Pengelolaan Sekolah

05/09/2016 0 comments 1166 views

Penerapan Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM)  di beberapa sekolah di Yogyakarta telah dimulai dan telah merubah lingkungan di sekolah-sekolah tersebut. Banyak kepala sekolah dan guru yang baru mengetahui adanya cara belajar yang baru.

 

Berikut rekaman wawancara antara sbs dengan founder Gerakan Sekolah Menyenangkan Muhammad Nur Rizal, Ph.D terkait perkembangan penerapan konsep sekolah menyenangkan yang telah menghasilkan perubahan-perubahan di sekolah, seperti setting kelas, pelibatan secara aktif siswa, model belajar, dll.

 

Rekaman

 

Dalam wawancara tersebut  Muhammad Nur Rizal menjelaskan bahwa sekolah yang tergabung dalam jejaring GSM dapat dipantau/didampingi perubahannya melalui forum kunjungan di sekolah-sekolah dan juga forum group di WhatsApp (WA).

Kita menggunakan teknologi, karena kita pahami bahwa teknologi bisa melakukan penetrasi untuk media sosial baru. Dalam hal ini sekolah-sekolah, sehingga pendampingan yang kita lakukan kita diundang biasanya oleh sekolah itu untuk melihat dan mengunjungi perubahan-perubahan yang dilakukan kemudian kita memberikan masukan-masukan terhadap perubahan yang terjadi, itu pertama secara fisik.

Contoh yang dilakukan anak-anak di SD Negeri Tiimbulharjo di Yogyakarta dimana kelas mereka didesain untuk memiliki ruang bergerak dan berkolaborasi
Contoh yang dilakukan anak-anak di SD Negeri Tiimbulharjo di Yogyakarta dimana kelas mereka didesain untuk memiliki ruang bergerak dan berkolaborasi dalam sebuah project

Yang kedua dengan teknologi kita punya group WA yang kemudian kita dorong mereka men-sharing kan / meng-upload kan perubahan yang terjadi. Misalnya, ada sekolah yang tidak punya atap di kelasnya, kemudian anak-anak dan guru menaruh hasil kreasi project anak-anak di pojok-pojok kelas ataupun digantung di ruang ruang kelas yang tidak beratap. Kemudian mereka membuat target belajar sendiri. Mereka membuat bagaimana membuat anak-anak itu dibangun literasinya, dan banyak perubahan-perubahan lainnya. Dan itu kemudian menginspirasi sekolah-sekolah lain yang belum bergerak berubah untuk kemudian berubah.

Contoh setting kelas SD N Karangmloko 2
Contoh setting kelas SD N Karangmloko 2 beserta pajangan hasil karya anak di dinding kelas

Pendekatan kita , apresiasi inquiry approach, yakni kita mengapresiasi perubahan-perubahan yang terjadi dengan cara menselebrasi merayakan yang kemudian perubahan itu kita viralkan agar menjadi momentum perubahan yang besar. Jadi yang belum berubah tidak kita hukum, tidak kita coret dari sekolah jejaring, tapi kita tunggu untuk kita sadarkan bahwa ada komitmen (Muhammad Nur Rizal).

Contoh MI Muh Pengkol saat siswa memajang hasil karyanya di ruang-ruang atap
Contoh MI Muh Pengkol saat siswa memajang hasil karyanya di ruang-ruang atap

Untuk tanggapan siswa sendiri siswa merasa senang ketika ulangan diganti dengan projek tematik. Karena siswa lebih aktif dilibatkan, suasana lingkungan kelas sudah berubah sehingga lebih senang.

 

Sumber:

http://www.sbs.com.au/yourlanguage/indonesian/id/content/gerakan-sekolah-menyenangkan?language=id

01/02/2016 0 comments 2256 views

Menciptakan sekolah yang aman, nyaman, dan disiplin sangatlah penting agar siswa dapat mencapai prestasi yang terbaik dan guru dapat menampilkan kinerja yang terbaik. Untuk menciptakan kondisi yang baik sangat diperlukan perhatian, kepedulian, dan kerjasama dari semua elemen (stake holder)  yang ada, mulai dari pimpinan/kepala sekolah, guru, siswa, orang tua, komite sekolah, dan masyarakat sekitar sebagai pendukung pendidikan. Semua elemen ini bertanggungjawab menciptakan suasana yang aman, nyaman dan efektif bagi terlaksananya pendidikan yang baik. Dalam hal ini pembelajaran akan sukses bila suasana sekolah aman,nyaman dan tertib.

Berikut cara menciptakan sekolah aman, nyaman, dan efektif:

  1. Meningkatkan keamanan lingkungan fisik sekolah

Untuk meningkatkan keamanan sekolah, upaya harus difokuskan pada bangunan fisik sekolah, tata letak dan kebijakan dan prosedur yang ada untuk melaksanakan kegiatan sehari-hari dan menyelesaikan masalah yang mungkin timbul. Bangunan sekolah, kelas, ruang lab, kantor, perpustakaan, lapangan olah raga dan halaman sekolah harus direview. Selain itu, berbagai kebijakan dan prosedur juga akses masuk sekolah harus dinilai kembali. Penggunaan teknologi untuk mencegah orang masuk penyusup masuk dari luar seperti alarm, pagar, teralis harus dipertimbangkan.

 

  1. Meningkatkan disiplin siswa

Disiplin menurut paradigma baru adalah langkah-langkah atau upaya yang perlu guru, kepala sekolah orang tua dan siswa ikuti untuk mengembangkan keberhasilan prilaku siswa secara akademik maupun sosial. Jadi disiplin dianggap sebagai alat untuk untuk menuju keberhasilan untuk semua guru, dan semua siswa di berbagai situasi.

 

  1. Menghilangkan hukuman fisik dan merendahkan oleh guru terhadap siswa

Siswa memang perlu belajar untuk disiplin terutama disiplin diri. Akan tetapi untuk mengajarkan disiplin tersebut bukan dengan cara memberikan hukuman fisik dan hukuman merendahkan karena hukuman ini terbukti tidak efektif untuk menegakkan disiplin. Sebaiknya guru menasehati atau memberitahu dan menjelaskan kepada siswa kesalahan apa yang telah mereka lakukan bukan dengan cara memberi hukuman fisik atau hukuman merendahkan.

 

  1. Menghilangkan kekerasan terhadap siswa yang lebih lemah di sekolah

Kekerasan terhadap siswa yang lebih lemah (bullying) adalah suatu situasi dimana seorang siswa atau lebih secara terus menerus melakukan tindakan yang menyebabkan siswa lain menderita. Agar kekerasan terhadap siswa yang lebih lemah ini tidak terjadi maka perlu dibuat aturan sekolah untuk melindungi siswa korban kekerasan.

Strategi anti kekerasan terhadap siswa yang lebih lemah antara lain:

 

  • Pencegahan

Pencegahan preventif diintegrasikan dalam semua kurikulum mata pelajaran, termasuk hubungan, tanggung jawab, dan akibat negatif dari kekerasan.

  • Dukungan antar teman
  • Prosedur yang jelas

Prosedur untuk menyampaikan keluhan tindakan kekerasan antar teman harus tersedia, misalnya kepada unit bimbingan dan konseling, atau konseling antar teman.

 

  • Promosi

Promosi ini dapat berupa leaflet, poster, laporan berkala dan bentuk penerbitan lain yang berisi kebijakan anti kekerasan sekolah.

Sumber di sini

22/05/2015 0 comments 2799 views

Permasalahan yang terjadi di sekolah bukanlah hal yang sederhana. Isu-isu kecil yang terjadi dapat memberi dampak yang besar bagi banyak orang. Misalnya saja masalah kekerasan di lingkungan sekolah, siswa yang menyimpang, keisengan yang menimbulkan pengrusakan dan sampah, perbedaan sosial ekonomi. Bahkan sampai dengan masalah kesejahteraan guru yang membuat guru tidak maksimal dalam mengajar.

Penelitian menunjukkan bahwa lingkungan sekolah yang positif dapat membantu menyelesaikan masalah-masalah di sekolah. Menurut hasil penelitian, lingkungan sekolah positif dapat menurunkan perilaku membolos, skors, penyalahgunaan zat, bullying, dan meningkatkan pencapaian akademik, motivasi untuk belajar, serta kesejahteraan psikologis. Bahkan dapat mengurangi efek negatif dari kritik dan status sosial ekonomi dalam kesuksesan akademik. Selain itu, guru pun dapat lebih nyaman.

sumber: youth.gov
sumber: youth.gov

Tantangannya adalah, menciptakan iklim lingkungan sekolah yang positif adalah hal yang sangat sulit. Setiap manusia memiliki pemikiran sendiri-sendiri, sehingga akan sulit untuk membuat seseroang menjadi bersemangat dan optimis dengan perintah. Hal itu membutuhkan perawatan yang banyak, sebab motivasi dan kebutuhan manusia adalah hal yang kompleks. Berikut beberapa tips bagaimana cara memulainya.

Mari gambarkan sejenak bagaimana yang dimaksud dengan iklim sekolah yang positif. Ketika kita memasuki sekolah, kita dapat langsung merasakan iklim sekolah dengan hanya melihat interaksi antar manusia dan melihat lingkungan fisiknya. Apakah guru, murid, dan kepala sekolahnya terlihat senang dan saling menghormati satu sama lain? Apakah sekolahnya bersih dan teratur? Apakah papan pengumuman berisi pesan-pesan yang positif? Apakah murid terikat dengan apa yang mereka pelajari?

Pada tahun 2007, National School Climate Council, mengeluarkan criteria spesifik yang mendefinisikan iklim sekolah yang positif, yaitu:

  • Norma, nilai, dan harapan yang mendukung kemanan sosial, emosional, dan fisik.
  • Keterikatan dan saling menghormati satu sama lain.
  • Murid, keluarga, dan pendidik bekerja bersama-sama untuk mengembangkan visi sekolah.
  • Pendidik memelihara sikap menekankan keuntungan yang didapatkan dari belajar.
  • Setiap orang berkontribusi dalam operasional sekolah dan menjaga lingkungan fisik sekolah.

Sumber: greatergood.berkeley.edu

25/04/2015 0 comments 1284 views
sumber: http://www.nytimes.com/
sumber: http://www.nytimes.com/

Ujian Nasional (UN) untuk tingkat SMA/SMK/MA sederajat baru saja berakhir. Ada perasaan lega, para siswa, guru, dan orang tua bisa jadi bernafas lega setelah gelaran ujian di akhir studi. Sebaliknya, pemerintah, khususnya yang menangani pendidikan sibuk dengan evaluasi dan kritik yang membanjir setelah pelaksanaan UN. Sejak lama, UN dikritik karena dianggap membebani siswa. Lalu adakah sistem pendidikan di dunia yang memberikan kebebasan kepada siswanya?

Siang itu, suasana Brooklyn Free School di Clinton Avenue, Brooklyn, New York, terlihat kacau. Sekitar 80 orang anak yang berusia 4-18 tahun terlihat mondar-mandir tak teratur. Mereka naik turun tangga dengan ribut. Kecuali kelompok termuda, mereka berada di ruangan tersendiri memilih kegiatan yang diminatinya, beberapa anak terlihat sedang menggambar, bekerja di laptop, membaca buku, bermain permainan video, berlatih atau membangun set untuk pertunjutan teater adaptasi dari “Hairspray.”

Sementara itu, di kelas lain sekelompok anak berusia 9 tahun belajar budaya Afrika Barat pada abad 19. Mereka bersama dengan para penasihat mereka (guru disebut “penasihat” di Brooklyn Free School). Di dapur, beberapa remaja membuat kue yang rencananya akan dijual untuk mendapat uang untuk teater. Seorang gadis kecil menyapu sebuah ruangan kosong sendirian, sementara yang lain membawa keluar sampah yang dapat didaur ulang.

Sekolah ini mungkin terlihat kacau karena masing-masing anak menentukan sendiri kegiatan yang ingin dilakukan. Tidak ada yang memberitahu murid-murid itu apa yang harus dilakukan hari ini atau hari berikutnya. Terinspirasi dari filsafat pendidikan demokratis pada tahun 1600an, tidak ada kurikulum wajib, nilai, pekerjaan rumah atau ujian di Brooklyn Free School. Para murid memilih apa dan bagaimana mereka ingin belajar.

Setiap individu memiliki hak setara

Brooklyn Free School menerapkan sistem sekolah demokratis. Selain anak-anak memiliki kebebasan mengekspresikan dirinya, mereka juga setara dengan para staf. Salah satu dari persyaratan yang sedikit aneh adalah kehadiran pada pertemuan tata kelola demokratis mingguan di sekolah, di mana suara murid setara dengan para staf. Tidak semua memberikan perhatian, tapi mereka harus hadir.

Meski terlihat sangat bebas, sekolah ini tetap memberlakukan beberapa peraturan yang bersifat fleksibel. Murid-murid tetap memiliki ruang untuk memilih dan belajar mewujudkannya.

Banyak orang meragukan apakah anak-anak dapat menguasai hal-hal yang perlu mereka ketahui tanpa kurikulum wajib. Sementara itu, para advokat mengatakan sekolah bebas ini tidak untuk semua orang. Namun mereka mengatakan ini bentuk pendidikan yang mempercayai keinginan mendasar anak-anak untuk belajar dan memupuk pemikiran independen dan kritis yang diandalkan oleh demokrasi.

Dalam operasi selama 11 tahun, Brooklyn Free School telah meluluskan sekitar 24 murid dan sebagian besar telah kuliah. Murid-murid mencalonkan diri untuk kelulusan dan menulis transkrip SMA mereka sendiri. Beberapa memilih untuk mengambil ujian-ujian negara terstandardisasi dan ujian masuk universitas.

Noah Zeines, 14, mengatakan ia telah mengambil pelajaran mitologi Yunani dan matematika pada kelas-kelas siklus musim dingin, dan akan mulai mempelajari fisika dan kimia. Bagi siswa yang tertarik pada matematika disediakan jam pelajaran tambahan yang mendukung keterampilan individu. Di sisi lain, bila lebih tertarik pada bidang-bidang humaniora, sekolah ini menyediakan kelas filsafat, ekonomi dan psikologi. Tahun ini, para murid juga menginisiasi kelas-kelas geometri, studi Afrika dan penulisan analitis, untuk membantu mereka mendaftar universitas.

Selain memiliki keragaman dalam materi pelajaran, sekolah ini juga terdiri dari individu-individu yang sangat beragam. Sekitar setengah dari murid adalah berasal dari etnik Afrika Amerika atau Latino. Untuk pembayaran, sekolah ini menerapkan subsidi silang, sepertiga murid membayar di bawah US$500 per tahun dan sepertiga lainnya sekitar $10.000, sementara sisanya $22.000.

Sekolah ini dirasa sangat menyenangkan bagi para siswa. Amalia Schwarzchild mengatakan ketertarikannya pada sejarah dan studi perbandingan agama dapat terpuaskan di sekolah ini. Ia yang tak suka pada kuis dan ujian sangat menikmati suasana belajar di Brooklyn Free School. Selain itu, ia merasa sangat dihargai sebagai individu, ia punya kebebasan untuk menentukan targetnya dan mewujudkannya.

Sekolah-sekolah demokratis seperti ini dapat ditemukan di 33 negara, termasuk Korea Selatan, Jepang, India, Inggris, Jerman, Israel dan Brazil, menurut Organisasi Sumber Daya Pendidikan Alternatif. Mayoritasnya sekolah demokratis, berada di Amerika Serikat.

Kapan ya hadir di Indonesia? Sudah siapkah kita pelajar untuk bertanggung jawab pada diri sendiri?

 

Tulisan ini sebelumnya dimuat di isigood.com.

21/04/2015 1 comments 1835 views

Agak tergesa, aku masuki halaman sekolah anakku. Udara musim panas amat menyengat siang ini. Ketika sedang mencari-cari ruang guru,  tiba-tiba terdengar sapaan ramah dari seorang gadis kecil,

“Assalamu’alaikum Mrs. How can I help you? (Assalamu’alakum, Bu. Bisa saya bantu?)” Segera kuhentikan kursi roda kemudian menoleh ke arah gadis kecil berkerudung putih itu.

“Ooh … Wa’allaikum salam. I’m  looking for Mrs. Nick office, could you tell me where is it? (Ooh … Wa’allaikum salam. Saya mencari ruangan Ibu Nick, bisakan kamu menunjukkannya?)” dengan sopan gadis itu mengangguk dan mengantarku ke kantor yang dimaksud.

sumber: http://www.abc.net.au/
sumber: http://www.abc.net.au/

Sesampainya di ruangan, Mrs. Nick membuka pintu dan segera mempersilahkanku masuk sambil memindahkan kursi-kursi agar kursi rodaku  dapat memasuki ruangan dengan leluasa. Ia meminta maaf kalau aku mendapatkan kesulitan ketika menuju ke ruangannya. Ia menjelaskan bahwa tujuannya mengundangku ke sekolah adalah untuk mendiskusikan pemberian penghargaan dan beasiswa atau kesempatan melompat ke kelas yang lebih tinggi pada siswa-siswa yang mempunyai prestasi bagus. Rupanya anakku adalah salah satu siswa berprestasi tersebut.

Mrs. Nick mengungkapkan kebanggaannya atas prestasi yang telah dicapai anakku serta kekaguman pada sikapnya yang selalu bersedia membantu temannya baik dalam mata pelajaran maupun hal lain. Beliau mengatakan, semua itu pasti karena kami, orang tuanya, yang telah berhasil membimbingnya dengan baik.  Saat  berpamitan, Mrs Nick menyatakan bahwa anakku sangat beruntung  mempunyai ibu yang penuh perhatian, suportif dan percaya diri, pasti anakku merasa bangga akan hal itu.

Dalam perjalanan pulang, muncul pertanyaan di hati ini. Terlintas juga pikiran, benarkah anakku bangga terhadapku? Pikiran itu kerap menggangguku, karena keterbatasan kondisi fisikku sehingga harus menggunakan kursi roda untuk beraktivitas. Kadang terbersit perasaan takut membuat anakku akan merasa malu pada teman-temannya jika harus datang ke sekolah untuk berbagai keperluan dikarenakan kondisiku ini.

Masih kuingat saat masih di bangku sekolah dulu, bagaimana temanku melarang orangtuanya datang ke sekolah hanya karena merasa malu karena ayahnya menggunakan kruche untuk membantunya berjalan akibat menderita polio semasa kecilnya. Karena kekhawatiran itu beberapa kali kutanyakan pada anakku tentang masalah ini, tetapi selalu dijawab kalau dia sama sekali tidak merasa malu dengan kondisiku. Malahan dia menegaskan,

“No, Mam, never ever think that way, I’m proud of what you are and who you are. (Tidak, Bu. Jangan pernah berpikir begitu. Saya bangga dengan Ibu dan apa yang Ibu miliki).”

Aku teringat cerita anak temanku yang mempunyai keterbatasan fisik bernama Desi,  yang sekolah di salah satu public school di Melbourne. Desi menderita kelumpuhan yang lumayan parah sejak kecil, tetapi kecerdasan dan semangat belajarnya sangat mengagumkan.  Untuk aktivitas se hari-hari, dia menggunakan kursi roda dan didampingi seorang pengasuh  yang selalu siap membantunya.

Di hari pertama ke sekolah, Desi merasa takut dan resisten. Tapi ternyata, guru kelas menyambutnya dengan senyum dan sapaan ramah sambil memperkenalkannya pada semua teman-teman sekelas. Gurunya berpesan agar semua murid bisa membantu Desi jika ada kesulitan, baik dalam pelajaran maupun aktivitas lainnya. Setelah itu semua teman sekelas memperkenalkan diri dan menyalaminya dengan ramah. Desi hanya tersenyum malu sambil mengangguk kemudian menuju tempat yang sudah disediakan untuknya. Seketika Desi merasa takjub. Dia tidak menyangka ternyata tempat yang telah dipersiapkan khusus untuknya adalah barisan paling depan dengan ruang yang cukup luas untuk kursi rodanya leluasa bermanuver dan dilengkapi dengan meja  beroda yang dan diatur ketinggiannya hingga dapat disesuaikan dengan kebutuhannya.

Saat istirahat makan siang, sambil makan siang teman-teman barunya silih berganti menjelaskan semua kegiatan yang ada di sekolah yang dapat diikutinya. Setelah selesai makan siang, salah seorang teman Desi mendorong kursi rodanya berkeliling menunjukkan semua fasilitas sekolah. Mendapat sambutan yang bersahabat dan menyenangkan seperti itu kekhawatiran dan ketakutannya berangsur berkurang. Apalagi setelah mengetahui sarana dan fasilitas yang ada di sekolah memudahkannya mengikuti semua kegiatan. Desi yakin dapat menyesuaikan diri dan mengikuti semua pelajaran dengan baik.

Sepanjang jam sekolah hari itu, pengasuh Desi menunggu di depan kelas berjaga-jaga jika Desi sewaktu-wakktu membutuhkan bantuan yang seperti biasa dilakukan selama ini. Seusai jam pelajaran, Desi dan pengasuhnya dipanggil ke ruang guru untuk mendiskusikan sesuatu. Wali kelas Desi menjelaskan bahwa peraturan sekolah tidak memperkenankan  siswa ditunggu keluarga saat jam belajar di sekolah, karena segala sesuatu keperluan siswa menjadi tanggung jawab sekolah.

Hari pertama tanpa didampingi pengasuh, Desi kembali merasa cemas dan gelisah. Dia merasa tidak percaya diri dan takut tidak dapat mengikuti dan menyelesaikan kegiatan di sekolah.  Akan tetapi apa yang ditakutkannya sama sekali tidak terjadi. Desi dapat mengikuti pelajaran dengan baik, semua  guru dan teman-temannya selalu menawarkan bantuan secara sukarela. Demikian juga saat istirahat teman-temannya akan membantunya, mengambilkan minum dari tap water ataupun memanaskan makanan. Selesai makan siang, mereka bermain bersama ataupun hanya ngobrol sambil bergurau  sebelum kembali masuk kelas.

Pihak sekolah menyediakan semua modifikasi fasilitas sekolah  yang diperlukan Desi. Semua ruangan kelas dan sarana belajar lainnya dapat diakses (accessible) untuk kursi  roda,  Termasuk kelas yang biasanya berkegiatan di lantai atas, dipindahkan ke lantai dasar berikut semua peralatannya supaya Desi dapat mengikuti pelajaran tersebut. Pendek kata, semua fasilitas yang berhubungan dengan mata pelajaran dan aktivitas lainnya, seperti tempat bermain, kantin dan disable toilet. Dengan fasilitas seperti itu Desi dapat mengikuti semua kegiatan sekolah tanpa didampingi oleh pengasuhnya.

Hari-hari selanjutnya Desi berangkat sekolah dengan semangat dan antusias. Di sekolahpun ia dapat mengikuti semua pelajaran dan kegiatan dengan baik. Desi dapat cepat menyesuaikan diri dengan dengan teman-teman dan lingkungan sekolah. Desi bahkan menjadi murid yang berprestasi disekolah itu. Semua guru dan temannya sangat suportif dan tidak menganggapnya berbeda apalagi mempunyai kekurangan. Desi tidak merasa rendah diri karena keterbatasan fisiknya. Dia merasa sangat nyaman dan senang pergi ke sekolah.

Kini, aku bisa membayangkan perasaan Desi yang merasa senang di sekolah. Aku pun pernah mengalaminya. Walaupun hanya mengambil kursus komputer di suatu Neighbourhood House, semacam Balai Latihan Kerja di lingkungan sekitar tempat tinggalku. Pihak penyelenggara memindahkan ruangan kursus beserta seluruh perangkatmya ke lantai dasar hanya karena aku tidak bisa naik tangga ke lantai satu tempat ruangan komputer itu berada sebelumnya. Mereka juga memindahkan vending machine snack dan minuman ringan yang sebelumnya ada di basement untuk alasan yang sama.

Pikiranku melayang jauh ke masa kecilku dulu saat seusia Desi.  Aku teringat  betapa setiap hari aku mendapat ejekkan dan hinaan dari temanku yang bandel. Anak-anak itu tidak juga berhenti ataupun jera mengejek walaupun setiap kali ketahuan guru pasti terkena marah bahkan dihukum, tapi tetap saja mereka melakukannya setiap kali ada kesempatan.  Karenanya, aku jadi anak yang pendiam dan rendah diri. Aku adalah anak terpandai di sekolahku, tapi tetap saja sekolah bukanlah tempat yang nyaman dan menyenangkan buatku saat itu.

Sepertinya saat itu anak-anak yang mempunyai keterbatasan fisik sepertiku atau kebutuhan khusus lainnya, tidak diberi kesempatan oleh lingkungan untuk belajar bersama dengan teman-temannya yang sempurna.  Mereka biasanya dikirim kesekolah khusus anak-anak cacat yang katanya agar dapat bersosialisasi dengan teman-teman senasib.  Terus terang aku tidak mengerti apa tujuannya dengan mengirim anak-anak cacat karena polio kesekolah khusus seperti itu, karena walaupun mereka sudah bisa mandiri dan pintar, begitu mereka terjun ke masyarakat dan berada di lingkungan yang beragam, mereka akan rendah diri dan merasa kurang, karena umumnya lingkungan akan memperlakukan mereka sebagai orang yang kurang mampu dan berbeda dengan orang lain.

Sementara di Australia, fasilitas umum tak terkecuali sekolah, wajib memenuhi standar yang ditentukan untuk bisa digunakan oleh semua orang tanpa kecuali, termasuk untuk orang-orang berkebutuhan khusus seperti keterbatasan fisik, tuna netra, dan tuna rungu. Untuk siswa yang mempunyai keterbatasan mental dan intelegesia, pemerintah menyediakan sekolah khusus yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Anak-anak yang hanya mempunyai keterbatasan fisik dapat belajar di sekolah umum tanpa harus merasa berbeda atau kurang mampu. Mereka diberi kesempatan dan hak yang sama dengan teman lainnya dengan bantuan sarana yang disediakan sekolah serta bantuan dari guru dan teman. Mereka diperlakukan sama dengan murid lainnya sehingga merekapun percaya diri akan kemampuannya dan dapat bangga atas prestasinya, sama seperti teman lainnya.

Di sekolah, para guru mengajarkan murid-murid tentang nilai-nilai kehidupan yang sangat bagus dan penting untuk membentuk kepribadian mereka, yaitu untuk berempati, saling berbagi, saling membantu dan saling menghargai orang tanpa melihat perbedaan dan kekurangannya. Mereka tidak memandang rendah ataupun merasa kasihan akan keterbatasan orang, akan tetapi justru mereka menunjukkan apresiasi dan kekaguman. Karena dengan segala  keterbatasan yang dimilkinya, seseorang dapat berhasil dan sukses dalam berbagai hal. Tentunya semua itu dapat terjadi karena contoh dan bimbingan dan diberikan oleh para guru dan pihak sekolah serta lingkungan yang  mendukung.

Nilai-nilai  seperti itu tentunya dapat juga diterapkan di sekolah-sekolah Indonesia. Bukankah hal itu sesuai dengan kepribadian dan kultur budaya bangsa kita yang dikenal sebagai bangsa yang ramah  dengan berbudi pekerti yang luhur, halus, santun, suka menolong, dan saling menghargai?. Dengan pelajaran budi pekerti yang sekarang mulai diberikan lagi di sekolah, diharapkan penanaman nilai-nilai luhur tersebut dapat diterapkan dengan baik. Sekolah pada gilirannya akan lebih nyaman dan menyenangkan bagi semua murid. Pada akhirnya anak-anak akan bersemangat dan bahagia pergi ke sekolah. Sekolah menjadi tempat yang selalu disukai dan dicintai semua anak karena menyenangkan dan mengasyikkan.

 

Tulisan merupakan rangkuman dari tulisan Lies Pangestu (Ibu rumah tangga, tinggal di Melbourne, Australia), yang dimuat dalam buku Sekolah itu Asik (2014). Tulisan lengkap dapat dibaca dalam buku tersebut.

 

13/04/2015 0 comments 1333 views
sumber: http://www.iberita.com/
sumber: http://www.iberita.com/

Melalui sekolah yang menyenangkan, sehat, dan berkarakter, bangsa Indonesia sebenarnya bisa melakukan apa yang disebut dengan restorasi karakter bangsa. Memang, segudang persoalan pendidikan masih menghantui, seperti fasilitas sekolah rusak, akses pendidikan yang tidak merata, ketimpangan kualitas guru, contekan masal, sampai budaya ‘hedonis’ yang menjangkiti anak-anak perkotaan. Sebagian anak usia sekolah di pedesaan kesulitan mendapatkan fasilitas sekolah yang memadai, sedangkan sebagian anak muda di perkotaan justru terlibat tawuran masal dan tidak memiliki kepeduliaan terhadap lingkungan dan sosialnya. Cerita tentang pengeroyokan siswa hingga tewas, perusakan fasilitas umum oleh sekelompok pelajar hingga ‘bully’ antar siswa sering menghiasi berbagai media nasional.

Keinginan baik pemerintah melalui berbagai kebijakannya, tampaknya masih kalah cepat dengan laju virus patologi sosial yang semakin menjadi-jadi di negeri ini. Tengok saja dengan kasus pelecehan seksual terhadap siswa-siswi TK Jakarta International School (JIS) yang dilakukan oleh komplotan guru dan petugas sekolah. Sekolah yang semestinya sebagai tempat pendidikan dengan standar kurikulum dan pengajar bertaraf internasional dengan segala kemewahan fasilitas yang dimilikinya, ternyata tidak mampu menjadi tempat yang ‘aman dan sehat’ bagi tumbuh kembangnya anak-anak.

Sungguh paradoks, peningkatan anggaran pendidikan negara, tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas pendidikan. Penyakit mental pun bermunculan seperti stres, trauma, dan kecenderungan bunuh diri. Gangguan mental ini, lambat laun mengakibatkan kerugian negara dalam jangka panjang dan rendahnya kualitas sumber daya manusia yang dihasilkan. Merujuk laporan studi Kesehatan Dasar, Kemenkes, 2008, menyebutkan sekitar 20% pertahun jumlah siswa sekolah mengalami gangguan mental. Harus ada upaya bersama dan sangat kuat dari kita semua untuk merubah kondisi ini.

Harus dimulai dari mana?

Banyak para ahli pembangunan mengatakan bahwa pendidikan dapat menjadi senjata ampuh untuk memberantas kemiskinan melalui sumber daya manusia yang kompeten. Faktanya masih terlihat bahwa pendidikan justru menjadi lahan kapitalisasi dan belum menjadi upaya saling menguatkan. Sekolah-sekolah di Indonesia sibuk menaikkan biaya dengan dalih meningkatkan daya saing yang berakibat pada semakin sulitnya dijangkau oleh anak-anak pintar dari keluarga kelas ekonomi bawah. Selain itu, kegemaran melakukan standarisasi melalui program evaluasi semacam Ujian Akhir Nasional UAN, mengakibatkan pendidikan kita kental dengan muatan kognitif dan miskin “rasa” serta tidak “aplikatif”.

Kegagapan juga dijumpai para sarjana yang mengambil study master dan Ph.D di luar negeri ketika harus mengerjakan academic writing. Karena terbiasa menghapal, akhirnya menjadi lemah dalam berpikir analitis dan kritis. Program UAN hanya mengevaluasi satu aspek kemampuan saja, tidak mengevaluasi keseluruhan proses belajar anak. Akibatnya tidak banyak ruang yang disediakan oleh kurikulum pendidikan kita untuk mengembangkan aspek afektif (rasa) dan psikomotorik (pelaksanaan). Padahal tokoh pendidikan bangsa ini Ki Hajar Dewantoro  telah mencetuskan tiga konsep pengajaran yang utuh yakni ngerti (kognitif), ngrasa (afektif) dan nglakoni  (psikomotorik).

UAN yang selama beberapa tahun terakhir digunakan sebagai penentu kelulusan, membuatnya tidak hanya digunakan untuk mengukur dan meningkatkan prestasi akademis rata-rata siswa di Indonesia, tetapi juga menjadi wahana ‘proyek’ hingga menjangkitnya ‘penyakit sosial baru’ yakni turunnya moral kejujuran. Seperti maraknya bocoran soal dan kunci jawaban UAN yang dilakukan secara bersama-sama oleh siswa, guru, hingga pemangku kebijakan pendidikan. Untunglah untuk tahun 2015 ini, fungsi UAN mulai diubah, tidak lagi sebagai penentu kelulusan, tetapi evaluasi terhadap sistem pendidikan.

Sejak bertahun-tahun lalu, di Australia, sebenarnya juga sudah ada juga ujian nasional, yaitu National Assessment Program on Literacy and Numeracy (NAPLAN) Test. Tujuan utamanya ialah mengevaluasi sekolah dalam menerapkan metode belajar-mengajar (kurikulum) yang diukur melalui hasil test siswanya. Dengan demikian, siswa tidak terbebani untuk lulus atau tidak. Seperti yang telah ditulis sebelumnya oleh Ibu Sutarimah Ampuni (Baca: Sebuah Rapor Tanpa Angka), tes NAPLAN ini adalah program nasional asesmen kemampuan peserta didik dalam hal literacy (kemampuan baca-tulis) dan numeracy (kemampuan berhitung). Sesuai namanya, NAPLAN hanya menguji kemampuan baca-tulis dan hitung, tidak menguji kemampuan dalam matapelajaran lain yang diajarkan di sekolah.

Skor NAPLAN ini digunakan lebih sebagai data kelompok daripada sebagai data individual. Sekolah menggunakannya sebagai referensi mengenai bagaimana pencapaian anak didiknya secara umum, apakah sudah memenuhi standar nasional, bagaimana progresnya dari tahun sebelumnya, di mana letak kekurangannya dan bagian mana yang harus ditingkatkan. Sementara itu, untuk penilaian individual siswa, Kepala Sekolah mengingatkan bahwa rapor dari sekolah merupakan rujukan yang lebih akurat untuk melihat capaian siswa karena didasarkan pada catatan dan observasi guru sehari-hari sepanjang tahun.

Setelah lima tahun lebih saya tinggal di kota Melbourne, rasanya ingin sekali berbagi pengalaman terbaik dalam pendidikan tingkat dasar. Kebetulan tiga anak saya bersekolah di Clayton North primary School. Setiap kali mengantar-jemput, selalu saja keceriaan, kegembiraan, dan suasana menyenangkan terpancar dari wajah mereka. Mereka selalu berceloteh mengenai apa saja yang terjadi di sekolahnya. Dari cerita-cerita ringan itu, saya melihat bahwa sekolah di Australia mampu menghadirkan suasana yang menyenangkan untuk belajar.

Di negeri kangguru ini, siswa diajarkan bagaimana konsep matematika itu ditempatkan dalam mengajarkan logika berpikir dalam budaya tutur. Mereka misalnya diajarkan perbedaan kecepatan jatuh sebuah benda akibat memiliki berat berbeda dengan ketinggian berbeda. Anak-anak langsung diajarkan praktik sebuah logika “peristiwa alam” dan kemudian diajak untuk menemukan rumus itu melalui eksperimentasi langsung. Suatu pendekatan yang menggabungkan ketiga aspek pengajaran yakni olah pikir, olah rasa, dan olah karsa (tindakan nyata).

Para siswa dilatih bagaimana memiliki keterampilan hidup, kebiasaan membaca setiap malam, menceritakan apa saja yang dibawanya dari rumah di depan kelas (show and tell), musik, dan belajar bersosialisasi. Suatu proses belajar yang dapat menumbuhkan kemampuan berempati dan saling menghargai satu sama lain. Untuk menciptakan sekolah yang aman sekolah di Australia menerapkan aturan setiap siswa harus ditemani oleh minimal dua kawan ketika pergi ke toilet. Mereka menerapkan sistem “buddy”, siswa senior diwajibkan membantu, menemani dan menjaga siswa yunior jika mengalami kesulitan dan membutuhkan bantuan. Perilaku yang mengajarkan tanggung jawab dan kepemimpinan .

Para siswa diberi tugas untuk menulis dan menceritakan siapa pahlawan mereka dan mengapa dianggap pahlawan. Siswa diajarkan berpikir kritis, rasional dan bertanggungjawab atas pilihannya. Tak jarang pilihan pahlawan anak-anak itu sangat unik, misalnya “tukang pengangkut sampah” karena dianggap telah berjasa membuat lingkungan selalu bersih, sehat, dan jauh dari penyakit. Siswa di sini sejak dini diperkenalkan pentingnya tanggungjawab dan tugas setiap profesi pekerjaan yang mereka jumpai sehari-hari, misalnya polisi, pemadam kebakaran, dokter, insinyur hingga petugas petugas kebersihan. Anak-anak menjadi terlatih untuk memiliki kesadaran tinggi dampak buruk jika tidak mengikuti aturan mereka.

Singkatnya anak anak di sekolah Australia tidak dicekoki oleh hukuman, hapalan rumus, beban mata pelajaran bahkan prestasi ujian nasional yang fantastis. Mereka hanya dilatih keterampilan hidup melalui pelajaran memasak, pertukangan, berkebun, pengenalan bahasa asing, dan penanaman karakter positif sejak dini. Untuk mengajarkan inovasi dan pola pikir kritis dan rasional, Australia melatih siswanya sejak SD untuk selalu membaca dan merefleksikan bacaannya melalui argumentasi yang terukur dan penulisan esai yang mampu melebihi batas imajinasi mereka.

Revolusi mental bangsa, bukanlah sekedar jargon politis, melainkan sudah dipraktikkan di sekolah-sekolah dasar di Australia. Mereka hadir secara langsung menanamkan karakter positif dan optimis sejak dini melalui permainan yang menyenangkan, mudah, terjangkau tanpa fasilitas mahal.

Saya berharap, cerita-cerita tentang sekolah yang menyenangkan itu dapat dikumpulkan bersama dan dibagikan secara masif ke sekolah-sekolah di Nusantara. Mungkin upaya itu akan membantu menambah wawasan dan motivasi bagi para guru, orang tua, dan anak-anak di Indonesia untuk mendapatkan pengalaman bagaimana sekolah-sekolah di negara maju diterapkan. Agar para orang tua dan stake holder pendidikan di Indonesia dapat berpikir kritis dan tidak terjebak oleh jargon “internasionalisasi” yang hanya menggunakan bahasa asing dan bekerjasama dengan institusi asing. Agar seluruh siswa dari berbagai lapisan masyarakat dapat dengan mudah merasakan bahwa internasionalisasi itu bukan hanya belajar dengan fasilitas mahal dan teknologi maju, tetapi  justru menekankan aspek pendidikan karakter yang sebenarnya telah diajarkan oleh para leluhur bangsa.

Jadi, bisa dimulai dari mana? Memulai perbaikan pendidikan dasar kita dengan cara belajar kepada pengalaman sukses negara lain. Mengambil pengalaman terbaik dari negara maju untuk dijadikan bahan pembelajaran di Indonesia.

Semoga berkenan dan terus bergema.

 

Tulisan merupakan rangkuman dari tulisan Muhammad Nur Rizal (Ketua Perhimpunan Indonesia Belajar) dan Sutarimah Ampuni (Kandidat PhD di School of Psychology, La Trobe University, Melbourne) yang dimuat dalam buku Sekolah itu Asik (2014). Tulisan lengkap dapat dibaca dalam buku tersebut.

06/04/2015 0 comments 1044 views
Kampus East Murray Area School dari pintu halaman depan
Kampus East Murray Area School dari pintu halaman depan

East Murray Area School, sekolah dasar yang terletak kurang lebih 200 km dari kota Adelaide, South Australia. Penulis berkesempatan mengunjungi sekolah ini sebagai bagian dari program ‘excursion’ ketika menempuh salah satu mata kuliah di Flinders University. Pak John, Pembina mata kuliah, sebelumnya telah banyak bercerita tentang sekolah ini. Dia menggambarkan sekolah ini sebagai ‘country school with excellent facilities’. “In the middle of nowhere, there’s a school with excellent facilities and programs,” kata Pak John. Di daerah pedalaman terdapat sekolah dengan program dan fasilitas unggulan, begitu kira-kira dalam bahasa kita. Menurut Pak John, pemerintah setempat justru mengalokasikan bantuan dana lebih besar kepada sekolah-sekolah yang memiliki akses terbatas.

Dari luar dan bentuk bangunan East Murray Area School, penulis tidak menangkap kesan sebagai sekolah yang representatif, melainkan malah terlihat seperti pabrik garam atau pabrik rokok. Disambut langsung oleh kepala sekolah, Pak Dr Benton Chapman, rombongan lalu dibawa ke ruang pertemuan untuk menerima penjelasan seputar sekolah dan melihat langsung program-program sekolah yang sedang berjalan. Disinilah mulai dirasakan keunikan sekolah ini. Aplikasi program-programnya mengedapankan perspektif bahwa sekolah adalah institusi sosial. Sekolah harus mampu menjembatani antara tata nilai di rumah dan sistem nilai yang berlaku di masyarakat. Seluruh warga sekolah, termasuk guru, perlu memprioritaskan pengoptimalan potensi peserta didik di sekolah dalam sebuah proses yang edukatif agar di masyarakat ada perubahan yang positif dan berarti. Relevansi dan harmonisasi antara sekolah dan masyarakat sangat penting untuk ditingkatkan agar rasa cinta peserta didik terhadap masyarakat tumbuh dan berkembang.

East Murray Area School dapat dijadikan rujukan untuk mengatasi ‘gap’ tersebut. Meski sekolah ini merupakan sekolah tingkat dasar, namun fasilitas-fasilitas dan program-program yang dicanangkannya lebih mirip SMK, seperti ekonomi perumahan, lokakarya teknologi, ICT, pusat kegiatan orang tua dan anak, perpustakaan masyarakat, berkebun, dan sebagainya. Yang paling menarik adalah peserta didik dan masyarakat setempat terlibat langsung didalamnya. Dalam program ekonomi perumahan dan lokakarya teknologi, misalnya, peserta didik diproyeksikan membuat sesuatu yang dapat digunakan untuk mendukung aktivitas sekolah dan masyarakat. Bahkan para peserta didik juga terlibat langsung dalam penyediaan air bersih, sebagai upaya sekolah membebaskan masyarakat dari persoalan tersedianya air bersih di daerah itu. Kurikulum sekolah ini juga mewajibkan peserta didik mempelajari bahasa Jepang karena Jepang adalah negara yang maju pesat dibidang teknologi.

Menurut Pak Benton, seluruh warga sekolah, mulai dari kepala sekolah, guru, hingga staf administrasi, harus dibekali pemahaman setidak-tidaknya tentang empat hal: sejarah sekolah, tradisi masyarakat, kebutuhan masyarakat, dan pengetahuan tentang lingkungan. Ditanya tentang kurikulum dan penilaian yang terkadang masih sentralistik, Pak Benton menanggapi, Salah satu sudut ruang peralatan ketrampilan East Murray Area School Yang terpenting adalah berupaya membuat kurikulum yang sentralistik itu tetap ‘hidup’ di konteks sekolah. Seluruh warga sekolah terus berupaya menemukan fleksibilitas muatan lokal dalam kurikulum, dengan tetap memperkenalkan prosedur menghadapi ujian nasional kepada peserta didik. Sama sekali tidak terlontar pernyataan kontradiktif dari Pak Benton terkait penyelenggaraan ujian nasional di South Australia.

Tentu saja semua berpulang kepada gaya kepemimpinan dan kreatifitas guru didalam merefleksikan hubungan yang ‘asyik’ antara model pendidikan yang dicanangkan dengan ‘tempat’ dimana sekolah itu berada, dan kemudian menyerahkan optimalisasi pengelolaan dan pemanfaatannya kepada generasi penerus. Dengan begitu, ketika sintesa keterkaitan ini semakin menguat, maka sikap arif peserta didik terhadap keunggulan lokal akan tertanam dalam dirinya. Freire mengistilahkan proses pendidikan seperti ini dengan dekolonisasi dan reinhabitasi, yang dapat membuat seseorang lebih manusiawi. Pengistilahan Freire ini tentu juga mengindikasikan ‘peringatan’ bahwa dunia pendidikan bisa saja memberi kontribusi bagi praktek-praktek kolonialisme dan ketidakadilan, jika proses yang dilaluinya tidak edukatif.

Merujuk pada istilah yang dikemukakan Gruenewald, East Murray Area School senyatanya mengaplikasikan apa yang disebut dengan ‘critical pedagogy of place’. Yakni sebuah proses pendidikan yang mengedepankan konteks dan tata nilai pembelajaran dari dan untuk ‘tempat’ tertentu secara spesifik (masyarakat). Sebuah ‘tempat’, menurut filosofi model pembelajaran ini, pastilah menjanjikan sesuatu, dan ‘tempat’ itu adalah mutiara terpendam yang perlu dieksplorasi agar dapat memberi manfaat bagi penanaman nilai-nilai sosial dan moral peserta didik. ‘Tempat’ adalah konteks dimana sebuah situasi bisa dipahami dan ditindaklanjuti. Secara natural, pemahaman seseorang terhadap konteks biasanya selalu mengawali pemahaman dia terhadap teks, dan pemahaman seseorang terhadap teks pada hakekatnya adalah kelanjutan dari pemahaman dia terhadap konteks. Model pembelajaran yang menganut filosofi ini bukan hanya naturalistik, tapi juga humanistik, karena akan mengarahkan peserta didik pada sebuah kesadaran (conscientizacao) akan pentingnya ‘tempat’ dimana mereka tinggal dan dibesarkan.

Lalu, mungkinkah program East Murray Area School ini diadaptasikan di Indonesia? Optimis, mungkin saja, karena ‘wadah’ program untuk itu sebetulnya sudah ada (program ‘life skills’ dan muatan lokal di setiap sekolah). Hanya saja sementara wadah itu mungkin masih ‘bocor’ sehingga belum menyisakan apapun. Penyebab ‘kebocoran’ itu bermacam-macam; diantaranya, sebagian besar sekolah masih memandang muatan lokal sebagai program pelengkap semata-mata, sebagai oposisi terhadap paradigma pendidikan yang berorientasi pada dunia kerja dan persaingan ekonomi dan sebagai kendala terhadap paradigma pembelajaran yang lebih terfokus pada mengajar demi ujian ketimbang mengajar demi kemampuan siswa. Bagaimanapun, setiap ‘kebocoran’ semestinya diatasi demi perubahan positif di masyarakat.

Apapun caranya, sangatlah penting bagi para pendidik untuk memahami bahwa pendidikan itu selalu bersifat sosio-politis, dan maka para pendidik harus dapat memberikan kesempatan yang maksimal kepada peserta didik agar menjadi agen perubahan sosial budaya yang mampu mengubah ‘tempat’ dan konteks masyarakat ke arah yang lebih baik. EMAS memang di East Murray Area, Adelaide Australia, tetapi bukan tidak mungkin EMAS-EMAS lain akan bermunculan di Indonesia, sebagai buah dari pemahaman reflektif terhadap proses pendidikan yang mengedepankan kearifan lokal.

 

Tulisan dan gambar merupakan rangkuman dari tulisan Sugiono (Kandidat PhD Social Justice In Education Deakin University Australia) yang dimuat dalam buku Sekolah itu Asik (2014). Tulisan lengkap dapat dibaca dalam buku tersebut.

03/04/2015 0 comments 1585 views
sumber: http://www.couriermail.com.au/
sumber: http://www.couriermail.com.au/

Setelah anak-anak belajar  dan bersenang-senang di sekolah selama selama periode tertentu, pasti orangtua akan menunggu-nunggu umpan balik mengenai bagaimana performa anak di sekolah. Saya akan akan menceritakan yang saya lihat dari rapor anak saya (SD dan SMP). Fokusnya adalah cara pelaporan hasil asesmen di rapor untuk mengilustrasikan bagaimana hasil dan proses belajar siswa di sekolah disampaikan oleh guru kepada orangtua.

Sebagai pengantar perlu saya sebutkan bahwa di Australia, kegiatan belajar dilaksanakan dalam empat periode yang disebut term. Masing-masing term berjalan sekitar 9-11 minggu. Siswa mendapat rapor dua kali dalam setahun, yakni di akhir term kedua dan keempat. Jadi rapor ini merupakan hasil asesmen guru selama dua term atau satu semester.

Di samping rapor dua kali setahun, saat siswa duduk di kelas 3, 5, dan 7 mereka juga mengikuti tes National Assessment Program on Literacy and Numeracy (NAPLAN) di sekolah. Tes NAPLAN ini adalah program nasional asesmen kemampuan peserta didik dalam hal kemampuan baca-tulis dan kemampuan berhitung.

Seperti apa rapor Australia?

Apa saja yang termuat di dalam rapor? Pertama, sampul depan tentu berisi informasi mengenai identitas anak seperti nama, kelas, Year level (Grade), dan nama guru kelas. Kemudian badan rapor terdiri atas satu halaman profil performa anak dalam semua mata pelajaran, diikuti deskripsi atau paparan kualitatif mengenai performa anak secara umum, yang ditulis oleh guru/wali kelas. Setelah itu beberapa halaman berikutnya menguraikan performa anak di beberapa mata pelajaran, ditulis oleh guru masing-masing bidang studi.

Profil Performa Siswa

Profil ini tidak memakai angka sebagai indikasi pencapaian siswa, namun menggunakan huruf A, B, C, D, E yang disertai diagram yang menunjukkan posisi kemampuan siswa relatif dibandingkan standar yang diharapkan untuk dikuasai di year level tertentu. Sebagai ilustrasi, Gambar 1 adalah contoh profil performa anak di Year 7. Dalam gambar tersebut kolom Year 7 diarsir pada separo bagian yang di belakang, menandakan bahwa ini adalah rapor untuk Semester 2 Year 7. Noktah-noktah hitam menandai posisi kemampuan anak.

raport

Rating A-E ini tentunya juga ada keterangannya. Jika performa anak sesuai dengan standar capaian yang diharapkan untuk Year level tersebut, maka anak mendapat C. B artinya di atas standar, A artinya jauh di atas standar. D artinya di bawah standar, dan E jauh di bawah standar. Jadi harap dibedakan dengan nilai kuliah kita di Indonesia, di mana C itu secara umum artinya di bawah standar.

Di samping profil performa akademik, lembar ini juga memuat informasi mengenai kebiasaan bekerja (work habit) anak di sekolah. Kebiasaan bekerja ini meliputi usaha (effort) dan perilaku di kelas (class behaviour), yang penilaiannya berkisar dari 1 yaitu need attention (butuh perhatian) hingga 5 yaitu excellent (istimewa).

Deskripsi Kualitatif

Profil di atas kemudian diikuti deskripsi kualitatif mengenai performa anak. Secara umum saya lihat guru berusaha menampilkan deskripsi ini dengan gaya yang interaktif, tidak terlalu formal, namun tanpa mengurangi bobot deskripsinya. Berikut ini cuplikan laporan guru kelas anak saya yang mendeskripsikan pencapaian:

Kemandirian Putri dalam mengerjakan tugas-tugasnya pantas mendapat pujian. Putri selalu fokus dan menggunakan potensinya secara penuh dalam mengerjakan tugas di kelas. Tugas-tugas diselesaikannya dengan standar kualitas yang tinggi dan tepat waktu. Putri membuat kemajuan yang menggembirakan dalam Matematika. Dia sudah mampu mengenali, merepresentasikan dalam huruf dan angka, serta mengurutkan bilangan sampai 10.000. Dia sudah mampu mengenali bilangan genap dan ganjil…….(dan seterusnya)

Uraian di atas kemudian diikuti deskripsi performa siswa. Bagian berikutnya memaparkan “area for improvement” atau area yang memerlukan perbaikan. Berikut ini contoh deskripsi dalam bagian di mata pelajaran Bahasa Inggris.

Ruli perlu didorong untuk mempunyai dan menepati jadwal belajar rutin dan mengisi buku hariannya, agar dapat mengumpulkan pekerjaan rumah tepat waktu. Dia sebaiknya berkonsultasi kepada guru saat berproses mengerjakan PR, untuk memastikan bahwa dia mengerjakan dengan benar…. (dan seterusnya)

Setelah menjelaskan bagian yang perlu perbaikan, guru kelas juga menuliskan saran untuk orangtua dalam membantu anak belajar di rumah. Berikut ini contohnya.

Di rumah, Putri dapat didorong untuk mempraktekkan latihan menulis tegak bersambung secara konsisten ukuran dan bentuknya. Minat Putri dalam menulis perlu didukung terus, misalnya dengan mengajak Putri untuk mengumpulkan informasi tentang suatu hal dari berbagai sumber kemudian membuat summary dalam bentuk poster atau power point……. (dan seterusnya)

Tidak ada informasi mengenai peringkat anak, baik tertulis maupun lisan. Lebih tepatnya memang tidak ada pemeringkatan berdasarkan performa akademik anak. Namun demikian, di sekolah tertentu, ada penghargaan yang disebut “Principal Award” yang diberikan kepada lima anak di setiap kelas. Award ini berupa sticker yang ditempel di rapor. Berdasarkan informasi guru, award ini diberikan kepada lima anak di kelas tersebut yang memberi pengaruh positif kepada teman-temannya baik mealui capaiannya, usahanya, maupun perilakunya. Jadi tidak melulu berdasarkan prestasi akademik.

Komunikasi Lisan Capaian Siswa

Di akhir term kedua, disediakan kesempatan khusus untuk bertemu bertiga antara guru, orangtua, dan murid. Acara ini disebut three-way conference. Biasanya untuk masing-masing pasangan anak dan orangtua dialokasikan waktu 10 menit untuk duduk bersama dengan guru dan membicarakan. Dalam pertemuan itu, guru akan memberi orangtua saling memberi dan menerima informasi tentang anak, dan anak juga diberi kesempatan untuk mendengar pendapat guru tentang dirinya serta mengekspresikan pikiran dan perasaannya mengenai sekolah dan proses belajar. Jika orangtua masih menginginkan untuk berbicara lebih banyak dengan guru, guru selalu siap menerima sebelum atau sesudah jam sekolah setiap harinya.

Rapor NAPLAN

Sebagaimana rapor per semester, laporan hasil tes NAPLAN ini juga tidak mengandung angka sama sekali. Tidak juga mengandung kategorisasi verbal seperti Baik, Rata-rata, Kurang. Hanya ada balok vertikal yang dibagi menjadi 6 bagian yang disebut bands. Posisi rerata nasional untuk Grade tertentu ditandai dengan sebuah segitiga kecil hitam di suatu titik di balok tersebut, sedangkan posisi skor individual siswa ditandai dengan sebuah bulatan hitam.

Capaian Akademik Bukan Satu-satunya Indikasi Pintar

Saat melihat rapor anak, apa yang biasanya menjadi fokus perhatian kita? Capaian akademiknya? Mungkin ya bagi sebagian kita. Namun demikian saya melihat bahwa di Australia, capaian akademik tidaklah digunakan sebagai satu-satunya indikasi keberhasilan belajar siswa. Dari komunikasi lisan dengan guru, maupun berdasarkan yang tertulis di rapor, saya mendapat kesan bahwa capaian akademik bukanlah capaian yang diagung-agungkan.

Saya tersentuh sekali dengan sebuah kutipan yang dimuat di surat Kepala Sekolah sebagai pengantar rapor NAPLAN. Kutipan itu katanya beliau kutip dari postingan seseorang di Facebook. Berikut ini terjemahannya:

“Siswa-siswa tersayang,”

Kami berharap kamu mengerti bahwa tes ini tidak selalu menguji semua hal yang membuat kalian spesial dan unik. Orang-orang yang menciptakan tes ini serta menentukan skor kalian tidak tahu tentang diri kalian seperti halnya guru-gurumu tahu tentang kalian; apalagi seperti halnya keluargamu mengerti tentang kalian. Mereka tidak tahu bahwa banyak di antara kalian yang bisa berbicara dua bahasa. Mereka tidak tahu bahwa kalian bisa memainkan alat music atau bahwa kalian bisa menari atau melukis. Mereka tidak tahu bahwa teman-temanmu dapat mengandalkanmu saat mereka memerlukan bantuanmu, dan bahwa candaanmu bisa mencerahkan hari yang paling suram.

Mereka tidak tahu bahwa kamu bisa menulis puisi atau lagu, bermain sports, berfikir tentang masa depan, atau bahwa kadangkala kamu membantu orangtua menjaga adik-adikmu. Mereka tidak tahu bahwa kamu sudah pernah berkunjung ke tempat lain dan kamu bisa menceritakan sebuah kisah hebat, atau bahwa kamu sangat senang berkumpul dengan keluarga dan teman-temanmu. Mereka tidak tahu bahwa kamu orang yang bisa dipercaya, baik hati, berhati-hati dalam bertindak, dan bahwa kamu selalu berusaha untuk menjadi  dirimu yang terbaik setiap harinya. Skor-mu dalam rapor ini memberitahu sesuatu tentang dirimu, tetapi tidak memberitahu segalanya tentangmu. Ada banyak cara untuk menjadi pintar.

Benar. Ada banyak cara untuk menjadi pintar. Performa akademik boleh menjadi satu indikasi pintar, namun tidak segalanya. Oleh karena itu, rapor seyogyanya bukan hanya menyajikan informasi kuantitatif yang kaku mengenai sisi akademik siswa. Penghargaan atas karakter, serta  sentuhan yang memotivasi, terasa indah dan menyentuh saat diintegrasikan ke dalam rapor tanpa angka ini.

 

Tulisan merupakan rangkuman dari tulisan Sutarimah Ampuni (Kandidat PhD di School of Psychology, La Trobe University, Melbourne) yang dimuat dalam buku Sekolah itu Asik (2014). Tulisan lengkap dapat dibaca dalam buku tersebut.

13/03/2015 0 comments 1537 views

Untitled

Dari berbagai penelitian yang saya baca di literatur, tidak dapat dipungkiri bahwa kebahagiaan berada di sekolah sangat penting bagi perkembangan kepribadian dan kesehatan mental anak-anak. Betapa tidak, mereka berada di sekolah tujuh jam setiap harinya. Bahkan di kota besar Indonesia seperti Jakarta, anak memulai harinya dari setelah subuh dan pulang sampai rumah menjelang maghrib. Dapat dibayangkan jika kita atau sekolah tidak mampu menghadirkan suasana gembira dan bahagia bagi anak-anak saat mereka belajar. Bukan tidak mungkin anak-anak akan mengalami pengalaman yang kurang menyenangkan tentang belajar di sekolah. Kelelahan, kebosanan, stress, bahkan gangguan perilaku dapat saja muncul di usia muda mereka.

Ada satu pengalaman sederhana dari sekolah dasar di Australia dalam usaha mereka membuat anak-anak bergembira dan bersemangat memulai harinya dengan ide yang sangat sederhana. Musik. Ya, musik membuat suasana pagi mereka ceria dan bahagia.

Sekolah dasar di Australia memulai jam belajarnya pada pukul 9 pagi. Anak-anak dianjurkan untuk tiba di sekolah tidak kurang dari jam 8.30. Bagi yang datang lebih awal dari jam 8.30 maka sekolah bekerja sama dengan komunitas tertentu seperti produsen makanan untuk menyediakan sarapan pagi secara gratis. Bagi anak-anak yang datang pada pukul 8.30, akan diberi kesempatan bermain-main dahulu di halaman sekolah.

Anyway, saya lanjutkan cerita tentang musik di pagi hari itu. Tepat saat pukul 8.55, ada satu lagu ceria yang dikumandangkan. Saya saja yang mendengarkan lagu itu saat mengantar anak-anak ke sekolah ikut bersemangat rasanya. Saya yakin selain sebagai penanda bahwa kegiatan belajar akan dimulai sebentar lagi, musik itu bertujuan untuk menciptakan suasana gembira di awal proses belajar mereka. Seolah sekolah ingin mengabarkan dan mengucapkan ‘selamat datang di tempat kegembiraan’. Pada saat lagu dikumandangkan itu, anak-anak yang telah hadir sibuk mempersiapkan bahan-bahan belajarnya, sedangkan anak-anak yang masih berjalan menuju sekolah bertambah semangat untuk mempercepat langkahnya.

Saya jadi membayangkan jika sekolah Indonesia memulai harinya dengan keceriaan dan mengganti bel dengan lagu maka rasanya kita lebih memiliki banyak pilihan lagu anak untuk diputar. Seperti lagu ini misalnya: lagu pagi cerah, atau lagu tentang persahabatan, atau tentang terima kasih kepada guru.

Di waktu istirahat dapat juga kita hadirkan musik musik tradisional dari daerah masing masing. Misal jika dari Jawa maka ada musik jamuran atau kodhok ngorek untuk mengenalkan musik musik tradisional. Sementara itu, sebagai penutup proses belajar dapat saja anak-anak diputarkan satu lagu perjuangan nasional, Yang terakhir ini justru saya terinspirasi oleh salah atu sekolah dasar di suatu desa di Yogyakarta, yang memutar lagu bagimu negeri menjelang pulang sekolah.

Dalam studi tentang musik dan perilaku, musik memiliki kekuatan untuk menggerakkan hati.  Nada/irama dari sebuah musik/lagu mampu mempengaruhi suasana hati. Bayangkan jika kita mendengarkan lagu yang syahdu, maka kita akan larut menjadi haru, jika kita mendengar irama yang ceria maka kita pun akan turut bersemangat.  Di samping irama, kata-kata dalam lagu sangat mudah masuk di alam bawah sadar anak-anak dan menjadi pesan atau pengetahuan tersendiri yang diingat sampai dewasa. Nah, tentunya dengan pengetahuan ini, maka akan sangat bijaksana jika kita memilih lagu lagu pagi hari yang ceria dan mengandung pesan moral yang baik.

Rasanya sangat penting bagi anak-anak Indonesia pada khususnya untuk mendengar hal-hal positif yang tertanam di bawah sadarnya mengingat banyak sekali hal negatif yang mereka lihat, merek dengar baik melalui media atau secara langsung mereka lihat dalam kehidupan. Pesan-pesan yang disampaikan dalam lantunan lagu biasanya akan tersimpan dalam memori lebih lama daripada dalam bentuk nasehat atau kata-kata.

Sungguh, mimpi saya untuk anak-anak Indonesia agar mereka menerima haknya merasa gembira dan bahagia untuk memulai belajar mereka di sekolah. Alih alih mereka merasa deg-degan karena mendengar bel, mendengarkan musik membuat mereka dan seluruh suasana sekolah bergembira. Mimpi saya juga, agar anak-anak Indonesia menerima haknya untuk tetap merasa gembira, positif dan bersemangat di tengah kompleknya kehidupan mereka.

Sudah saatnya sekolah sekolah di Indonesia menghadirkan kebahagiaan bagi mereka walaupun dengan cara sederhana. Mereka telah lelah dengan tugas semalaman, dengan pembelajaran kehidupan, maka 5 menit menghadirkan musik mampu menjadi harmoni bagi hati mereka, menyejukkan jiwa mereka, menjernihkan pikiran,  dan menghaluskan budinya. Saatnya menghadirkan sekolah  yang membangun karakter anak anak Indonesia dengan cara yang sederhana dan menyenangkan.

 

Tulisan dan gambar merupakan rangkuman dari tulisan Novi Poespita Candra (PhD student ,Center for International Mental Health, School of Population and Global Health, The University of Melbourne) yang dimuat dalam buku Sekolah itu Asik (2014). Tulisan lengkap dapat dibaca dalam buku tersebut.

05/03/2015 3 comments 4343 views
Denah sekolah yang unik
Denah sekolah yang unik

Suatu hari, di atas meja tergeletak dua amplop besar berwarna coklat dan putih. Pengirimnya Try Coburg Kindergarten, salah satu sekolah di Australia. Ternyata isinya adalah hal-hal yang terkait dengan dimulainya sekolah anak saya di sekolah itu, seperti alokasi kelas dan waktu sekolah, filosofi dari program, metode komunikasi di sekolah, dan sebagainya.

Satu hal yang paling menarik dari isi amplop adalah tips untuk adaptasi anak ketika awal masuk sekolah. Beberapa tips yang dituliskan dalam buku panduan dari sekolah itu di antaranya adalah orang tua diminta untuk selalu bersikap positif dalam proses adaptasi. Orang tua diperbolehkan tinggal beberapa saat jika anak-anak cemas dan sedih di hari awal mereka sekolah. Orang tua diminta duduk, berinteraksi dengan anak dan mendorong mereka mengenal lingkungan baru serta bermain dengan teman-temannya. Orang tua juga diperbolehkan datang menjemput lebih awal dan menelepon menanyakan kondisi anak setelah 20 menit kelas dimulai.

Di awal masuk sekolah, orang tua juga diperbolehkan tinggal di sekolah dengan waktu yang lebih lama, misalnya hari ini, orang tua menemani selama 2 jam, hari berikutnya berkurang menjadi 1,5 jam, kemudian 1 jam, dan seterusnya sampai anak merasa terbiasa dan dapat ditinggal secara langsung. Yang terakhir, meskipun orang tua mungkin juga merasa sedih saat berpisah dengan anaknya, orang tua diminta untuk tetap bersikap ceria dengan harapan perasaan positif orang tua akan menular kepada anaknya.

Isi amplop lainnya yang tidak kalah menarik adalah selembar denah sekolah yang lucu sekali, khas anak-anak  dan ketika saya balik ternyata berisi pesan dari Vicroads, semacam Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan di Indonesia, terkait dengan perubahan arus jalan di sekitar sekolah dan  penambahan jalur bus di depan sekolah. Si anak diminta mewarnai gambar tersebut sesuai dengan kode yang diberikan. Gambar itu menunjukkan dimana letak sekolah, tempat parkir guru, tempat penyeberangan jalan, drop zone (tempat menurunkan anak-anak), serta jalur bis. Selain itu, di setiap jalan tertulis lengkap juga rambu-rambu parkir yang harus diperhatikan. Rambu-rambu ini sangat penting, karena setiap rambu itu unik dan harus dipahami.

Gambar denah sekolah itu, meskipun kelihatan sederhana, tapi mengajarkan beberapa hal pada orang tua dan anak-anak. Yang pertama, kita dikenalkan dengan lingkungan sekolah, bangunan apa saja yang ada disekitar sekolah, nama-nama jalan berikut rambu-rambunya. Denah berupa hasil gambar anak-anak juga upaya yang luar biasa. Coba bayangkan, jika saja denah itu hasil cetak komputer, dengan bentuk bangunan yang kotak, gambar jalan dan mobil yang monoton pasti akan kurang menarik bagi anak-anak. Tapi karena denah itu digambar oleh seorang anak, maka anak kecil lain melihatnya akan senang, bisa jadi mereka berpikir itu gambar teman sebaya yang harus mereka warnai. Dari rasa senang itu, perhatian anak-anak telah terpancing, sehingga mereka akan lebih mendengarkan ketika kita menceritakan tentang lingkungan sekolah.

Kedua, denah itu secara tidak langsung juga mengajarkan kedisiplinan kepada orang tua dan anak. Sebagai warga sekolah, kita diminta untuk disiplin dengan mematuhi peraturan yang sudah dibuat baik oleh sekolah maupun pemerintah, misalnya dengan disiplin menyeberang di tempat penyeberangan dan disiplin untuk memarkir mobil hanya di tempat yang diperbolehkan. Ketiga, denah itu menunjukkan adanya kepedulian pihak sekolah dan pemerintah kepada orang tua murid. Sungguh sebuah pelajaran yang sederhana, tapi amat berharga tentang bagaimana sekolah dan pemerintah peduli dan menghargai orang tua siswa. Sebuah cara sederhana yang sangat baik untuk ditiru.

 

Tulisan dan gambar merupakan rangkuman dari tulisan Inge Dhamanti (Mahasiswa Pendidikan Doktor La Trobe University Australia) yang dimuat dalam buku Sekolah itu Asik (2014). Tulisan lengkap dapat dibaca dalam buku tersebut.

Loading...