seseorang masuk  dalam pikiran bawah sadar dengan membuka RAS nya. Untuk memasuki pikiran bawah sadar, diawali dengan menurunkan gelombang otak sehingga berada pada kondisi alpa. Untuk masuk ke dalam situasi ini, dapat dilakukan dengan hypnoterapi, pada saat itulah dimasukan sugesti sesuai dengan keinginan kita yakni membuang kata hal-hal negatif dan memasukkan hal-hal positif.
Foto: SMP N 1 Nagreg Bandung. Penerapan hypnoterapi dalam pembelajaran
Guru dapat beperan sebagai orang yang memasukkan sugesti tersebut dengan langkah-langkah berikut :
  1. Bawalah siswa dalam ruangan yang tenang , dan sejuk tidak terlalu bising. Ciptakan suasana tenang dan nyaman bagi siswa di ruangan itu.
  2. Jelaskanlah kepada siswa tujuan kegiatan tersebut yakni upaya untuk menghapus kata-kata atau hal negatif yang ada pada dirinya dan mengganti atau memasukkan hal postif  yang akan memberdayakan dirinya.
  3. Setelah siswa siap, siswa diminta untuk menarik nafas dan mengeluarkan perlahan-lahan beberapa menit, suara guru harus tenang dan lembut. Perintah menarik nafas dan mengeluarkannya dilakukan berkali-kali . Siswa diminta untuk menutup mata serta fokuskan perhatian pada nafas yang masuk melalui hidung.
  4. Setelah beberapa saat siswa menarik nafas ,pada saat itu guru memperhatikan raut wajah siswa. Jika seandainya siswa tampak lebih tenang dan raut wajahnya seakan-akan sudah tertidur, pada saat itu guru meminta siswa membayangkan  sebuah bola bundar yang kosong. Perintah itu lakukan berkali-kali, karena pikiran bawah sadar persis pikiran anak-anak sehingga perintah perlu di ulang-ulang dengan suara lembut.
  5. Langkah berikutnya adalah siswa diminta mengingat kembali hal-hal maupun komentar negatif yang menjadi yang telah membentuk konsep dirinya, lalu diminta membayangkan bahwa saat itu siswa sedang memasukkan hal negatif tersebut ke dalam bola tersebut. Setelah itu, siswa diminta untuk mengimajinasikan bola itu ia buang jauh-jauh. Kegiatan berikutnya sugestikan pada siswa bahwa dirinya telah membuang hal-hal negatif, dan saat itu siswa diminta untuk memasukkan hal-hal positif ke dalam dirinya, dan akan menjadi keyakinannya.
  6. Kegiatan terakhir siswa diminta membuka  mata perlahan-lahan dan sugestikan bahwa sekarang siswa lebih nyaman dan hanya memiliki hal-hal positif dalam dirinya.

 

Penulis:

Iwan A. Priyana

Pendidik di SMP N 1 Nagreg Bandung (salah satu guru dalam jejaring Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM))

08/02/2017 0 comments 703 views

Bagaimana menumbuhkan “Growth Mindset” di Kelas

oleh : Donna Wilson dan Marcus Conyers

http://teachthought.com/learning/cultivate-growth-mindset-classroom/?utm_content=buffera2b0e&utm_medium=social&utm_source=facebook.com&utm_campaign=buffer

Saya (Marcus) pernah masuk kelas dan melihat 25 siswa dalam 1 kelompok, mata saya tertuju pada seorang siswa (dia yang saya tahu telah tinggal kelas selama 1 angkatan) dengan senyum berseri seri di belakang ruang kelas.

Dia nyaris bisa menjaga diri di kursinya di belakang mejanya. Dia mengenakan baju bersih dan usang. Dengan anggukan persetujuan dari gurunya, ia dibatasi ke depan ruangan dan memberi saya salam, mengatakan, “Terima kasih banyak guruku telah mengajariku sehingga pikiranku bisa lebih cerdas dan lebih cerdas saat saya belajar. Ini adalah dunia bagi saya. Dan saya suka dengan trategi-strategi yang digunakan guru saya untuk mengajari saya. Mereka benar-benar bekerja. “

Ini, dan yang lainnya tentang respon dari guru dan siswa selama 20 tahun terakhir, telah menegaskan pentingnya mengembangkan apa yang kita sebut “pola pikir optimisme praktis” tentang kemampuan otak untuk mengubah hasil belajar.

Hal ini juga memperkuat dampak positif dari strategi metacogntitive dan kognitif untuk meningkatkan prestasi akademik. Pengalaman kami sangat berhubungan dengan pekerjaan kita yang kemudian ditemukan oleh Carol Dweck, dimana ia menggambarkan sebagai “mindset berkembang” atau “pikiran yang berkembang”. Dia menjelaskan mindset berkembang seperti mempercayai bahwa kualitas dasar Anda adalah sesuatu yang dapat anda tumbuhkan melalui usaha Anda.

Pendekatan “Brain SMART Big Five” kami meliputi lima faktor kunci bagi guru dan siswa untuk dapat menciptakan sinergi yang kuat untuk meningkatkan keterlibatan, motivasi, dan belajar. meliputi:

Menjaga Plastisitas otak daripada pikiran :

ini berasal dari pemahaman bahwa belajar mengubah struktur dan fungsi otak, yang berarti bahwa kita dapat menjadi fungsional cerdas. Ini tidak sejalan dengan gagasan bahwa kemampuan belajar dan otak tetap. Dalam pekerjaan kami, kami telah menemukan bahwa ini sangat meningkatkan motivasi, keterlibatan, dan belajar. Demikian pula, dalam sebuah studi oleh Dweck, sekelompok mahasiswa yang diajarkan bahwa belajar mengubah otak, bersama-sama dengan pelatihan keterampilan studi, dilakukan lebih baik dari siswa yang hanya diajarkan kemampuan belajar.

Setir Otak Anda dengan Strategi Belajar yang Efektif:

Motivasi dan usaha itu penting, tetapi mungkin tidak cukup untuk mengoptimalkan pembelajaran. Kita perlu bekerja lebih cerdas dan tidak hanya lebih dengan menggunakan metakognisi, yang dapat didefinisikan sebagai “berpikir tentang pemikiran kita,” dan juga dengan memilih dan menggunakan strategi kognitif yang efektif yang membantu kita untuk belajar lebih cepat dan lebih komprehensif.

Metakognisi adalah karakteristik utama dalam kesuksesan siswa. Kami telah menemukan bahwa siswa belajar lebih efektif ketika mereka diajarkan bagaimana “menyetir otak mereka” dan menerapkan strategi belajar. “Setir otak Anda” adalah metafora yang kami kembangkan sebagai sarana untuk menyampaikan secara efektif kepada siswa bahwa mereka dapat mengambil alih belajar mereka sendiri. Dalam investigasi Dweck untuk mahasiswa yang awalnya tidak berkinerja baik tetapi memiliki mindset berkembang, para siswa menggunakan beberapa strategi untuk belajar lebih efektif dan hasilnya signifikan.

Meminta Bantuan Saat Dibutuhkan:

Akhirnya kita semua mencapai titik di mana kita tidak menemukan solusi. Ini bisa menjadi saat yang tepat untuk meminta bantuan. Orang-orang dengan mindset berkembang lebih peduli dengan mengembangkan pengetahuan dan keterampilan daripada mencoba terlihat pintar dengan tidak mengajukan pertanyaan. Guru kita bekerja dengan sering mencontohkan bagaimana meminta bantuan dari siswa di kelas, misalnya, membuka untuk meminta ide dari teman teman untuk membuat pelajaran lebih efektif ketika berbagi ide.

Mengembangkan kekuatan untuk menyelesaikan:

Belajar apapun di beberapa titik mungkin sulit. Orang-orang dengan mindset berkembang bertahan dalam menghadapi kesulitan dengan mencoba strategi yang berbeda, investasi lebih banyak waktu, atau meminta bantuan lebih lanjut, misalnya. Kami menggambarkan ini sebagai aset kognitif kekuatan menyelesaikan. Dalam percakapan dengan lulusan kami, kami menemukan bahwa selama bertahun-aset kognitif ini adalah yang paling kuat.

Investasikan Usaha dan Waktu yang diperlukan:

Seperti disebutkan sebelumnya, mencapai tujuan belajar membutuhkan kerja keras, waktu, dan usaha. Beberapa orang dengan “mindset tetap” berpikir bahwa jika belajar itu pekerjaan yang sulit, itu berarti bahwa mereka tidak cukup cerdas dan menyerah. Namun, orang-orang dengan mindset berkembang mengharapkan belajar menjadi sulit di setiap waktu dan terus melakukannya, bekerja lebih keras dan lebih cerdas.

Kekuatan Pujian

Penelitian Dweck ini menunjukkan bahwa memuji siswa bahwa dia pintar dapat menjadi tidak efektif karena dapat mempromosikan mindset tetap. Ide-ide bersama di atas dapat memberikan spektrum cara untuk pujian yang dapat mempromosikan mindset berkembang.

Sebagai contoh, kita bisa memuji siswa ketika mereka menggunakan strategi yang menjadi metakognitif, mengajukan pertanyaan yang baik ketika mereka membutuhkan bantuan, bertahan melalui kesulitan, dan investasi usaha yang diperlukan untuk berhasil.

FM (Fixed Mindset) Radio dan TNT (The Next Time)

Dari waktu ke waktu, banyak dari kita dengar apa yang kita sebut FM radio, Fixed Mindset, dalam pikiran kita.

Kita dapat berpikir, misalnya, kelas rendah adalah akibat dari kurangnya kemampuan dalam subjek. Inilah sebabnya mengapa menjadikan metakognitif tentang pola pikir kita adalah kunci. Misalnya, bayangkan seorang siswa mendapat C saat tes. Respon dari Fixed mindset mungkin: “Saya tidak cerdas dalam hal ini.” Metakognitif dari growth mindset mungkin: “Saya belum belajar ini.” “Strategi apa yang saya gunakan untuk belajar materi?

Apakah saya menghabiskan cukup waktu dan usaha belajar tentang ini? Apakah saya perlu bantuan tambahan dalam memahami konsep-konsep kunci “Dan yang paling penting pertanyaan TNT:”? Apa yang bisa saya lakukan berbeda The Next Time “. Bayangkan apa yang akan terjadi pembelajaran di sekolah dan ruang kelas kami jika pemikiran seperti ini secara konsisten di tempat.

*Artikel ini merupakan terjemahan dari artikel “How to Cultivate Growth Mindset in Your Classroom” 

Sumber:

http://teachthought.com/learning/cultivate-growth-mindset-classroom/?utm_content=buffera2b0e&utm_medium=social&utm_source=facebook.com&utm_campaign=buffer

13/05/2016 0 comments 1654 views
Berikut merupakan tulisan dari ibu Ailis Safitri dari SD Muhammadiyah Macanan
Sleman yang merupakan salah satu sekolah dalam jaringan GSM.
Beliau berbagi tips mengenai pentingnya mengenalkan berbagai macam profesi pada anak sejak dini.

Mengenalkan profesi Pada Anak

Oleh Ailis Safitri

Cobalah eksperimen berikut ini. Minta kepada anak di kelas untuk menuliskan sebuah profesi, atau tuliskan profesinya nanti ketika sudah dewasa. Setelah itu kumpulkan dan teliti berapa anak yang menyebutkan atau menuliskan profesi di luar insinyur, dokter dan tentara? Hampir dapat dipastikan bahwa sebanyak 50% lebih anak-anak kita hanya mengenal ketiga profesi tadi.

Mengapa bisa demikian?

Setidaknya ada 3 penyebab sehingga mereka bisa demikian. Anak cenderung apa adanya. Apa yang disampaikan atau diajarkan guru, maka itulah yang menjadi pengetahuannya. Artinya, guru tidak mencoba untuk mengenalkan jenis profesi lain kepada siswanya, karena mungkin saja guru juga tidak memiliki referensi yang cukup.

Penyebab kedua, berkait dengan yang pertama tadi, anak sangat mendengarkan gurunya ketimbang orang lain bahkan orangtuanya sendiri. Jadi, meski ia mendapat referensi akan profesi lain dari orangtuanya, tetap saja yang ia jadikan patokan adalah apa yang disampaikan gurunya. (Anak lebih sering mengatakan, “Kata bu guru bukan begitu,” kepada orangtuanya, ketimbang, “Kata ibu/ayah tidak begitu,” kepada gurunya).

Penyebab terakhir dan mungkin paling esensi adalah dikarenakan anak belum terlalu memikir soal profesi. Mereka tidak pernah membayangkan bahwa kelak mereka harus bekerja. Apa itu bekerja dan pekerjaan? Perlukah mereka mengetahuinya? Belum. Belum saatnya mereka dipahamkan soal konsep bekerja. Yang perlu mereka ketahui hanyalah beragamnya profesi, agar mereka mulai memilih dan menyukai layaknya super hero.

Ya, terpenting adalah membangun angan dan imajinasi mereka sesuai dengan kesenangan dan bakat masing-masing. Sebuah profesi juga dapat diperkenalkan seperti super hero, tekankan betapa pentingnya, betapa jagonya profesi tersebut sehingga diperlukan karena bisa membantu orang banyak. Jadi yang diperkenalkan bukan teknis pekerjaannya melainkan fungsinya, agar anak mulai tertanamkan bahwa profesi itu bukan sekadar pekerjaan melainkan memiliki fungsi.

Contoh profesi guru, bukan sekadar sebuah pekerjaan mengajar di sekolah dari jam 7 hingga jam 2 siang, misalnya. Tapi kenalkan bahwa profesi guru itu fungsinya mencerdaskan anak bangsa. Kenalkan sebuah profesi layaknya seorang super hero, sehingga anak lebih tertarik.

Karena guru sulit mempresentasikan profesi lain kepada anak (hanya bisa memberi gambaran umum tentang sebuah profesi), maka ada baiknya dengan mengundang seseorang yang akan memperkenalkan profesinya, misal: seorang perawat, wartawan, polisi, pejabat publik, atlit, pelakon, dan sebagainya. Selain memperkenalkan apa dan bagaimana profesi tersebut, meyakinkan akan pentingnya profesi tersebut khususnya bagi banyak orang, juga melatih atau mengajak anak untuk praktik langsung agar lebih memahami profesi tersebut. Misalkan jika perawat maka anak diajarkan bagaimana cara memeriksa pasien, jika wartawan mengajarkan menulis, polisi mengajarkan cara mengatur lalu lintas, dan sebagainya. Lambat laun anak lebih memahami dan mengenal ternyata banyak sekali profesi yang ada.

Di beberapa sekolah sudah mulai dipraktikkan dengan sebutan program “Profile Day”. SD Muhammadiyah Macanan sendiri sudah pernah mengundang beberapa profesi seperti: penyiar, seniman, wartawan, guru, tentara, aktor, aktifis sosial dll.

Semoga bermanfaat 🙂

*Penulis : Ailis Safitri (SD Muhammadiyah Macanan, Sleman)

16/04/2016 0 comments 887 views

Pelaksanaan Workshop Parenting Skill: Getting Closer To Your Children

 

Sabtu tanggal 16 April 2016 di Ruang G100 Fakultas Psikologi UGM Yogyakarta telah berlangsung acara workshop parenting skill: Getting Closer To Your Children dengan tema “Gadget”. Acara dimulai pukul 09.00 WIB dengan pembicara Dr. Neila Ramdhani, M.Si.,M.Ed.

 

Anak dan Gadget di Era Digital

 

Saat ini, Gadget diasosiasikan sebagai istilah produk-produk teknologi informasi seperti telepon genggam (HP), tablet, notebook, perangkat GPS, perangkat permainan (game player).

Indonesia sendiri telah menjadi Negara keempat di Asia yang paling tinggi dalam menggunakan internet dan menjadi Negara kedua terbesar dalam menggunakan facebook. Selain itu, sebanyak 4 juta penduduk Indonesia adalah pengguna Path serta pengguna media sosial lainnya yang juga sebagai salah satu fitur dalam gadget. termasuk juga game online dimana populasi tertinggi dalam menggunakan game online terletak di Jakarta dan Lampung.

 

Gadget dapat membuat anak menjadi kacanduan. biasanya anak-anak yang kecanduan gadget akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama gadget daripada berinteraksi dengan orang lain. kondisi tersebut menyebabkan seseorang kurang dalam bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain.

 

Dampak Positif dari Gadget:

1. Menambah pengetahuan tentang teknologi

2. mempermudah komunikasi terutama jarak jauh

3. memperluas jaringan pertemanan

4. sebagai hiburan

5. alat informatif

6. dapat menyimpan data.

 

Dampak Negatif dari Gadget:

1. efek radiasi yang mempengaruhi otak

2. rawan tindakan kejahatan

3. mengganggu perkembangan otak anak

4. menurunkan motivasi belajar anak

5. penyalahgunaan fitur

6. penurunan konsentrasi pada anak.

 

Jika ingin memperkenalkan gadget pada anak, beberapa ahli menyarankan sebaiknya mengenalkan fungsi dan operasi gadget pada anak saat usia 6 tahun. karena perkembangan anatomi otak anak sudah meningkat sebesar 95% otak dewasa.

 

Hal yang perlu diperhatikan:

1. penggunaan gadget harus sesuai dengan kebutuhan anak dan usia

2. perlu adanya kontrol waktu dari orang tua

3. penggunaan gadget berdasarkan manfaat

4. mengawasi adanya arus informasi dari gadget yang bersifat negatif

5. waspadai antisosial

6. waspadai adanya kecanduan.

13/04/2016 0 comments 939 views
Fakultas Psikologi UGM _ PSIKOLOGIA mempersembahkan acara Workshop Parenting : 
"GETTING CLOSER TO YOUR CHILDREN". Dalam Workshop tersebut, PSIKOLOGIA bekerjasama
dengan GSM sebagai Media Partner. Dalam workshop ini, kita bisa tahu bagaimana cara
membimbing anak dalam dunia internet dan cara menjauhkan anak dari bullying.

Melindungi anak-anak dari pengaruh buruk lingkungan membutuhkan strategi yang efektif. Menjadi orang dewasa yang berada di sekitar anak-anak adalah tantangan tersendiri. Isu mengenai bullying dan penggunaan gadget bagi anak menjadi hal penting yang perlu diperhatikan.

Berdasarkan data KPAI tahun 2011-2014, kasus bullying menduduki peringkat teratas pengaduan masyarakat dalam kategori kekerasan pada anak. Jumlahnya sekitar 25% dari total pengaduan di bidang pendidikan dari sebanyak 1.480 kasus yang dilaporkan. Sementara itu, penggunaan gadget yang kurang terkontrol memberi dampak negatif. Mulai dari bahaya radiasi terhadap mata, menurunnya tingkat produktivitas anak, kecanduan game, rentan terhadap pornografi dan kekerasan, sampai mengganggu konsentrasi anak dalam hal akademik. Lalu, bagaimana orang dewasa di sekitar anak berperan memberi perlindungan?

Magister Profesi Psikologi Klinis Fakultas Psikologi UGM mengadakan workshop parenting bertajuk “Getting Closer To Your Children”. Workshop akan diselenggarakan dalam dua hari, tanggal 16 April (Tema: Penggunaan gadget bagi anak) dan 17 April (Tema: Menghadapi bullying pada anak) 2016 di gedung G 100 Fakultas Psikologi UGM pukul 09.00-16.00. Workshop ditujukan untuk orangtua, guru, praktisi psikologi, dan akademisi.

Workshop mengenai penggunaan gadget akan menghadirkan pakar psikologi dan media, Dr. Neila Ramdhani M.Si, M.Ed, serta dokter spesialis tumbuh kembang anak. Materi diharapkan dapat meningkatkan pemahaman peserta mengenai perkembangan gadget, kasus gangguan kesehatan, adiksi pada gadget dan cara penangannya secara individu. Pemahaman terhadap dampak gadget pada kesehatan dan komunikasi keluarga diharapkan dapat meningkatkan keterampilan dalam mengatur penggunaan gadget secara efektif pada anak.

Sementara workshop mengenai bullying di sekolah akan menghadirkan pakar psikologi perkembangan, Dr. Maria Goretti Adiyanti, M.S, guru sekolah, serta mantan korban bullying. Materi akan difokuskan kepada meningkatkan pemahaman terhadap kasus bullying, penyebab, sampai dengan cara mengatasi kasus bullying pada anak.

Info lebih lanjut dan pendaftaran dapat menghubungi nomor 08561031266 dengan format: nama lengkap_instansi_pekerjaan_workshop gadget/bullying_no hp. Biaya pendaftaran ke nomor rekening 431666345 di bank BNI atas nama Arindah Arimoerti Dano. Konfirmasi pembayaran dapat dilakukan dengan mengirim bukti transfer ke psychologia101@gmail.com atau melalui sms/WA.

Poster Workshop Parenting
Poster Workshop Parenting
13/04/2016 0 comments 1178 views
Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) tidak hanya selalu membahas tentang pendidikan di sekolah. Karena pendidikan tidak hanya di sekolah, tetapi pendidikan juga dapat terjadi di masyarakat dan terutama adalah pendidikan di keluarga. Berikut merupakan cara bagaimana menciptakan hubungan yang berkualitas bersama anak di rumah.

 

Sesungguhnya setiap orang sangat menyadari bahwa sehari semalam tersebut ada 24 jam lamanya. Namun hanya sedikit orang yang betul-betul bisa memanfaatkan waktu dengan baik, bahkan terkadang banyak waktu terlewat begitu saja. Terutama waktu buat keluarga dan khususnya buat anak-anak.

24 jam jika kita bagi 3 maka masing-masing terdapat 8 jam. Pada umumnya keluarga, 8 jam pertama (jika dihitung dari malam) akan dimanfaatkan untuk istirahat malam atau tidur. 8 jam berikutnya (pagi-siang) orang tua bekerja dan anak ke sekolah, dan 8 jam lainnya (sore-malam) adalah sisa di mana seharusnya setiap keluarga bisa bertemu.

muniranaylatama.wordpress.com
muniranaylatama.wordpress.com

Mari sejenak kita bayangkan, dalam 24 jam hanya 8 jam kita diberi kesempatan untuk berkumpul dalam rumah. Itu pun terkadang masih berlalu begitu saja, si Ayah masih sibuk melanjutkan pekerjaan kantornya, dan si Ibu tidak ingin diganggu dengan acara sinetron atau online. Sementara anak tidak ada yang menemani mereka larut bermain game.

Keluarga yang demikian dipastikan kering komunikasi. Kehadiran setiap anggota keluarga memang nyata namun semu karena masing-masing sibuk dengan aktivitasnya. Bagi orang dewasa mungkin tidak akan berdampak negatif, namun bagi anak, mereka butuh eksistensi dari kedua orangtuanya, butuh didengar ceritanya dan pendapatnya.

Keluarga yang tidak terbiasa berkomunikasi satu sama lain, menyebabkan anak akan tumbuh dalam kesendirian. Mereka menjadi orang-orang yang tertutup, mudah tersinggung dan pendiam (sulit bicara). Sebelum hal itu terjadi, disarankan agar orang tua bisa menyediakan waktunya sedikit untuk si buah hati.

Dalam waktu yang 8 jam, cukup 3 jam saja setiap hari, ciptakan hubungan yang berkualitas kepada anak. Cari kegiatan yang biasanya dilakukan bersama-sama anggota keluarga, bisa dimulai dari sholat Magrib berjemaah (sekitar pkl. 18.00 wib). Selanjutnya selama 3 jam apa yang akan dilakukan? Banyak sekali yang bisa dilakukan bersama anak.

Misalkan dilanjutkan dengan mengaji, lalu belajar bersama, membaca buku, bercerita, diskusi, bercanda, bermain tebakan, atau makan bersama. Hal utama yang harus dikondisikan adalah, beri perthatian secara total kepada anak. Tutup atau hindari dulu godaan gadget atau gawai online, televisi, radio tape, video, dll.

Cukup selama 3 jam saja (mulai dari 18.00 – 21.00 wib) orang tua harus fokus kepada anak. Siapakah yang disebut orang tua ini? Apa hanya si Ibu saja sementara si Ayah tetap diperbolehkan buka laptop atau bermain hp? Kedua-duanya, karena bila salah satu, maka si Anak dapat berargumen bahwa si Ayah tidak kompak.

Kewajiban mendampingi dan mendidik anak adalah kewajiban kedua orang tua, bukan hanya si Ibu atau pun si Ayah saja.

Kemajuan zaman di era teknologi ini tantangan orang tua dalam membimbing dan mengawasi anak lebih berat. Akan banyak sekali pertanyaan anak yang mungkin sulit dan harus bijak menjawabnya, sehingga butuh kerjasama kedua orang tua.

Kondisi lainnya yang harus dipenuhi dalam menjalin hubungan berkuaitas dengan anak adalah, hindari tekanan dan pemaksaan kepada anak. Tidak ada perintah, tidak ada bentakan apa lagi kata-kata keras dan kasar. Beri mereka “kebebasan” berpendapat dan berekspresi. Ajaklah anak bicara berkomunikasi dari hati ke hati. Eksplorasi akan pendapat-pendapatnya.

Ajaklah agar si Anak mau bercerita hal sederhana, seperti keadaan di sekolah, soal teman-teman dan gurunya, juga mungkin tentang apa yang sudah dipelajari di sekolah (materi). Bila si Anak bisa mengulang bercerita tentang pelajaran di sekolah, bukankah itu sudah dinamakan belajar? Konsep belajar di rumah tidak harus membaca dan menulis.

www.boyschool.info
Ciptakan hubungan yang berkualitas bersama anak

Belajar juga bisa menggunakan metode bercerita. Apabila anak tidak mampu mengungkapkan materi yang ia pelajari di sekolah, maka sesungguhnya ia masih belum paham. Mungkin saja ia hafal tapi belum menguasai (pemahaman), mengapa harus begini, mengapa harus begitu, dsb. Bila ia bisa mengulang materi dengan kata-katanya sendiri, maka ia lebih menguasai.

Kondisi terakhir, dan ini tidak hanya di saat 3 jam tersebut, perluas wawasan orang tua akan segala hal yang mungkin akan berkait dengan pertanyaan anak. Apa yang dilakukan orang tua jika ia tidak tahu jawaban dari pertanyaan anak? Orang tua adalah panutan anak, bila tidak bisa menjawab atau malah marah-marah, si Anak akan kecewa.

Sebisa mungkin orang tua harus bisa menjawabnya (untuk itu perluas wawasan). Jangan sampai mengatakan, “Kamu baca sendiri saja di buku pelajaran,” atau “Tauk ahhh….!” Jika terpaksanya tidak tahu, tanyakan dulu pendapatnya atas jawaban versi si Anak. Atau, sampaikan padanya, “Baiklah, kita akan cari tahu besok ya…”

Kedekatan anak kepada orang tuanya sangat dibutuhkan, selain guna menjalin komunikasi atau keterbukaan juga untuk tetap menjaga rasa hormat anak kepada orang tuanya. Bila orang tua tidak mampu memberi contoh maka si Anak akan melawan dan tidak respek. Hal lainnya, seharian si Anak sudah dijejali pelajaran dan saat di rumah ia juga masih diwajibkan belajar, maka tidak heran anak merasa jenuh atau bosan.

Canggihnya teknologi juga tidak lepas dari perhatian anak, bahkan terkadang anak lebih pintar menguasai teknologi dibanding orangtuanya. Pada saat seperti itulah kemudian ia akan mencari segala sesuatu kepada teknologi dan bukan lagi kepada orangtuanya. Ia akan menjadi anak teknologi.

Ia tidak membutuhkan kehadiran dan kasih sayang orangtuanya lagi. Kondisi seperti ini tentu sangat menyedihkan dan tidak ingin menimpa anak-anak kita. Mari berkomitmen untuk menciptakan hubungan yang berkualitas kepada anak sedikitnya 3 jam saja setiap hari. Jika diterapkan maka dengan sendirinya jam belajar masyarakat akan tercipta.

 

Oleh:

Ailis Safitri, SHi

Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Macanan Kecamatan Ngemplak Sleman

28/03/2016 0 comments 4973 views

          Perkembangan dunia abad 21 ditandai dengan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam segala segi kehidupan, termasuk dalam proses pembelajaran. Dunia kerja menuntut perubahan kompetensi. Kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, dan berkolaborasi menjadi kompetensi penting dalam memasuki kehidupan abad 21. Sekolah dituntut mampu menyiapkan siswa/peserta didik memasuki abad 21.

          Pembelajaran pada abad 21 hendaknya disesuaikan dengan kemajuan dan tuntutan zaman. Begitu halnya dengan kurikulum yang dikembangkan oleh sekolah dituntut untuk merubah pendekatan pembelajaran yang berpusat pada guru/pendidik (teacher centered learning) menjadi pendekatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student-centered learning). Hal ini sesuai dengan tuntutan dunia masa depan anak yang harus memiliki kecakapan berpikir dan belajar (thinking and learning skills).

Kompetensi Siswa abad 21
Kompetensi Siswa abad 21 Gambar siswa SD Percobaan 2 saat kegiatan pembelajaran

          Kecakapan-kecakapan tersebut diantaranya adalah kecakapan memecahkan masalah (problem solving), berpikir kritis (critical thinking), kolaborasi, dan kecakapan berkomunikasi. Semua kecakapan ini bisa dimiliki oleh peserta didik apabila pendidik mampu mengembangkan rencana pembelajaran yang berisi kegiatan-kegiatan yang menantang peserta didik untuk berpikir kritis dalam memecahkan masalah. Kegiatan yang mendorong peserta didik untuk bekerja sama dan berkomunikasi harus tampak dalam setiap rencana pembelajaran yang dibuatnya.

          Pembelajaran yang berpusat pada peserta didik memiliki beberapa karakter yang sering di sebut sebagai 4C, yaitu:

  1. Communication

Pada karakter ini, peserta didik dituntut untuk memahami, mengelola, dan menciptakan komunikasi yang efektif dalam berbagai bentuk dan isi secara lisan, tulisan, dan multimedia. Peserta didik diberikan kesempatan menggunakan kemampuannya untuk mengutarakan ide-idenya, baik itu pada saat berdiskusi dengan teman-temannya maupun ketika menyelesaikan masalah dari  pendidiknya.

  1. Collaboration

Pada karakter ini, peserta didik menunjukkan kemampuannya dalam kerjasama berkelompok dan kepemimpinan, beradaptasi dalam berbagai peran dan tanggungjawab, bekerja secara produktif dengan yang lain, menempatkan empati pada tempatnya, menghormati perspektif berbeda. Peserta didik juga menjalankan tanggungjawab pribadi dan fleksibitas secara pribadi, pada tempat kerja, dan hubungan masyarakat, menetapkan dan mencapai standar dan tujuan yang tinggi untuk diri sendiri dan orang lain, memaklumi kerancuan.

Kompetensi siswa abad 21
Kompetensi siswa abad 21
  1. Critical Thinking and Problem Solving

Pada karakter ini, peserta didik berusaha untuk memberikan penalaran yang masuk akal dalam memahami dan membuat pilihan yang rumit, memahami interkoneksi antara sistem. Peserta didik juga menggunakan kemampuan yang dimilikinya untuk berusaha menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya dengan mandiri, peserta didik juga memiliki kemampuan untuk menyusun dan mengungkapkan, menganalisa, dan menyelesaikan masalah.

  1. Creativity and Innovation

Pada karakter ini, peserta didik memiliki kemampuan untuk mengembangkan, melaksanakan, dan menyampaikan gagasan-gagasan baru kepada yang lain, bersikap terbuka dan responsif terhadap perspektif baru dan berbeda.

 

sumber: di sini

26/02/2016 0 comments 1495 views
Sumbangan Tulisan : Yuna Puteri Kadarisman

Kegiatan guru piket tidak selalu membosankan. Seperti yang dilihat Yuna Puteri Kadarisman ketika mengunjungi Clayton North primary School (CNPS) di Australia, dalam rangka program Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) yaitu School Visit bagi mahasiswa Master Indonesia di Melbourne. Tujuan dari program tersebut agar mahasiswa Master / guru dapat belajar tentang suasana belajar yang menyenangkan di Australia.

Yuna bertemu dengan Shaun, seorang social worker di CNPS yang sedang membantu mengembalikan konsentrasi siswa melalui kegiatan sederhana.

        Pak Shaun, seorang Social Worker yang ditugaskan pada Clayton North Primary School (CNPS). Beliau ditugaskan ke CNPS karena sekolah ini termasuk ‘school at risk’ dari segi beragamnya latar belakang siswa disana. Tugas beliau simple, salah satunya adalah membantu siswa mengakomodasi emosinya. Saat siswa merasa bosan dan tidak bisa berkonsentrasi di kelas, atau saat siswa mengalami masalah perilaku, Pak Shaun akan membantu mengembalikan konsentrasi mereka melalui kegiatan sederhana seperti membangun ‘Tree House’ dihalaman belakang sekolah, atau mengecat gudang perlengkapan. Tugas beliau mengingatkan saya akan peran guru piket di sekolah kita.

Pak Shaun, Social Worker @ CNPS
Pak Shaun, Social Worker @ CNPS

            Ketika saya ditunjuk sebagai guru piket beberapa tahun lalu, saya merasa bosan dan tidak berdayaguna. Tugas saya hanya menyampaikan tugas guru yang tidak hadir karena alasan tertentu, me-recap siswa dan guru yang tidak masuk, dan sesekali mencari siswa yang terlambat masuk kelas atau ‘menghilang’ karena tertidur diperpustakaan. Sungguh membosankan. Dan Pak Shaun memberi saya ide untuk membuat tugas guru piket menjadi menarik.

            Guru piket bisa juga diserahi tugas untuk mengawasi siswa yang memerlukan perlakuan khusus. Seperti siswa yang ketinggalan pelajaran karena sakit atau ijin, lalu harus mengerjakan beberapa tugas tambahan. Atau seperti Pak Shaun, mengawasi siswa yang memiliki masalah perilaku di kelas dengan memberikan mereka tugas yang berbeda. Namun kita harus berhati-hati agar siswa tidak memandangnya sebagai ‘hukuman’. Kuncinya adalah membiarkan siswa memilih sendiri kegiatannya. Jika mereka suka perpustakaan, biarkan mereka membantu pustakawan membereskan perpustakaan. Jika mereka suka berkebun, kenapa tidak meminta mereka membantu Pak Bon sekolah. Atau membantu mas CS menyiapkan minuman untuk guru-guru. Intinya, mereka berkegiatan, walaupun tidak harus didalam kelas. Beri juga batasan kewajaran. Jika dalam satu semester siswa mengalami sekali rasa kebosanan, sangat wajar. Namun jika sudah beberapa kali meminta ijin terutama pada waktu jam pelajaran tertentu, kita harus mulai waspada akan adanya permasalahan yang lebih kompleks. Dan, siapa yang bisa memberikan informasi terinci tentang hal ini jika bukan guru piket?

 

*Tulisan ini adalah pendapat pribadi. Yuna Puteri Kadarisman , MAN Insan Cendekia Serpong

15/02/2016 0 comments 1589 views

Model Pembelajaran Direct Instruction

Mengajar itu horisontal, bukan vertikal

            Sifat mengajar yang horisontal berarti kita sebagai tentor/guru menempatkan diri sama tinggi dengan siswa kita. Kita berbicara sebagai orang yang lebih dahulu tahu, bukan lebih pintar. Kita mentransfer ilmu, bukan memberi ilmu.

suryanni.blogspot.com
suryanni.blogspot.com

“Bu guru berdiri di depan kalian bukan karena bu guru lebih pintar dari anak-anak, namun hanya karena bu guru mengenal ilmu ini lebih dahulu daripada kalian. Mungkin suatu saat diantara kalian ada yang lebih mengerti dan lebih pintar dari bu guru.”

            Pernyataan diatas sudah memberikan dorongan kepada siswa untuk lebih santai dan lebih menikmati kebersamaannya dengan kita. Jika kelas sudah santai dan dinikmati, maka pelajaran mudah diberikan. Dalam memberikan pelajaran, anggaplah kita sedang bercerita tentang pengalaman sehingga ilmu apapun itu tidak terkesan menyeramkan.

motivasi

Mengajar itu memberikan motivasi

            Dalam mengajar, pastikan selalu memberikan motivasi kepada murid-murid kita. Motivasi bisa dilakukan di seluruh waktu, namun ada waktu-waktu yang terbaik.

  • Motivasi di pertemuan pertama

            Memotivasi anak di awal pertemuan merupakan hal yang penting untuk keberlangsungan pembelajaran. Misal pada saat pelajaran tentang pahlawan. Di pertemuan pertama kita membawa foto Ir. Soekarno dan memajangnya di depan kelas, lalu kita bercerita tentang Ir. Soekarno dan kisah perjuangan beliau terhadap kemerdekaan Indonesia. Bagi anak-anak kisah Ir. Soekarno itu inspiratif.

kotak prestasiku PIB

  • Motivasi pada tengah pelajaran

            Guru memberikan hadiah (reward) kepada siswa yang dapat mengerjakan sesuatu yang ditugaskan di tengah-tengah pelajaran. Reward itu bisa berupa makanan atau minuman, alat tulis dan juga bisa berupa hiasan kertas bentuk bintang yang ditempel, kotak prestasi, dll. Reward ini bisa membuat anak lebih termotivasi dalam belajar atau mengerjakan sesuatu.

  • Motivasi di akhir pelajaran

            Guru dapat memberikan preview pelajaran selanjutnya pada bagian yang menarik sebelum kelas berakhir. Hal ini membuat siswa kita menjadi semangat untuk mengikuti kelas kita selanjutnya. Penasaran adalah senjata guru untuk membuat kelasnya menjadi diminati oleh murid-muridnya.

            Dan tak lupa, sebagai seorang guru kita haruslah menjadi seseorang yang dapat menyakinkan murid kita bahwa mereka hebat. Kita harus bisa menanamkan kepada mereka bahwa mereka pasti bisa melakukan apa saja asalkan berusaha dengan baik. Hal ini dapat kita tempuh dengan menghindari kalimat-kalimat yang menurunkan keyakinan terhadap diri mereka sendiri. Di dunia ini tidak ada orang bodoh, hanya saja memiliki pemahaman yang berbeda.

images (1)

Mengajar itu memberikan contoh

            Seorang guru pernah mengatakan bahwa “ajarkan apa yang kamu bisa, bukan apa yang kamu tahu”. Maksudnya adalah apa yang kita ajarkan sebaiknya adalah sesuatu yang kita mengerti dan bisa kita lakukan. Lakukan dengan memberikan contoh. Ketika mengajar sebaiknya seorang guru lebih banyak memberikan contoh dan mempraktekkan langsung supaya siswa mengerti dan tidak hanya mengimajinasikan dalam pikiran saja.

2013082317581080960

Oleh karena itu, sebagai guru kita harus paham konsep dari suatu hal yang diajarkan. Pemahaman konsep akan membuat kita mudah memberikan contoh apa saja dan memecahkan problematika yang mungkin dihadapi oleh para siswa.

            Demikian beberapa tips dari bagaimana mengajar agar siswa tertarik dan termotivasi. Semoga bermanfaat 🙂

Tulisan ini disadur dari : https://hanyalewat.com/20131070-trik-mengajar-supaya-siswa-tertarik-dan-termotivasi

27/01/2016 0 comments 1319 views

Demam berdarah merupakan salah satu penyakit yang selalu ada di setiap tahun, terutama pada saat musim hujan tiba. Penyakit demam berdarah disebabkan oleh virus dengue. Virus dengue berasal dari gigitan nyamuk Aedes Aegypti. Oleh karena itu, penyakit demam berdarah sering disebut dengan DBD (Demam Berdarah Dengue).

            Penyakit demam berdarah dengue dapat menyerang siapa saja, mulai dari anak-anak hingga dewasa.  Terutama anak-anak yang masih rentan dengan virus dan penyakit, termasuk anak sekolah yang merupakan kelompok yang paling rentan tertular penyakit demam berdarah.

thumb(34)

Karena nyamuk Aedes aegypti lebih aktif di pagi hingga siang hari. Saat pagi hingga siang hari itulah anak-anak sedang belajar di sekolah. Selain itu, juga karena keadaan lingkungan sekolah yang kurang menjaga kebersihan, ditambah lagi apabila keadaan kelas yang gelap dan lembab karena musim hujan. Nyamuk sangat suka dengan tempat yang lembab dan pada genangan air. Oleh karena itu kebersihan lingkungan sekolah harus tetap dijaga agar tidak mudah terserang penyakit DBD.

            Berikut tips cara mencegah penyakit demam berdarah dengue di sekolah:

  DB

            Pertama-tama, kita harus memahami bahwa 3M adalah sebuah ide program sederhana yang diluncurkan Pemerintah beberapa tahun yang lalu. 3M sendiri merupakan akronim dari Menguras, Menutup, dan Mengubur. Definisi dan penjelasan lengkapnya adalah sebagai berikut:

Menguras

            Yaitu menguras tempat penampungan air di sekolah secara rutin, minimal jika air sudah mulai keruh, seperti bak mandi dan kolam. Upaya ini dimaksudkan untuk mengurangi perkembangbiakan dari nyamuk yang membawa potensi demam berdarah. Air yang keruh dan jarang dikuras tempatnya merupakan tempat yang bagus bagi nyamuk untuk bertelur dan menempatkan jentik-jentiknya untuk berkembang biak.

Menutup

            Yaitu menutup tempat-tempat penampungan air di sekolah, khususnya yang menjadi konsumsi tiap hari seperti air di kantin sekolah. Umumnya, untuk sekolah daerah perdesaan, tampungan air jarang sekali dikuras karena kondisi tidak memungkinkan. Jangankan dikuras, air berkurang saja harus segera diisi kembali karena memang merupakan tempat cadangan air untuk keperluan sehari-hari. Tempat-tempat seperti ini harus ditutup agar nyamuk tidak bisa meletakan telurnya kedalamnya mengingat nyamuk pembawa penyakit demam berdarah sangat menyukai air yang bening.

Mengubur.

            Yaitu mengubur barang – barang yang tidak terpakai yang dapat memungkinkan terjadinya genangan air. Barang-barang tersebut dapat meliputi botol bekas jajanan anak, kaleng bekas, plastik jajanan, dan barang-barang yang memungkinkan nyamuk bertelur di dalamnya. Jika tidak dikubur, bisa dibikin kreativitas dari barang bekas, atau bisa juga dijual ke tukang barang bekas.

            Selain 3M di atas, ada tambahan (PLUS) untuk melengkapi cara mencegah penyakit demam berdarah dengue di sekolah yaitu hindari gigitan nyamuk, hindari bermain di tempat yang kotor, selalu menjaga kebersihan kelas dan lingkungan sekolah, mengganti seragam sekolah secara berkala, tidur memakai kelambu dan memakai obat nyamuk.

Semoga bermanfaat

sumber di sini

Loading...