Literasi

05/05/2015 0 comments 1377 views
sumber: http://www.edgazette.govt.nz/
sumber: http://www.edgazette.govt.nz/

Entah apa yang ada di pikiran seorang guru SD ketika menyuruh muridnya mencari materi pelajaran di internet. Entah pula apa yang ada di pikiran seorang guru dan kepala sekolah SMA ketika membiarkan anak didiknya mengakses kunci jawaban Ujian Nasional demi mendapati kelulusan 100% untuk sekolahnya. Bimbingan belajar dengan trik-trik instan, tanpa menekankan pada logika ilmu pengetahuan, bermunculan bak cendawan di musim hujan. Joki-joki menanti siapa saja yang sedia membayar sekian juta dan dengan cara apa pun membantu mereka mendapatkan jurusan favorit. Gedung-gedung pendidikan dan fasilitas pendidikan meniru standardisasi global. Mahasiswa, pelajar, ataupun cendekiawan pada umumnya barangkali kehilangan orientasi, tentang apa yang mereka cari di institusi pendidikan.

Banyak masalah terjadi. Paragraf di atas barangkali hanya contoh-contoh yang terlihat di permukaan. Seperti batu es di lautan, yang terlihat hanya bagian permukaannya. Padahal, bisa jadi permasalahan ini berantai dengan minimnya wawasan masyarakat tentang negara, bangsa, dan Nusantara-nya, atau kealpaan kita tentang landasan yang membangun negara Indonesia.

Frustrasi dan anakronisme yang terjadi lantaran permasalahan-permasalahan ini ternyata masih memiliki jalan keluar. Ada beberapa pendidikan alternatif bagi masyarakat untuk mengelola tradisi lokalnya dan memahami apa yang terjadi di sekitarnya.

Pada mulanya mungkin hanyalah amanat ibu saya sebelum beliau tutup usia bahwa saya harus menjadi seorang dokter, dan berkuliah di almamater ibu. Amanat itu mengantarkan saya ke Yogyakarta. Dan ternyata Bali jauh berbeda dari Jawa. Di Bali, tak ada transportasi dengan kereta api, transportasi publik juga tak beroperasi. Beberapa saat, saya menjadi the others, tak ada sanak famili, tak fasih bahasa Jawa. Namun kini, agaknya kota ini telah menahan saya, bahkan hanya dengan tawaran nasib ke depan yang masih belum jelas.

Gelar diploma yang saya peroleh dari universitas tak akan mampu mengantarkan saya ke cita-cita saya menjadi jurnalis, kecuali saya mengambil kuliah lain lagi tahun depan. Meski sayalah yang secara sadar memilih jurusan ini lantaran merasa lelah mengejar impian ibu. Tiga tahun lewat, saya akhirnya bisa lepas dari bayang-bayang amanat ibu, dan saya tahu apa yang saya inginkan. Namun hari ini, jurang antara saya dan cita-cita saya adalah syarat gelar minimum sarjana.

Adalah mudah untuk sekadar mengambil alih program dari diploma ke sarjana, bila yang saya butuhkan hanya sebatas gelar. Tetapi untuk apa? Harold Ross, pencetus The New Yorker dan membidani tokoh-tokoh jurnalistik seperti John Hersey yang menulis laporan berita Hiroshima malah tak pernah merampungkan pendidikan tinggi. Saya paham kami berbeda zaman. Terlahir di zaman yang penuh standardisasi global, ketika seorang Ph.D. di Amerika saja bisa menjadi pengangguran, saya terkadang merasa mengalami anakronisme. Suatu sensasi, seolah seharusnya beberapa orang tak terlahir pada zaman tertentu.

Meski antipati, bagaimanapun saya telah banyak belajar dari zaman yang seperti ini. Dua tahun menjadi bagian pers mahasiswa, saya berkesempatan mampir ke diskusi, seminar, festival, pameran lukisan, penampilan teater, monolog puisi teatrikal, peluncuran buku, demonstrasi jalanan, dan mengobrol dengan banyak narasumber mumpuni dalam bidang-bidang sosial budaya, politik, pertanian, hukum, atau apa pun. Bagi saya, Yogyakarta—dan pers mahasiswa khususnya—adalah tempat saya bertumbuh. Saya tak akan mendapatkan pengalaman itu hanya dari kelas-kelas perkuliahan yang telah ditentukan silabusnya.

Perubahan adalah semacam keniscayaan. Silabus-silabus pendidikan kini persis menuruti tuntutan pasar kerja, alih-alih mengejar wacana globalisasi. Saat ini, universitas negeri hanya menyediakan jatah waktu tiga tahun untuk penerimaan mahasiswa, dan tuntutan waktu maksimal empat tahun untuk merampungkan gelar sarjana. Gagal tiga kali dalam tes masuk, berarti tak ada kesempatan untuk berkuliah murah; lulus lebih dari jatah waktu empat tahun juga menjadi tak umum.

Sementara itu, universitas swasta bukan main mahalnya; mengambil satu sks (satu semester umumnya 18-24 sks) bisa ditagihi Rp160.000 – Rp250.000, belum lagi ada biaya tambahan pada tiap semester yang besarannya sekitar Rp2-7 jutaan. Tak ada yang menyalahkan saat kepala yayasan universitas-universitas swasta itu berdalih kuliah di Jepang atau Amerika Serikat lebih mahal 80 kali lipat. Padahal kita sudah sama-sama mengetahui perbedaan kemampuan negara berkembang dan negara maju.

UGM yang dulunya dijuluki “universitas kerakyatan” pun turut menjadi semakin mahal; mengikuti alur pikir UU BHMN sejak 2000, berlanjut ke UU Dikti yang diresmikan pada Juli 2012. Dalihnya sama, untuk membangun fasilitas, universitas tak mesti ketergantungan pada subsidi pemerintah. Imbasnya, program internasional dibuka—yang mirisnya kelas-kelas itu justru melulu diisi masyarakat lokal­­—dan semakin banyak mahasiswa baru berasal dari keluarga menengah ke atas, ber-gadget, bermobil, dan berpakaian mentereng. Dengan keadaan ini, angka 2%-an dari jumlah generasi muda Indonesia yang menempuh pendidikan tinggi sepertinya tak akan bertambah.

Dalam Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia, pada pasal 4, termaktub bahwa “Tidak seorang pun boleh diperbudak atau diperhambakan, perbudakan dan perdagangan budak dalam bentuk apa pun mesti dilarang.”; namun saya lihat pendidikan tinggi justru mencetak lulusan-lulusan yang siap kerja (istilah halus dari diperbudak). Saya meragukan apakah teman-teman saya menikmati perkuliahannya, ataukah sebatas berniat lulus dengan IPK bagus dan mendapat pekerjaan bergengsi.

Sekat-sekat interdisipliner semakin kentara jelas. Di zaman ini tak perlu mengharapkan kemunculan polymath yang memiliki prekositas semacam Aristoteles atau Goethe, atau yang paling dekat—Tan Malaka, Hatta, dan Sjahrir. Mahasiswa-mahasiswa di jurusan perkuliahan IPA menghadapi keadaan yang amat ekstrim. Senin hingga Jumat, mereka mendapat lima tugas mengerjakan laporan tak diketik, wajib dikerjakan dalam tulisan tangan. Belum lagi sederet praktikum dan membantu dosen meriset. Mana punya waktu belajar seni dan sosial humaniora, terkecuali mereka sudi menelantarkan separuh mata kuliahnya dan ber-Indeks Prestasi tak bagus-bagus amat. Berbeda dengan penerapan sistem NKK/BKK pada era ’70-an, di sini terlihat injeksi normalisasi kampus dilakukan dengan upaya sehalus mungkin. Atau karena kita memang dituntut menjadi semakin mondial (berkaitan dengan seluruh dunia)? Mungkinkah praktik-praktik riset dan tugas yang menggunung itu ditujukan untuk menandingi penemuan-penemuan teknologi mutakhir Jepang, Jerman, dan Amerika Serikat?

Pernah ada yang berujar kepada saya, mulailah dari Yogyakarta untuk mengukur taraf minimum pendidikan dan budaya Indonesia karena kota ini semacam miniaturnya Indonesia. Ia menambahkan, alasannya adalah karena pemuda/i sepenjuru Indonesia merantau ke kota ini. Maka, kalau mahasiswa-mahasiswa di UGM, misalnya, sudah marak bawa mobil dan meninggalkan masyarakatnya, maka di Jakarta atau Bandung akan lebih parah lagi keadaannya. Di atas telah saya paparkan sedikit mengenai apa yang kini terjadi di Yogyakarta. Meski kemudian saya mendapati, sejumlah representasi pelajar luar kota Yogya itu tak bisa dijadikan parameter. Karenanya, bila ditarik secara umum, perspektif ini tak layak diterima karena Yogya, Bandung, dan Jakarta bukan tolak ukur bangsa Indonesia.

Saya mafhum bangsa kita selalu melupakan banyak hal; hutang negara kepada Bank Dunia, politik Nasakom, tragedi G-30-S 1965, perjuangan reformasi 1998, pembukaan UUD 1945, dan bahkan Pancasila. Termasuk juga perjuangan seorang Djuanda Kartawidjaja saat mendeklarasikan kepada dunia bahwa laut Indonesia, di antara dan di dalam kepulauan Indonesia, menjadi satu kesatuan wilayah NKRI. Deklarasi Djuanda ini menegaskan posisi Indonesia yang menganut prinsip-prinsip kepulauan (Archipelagic State). Intinya, sejak dahulu kepulauan nusantara sudah merupakan satu kesatuan; dan dipertegas demi mewujudkan bentuk wilayah Kesatuan Republik Indonesia yang utuh dan bulat. Namun apa yang terjadi saat ini?

Apakah kita benar masih memiliki rasa persatuan ataukah peduli dengan saudara setanah air? Pendidikan saja tak tersebar merata ke seluruh Indonesia. Jangankan ke Sabang atau Papua, di Denpasar saja—yang dekat dengan Jawa, tempat saya dibesarkan, tak ada toko buku bekas semacam Shopping-nya Yogya atau Palasari-nya Bandung. Perpustakaan sekolah saya tak menyediakan lengkap karya sastrawan dunia dan Indonesia; akibatnya, sewaktu SMA saya lebih mengenal Gabriel GarcíaMárquez yang lebih komersil daripada Y.B. Mangunwijaya yang sulit ditemukan di pasaran. Dan bila ukurannya adalah tenaga pengajar, saya yakin tiap sekolah di Indonesia memiliki guru bahasa Indonesia dan guru Sejarah yang membuat muridnya mengantuk di kelas dan membenci dua mata pelajaran penting itu.

Meski setidaknya saya beruntung keadaan SD-SMP di tahun 1990-2000-an tak seganjil apa yang dihadapi cohort 2000-an. Pernah suatu kali, adik sepupu saya yang kelas 1 SD menerima surel dari gurunya yang hanya berisi PR hitungan. Menjelang kelas 2-3 SD, ia mengerjakan segala tugas sekolah yang di zaman saya baru saya peroleh di kelas 4-6 SD. Lagi-lagi, ia mengerjakan tugas dengan bantuan internet. Saya yakin ini pun terjadi karena tuntutan pendidikan dari pemerintah.

Di lain pihak, niat baik pemerintah mengadakan Ujian Nasional (UN)—bahkan dari level SD—untuk memeratakan standar pendidikan Indonesia juga tak berjalan mulus. Sewaktu mengikuti UN SMA, saya menjadi saksi bagaimana jawaban-jawaban ujian telah disebar jauh-jauh hari sebelum ujian; bahkan oleh guru SMA bersangkutan, bahkan meski ada dua jenis soal yang digunakan (A dan B). Tujuannya satu, agar sekolah tersebut terakreditasi baik lantaran mampu meluluskan muridnya 100%. Murid-murid yang menjadi peringkat tiga besar di kelas bertugas mengoreksi kunci jawaban saat ujian berlangsung. Selepas SMA, kami dianjurkan ikut bimbingan-bimbingan belajar untuk menghafal rumus cepat demi persiapan SNMPTN. Lembaga bimbingan itu juga menawarkan paket emas, perak, reguler dalam tarif berbeda dengan jaminan diterima di jurusan bergengsi.

Menjelang SNMPTN, lagi-lagi saya menjadi saksi korupsi dalam sistem pendidikan. Agak linglung dengan suasana pendaftaran tes, saya bertemu orang asing yang menawarkan jasa perjokian. Karena suka tantangan, saya coba mengobrol iseng dengan mereka. Joki-joki itu mengumpet di dalam mobil, menawarkan jasanya yang berkisaran harga Rp 17 juta – 175 juta. Jaminannya, pengguna jasa akan berkuliah di jurusan favorit; dan bila tidak, uang akan dikembalikan 100%. Saya tak tergiur, terlepas dari iming-iming mereka.

Saya masih pesimis apakah kegiatan Indonesia Mengajar yang menjadi prestise bagi pengajar fresh graduate dapat mengubah sistem karut-marut ini. Tetapi paling tidak saya mengapresiasi Anies Baswedan; karena kegiatan itu diinisiasi di wilayah-wilayah terpencil Indonesia yang mungkin para pelajarnya memiliki semangat yang lebih murni untuk belajar.

Di Yogyakarta, Ainun Chomsun menginisiasi gerakan Akber (Akademi Berbagi) yang meluas hingga ke Jakarta. Meski yang disasar adalah masyarakat middle-class atau yang melek teknologi karena mediumnya melalui Twitter, ide Ainun memberi harapan bahwa pendidikan tak mengenal sekat-sekat dan tak saklekFollower akun Twitter Akber Jogja dapat mengajukan kelas apa pun yang mereka minati, dan siapapun yang berkompeten dapat mengajukan diri menjadi pengajar dengan medium Twitter. Tiap kelas dibatasi untuk 25 orang pendaftar tercepat. Boediono Darsono, pemimpin redaksi detik.com, ketika itu menjadi tutor pertama kelas Akber Jogja di Twitter.

Begitu juga Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM menyasar pedagang pasar dalam kegiatan Sekolah Pasar lantaran pertumbuhan waralaba asing yang tak terkendali. Masih soal ekonomi rakyat, Center for Extension and Empowerment Studies(CEES) membuka kelas kedaulatan pangan dengan bahwa sagu, ketela, dan ubi-ubian dapat menjadi alternatif pangan selain beras. Kenyataannya, kedelai untuk bahan dasar tempe-tahu pun masih mengimpor dari Amerika. Meski terbuka untuk masyarkat umum, kelas ini secara khusus diperuntukkan bagi wirausahawan restoran dan pengusaha pangan di wilayah Yogyakarta.

Kelas-kelas untuk masyarakat juga dibuka oleh Institute for Multiculturalism & Pluralism (IMPULSE). Baru-baru ini, mereka mengadakan kelas-kelas kritik ideologi. Hal ini dilandasi pemikiran bahwa Indonesia nampaknya memang sedang krisis semangat kebhinnekaan. Lihat saja akun Anda Bertanya Habib Rizieq Menjawab di Facebook, ada parodi tentang laskar 2D (ber-Intelligent Quotient dua digit) untuk menyebut laskar-laskar Forum Pembela Islam. Seringkali memang, tindak-tindak kekerasan dilakukan dengan membawa-bawa nama agama. Di luar negeri, Indonesia lebih dikenal sebagai negara teroris. Dari sini kelihatan, keadaan masyarakat Indonesia yang minim toleransi atas sesama bisa jadi neraca gagalnya pendidikan—utamanya pendidikan karakter.

Selain itu, ada juga pelatihan-pelatihan antikorupsi oleh Pusat Studi Anti Korupsi (PUSKAT) UGM yang bekerja sama dengan tim redaksi situs web Infokorupsi. Anies, rektor Universitas Paramadina, pun sudah mulai memasukkan kurikulum antikorupsi pada mata kuliah umum di universitas binaannya. Setelah mengikuti pelatihan jurnalisme media rakyat (citizen journalism for anti-corruption) yang diadakan PUSKAT UGM pada Januari 2010 lalu, saya pun mulai belajar tentang perkembangan media rakyat.

Meskipun, secara umum, permasalahan di lingkup pendidikan tak bisa lepas dari budaya kita yang, istilahnya, masih seperti layangan. Nirwan Dewanto, melalui Kebudayaan Indonesia: Pandangan 1991, mengingatkan kembali tentang polemik kebudayaan antara Radjiman Wediodiningrat dengan Tjipto Mangunkusumo yang bahkan telah terjadi sejak 1908. Paradoks yang muncul mengenai apakah perkembangan kebudayaan perlu melalui tahapan ataukah dapat berkembang secara revolusioner dan terjadi dengan instan. Bagi Radjiman, nasionalisme maupun kebudayaan Jawa harus dipertahankan, sementara bagi Djipto Jawa sudah hilang kedaulatan, dan sebagai entitas baru adalah Indonesia yang perlu memanfaatkan pengetahuan Barat dan unsur-unsur budaya lain[1].

Namun kita juga perlu melihat konteks. Di tahun 1908, teknologi belum seperti sekarang. Bila dulu budaya bertransmisi ke masyarakat dengan bantuan literatur, kini masyarakat mengadopsi budaya dari televisi dan media digital lainnya. Generasi muda lebih dekat dengan budaya pop Korea daripada budaya wayang Indonesia. Ini mengingatkan saya bahwa dalam hal ini pun, kita masih dapat mengupayakan pendidikan alternatif. Sejak 2001, masih di Yogyakarta, ada gerakan Combine Resource Institution(CRI) yang menggiatkan media rakyat. Rakyat diajak belajar memanfaatkan teknologi dengan cerdas; istilahnya, melek media. Mereka akan belajar mendapatkan akses informasi secara mandiri tanpa perlu melalui alur birokrasi. Program terbaru yang dilakukan adalah Lumbung Komunitas; di mana masyarakat dituntun untuk mengelola pengetahuan lokal dan mengenal desa mereka sendiri. Pada akhirnya, semua usaha-usaha pendidikan alternatif itu membuat saya yakin masih akan ada harapan untuk Indonesia.

[1] Dewanto, Nirwan (1996), Senjakala Kebudayaan, Penerbit Yayasan Bentang Budaya

 

Dewi Kharisma Michellia, penulis, editor, dan penerjemah lepas.

Tulisan ini sebelumnya pernah dimuat di sini.

07/04/2015 0 comments 1358 views
sumber: http://idiva.com/
sumber: http://idiva.com/

Pengalaman membuat saya tertarik untuk berbagi informasi tentang bagaimana cara orang Australia memfasilitasi ruang gerak anak, baik secara kognitif , motorik , sosial dan emosional. Usia anak yang akan dibahas adalah usia anak pra sekolah, atau bisa dikatakan usia dari lahir sampai usia 5 tahun. Istilah “bermain” menjadi latar belakang  pemerintah Australia untuk mengembangkan sebuah framework  yang digunakan oleh para pendidik  Australia dalam ranah belajar anak dalam seting institusi child care.

Mengapa pendekatan “bermain” yang mereka gunakan? Jawaban yang diutarakan oleh pemerintah Australia adalah karena bermain memberikan kebebasan atas keunikan dan kepribadian anak untuk bisa diekspresikan, meningkatkan sifat keingintahuan dan kreatifitas, mendampingi anak untuk mengembangkan hubungan antar konsep, dan mampu menstimulasi well-being anak (EYLF,2009. P.46). Hasil penelitian Bodrova & Leong (2005) menyebutkan bahwa anak-anak yang ikut terlibat dalam kegiatan bermain secara aktif, memiliki keterampilan memori yang  berkembang dengan lebih baik, mengalami perkembangan bahasa, dapat mengatur perilaku mereka, serta lebih mampu beradaptasi dengan lingkungan akademis. Tidak kalah pentingnya, bermain yang dilakukan dengan cara berinteraksi dengan orang lain dinilai dapat menumbuhkan kompetensi sosial pada anak. Mereka dapat menjalin kerja sama, bernegosiasi, dan menyelesaikan konflik yang muncul dalam permainan tersebut (Lester & Russel, 2008).

Pemerintah Australia berkomitmen mengembangkan sebuah kerangka pendidikan yang dikhususkan utuk anak-anak usia 0 sampai 5 tahun yang dikenal dengan istilah Early Years Learning Framework (EYLF).  Pendistribusian kurikulum di masing-masing institusi child care di seluruh Australia diseragamkan dengan bersumber pada kerangka tersebut, dimana pendekatan yang dipakai adalah bermain. Ada beberapa konsep bermain  yang saya temui saat saya menjalani pendidikan  dan kerja praktik. Konsep tersebut sebaiknya dimengerti, sehingga lebih dapat memahami apa manfaat jenis permainan tersebut terhadap keterampilan anak, yaitu :

  1. Quiet Play

Konsep bermain yang melibatkan anak hanya bermain dengan aktivitasnya secara tenang, tanpa ada interaksi dengan orang lain. Contoh : membaca buku, menggambar, mewarnai, melengkapi puzzle, meditasi, dan lain sebagainya.

  1. Active Play

Konsep bermain dimana anak menggunakan aktivitas motorik kasar dalam melakukannya secara sendiri maupun berkelompok dengan orang lain. Contoh : lompat tali, lompat jauh, lari, memanjat, gym, lempar tangkap bola, sepak bola, kasti, dan lain sebagainya.

  1. Functional Play

Konsep bermain ketika anak melakukan repetisi dalam aktivitas permainannya Contoh : seorang bayi yang bermain dengan rattle atau aktivitas anak mendrible bola.

  1. Creative atau Expressive Play

Konsep bermain dimana anak menggunakan serangkaian perlengkapan atau media untuk mengekspresikan dirinya. Contoh : artwork, drama, bermain musik, perbendaharaan kata melalui board game.

  1. Imaginative Play atau Pretend Play

Konsep bermain dimana anak menggunakan imajinasi mereka. Contoh : drama, masak memasak (pasaran), bertindak sebagai penjual dan pembeli di restoran, dan lain sebagainya.

  1. Constructive Play

Konsep bermain dimana anak menggunakan objek yang dibentuk sedemikan rupa sehingga memberikan hasil yang dapat diinterpretasi. Contoh : bermain dengan puzzle, balok-balok, lego, seperangkat alat pertukangan.

Bermain tentu saja memiliki fungsi aktif terhadap perkembangan anak, salah satunya misalnya melatih anak untuk dapat memecahkankan masalah ketika bermain puzzle. Namun, sebenarnya bermain juga memiliki fungsi aktif ganda misalnya ketika anak bermain drama, meraka akan belajar bagaimana membangun hubungan (sosial) dengan orang lain serta mengembangkan imajinasi atas tokoh yang diperankan (perkembangan otak).  Secara lengkapnya mari kita lihat pernyataan dari Scarlett (2004) :

“Bermain itu memperkuat perkembangan dan pertumbuhan anak. Secara umum bermain memfasilitasi perkembangan sosial, kognitif, emosional, moral dan pertumbuhan fisik.”

Pada saat melakukan kerja praktik, saya berdecak kagum melihat suasana ruangan yang dipenuhi dengan berbagai macam mainan edukasi dan setting ruang yang dirancang untuk anak, agar mereka dapat memilih proyek (mainan) apa yang akan dipilih. Ruangan itu dipenuhi oleh anak-anak yang berusia sekitar 4-5 tahun, yang digolongkan menjadi anak-anak preschool, yaitu masa pendidikan antara kelompok kindergarten (Taman Kanak – Kanak) dengan primary school (Sekolah Dasar). Anak-anak tersebut diampingi oleh para fasilitator atau tepatnya edukator dengan rasio 1 edukator memegang 12 – 15 anak usia di atas 36 bulan.

Saya sendiri belum pernah mendapati ada peraturan perbandingan guru dengan anak didiknya untuk usia pra sekolah. Sementara itu, di Australia sendiri, rasio ini diberlakukan sebagai peraturan yang harus dipatuhi jika kelas tersebut ingin berjalan. Sekedar informasi tambahan, untuk usia 0-24 bulan, perbandingannya adalah 1 edukator memegang 3-4 anak, sedangkan usia 24-36 bulan adalah 1 edukator memegang 4 anak. Berbicara mengenai pentingnya ratio adalah menyangkut efektifitas seorang pendidik dalam memfasilitasi anak didiknya sehingga tujuan yang diinginkan dapat tercapai. Beban pekerjaan yang diampu oleh setiap edukator diharapkan dapat terpenuhi dengan tepat dan tidak berlebihan. Bagian penting lainnya adalah diadakannya observasi individual pada masing-masing anak. Para pendidik memiliki record hasil observasi anak yang tujuannya adalah untuk mencari tahu ketertarikan anak, rencana program yang akan dilaksanakan, dan kelebihan anak pada bidang tertentu.

Begitu pentingnya konsep bermain untuk sarana belajar anak-anak, pemerintah Australia berkomitmen untuk memfasilitasi mereka dengan diadakannya perpustakaan permainan (Toys Library). Perpustakaan ini diprakarsai sendiri oleh pemerintah, salah satunya yang ada di Melbourne, dimana pengelolanya dipegang oleh Melbourne City Council yang sifatnya organisasi non-profit. Permainan yang disediakan beragam untuk anak usia 0-6 tahun. Sistem yang diberlakukan sama dengan perpustakaan buku pada umumnya, hanya saja yang dijadikan objek peminjaman adalah mainan. Untuk menjadi anggotanya pun tidak harus membayar mahal, cukup dengan membayar $25 (setara dengan Rp. 250.000,-) untuk satu tahun. Keuntungan yang diperoleh untuk anak-anak selain dapat meminjam mainan yang diinginkan, juga dapat bersosialisasi dengan anak-anak lain dalam komunitas perpustakaan tersebut.

Lain cerita saya temukan juga di dekat tempat saya tinggal tepatnya di daerah Kingsbury Primary School. Saya bersama putera saya, yang pada waktu itu berusia 11 bulan berkesempatan mengunjungi sekaligus menikmati arena bermain yang disediakan oleh pihak sekolah tersebut. Ruangan bermain itu dikelola oleh beberapa guru dan koordinator, ruangannya cukup besar dan fungsinya sebenarnya adalah sebagai tempat pelayanan bagi siswa-siswi yang mengikuti before and after school care, yaitu pelayanan sebelum dan setelah jam sekolah. Pelayanan ini tidak wajib diikuti oleh seluruh siswa dan tidak ada hubungannya dengan nilai sekolah mereka. Tujuannya adalah memfasilitasi orang tua yang memiliki kepentingan pekerjaan, sehingga mereka harus diikutsertakan program tersebut.

Penggunaan ruang bermain tersebut pun akhirnya dimaksimalkan untuk masyarakat sekitar sekolah, cukup 1 hari dalam seminggu. Jadi, para orang tua yang ingin mengajak anaknya bermain bersama, dapat mengunjungi arena bermain tersebut selama kurang lebih 2 jam (pukul 09.00-11.00) dengan biaya $3.5,- Kegiatan selama 2 jam tersebut juga diisi dengan story telling dan group time yang biasanya diisi dengan menyanyi, serta ada juga area menggambar dan mewarnai.

Menyambut Inspirasi

Berakar dari ide yang digagas oleh pemerintah Australia melalui pemberian fasilitas-fasilitas bermain untuk anak-anak, membuat saya tertarik untuk mengembangkan ide perpustakaan permainan (Toys Library) untuk dapat diterapkan di daerah-daerah di Indonesia. Sifat permainannya bisa bermacam-macam dari sisi jenis, fungsi terhadap skill anak, maupun rentang usia yang direkomendasikan. Perpustakaan permainan ini selain mampu memenuhi hak anak-anak untuk bermain, diharapkan juga mampu melestarikan permainan tradisional. Pelestarian permainan tradisional itu penting karena permainan tersebut juga mengandung nilai budaya, sehingga mampu merepresentasikan indigenous toys suatu negara. Pengimplementasian program perpustakaan bermain bisa merambah ke sekolah-sekolah dasar maupun ke daerah-daerah yang berpotensi, misalnya di daerah yang memiliki komunitas anak-anak. Pemerintah daerah yang memiliki perhatian dalam pendidikan anak, memungkinkan untuk bisa menjadi donor sekaligus motor penggerak di daerahnya masing-masing. Kemudian, apa yang menggelitik di pikiran adalah membangun kerja sama dengan kelompok orang-orang yang telah pensiun untuk pengelolaan perpustakaan tersebut. Hal ini dimaksudkan agar mereka mendapatkan kembali rasa rindunya untuk beraktivitas ketika masih aktif bekerja.

Kegiatan-kegiatan lain pun juga bisa disisipkan dengan mengajak anak ikut berpartisipasi. Pemilihan kegiatan bisa juga dikategorikan berdasarkan usia mereka. Salah satu program seperti Shake, Rattle and Rhyme dikhususkan untuk anak-anak usia di bawah 2 tahun. Program tersebut dimaksudkan untuk menstimulasi pemerolehan kosa kata pada anak-anak melalui lagu. Selain itu, untuk usia lebih dari 2 tahun bisa di lakukan story telling, puppet show, dan group time.

Masing-masing anak memiliki tingkat perkembangan dan pertumbuhan yang berbeda-beda. Salah satu untuk membantu mereka untuk mencapainya adalah dengan memberikan mereka stimulasi. Jika anda adalah orang tua yang mayoritas waktu anda habiskan di rumah bersama anak-anak Anda, bergeraklah untuk menjadi stimulator bagi anak-anak. Dengan diadakannya  perpustakaan permainan ini menjadi sarana bagi para orang tua dalam rangka membantu anak-anak belajar dengan bermain.

“Masa anak – anak memiliki awal yang paling baik dalam kehidupan untuk memulai sekaligus menciptakan masa depan bagi mereka sendiri atau negaranya”

Daftar Pustaka:

Early Years Learning Framework for Australia (EYLF).2009. Canberra: Department of Education, Employment and Workplace Relations.

Bodrova, E. & Leong, D. J. (2005). Uniquely preschool: What research tells us about the ways young children learn. Educational Leadership, 63(1), 44-47

Lester, S. & Russell, S. (2008). Play for a change. Play policy and practice: A review of contemporary perspectives. Play England.

 

Tulisan merupakan rangkuman dari tulisan Tasa Laurika (S1 Fakultas Psikologi UGM, bekerja di salah satu penyedia jasa Outside School Hour Care, yakni Camp Australia) yang dimuat dalam buku Sekolah itu Asik (2014). Tulisan lengkap dapat dibaca dalam buku tersebut.

02/04/2015 0 comments 1007 views
sumber: http://www.imaginesouthlake.org/
sumber: http://www.imaginesouthlake.org/

“How can there be peace without people understanding each other and how can this be if they don’t know each other?”

Lester B. Pearson

(Bagaimana bisa tercipta kedamaian tanpa adanya orang-orang yang saling mengerti satu sama lainnya,  dan bagaimana  kedamaian ini bisa terwujud apabila mereka tidak saling mengenal satu sama lain?)

“Today is Friday, isn’t it, Mum?( Hari ini hari Jumat kan, Ma?),” tanya Andhika, anak kami, pada ibunya. Ia tahu dalam dua hari ke depan dia tidak akan menemui guru-gurunya, teman-temannya, dan bangku sekolahnya. Holiday is boring. I will miss my school, my friends and my teachers (Liburan itu membosankan. Aku akan merindukan sekolah, teman-teman dan guru-guruku).

Kalimat tersebut terlihat sederhana, tetapi penuh makna bagi kami selaku orang tua. Mengapa Andhika begitu merindukan guru-guru, teman-teman, dan sekolahnya? Padahal di awal-awal memulai sekolah dulu, dia cukup kesulitan untuk memulai karena keterbatasan bahasa, budaya dan lain sebagainya.

Hampir empat tahun kami bermukim di Melbourne, yang menurut sebagian besar orang adalah salah satu kota ternyaman di dunia. Empat tahun yang lalu, setiap akan memulai aktifitas sekolahnya, Andhika selalu gelisah, menangis, perut mual-mual bahkan muntah setelah sampai di sekolahnya. Sambil terduduk dia selalu menangis dan tidak mau masuk kelas. Hal ini  tentu saja mengkhawatirkan dan membuat saya iba melihat kondisinya.

Dalam kondisi demikian, pendekatan cinta pada akhirnya bisa meredam semuanya. Cinta seorang guru kepada muridnya yang begitu penuh perhatian mencurahkan perhatian yang tulus pada Andhika. Di depan pagar sekolah, Ms. Corrigan, sang guru itu, menyambut Andhika dengan senyum dan tangan terbuka,

“Do not vomit Andhika, give me a big hug (Jangan muntah Andhika, beri saya pelukan yang erat.),” Ibu guru ini memeluk Andhika dengan erat sambil mengelus-elus punggungnya sampai Andhika merasa nyaman di dalam pelukannya. Setelah agak tenang, ibu guru ini berkata, “Let’s come to the class. You can sit next to me and we will play a fun game (Ayo kita masuk kelas, kamu bisa duduk di sebelah Ibu dan kita akan bermain game yang mengasyikkan).” Hal ini dilakukan setiap pagi hingga lambat laun pada akhirnya Andhika mulai bisa beradaptasi di sekolah barunya.

Di samping itu, untuk membatunya beraktivitas selama di sekolah, Andhika juga dibantu oleh teman tandemnya, yang biasa dinamakan Buddy atau teman pendamping. Buddy adalah seorang anak yang ditunjuk untuk mendampingi anak-anak yang baru masuk. Biasanya dipilih dari negara yang sama dengannya ataupun kalau tidak ada, mereka akan didampingi oleh anak yang mempunyai bahasa yang hampir sama. Pada saat itu, Andhika mendapat pendamping dari Malaysia. Pendamping inilah yang bertugas sebagai penerjemah antara guru dan murid pada saat berada di dalam kelas. Peran buddy ini tidak hanya di dalam kelas, tetapi juga di luar kelas. Tujuannya untuk membantu anak-anak baru untuk bisa menjadi akrab dengan lingkungan di sekolahnya. Contohnya dengan menunjukkan fasilitas-fasilitas yang ada di sekolah, seperti di mana kamar kecil, kantin, tempat bermain, perpustakaan, dan menemaninya bermain.  Di sini lagi-lagi ada cinta dan perhatian dari temannya.

Perlahan-lahan Andhika sudah mulai semakin percaya diri. Dia sudah tidak gelisah, menangis, dan mual-mual lagi sewaktu akan berangkat sekolah, bahkan tidak pernah muntah lagi. Bahasa Inggris yang menjadi bahasa sehari-hari pun mulai dipahami dan dipergunakannya. Prestasi demi prestasi diraihnya dengan mendapatkan beberapa penghargaan Student of the Week  di setiap term. Hal ini sangat mengembirakan. Bahkan, di penghujung tahun ajaran 2013 ini, Andhika mendapat predikat “The Most Outstanding Student”. Predikat ini diberikan kepada anak yang sangat serius dalam kegiatan Hip Hop. Andhika yang dulunya sangat pemalu, pendiam, dan sangat tidak percaya diri bisa membuktikan bahwa dia bisa meraih prestasi ini dengan menari di depan banyak orang di sekolahnya.

Begitulah sebuah kekuatan cinta, tanpa mengenal batas-batas etnis, ruang, dan waktu. “When there is love there is peace,”  demikian kata Neil Wu. Ketika ada cinta, maka juga akan ada kedamaian. Kekuatan Cinta Ms. Corrigan terhadap Andhika dapat mengubah semua hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Seorang guru yang tidak mempunyai hubungan secara personal kepada murid barunya, dapat memberikan cinta yang begitu dalam dan menyentuh. Cinta. Kata yang sederhana, tetapi penuh makna, dan semua orang bebas untuk mengartikan dan memaknainya.

 

Tulisan merupakan rangkuman dari tulisan Temmy Thamrin (Kandidat PhD Program Linguistics, Faculty of Humanities and Social Sciences, La Trobe University, Melbourne – Australia) yang dimuat dalam buku Sekolah itu Asik (2014). Tulisan lengkap dapat dibaca dalam buku tersebut.

01/04/2015 0 comments 986 views
sumber: http://siteaboutchildren.com/
sumber: http://siteaboutchildren.com/

Suatu siang sewaktu masih di Indonesia, anakku yang sulung pulang sekolah bersama adiknya. Namanya Haikal Jarjani. Saat itu usianya 7 tahun.  Sementara itu, adiknya Jana Safira Jarjani, usianya 6 tahun.  Sesampai di rumah, Jana sangat gembira mendapat nilai bagus.  Berbeda dengan Haikal yang saat sampai rumah diam saja dan agak cemberut.  Ada apa, ya? Merasa penasaran, saya langsung bertanya,

“Abang dapat nilai berapa hari ini?” tanyaku pada Haikal.

“Abang tidak dapat nilai hari ini, Yah, “ jawabnya.

“Kok, tidak dinilai?”

“Ya, Abang tidak nulis, Yah,”

“Kok tidak nulis, kenapa?”

“Abang termenung, Yah,”

“Termenung?”

“Ya, Abang termenung lihat papan tulis.  Jadi, tidak nulis yang ibu guru suruh”

“Emang Abang termenung terus-terusan hingga dari mulai masuk kelas hingga waktu pulang?”

“Ya,”

“Lain kali tulis yang ibu guru suruh, agar Abang naik kelas, ya?” kataku mengingatkannya baik-baik. Aku sebenarnya kaget mendengar penjelasannya yang aneh itu.  Tapi aku berusaha untuk tak  memaksanya menulis. Apalagi belum tahu pasti penyebabnya.

Rupanya, besoknya ia mengalami hal serupa.  Alasannya juga sama, termenung.  Pasti ada yang tidak beres, pikirku.  Aku harus memastikan apa sebabnya. Besoknya aku menemui gurunya, menanyakan hal itu.  Ibu gurunya membenarkan bahwa Haikal tak mau menulis. Ia duduk terus. Macam-macam alasan dibuatnya.  Tidak ada pensil, tak teraut pensilnya, lupa bawa buku.  Padahal aku dan ibunya selalu mempersiapkan segala keperluannya di malam hari setelah selesai mengerjakan PR.  Ada lagi yang ketahuan oleh ibu gurunya, Haikal sering mematahkan pensilnya sendiri, sehingga punya alasan tak menulis.

Haikal memang tampak agak berbeda, tapi sebenarnya punya potensi yang bagus. Kukatakan bahwa terlalu banyak PR yang diberikan untuk anak kelas 2 SD.  Setiap hari kuperhatikan dari balik jendela ruangan anak-anak diberikan tugas yang banyak untuk dikerjakan di sekolah dan di rumah.  Ibu gurunya duduk di depan menunggu anak-anak mengumpulkan tugas-tugas yang diberikan itu.  Sebagai seorang dosen yang ikut bertugas mengajar calon guru, batinku memberontak.

Tapi apalah artinya pemberontakan batin dalam menghadapi sekolah yang tidak mau membangun komunikasi yang baik dengan orang tua murid.  Tak ada pula aturan yang mengevaluasi proses pembelajaran guru, apakah sudah sesuai dengan usia anak atau tidak.  Aku terus berpikir bagaimana caranya keluar dari ketidakberesan ini.

Beberapa bulan kemudian, keluargaku turut serta mendampingiku melanjutkan studi di Australia, tepatnya di Melbourne.  Haikal dan adiknya tentu harus bersekolah di sana.  Namun, mereka tak memiliki kemampuan Bahasa Inggris sedikitpun.

Hari pertama aku dan ibunya mengantar mereka ke sekolah, Haikal menangis minta pulang begitu masuk kelas.  Jana yang didampingi ibunya di kelas yang lain juga mengalami hal yang sama.   Dengan penuh kuatir, kami mencoba menunggu, sambil bermain-main dengan permainan yang diberikan guru di dalam kelas.

Kupandangi ruangan kelas yang penuh dengan berbagai tempelan beragam warna.  Semuanya berisi macam-macam karya anak-anak yang dipelajari selama belajar di sekolah.  Tertulis nama anak-anak dalam berbagai karya itu. Sembari memperhatikan sudut ruangan yang rapi dan cara guru berteman dengan murid-murid, kulihat Haikal mulai asyik bermain.  Ketika ia sedang asyik bermain bersama teman-temannya, diam-diam aku mengendap pergi keluar kelas.

Sorenya, cepat-cepat kami jemput pada jam 3.30.  Perasaanku masih tak menentu ketika menunggu mereka.  Begitu lonceng pulang berdenting, kulihat satu persatu anak-anak keluar dari kelasnya masing-masing.  Tiba-tiba kulihat anakku Haikal muncul dari balik pintu.  Dari wajahnya sama sekali tak menunjukkan bahwa ia jera hari itu. Bola matanya yang bulat langsung diarahkan padaku, dan langsung berlari menujuku.

“Yah, besok datang lagi kemari, ya,” katanya sambil tersenyum. Hah! Aku tak menyangka ia begitu cepat berubah. Lalu kudengar mulutnya yang lincah bercerita tentang permainannya hari itu.  Bisa kulihat kalau dia sangat senang.

Pada hari-hari selanjutnya, mereka selalu ingin berangkat cepat ke sekolah. Bahkan, mereka tak mau langsung pulang ke rumah dengan cepat. Soalnya, banyak permainan yang bisa dipergunakan di sana, di dalam kelas dan di luar kelas.  Dengan berangkat cepat dan pulang agak lambat, mereka memiliki banyak waktu bermain bersama teman-temannya.  Kulihat keduanya sangat bersemangat bersekolah.

Tak banyak PR yang diberikan oleh sekolah. Hanya diminta membaca satu judul buku cerita ringan setiap hari di rumah dan diminta mengomentari sesuai dengan apa yang mereka pahami setelah membacanya. Setiap anak diberikan satu buku catatan untuk mencatat buku apa saja yang telah dibacanya setiap malam. Di buku tersebut ada kolom judul buku, komentar anak terhadap buku tersebut, dan komentar dari guru beserta stempel warna-warni gurunya yang lucu-lucu dan menggugah hati anak. Sangat senang anak-anak itu membuat komentar singkat tersebut, meskipun komentarnya sederhana.  Misalnya, ‘I like the kind frog in the book’.

Baru kemudian saya menyadari betapa banyak manfaat dengan adanya buku catatan untuk menuliskan komentar murid itu.  Secara tidak langsung, itu strategi bukan hanya untuk membuat anak termotivasi untuk membaca dan menulis setiap hari di rumah, tetapi juga bisa meningkatkan daya imajinasi anak.  Hal ini bisa saya amati dari komentar anak-anak saya di bukunya masing-masing, yang semakin hari semakin bagus dan panjang.  Pada awalnya saya bantu mereka untuk membaca dan memberikan komentar. Ternyata, semakin hari kian mandiri dan mampu mengungkapkan sendiri komentarnya .  Selain itu, anak-anak bukan hanya mau membaca satu buku per malam, tetapi seringkali membaca sendiri lebih banyak buku, meskipun tidak disuruh.

Semakin lama kemampuan anak-anak saya kian membaik.  Saya sebagai orang tua kerap diajak untuk berkomunikasi dengan pihak sekolah, terutama wali kelas, tentang anak-anak saya baik secara lisan maupun tulisan.  Secara lisan, saya kadangkala diberikan kesempatan untuk bertemu dengan guru-gurunya, seperti guru bahasa Inggrisnya, guru kebaikan murid, dan guru kelasnya.  Yang paling sering tentu bertemu dengan guru kelasnya, terutama setiap kali menjemput anak.  Wali kelasnya selalu berdiri depan pintu waktu anak-anak mau pulang, sembari menyapa murid-muridnya dan kadangkala berbicara dengan orang tuanya. Bila ada anak-anak yang terlambat dijemput orang tuanya, wali kelasnya akan menunggu hingga datang penjemput yang memang sudah dikenalnya. Pihak sekolah tidak akan mengizinkan anak-anak untuk pulang bila penjemputnya tidak dikenal.

Sementara itu, secara tulisan, sekolah menyediakan Buku Komunikasi, email, dan selebaran.  Bila ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh guru kepada orang tua atau orang tua kepada guru, Buku Komunikasi itu menjadi medianya. Motivasi dan komunikasi seperti itu sangat membantu.  Prestasi anak-anakku terus-menerus meningkat setiap hari.  Ia bahkan sudah mampu berbicara bahasa Inggris. Hal lain yang nampak darinya, ia sudah sangat aktif bergaul dengan rekan-rekannya di sekolah dan memanfaatkan fasilitas-fasilitas sekolah dengan baik.

Di akhir tahun, anakku yang dulunya merasa malang dan tertinggal sewaktu bersekolah di tanah air, ternyata dinobatkan sebagai anak cemerlang di sekolahnya di Australia.  Dengan bangga aku membaca di portofolionya: “Congratulations! Great effort! Haikal Jarjani for being an excellent, hardworking student.”

Dari pengalaman anak-anakku itu, aku yakin bahwa membuat anak-anak senang bersekolah itu sebenarnya tidaklah sulit. Yang terpenting adalah metode atau pendekatan pendekatan terhadap anak-anak lebih diperhatikan dengan memberi ruang yang sebesar-besarnya bagi tumbuh-kembang mereka. Usia sekolah dasar merupakan usia emas saat anak-anak mulai berlatih berpikir kritis, mengembangkan imajinasi, dan bercita-cita. Melihat pengalaman baik Haikal dan Jana di Australia, aku dan istriku bertekad untuk ikut mengembangkan metode negeri Kangguru ini saat pulang ke kampung halaman nanti. Fasilitas yang memadai memang penting tetapi jauh lebih penting lagi adalah keinginan dan kreativitas.

 

Tulisan merupakan rangkuman dari tulisan Jarjani Usman (Kandidat PhD bidang pendidikan di Faculty of Arts & Education, Deakin University, Australia.) yang dimuat dalam buku Sekolah itu Asik (2014). Tulisan lengkap dapat dibaca dalam buku tersebut.

31/03/2015 0 comments 1377 views
sumber: http://www.sekolah123.com/
sumber: http://www.sekolah123.com/

Bercerita Sebelum Tidur

Pendidikan adalah proses membentuk kebiasaan (habit formation). Secara konseptual, kita semua sudah tahu bahwa membaca dan menulis itu penting untuk menumbuhkan kecintaan anak pada dunia literasi. Namun, barangkali kita masih kedodoran di tataran strategi dan teknik, baik di tataran pendidikan formal ataupun kebiasaan di rumah. Seberapa tinggi pun dorongan yang diberikan pemerintah, kalau anak tidak diperkenalkan pada buku dalam hidupnya sehari-hari, akan alot juga prosesnya.

Adzra, anak saya yang belajar di tingkat Preparation di Australia, selalu membawa pulang satu buah buku di dalam tas sekolahnya untuk bacaan di rumah. Itu merupakan pekerjaan rumah (PR) bagi setiap anak. Sementara PR bagi orang tua ialah membimbing anak membaca buku yang dibawa dari sekolah itu. Di luar buku yang dipilihkan gurunya untuk PR membaca, sekolah juga ingin mengajak orang tua dan anak mencatat kebiasaan membaca buku yang tersedia di rumah, entah itu buku cerita, pengetahuan, dan lain-lain. Anggap saja paling gampangnya, bagaimana kebiasaan bedtime story reading masing-masing keluarga. Untuk itu, sekolah menyediakan buku catatan Home Reading. Tidak diberi nilai meski guru akan memberikan komentar secara berkala setiap bulan.

Sejak hari pertama, setiap malam atau pagi sebelum sekolah, saya isi kolom kecil di buku itu dengan judul buku, komentar saya dan Adzra tentang isi buku, dan apresiasi Adzra tentang buku itu dlm bentuk smiley. Saya anggap ini sebagai sarana mengamati diri sendiri, apakah saya sisihkan waktu untuk bercerita tiap hari, merekam resepsi Adzra, bagaimana proses interaksi kami, apakah saya yang selalu bercerita, ataukah Adzra ikut ambil peran membaca ceritanya melalui gambar.

Dalam waktu dua minggu pertama, melihat lengkapnya kolom harian saya isi, rasanya seperti pencapaian luar biasa bagi saya. Ternyata dalam waktu 14 hari saja, sudah 14 cerita berbeda yang kami baca. Sebagian sudah pernah dibaca Adzra sehingga dialah yang gantian bercerita. Adakah ini berpengaruh pada kepercayaan diri anak? Begitulah yang saya lihat.

Apa semua orang tua mau melakukannya? Semuanya memang terpulang pada tingkat perhatian masing-masing. Hal-hal yang wajib saja seperti membaca buku dari sekolah belum tentu dijalankan, apalagi anjuran home reading. Di sisi lain, saya mengenal teman-teman Indonesia yang sangat tinggi perhatiannya terhadap program ini. Ada yang rutin mengajak anaknya ke Perpustakaan Kota untuk membaca dan memborong buku pinjaman. Ada yang teratur melakukan pencatatan, sampai akhirnya bisa mencapai 500 buku yang telah dibaca anaknya dalam kurun waktu kurang dari dua tahun di sini. Pada akhirnya, semua kembali kepada orang-tua. Hanya saja secara pribadi saya tertarik mengamati lebih jauh, apa artinya bercerita sebelum tidur untuk kita.

Bukan Sekedar Perayaan Literasi

Ada kegiatan tahunan untuk merayakan literasi yang biasanya dilangsungkan pada bulan Agustus, yaitu Children’s Book Week. Tahun 2014, tema yang diusung adalah Read across the Universe. Seluruh sekolah di Australia, terutama tingkat dasar, merancang beragam kegiatan literasi. Notices, newsletters, dan kegiatan kelas serempak memberikan pengumuman kepada para orang-tua dan siswa.

Namanya perayaan, yang dimunculkan adalah kehebohan seperti parade kostum karakter buku, pemilihan kostum terbaik sampai pemilihan buku terbaik tiap tahunnya. Anak-anak dan guru akan menggunakan kostum dari cerita-cerita klasik maupun kontemporer. Ada yang bertanya, lho kok acara Book Week tapi tidak ada bukunya? Sebenarnya apa yang disebut Children’s Book Week ini bukanlah berarti bahwa hanya minggu ini semua sekolah akan menggelar acara literasi. Ini hanyalah minggu perayaan atas keseluruhan kegiatan literasi yang menjadi rutinitas tiap hari di tiap kelas.

Mengapa acara seperti ini begitu meriah? Bagaimana anak bisa diajak memilih sendiri kostumnya, yang kerap memilih yang berbeda dari saran oranng tuanya? Itu karena program literasi yang sesungguhnya terjadi selama lima hari dalam seminggu sepanjang tahun ajaran.

Sebuah program literasi akan berhasil dengan sangat baik bila kelima unsur ini saling berkaitan: sekolah-guru-siswa-orang tua-pemerintah. Ini kalau kita bicara tentang literasi di tingkat nasional. Di mata saya, inter-relasi ini saya temukan di sini, di dalam pendidikan tingkat dasar di Australia.

Program literasi memerlukan kesungguhan dari semua pihak agar bisa mendarah-daging. Ada keberlanjutan dan kesatuan yang dipastikan berjalan dari guru tingkat bawah hingga berlanjut ke jenjang berikutnya. Ada keterlibatan orang tua yang diharapkan tetap penuh perhatian dengan program sekolah. Semuanya menjadikan anak-anak sebagai subyek, sosok yang penting.

Mengenal Indonesia

“Mommy, apakah Indonesia itu negara yang besar?” begitu tanya Adzra, anak kedua kami ketika berkunjung ke Melbourne Museum pada suatu hari. Di depan kami terbentang peta Pacific Islands, bagian dari negara Australia. Indonesia, meski bukan termasuk wilayahnya, terpampang lebar di peta tersebut.

Mendapatkan pertanyaan tentang negara sendiri, saat berada di negeri orang, membuat saya tersadar. Saya mengira anak seusia Adzra belum saatnya dikenalkan dengan geografi. Eh, ternyata sekolahnya malah mengangkat Indonesia sebagai tema pembelajaran di term tiga. Introducing Indonesia from an Australian perspective, kira-kira begitu saya menangkapnya.

Tentu bukan tanpa tujuan bahwa Moreland Primary School (MPS) mengangkat tema Indonesia dalam pembelajaran mulai Preps-Grade 6. Di lingkup MPS sendiri, setidaknya ada sekitar 50 siswa asal Indonesia, dari 350 siswanya. Mayoritas adalah anak-anak yang orang-tuanya sedang studi S2/S3 di berbagai kampus di Melbourne. Di tingkat Preps saja ada tujuh siswa Indonesia dari total 45 anak.

Membuat congklak menjadi salah satu proyek atau tugas selama liburan sekolah kali ini. Dibantu ayahnya, Adzra membuat papan dakon. Dia keluar ke Warr Park dekat rumah untuk mencari kerikil yang berukuran sama. Lalu kami berdua pun seru bermain dakon. Saya ikut bersemangat. Seperti kembali ke masa kecil. Entah kapan saya terakhir beririsan dengan permainan tradisional seperti ini. Entah itu dakon, bekel, sepak engklek, atau gobak sodor.

Lama saya merenungkan betapa permainan tradisional sudah lama menghilang dari jamahan anak-anak di tanah air masa kini. Di masa kecil saya dulu, tidak ada hari tanpa bermain karet atau petak umpet. Apakah anak-anak sekarang mengenal apa itu dakon,  bola bekel atau gobak sodor? Sementara itu, di pelataran Moreland Primary School, garis permainan engklek malah jadi salah satu lokasi favorit anak-anak perempuan. Mereka menyadari pesan-pesan oral yang terkandung dalam permainan tradisional semacam congklak itu. Kearifan lokal memang perlu diintegrasikan ke dalam pembelajaran sekolah.

 

Tulisan merupakan rangkuman dari tulisan Pratiwi Retnaningdyah (mahasiswa S3 di bidang Cultural Studies di the University of Melbourne) yang dimuat dalam buku Sekolah itu Asik (2014). Tulisan lengkap dapat dibaca dalam buku tersebut.

02/03/2015 0 comments 2105 views

anak-anak-rizal-770x470

Setelah lima tahun lebih saya tinggal di kota Melbourne, saya ingin berbagi pengalaman yang menurut saya adalah contoh terbaik bagaimana bagusnya sistem  pendidikan tingkat dasar di Australia.

Kebetulan tiga anak saya bersekolah di Clayton North Primary School.  Setiap  kali  mengantar-jemput,  selalu  saja  keceriaan, kegembiraan, dan suasana menyenangkan terpancar dari wajah mereka.

Mereka selalu berceloteh mengenai apa saja yang terjadi di sekolahnya. Misalnya si kecil Sora bercerita dengan antusias bahwa dia mendapatkan penghargaan “student of the week” karena rajin membaca dan selalu tersenyum kepada teman-temannya ketika masuk kelas.

Anak-kedua  kami  Jaeza  juga  tidak  kalah  semangat  menceritakan pengalamannya mendapatkan apresiasi dari gurunya karena sangat baik dalam melakukan riset (review) beberapa buku bacaan secara terstruktur dan sederhana.

Dari cerita-cerita ringan itu, saya melihat bahwa sekolah di Australia mampu menghadirkan suasana yang menyenangkan untuk belajar

Di negeri kangguru ini, siswa diajarkan bagaimana konsep matematika itu ditempatkan dalam mengajarkan logika berpikir dalam budaya tutur. Mereka misalnya diajarkan perbedaan kecepatan jatuh sebuah benda akibat memiliki berat berbeda dengan ketinggian berbeda.

Anak-anak langsung diajarkan praktik sebuah logika “peristiwa alam” dan kemudian diajak untuk menemukan rumus itu melalui  eksperimentasi  langsung.  Suatu  pendekatan  yang menggabungkan ketiga aspek pengajaran yakni olah pikir, olah rasa, dan olah karsa (tindakan nyata).

Para siswa dilatih bagaimana memiliki keterampilan hidup, kebiasaan membaca setiap malam, menceritakan apa saja yang dibawanya dari rumah di depan kelas (show and tell), musik, dan belajar bersosialisasi.

Suatu proses belajar  yang  dapat  menumbuhkan kemampuan berempati dan saling menghargai satu sama lain.

Untuk menciptakan sekolah yang aman sekolah di Australia menerapkan aturan setiap siswa harus ditemani oleh minimal dua kawan ketika pergi ke toilet. Mereka menerapkan sistem “buddy”, siswa senior diwajibkan membantu, menemani dan menjaga siswa yunior jika mengalami kesulitan dan membutuhkan bantuan. Perilaku yang mengajarkan tanggung jawab dan kepemimpinan.

Para siswa diberi tugas untuk menulis dan menceritakan siapa pahlawan mereka dan mengapa dianggap pahlawan. Siswa diajarkan berpikir kritis, rasional dan bertanggungjawab atas pilihannya. Tak jarang pilihan pahlawan anak-anak itu sangat unik, misalnya “tukang pengangkut sampah” karena  dianggap  telah berjasa  membuat lingkungan selalu bersih, sehat, dan jauh dari penyakit.

Siswa  di  sini  sejak  dini  diperkenalkan  pentingnya tanggungjawab dan tugas setiap profesi pekerjaan yang mereka jumpai sehari-hari, misalnya polisi, pemadam kebakaran, dokter, insinyur hingga petugas petugas kebersihan. Anak-anak menjadi terlatih untuk memiliki kesadaran tinggi dampak buruk jika tidak mengikuti aturan mereka.

Ada juga ujian nasional yang disebut NAPLAN Test. Tujuan utamanya ialah mengevaluasi sekolah dalam menerapkan metode belajar-mengajar (kurikulum) yang diukur melalui hasil test siswanya. Dengan demikian, siswa tidak terbebani untuk lulus atau tidak.

Singkatnya anak anak di sekolah Australia tidak dicekoki oleh hukuman, hapalan rumus, beban mata pelajaran bahkan prestasi ujian nasional yang fantastis. Mereka hanya dilatih keterampilan hidup melalui pelajaran memasak, pertukangan, berkebun, pengenalan bahasa asing, dan penanaman karakter positif sejak dini.

Untuk mengajarkan inovasi dan pola pikir kritis dan rasional, Australia melatih siswanya sejak SD untuk selalu membaca dan merefleksikan bacaannya melalui argumentasi yang terukur dan penulisan esai yang mampu melebihi batas imajinasi mereka.

Kampanye ‘revolusi mental bangsa’, bukanlah sekedar jargon politis, melainkan sudah dipraktikkan di sekolah-sekolah dasar di Australia. Mereka hadir secara langsung menanamkan karakter positif dan optimis sejak dini melalui permainan yang menyenangkan, mudah,  terjangkau tanpa fasilitas mahal.

Misalnya ada tradisi pemilihan school captain, semacam Ketua OSIS untuk tingkat SD. Para kandidat harus mendaftar  dan  menawarkan  program-programnya  lalu  mereka berdebat  di  depan  guru-guru  dan  teman-temannya.  Mereka berargumen  secara  bergantian,  tanpa  memotong  pembicaraan.

Kebetulan anak sulung saya, Aliya Zahra terpilih sebagai school captain saat ia duduk di kelas enam. Ia terpilih bukan bukan hanya karena tawaran programnya dan keberaniannya berpendapat, tetapi karena kemampuannya menghormati pendapat orang lain.

Kapan suasana seperti ini bisa dijumpai dan dinikmati oleh anak-anak kita di sekolah-sekolah Indonesia? Saya berharap, cerita-cerita tentang sekolah yang menyenangkan itu dapat dikumpulkan bersama dan dibagikan secara masif ke sekolah-sekolah di Nusantara. Mungkin upaya itu akan membantu menambah wawasan dan motivasi bagi para guru, orang tua, dan anak-anak di Indonesia untuk mendapatkan pengalaman bagaimana sekolah-sekolah di negara maju diterapkan.

Agar para orang tua dan stake holder pendidikan di Indonesia dapat berpikir kritis dan tidak terjebak oleh jargon “internasionalisasi” yang hanya menggunakan bahasa asing dan bekerjasama dengan institusi asing. Agar seluruh siswa dari berbagai lapisan masyarakat dapat dengan mudah merasakan bahwa internasionalisasi itu bukan hanya belajar dengan fasilitas mahal dan teknologi maju, tetapi justru menekankan aspek pendidikan karakter yang sebenarnya telah diajarkan oleh para leluhur bangsa.

Muhammad Nur Rizal, penggagas gerakan Indonesia Belajar. (http://www.indonesia-belajar.org/) 

Tulisan ini sebelumnya pernah dimuat di sini.

Loading...