Ketrampilan Hidup

22/08/2016 1 comments 746 views

 

Berikut merupakan tulisan dari salah satu guru SD Muhammadiyah Macanan, sekolah dalam jaringan GSM (Gerakan Sekolah Menyenangkan) mengenai "mindset" atau pola pikir antara konvensional dan modern terhadap pendidikan.

SOAL MINDSET

oleh : Ailis Safitri

Dunia pendidikan memang komplek, banyak hal yang harus dipikirkan, mulai dari pelaku, materi, budaya, lingkungan dan sebagainya. Satu yang saya ingin sharing adalah soal mindset, antara yang konvensional dengan yang modern (saya kategorikan saja demikian).

Yang berpikiran modern menganggap bahwa karakter jauh lebih utama untuk ditumbuhkembangkan ketimbang nilai. Orang tua modern jika ditanya, “menghendaki pendidikan anak yang seperti apa?” Maka jawabnya, “Ingin anak yang kreatif, terutama dapat mengatasi masalahnya sendiri,” demikian.

Foto: sd muh macanan - membaca jadi budaya
Foto: sd muh macanan – keterampilan – membaca jadi budaya

Sementara orang tua yang konvensional masih berharap agar anaknya menjadi pintar dengan ukuran mendapat nilai yang bagus, dengan alasan supaya bisa melanjutkan ke sekolah negeri (faktor gengsi dan biaya).

Orang tua modern lebih menekankan pendidikan anak yang memprioritaskan life skill, sementara yang konvensional lebih suka agar anaknya diberi pendidikan berkait dengan pelajaran.

sd muh macanan - belajar bersama kakak kelas
sd muh macanan – belajar keterampilan komputer (IT) bersama kakak kelas

Kondisi seperti ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi sekolah yang berada di pedesaan, di mana wali murid mayoritas berasal dari status sosial menengah kebawah. Pemikiran mereka masih sangat konvensional dan pragmatis, anak disekolahkan supaya pintar dan mendapat nilai yang bagus. Apabila nilainya jelek maka sekolah diminta pertanggungjawabannya.

Seperti sudah sama-sama diketahui bahwa materi pelajaran untuk tingkat sekolah dasar sekarang ini lebih ditekankan kepada pendidikan karakter (60-70%) dan pengetahuan (30-40%). Kurikulum pun sudah mulai dialihkan dari KTSP ke K13 (kurikulum 13). Namun jika masyarakat maupun guru masih memiliki mindset yang konvensional dan pragmatis yang lebih mengutamakan nilai, maka perjuangannya masih akan panjang.

Foto: sd muh macanan - belajar bersama kakak kelas
Foto: sd muh macanan – melatih keterampilan sosial dan komunikasi – belajar bersama kakak kelas

Beberapa strategi sesungguhnya sudah mulai diterapkan di banyak sekolah. Salah satunya dengan menerapkan metode pembelajarn bertingkat. Maksudnya kelas 1-4 menekankan pendidikan karakter, sementara kelas 5-6 lebih menekankan pengetahuan (drill). Atau pihak sekolah berani untuk tidak terlalu fokus kepada UN (khusus kelas 6, 9 dan 12), misalnya. Karena tidak pernah ada jaminan juga bila terlalu fokus kepada UN maka hasilnya akan bagus, sementara jika sekolah tidak terlalu fokus UN maka hasilnya akan jelek.

Hasil nilai evaluasi bagus atau jelek memang sangat bergantung kesiapan siswa. Namun apabila secara psikologis anak menjadi stress karena beban belajar yang tinggi, maka akan percuma juga. Inilah pentingnya merubah pola pikir masyarakat yang selama ini (justru) terlalu membebankan anak. Beberapa pengalaman menunjukkan bahwa anak yang nilainya bagus tidak kemudian menjadi jaminan berhasil dalam kehidupannya kelak.

sd muh macanan - pendidikan karakter - latihan antri
sd muh macanan – pendidikan karakter – latihan antri

Mari bekali anak tidak hanya dengan ilmu pengetahuan tapi juga keterampilan mengolah pikir, rasa dan sikap sehingga kelak ia siap menghadapi segala tantangan kehidupan yang dihadapi.

11/04/2015 0 comments 1731 views
sumber: https://www.organicgardener.com.au/
sumber: https://www.organicgardener.com.au/

Kebun di Sekolah Dasar Clayton Utara (Clayton North Primary School), Victoria, Australia, nampak hijau dengan beragam buah-buahan, sayuran, dan tanaman biji-bijian khas Australia. Ada pohon almond, yang menghasikan kacang almond yang bisa dimakan langsung atau digoreng. Saya juga melihat  ada tanaman rasberry, Jeruk Tahiti, wortel, kol, bawang putih, dan banyak lainnya. Disela-sela tanaman, bunga dan sayuran ada bebegig (orang-orangan). Konon, fungsinya untuk menakut-nakuti burung yang makan padi menjelang panen.

Saya lihat juga tanaman bunga yang sedang merekah warna-warni seiring dengan musim semi yang sejuk. Saya bersama beberapa kawan diantar Wakil Kepala Sekolah (Assistant Principle), Mathew Anderton melihat kebun di belakang sekolah itu. Di sebelah kebun juga ada kandang ayam, sebagai bagian dari program berkesinambungan (sustainability program). Saya ingin tahu bagaimana sekolah disini menempatkan gardening  (berkebun) menjadi bagian dari kurikulum yang penting.

Sebelum melihat kebun ini, saya sempat membaca beberapa cerita menarik bagaimana sekolah di Australia melibatkan komunitas, lembaga swadaya masyarakat dan orang tua, dalam program berkebun sebagai bagian dari upaya menjaga kelestarian lingkungan. Dari perbincangan dengan Mathew, saya baru tahu bahwa kebun bisa menjadi wahana menarik bagi siswa-siswi sekolah bagaimana mereka memahami keberagaman budaya, menghargai makanan yang sehat, dan terlibat dalam gaya hidup yang berkesinambungan.

Anak-anak memahami lingkungan yang sehat, makanan sehat, tetapi juga kehidupan multikultural. Di kebun sekolah, tanaman berasal dari berbagai negara. Saya lihat ada Tahitian Lime, pasti dibawa dari negeri Tahiti di bagian selatan Kepulauan Pasifik. Anak-anak diperkenalkan makanan dari berbagai negara.

“Kami juga mengajak anak-anak untuk membawa makanan yang dimasak oleh keluarga mereka, dengan tradisi masak yang berasal dari negara asal mereka, dan diperkenalkan kepada yang lain,” demikian Mathew dengan antusias menjawab pertanyaan saya.

Dasar prinsip masyarakat multikultural yang dibangun oleh Australia dimulai dari sekolah tingkat dasar. Menurutnya ini telah menjadi bagian dari kurikulum sekolah, yaitu memperkenalkan sejak dini bagaimana anak-anak bisa terlibat dalam kelestarian hidup (sustainability of life). Hasil dari program sekolah adalah “anak-anak jadi mengerti bagaimana makanan yang sehat dengan menanam buah-buahan dan sayuran oleh mereka sendiri”.

Masa Depan yang Sehat

Berkebun ditempatkan dalam program yang komprehensif yang disebut healthy future yang melibatkan guru, siswa, orang tua dan komunitas. Mereka memiliki dan memainkan peran masing-masing dalam program ini. Siswa-siswi tidak hanya diajarkan menanam dan merawat tanaman, tetapi juga bisa menjelaskan manfaat tanaman dan keragaman budaya melalui makanan. Healthy future adalah program besar. Berkebun menjadi bagian dari program ini.

“Kami bekerjasama dengan kelompok komunitas CERES, organisasi yang bergerak dalam pendidikan lingkungan. Di sana anak-anak belajar konservasi energi,” jelas Mathew.

Tentang keterlibatan CERES di sekolah, saya sempat email manajer pendidikan CERES, Kirsty Costa. Kirsty menjelaskan bahwa CERES dibangun masyarakat di Victoria untuk memperkenalkan pendidikan lingkungan di sekolah-sekolah. Siswa-siswi secara reguler datang di perkebunan CERES seluas 4 hektar di kawasan Brunswick Timur. Lebih dari satu juta anak sekolah telah belajar di CERES. Mereka belajar bagaimana berkebun dan memelihara lingkungan untuk kelestarian alam. Semua buah, sayuran dan tanaman berjenis organik, dipelihara secara alami tanpa bahan kimia. Sayuran dan buah dari CERES baru dijual di sekitar Brunswick dan seputar kota Melbourne, belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat Victoria.

Di sekolah, anak-anak juga terlibat dalam incubation program, tempat anak-anak belajar beternak dan melihat bagaimana ayam bertelur dan menetas.  Program masa depan yang sehat bisa berlangsung sepanjang tahun dengan beragam kegiatan sekolah. Di antaranya program green team, anak-anak dan guru berbicara tentang kesinambungan energi, dan penggunaan sampah yang bisa didaur ulang.

Bagaimana dengan program berkebun di sekolah-sekolah di Indonesia? Dalam kurikulum 2013, siswa-siswi diperkenalkan jenis dan ragam tanaman. Beberapa sekolah juga sudah memiliki program berkebun sebagai bagian dari kegiatan ekstrakurikuler sekolah. Kegiatan berkebun lebih banyak didorong komunitas diluar sekolah. Misalnya ada komunitas Indonesia Berkebun dan Bandung Berkebun yang memperkenalkan masyarakat perkotaan untuk mencintai tanaman dan terlibat dalam pelestarian lingkungan. Mereka mencoba menanam di halaman rumah masing-masing atau di lokasi pusat komunitas itu melakukan pelatihan.

Waktu saya kecil, kegiatan di kebun yang paling menyenangkan adalah saat panen. Saya kira anak-anak sekarang juga perlu diajarkan bagaimana padi, buah atau sayuran ini ditanam. Jika mereka melakukannya, maka akan timbul rasa hormat terhadap tanaman, sayuran dan makanan. Juga rasa hormat terhadap petani yang telah menyediakan semua kebutuhan hidup sehat itu bagi kita. Sekolah tinggal memperkuat fondasi masyarakat Indonesia yang mayoritas agraris itu. Sawah dan ladang ada di sekitar sekolah-sekolah kitam terutama yang di luar perkotaan. Keragaman budaya bisa diperkenalkan melalui beragam jenis tanaman dari ratusan suku yang ada di Indonesia, dari Aceh hingga Papua.  Semuanya kita punya, tinggal menumbuhkan kemauan kuat dan tekad untuk merawatnya. Semoga.

 

Tulisan merupakan rangkuman dari tulisan Badrus Sholeh (mahasiswa PhD Demokrasi dan Perdamaian di Aceh di School of Humanities and Social Sciences, Deakin University Melbourne) yang dimuat dalam buku Sekolah itu Asik (2014). Tulisan lengkap dapat dibaca dalam buku tersebut.

10/04/2015 0 comments 1369 views
sumber: http://www.adelaidenow.com.au/
sumber: http://www.adelaidenow.com.au/

“Belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu

Belajar sesudah dewasa, laksana mengukir di atas air

Jangan sedih yatim piatu, tiada punya ayah dan ibu

Tapi sedihlah tak punya ilmu, jalan yang mana yang mana hendak dituju.”

Saya teringat ketika guru saya menjelaskan pepatah ini. Kata beliau, belajar itu tidak terikat oleh waktu dan tempat. Tidak harus menunggu sesudah dewasa baru banyak belajar. Bahkan nabi Muhammad SAW mengatakan, tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahat. Belajar bisa dimulai sedini mungkin dan bahkan masa-masa dini ini merupakan saat-saat emas untuk belajar. Masa-masa mengukir di atas batu.

Perlu bertahun-tahun untuk meresapi dan mengamalkannnya. Saya bergumam, “Orang yang mendidik anak di masa dininya itu berarti sangat visioner, karena dia tahu bahwa apa yang dia didik sekarang akan membekas kuat dalam benak dan hati sang anak. Apa yang anak-anak tangkap akan tersimpan dengan baik dalam lumbung memori mereka hingga mereka dewasa. Dan itu akan membentuk perilaku dan kepribadian mereka.”

Saya baru melihat prinsip ini sebagai praktik pendidikan yang nyata ketika saya dan keluarga tinggal di Adelaide pada tahun 2011. Saya banyak belajar memahami prinsip ini melalui anak saya dan lingkungan pendidikan serta sosialnya. Tidak hanya memahami bahwa belajar itu penting sejak sedini mungkin, tetapi juga memahani hakikat sebenarnya dari belajar itu juga sangat penting.

Suatu hari, saya bersama istri mengantar Arief, anak kami, masuk ke salah satu childcare centre di Adelaide. Hati saya saat itu mengatakan: “Yes, akhirnya si Arief bisa ‘dititipkan’ dan saya bisa fokus melakukan pekerjaan lainnya.” Namun, Perkembangan Arief di sekolahnya menggelitik imaginasi-imaginasi saya mengenai ‘penitipan.’ Dan ini dimulai ketika baru seminggu di childcare centre itu, Arief sudah mulai berbicara sepatah dua kata. Ajaibnya lagi, dia berbicara dalam bahasa lokal. Maklum, ketika berangkat ke Adelaide, ia belum bisa bicara sama sekali, bahkan tidak bisa menyebut satu katapun dalam bahasa Indonesia.

Imajinasi saya itu kemudian terbawa untuk mencari tahu kenapa anakku dalam waktu yang singkat itu sudah bisa mulai berbicara? Saya akhirnya memberanikan untuk observasi di kelasnya sambil melihat apa yang dilakukan Arief di sekolah. Satu hal yang kami tangkap, komunikasi yang hangat dan interaktif tampak dalam hampir semua kegiatannya di kelas. Selama ini saya juga berkomunikasi dengan si buah hati itu. Tapi setelah mau jujur pada diri sendiri, ternyata memang komunikasi yang saya bangun dengan Arief tidak sehangat dan seinteraktif gurunya.

Imajinasi mengenai childcare centre sebagai tempat ‘penitipan’ berangsur mulai digoyahkan oleh perkembangan Arief itu. Ada suatu insiden menarik dalam perjalanan kami dari rumah ke satu shopping centre pada saat weekend. Arief sudah duduk di stroller. Tetapi, Arief mengatakan bahwa dia tak mau pergi sebelum mamanya memasang seat belt pengaman yang ada di strollernya. Tak lama setelah kami di mobil, Arief meminta kami mengenakan sabuk pengaman di mobil sebelum berangkat.

Pernah suatu saat kami lupa memasangnya, dia kontan marah. Hmmm, dalam pikirku, ada hal lain yang baru dalam Arief. Anak sekecil ini sudah mengerti tentang peraturan keselamatan. Usut punya usut, ternyata memang di kelasnya sudah dididik hal-hal yang menurut kami itu remeh: keselamatan diri (well-beings) si anak. Asumsi kami selama ini sebagai orang tua, ini sesuatu yang hanya bisa dimengerti oleh orang dewasa.

Tidak hanya di sekolah, tampaknya keseriusan untuk mendidik karakter anak sejak dini saya lihat sudah menjadi fenomena umum dalam lingkungan sosial tempat kami tinggal kala itu. Hal ajaib lain yang membuat kami semakin sadar adalah ketika kami dipanggil oleh guru kelas Arief. Ia guru mem-brief kami mengenai beberapa hal mengenai perilaku Arief selama di rumah. Alangkah malunya kami ketika ia menjelaskan bahwa Arief sudah diajarkan untuk memakai baju sendiri dan tidak lagi nyusu botol. Bahkan sudah dilakukan toilet training. Kami baru sadar dengan perilaku kami sebagai orang tua. Sebab, di rumah masih kami pakaikan diapers, kalau ke toilet juga masih kami temani, bahkan kami kasih botol untuk minum susu.

Hati kami terenyuh dan menjerit. Bukankah harusnya kami sebagai orang tua yang mengatakan itu kepada sang guru? Runtuhlah semua imajinasiku mengenai childcare centre sebagai tempat ‘penitipan’ sebagaimana yang sudah ada dalam praktik sosial di kampung kami. Saya merasa malu tetapi sangat bersyukur karena sudah ada yang mengingatkan. Kami ternyata disadarkan oleh anak kami sendiri.

Kejadian itu menjadi sebuah batu ukiran sejarah bagi kami sebagai keluarga. Semenjak itu tidak ada lagi yang sama di rumah. Kami semua menerapkan apa yang diterapkan guru di kelasnya. Kami semua secara tidak resmi sudah menjadi ‘murid’ di childcare centre itu. Arief sudah jauh lebih mandiri dari yang kami duga. Dia tidak perlu lagi pakai diapers, bisa pakai baju sendiri, bahkan pergi ke toilet sendiri.

Ada hal lain yang membuat kami hingga sekarang tidak bisa melupakan sekolah Arief dan juga Adelaide. Kami belajar bagaimana menjadi guru bagi anak sendiri melalui gurunya. Satu hal yang kami petik dari pengalaman Arief, guru bukan hanya menjadi tempat lumbung ilmu, tetapi juga lumbung kasih sayang yang universal. Tidak ada sekat-sekat dalam kasih sayang.

Kami belajar dari kearifan childcare centre tempat Arief belajar. Kami belajar dari keariefan gurunya. Kami belajar dari lingkungan sosial Arief. Kami belajar betapa pentingnya menanamkan pendidikan karakter sedini mungkin. Childcare Centre Arief dan lingkungan tempat kami tinggal menyadarkan kami betapa pentingnya belajar sedari dini. Begitupula belajar tidak hanya terbatas pada kegiatan akademik, tapi bagaimana pengajaran itu diterjemahkan dalam perilaku dan tindakan sehari-hari, sebagaimana yang kami lihat dalam pertumbuhan Arief. Kami mulai sedikit demi sedikit mengerti apa yang dimaksud dalam lagu qasidah di atas, “Belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu…”

 

Tulisan merupakan rangkuman dari tulisan Agus Salim (kandidat PhD di bidang diplomasi publik di University of Melbourne, Australia) yang dimuat dalam buku Sekolah itu Asik (2014). Tulisan lengkap dapat dibaca dalam buku tersebut.

29/03/2015 0 comments 1353 views
sumber: http://blogs.kqed.org/
sumber: http://blogs.kqed.org/

“Ini kesalahan saya karena tidak punya waktu menemani anak belajar bersama”. Mungkinkah kalimat itu diucapkan orang tua ketika mendapati rapor anaknya tidak sesuai harapan? Program DEAR memungkinkan orang tua punya keberanian untuk menyatakan hal itu.

Kalau berbicara tentang pendidikan, mengajar anak didik, semua orang menjadi kedengaran begitu pintar, cerdas dan benar. Tetapi sesungguhnya, yang paling memahami anak itu adalah orang tua dari masing-masing anak itu sendiri. Sayangnya alasan kesibukan seolah membuat kita menjadi lalai dan lupa bahwa kita memiliki anak-anak  yang menjadi alasan kenapa kita bekerja keras.

Saya ingin berbagi konsep pekembangan baca-tulis di Austaralia. Saya adalah seorang ibu dari dua orang anak usia sekolah dasar. Tulisan ini adalah refleksi dari pengalaman menjadi orangtua yang memiliki anak disekolah dasar di kelas satu dan kelas tiga, di antara kesibukan bekerja paruh dan kesibukan menulis disertasi S3 di Monash University, Melbourne, Australia.

Suatu ketika saya mendapat pamflet yang isinya, orangtua diminta secara sukarela untuk mengikuti program “DEAR” (Drop Everything and Read ). DEAR adalah program yang awalnya dikembangkan dari ide Beverly Cleary, seorang pustawakan asal Amerika dengan tujuan untuk meningkatkan budaya membaca dan membuat kegiatan membaca itu jadi lebih menyenangkan jika dilakukan bersama orang tua, teman, kakak, atau siapa pun di sekeliling kita.  Awalnya dimulai dengan memperingati hari lahir Beverly setiap bulan April, kemudian dijadikan kegiatan rutin yang berjalan sepanjang tahun di hampir semua sekolah di Amerika, Eropa, termasuk Australia. Makna atau inti slogan ini adalah tinggalkan semua pekerjaan, duduk sejenak, dan mari membaca bersama.

Program harian ini berlangsung selama  15-30 menit sebelum bel masuk atau pulang. Tujuannya bukan hanya mengajar anak membaca, tapi juga menciptakan minat membaca dan melatih anak berpikir secara kritis melalui bacaaan yang dibaca. Orangtua masuk ke dalam kelas, duduk di dekat anak, mendengarkannya membaca, meluruskan ucapannya dan berdiskusi tentang bacaan tersebut. Dan luar biasanya, orangtua tidak hanya duduk mendengarkan anak sendiri tapi juga mendengarkan anak-anak lainnya. Jadi kita bisa membuat perbandingan sejauh mana pencapaian belajar anak kita dengan adanya kesempatan duduk bersama kawan-kawannya.

Selain memberikan peran yang aktif kepada oarng tua, kegiatan DEAR juga bisa menilai langsung bagaimana perkembangan membaca sang anak. Dengan kegiatan ini pula orang tua menjadi dekat dengan guru dan sekolah. Dari program ini saya belajar memhami bahwa perkembangan baca-tulis setiap anak itu berbeda dan tidak bisa disamaratakan.

Adanya program DEAR ini membuka mata saya, bahwa membaca bukan hanya melafalkan kata tapi juga memahami makna di balik kata itu, dan itu tidak bisa terwujud jika tidak ada diskusi antara orang tua dan anak tentang bacaan tersebut. Diskusi membaca inilah yang melatih anak untuk berpikir kritis melalui kesempatan mendengarkan pendapat anak dan berdialog tentang bacaan tersebut.

Program  ini membuat saya menjadi begitu bangga akan anak saya, meskipun cara membacanya masih terbata-bata.  Hal yang mebuat saya bangga karena kemampuannya berpikir secara kritis dan menyampaikan pendapat berkembang dengan pesat.  Dengan membaca kemampuan berpikir kritis dan kreatif, anak dilatih melalui diskusi dan dialog secara terbuka. Kreativitas anak-anak dikembangkan dengan cara memberikan pertanyaan, melemparkan ide, dan mengarahkan berbagai kemungkinan yang dapat terjadi di luar teks cerita. Proses ini melatih daya kreatif dan imajinasi anak.

Membaca secara rutin dengan ditemani orang tua juga membuat anak lebih nyaman dan terbiasa mengemukakan pendapat, ide, saran secara sistematis dan beretika. Mereka juga diajarkan untuk mendengarkan pendapat, mendebat dan mebangun pendapat sendiri berdasarkan cerita  atau bacaan. Selain cara berpikir kreatif dan kritis yang dikembangkan juga sikap pribadi dan kemampuan bersosialisai serta etika berpendapat. Anak-anak menjadi berempati, terbiasa untuk memberikan kesempatan yang lainnya untuk berbicara, mengemukakan pendapat, dan menghargai pendapat orang lain.

Program ini sangat menarik untuk dikembangkan di Indonesia. Anak saya, untuk ukuran pendidikan dasar di Indonesia mungkin bukan anak yang “pintar”, tetapi saya bangga menjadi orangtua mereka karena saya ada dan terlibat dalam proses mereka belajar. Saya menikmati dan menjadikan setiap  waktu itu menjadi indah dan bermakna di sela kesibukan yang begitu padat. Pengalaman itu mengajarkan saya untuk belajar makna pendidikan dasar secara sederhana.

Pendidikan adalah sebuah proses dan produk. Dua kata, tapi yang selalu dingat  hanya satu kata, yaitu ”produk”.  Dua kata ini, dalam benak kita menjadi tanggung jawab sekolah dan guru. Selama ini kita mempercayai bahwa proses belajar hanya terjadi di sekolah, di dalam kelas dan produknya adalah rapor dengan nilai-nilai yang membanggakan. Namun, kalau nilainya buruk, maka tidak jarang sekolah atau guru yang disalahkan. Pendidikan dasar adalah tanggung jawab guru dan orang tua. Mereka harus saling bekerja sama untuk mengembangkan kemampuan anak-anak. Orang tua yang paling dekat secara visual adalah orang yang sebenarnya paling bertanggung jawab untuk mebuat isi kertas itu menjadi lebih terlihat indah.

 

Tulisan merupakan rangkuman dari tulisan Andi Armawadjidah Marzuki (menyelesaikan PhD di Faculty of Education, Monash University, Victoria, Australia) yang dimuat dalam buku Sekolah itu Asik (2014). Tulisan lengkap dapat dibaca dalam buku tersebut.

28/03/2015 0 comments 2115 views
sumber: http://pixshark.com/
sumber: http://pixshark.com/

Kami tidak terlalu khawatir jika anak-anak sekolah dasar kami tidak pandai Matematika, kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri.

Menurut saya, topik ini ada baiknya harus kita ulang-ulangi terus menerus, dan kita tidak boleh menyerah dalam kebosanan.

Pernah suatu ketika mengobrol dengan seorang ibu di Jepang, dan sampailah topik obrolan kami membahas tentang orang Jepang yang sangat santun di dalam mengantri. Dimanapun, kapanpun, dan dalam keadaan mepet apapun, kalau sudah gilirannya mengantri maka orang Jepang akan melakukannya dengan sangat baik dan teratur meski tak ada yang mengatur. Misalnya, sudah tahu bakal telat masuk kantor, antrian di stasiun kereta tetap rapi dan teratur.

Bagi ibu itu, tidak ada yang spesial tentang budaya antri di Jepang, biasa-biasa saja katanya. Dalam hati saya, ya wajar karena sudah membudaya maka biasa-biasa saja bagi dia. Dia lalu bertanya, bagaimana dengan budaya antri di Indonesia. Saya jawab saja, tidak sebagus di Jepang. Namun dalam hati, saya berdoa dan optimis Indonesia pasti bisa seperti Jepang, dalam hal budaya mengantri. Amin.

Tadinya obrolan kami juga sempat muter-muter tentang kurikulum SD di Jepang yang tidak seketat dan seberat SD di Indonesia yang sejak awal sudah digenjot macam-macam. Saya amati, anak kelas 1,2,3 dan 4 SD di Jepang memang tidak digenjot harus hebat dalam Matematika. Mereka juga tidak digenjot harus dapat ranking di kelas. Apalagi sampai dileskan macam-macam, agar bisa memuaskan rasa penasaran dan menghilangkan rasa malu orang tuanya kalau sampai anaknya kalah prestasi akademiknya dari anak-anak tetangga atau anak-anak saudaranya. Ampun deh, kalau masih ada orang tua seperti ini di jaman sekarang.

MENGAPA MENGANTRI ITU PENTING?

Saya jadi teringat artikel yang sangat bagus tentang pentingnya mendidik anak sejak di sekolah dasar tentang budaya antri. Berikut ini saya kutip ulang tulisan yang diambil dari sumber thecrowdvoice.com

Budaya Etika Mengantri vs Pintar matematika

Seorang guru di Australia pernah berkata:

Kami tidak terlalu khawatir jika anak-anak sekolah dasar kami tidak pandai Matematika, kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri.

Sewaktu ditanya mengapa dan kok bisa begitu? Berikut ini jawabannya:

KARENA kita hanya perlu melatih anak selama 3 bulan saja secara intensif untuk bisa Matematika, sementara kita perlu melatih anak hingga 12 Tahun atau lebih untuk bisa mengantri dan selalu ingat pelajaran berharga di balik proses mengantri.

KARENA tidak semua anak kelak akan bekerja menggunakan ilmu matematika kecuali TAMBAH, KALI, KURANG DAN BAGI. Sebagian mereka anak menjadi Penari, Atlet Olimpiade, Penyanyi, Musisi, Pelukis dsb.

KARENA biasanya hanya sebagian kecil saja dari murid-murid dalam satu kelas yang kelak akan memilih profesi di bidang yang berhubungan dengan Matematika. Sementara SEMUA MURID DALAM SATU KELAS ini pasti akan membutuhkan Etika Moral dan Pelajaran Berharga dari mengantri di sepanjang hidup mereka kelak.

 

Sebenarnya pelajaran berharga apa saja dibalik MENGANTRI ? Banyak! Banyak sekali … Misalnya:

  1. Anak belajar manajemen waktu jika ingin mengantri paling depan datang lebih awal dan persiapan lebih awal.
  2. Anak belajar bersabar menunggu gilirannya tiba terutama jika ia di antrian paling belakang.
  3. Anak belajar menghormati hak orang lain, yang datang lebih awal dapat giliran lebih awal dan tidak saling serobot merasa diri penting.
  4. Anak belajar berdisiplin dan tidak menyerobot hak orang lain.
  5. Anak belajar kreatif untuk memikirkan kegiatan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan saat mengantri. (di Jepang biasanya orang akan membaca buku saat mengantri)
  6. Anak bisa belajar bersosialisasi menyapa dan mengobrol dengan orang lain di antrian.
  7. Anak belajar tabah dan sabar menjalani proses dalam mencapai tujuannya.

Dan sebagainya … masih banyak lagi tentunya.

Dan yang menjadi faktor super penting adalah orang tua. Jujur saja, siapa sih para pelaku yang menyebabkan budaya antri di Indonesia masih ngawur seperti sekarang ini, jawabannya adalah: sebagian dari para orang tua anak-anak kita. Yang penting mau sadar dan mau berubah.

Faktor penting lainnya adalah kreativitas para guru menerjemahkan kurikulum nasional ke dalam model pembelajaran yangtidak melulu kognitif. Oleh karena itu, para guru Indonesia harus lebih cepat berubah dan jangan sungkan belajar dari negara lain yang sudah melangkah di depan.

Tidak apa-apa. Saya yakin kondisi kita semakin membaik. Namun, memang setiap ada hal buruk pasti lebih cepat tersiar luas. Tetap positive thinking, tetap semangat, dan tetap optimis. Mari kita berbenah terus untuk Indonesia yang lebih baik.

 

Wikan Sakarinto, Pejuang Beasiswa tunas-indonesia.org – Dosen SV-UGM – Owner of Fasnetgama Training Center (fasnetgama.co.id) – Ketua Yayasan Tunas Indonesia Jepang-

Tulisan ini sebelumnya pernah dimuat di isigood.com. Selengkapnya dapat dilihat di sini.

21/03/2015 0 comments 2097 views
sumber: http://theconversation.com/
sumber: http://theconversation.com/

“School is a mini life.” Itulah kalimat pertama yang diucapkan oleh kepala sekolah SD di depan para orang tua saat acara open day salah satu sekolah di Australia. Open day adalah hari informasi dimana orang tua dan anaknya yang siap bersekolah datang untuk berkenalan, mengunjungi ruang-ruang kelas, melihat fasilitas sekolah dan mendapat informasi sebanyak-banyaknya supaya bisa memutuskan untuk mendaftarkan anaknya jika sekolah tersebut nantinya dianggap sesuai dengan pilihan mereka. Tidak pernah saya lupakan kalimat itu. Menurut saya, itulah kunci bagi siapa saja yang ingin memahami sebenarnya apa tujuan sekolah.

Hal yang saya tangkap dari penjelasan kepala sekolah dan guru-guru kelas prep di acara open day adalah bahwa sekolah dari mana saja tingkatnya anak mulai, seharusnya merupakan refleksi kehidupan nyata. Dalam kehidupan nyata, anak bertugas untuk bermain sambil belajar. Berikut hal-hal yang menurut saya menunjukkan bahwa di Australia, sekolah dianggap sebagai refleksi kehidupan yang nyata.

Aturan sehari-hari

Hal yang paling menonjol yang saya amati dan rasakan adalah bahwa aturan itu sangat penting. Pesan ini disampaikan dan diterjemahkan dalam berbagai cara, misalnya dengan tulisan-tulisan di kantor sekolah, di dinding-dining kelas, dalam lembar surat yang diberikan kepada anak didik untuk dibawa pulang, dan sebagainya. Ada beberapa aturan sekolah yang bersifat umum untuk setiap siswa, ada juga aturan yang dipakai untuk masing-masing kelas yang lebih spesifik. Aturan sekolah untuk kelas ini biasanya ditulis dan dibicarakan bersama untuk meyakinkan bahwa setiap siswa mengerti tanggung jawab, kewajiban, dan hak mereka. Aturan-aturan tersebut ditulis dalam bentuk poster-poster dan catatan-catatan yang dipasang di dinding kelas, di ruang pertemuan, di kantor sekolah untuk mengingatkan semua yang ada di sekolah. Ketika proses pengenalan aturan mulai berjalan dengan baik, terkadang siswa lain yang berperan untuk menjadi pengingat terhadap teman sekelas lainnya.

Belajar Mengurus Diri Sendiri

Sejak dari masa Childcare, setiap anak diajarkan untuk mengurus diri mereka sendiri. Dimulai dari hal-hal kecil dan yang sangat sederhana seperti memakai dan mencopot sepatu, memakai botol minum, atau menggunakan sendok untuk memasukkan makanan ke mulutnya. Setiap masa sekolah dimulai, para murid diberi surat keterangan yang harus dibawa pulang dan dibaca oleh para orang tua atau wali murid. Surat itu berisi informasi penting seperti tanggal mulai kelas, perlengkapan belajar yang harus dibawa dan dipunyai oleh setiap siswa. Surat bisa dikirim beberapa kali tergantung keperluan.

Hal yang menarik dan efektif untuk mengajarkan budaya menghormati aturan adalah ketika terjadi peristiwa di kelas yang mengarah ke pelanggaran aturan, guru atau siswa lain akan selalu mengacu kepada poster dan tulisan besar-besar tidak untuk menyalahkan atau menghukum, tetapi untuk mengingatkan kembali aturan-aturan itu dan mendiskusikannya sebagai contoh nyata. Seringkali kemudian kesempatan itu dipakai untuk mengajarkan anak menjadi bertanggung jawab akan tindakannya dan belajar mengartikulasikan perasaan atau pandangan mereka akan kejadian yang mereka alamai atau saksikan.

Belajar Menjadi Teratur dan Terorganisir

Di setiap sekolah, anak-anak diberi sebuah ruang atau tempat untuk menempatkan barang-barangnya dengan nama masing-masing. Setiap siswa diberitau bahwa ruang itu adalah milik mereka sehingga mereka juga perlu bertanggung jawab untuk merawat dengan baik. Selain itu juga ada penekanan bahwa setiap siswa harus menghormati ruang siswa lain yang berarti mereka tidak boleh memakai, menempatkan barang mereka, mengambil dan menggunakan ruangan yang bukan miliknya. Dalam hal ini menghargai ruangan sendiri dan orang lain sangatlah penting. Setiap siswa diberi tanggung jawab untuk merawat locker masing-masing dengan menjaga kebersihan.

Menghargai Budaya Lain

Setiap tahun sekolah anak saya merayakan hari yang disebut Multicultural Day. Tujuannya adalah untuk merayakan perbedaan. Di kelas mereka misalnya belajar tentang nama-nama negara, bahasa, bendera, makanan, adat-istiadat dan hal-hal khusus yang berhubungan dengan masing-masing negara tersebut. Selain itu sekolah juga memakai contoh yang sangat dekat dengan kehidupan anak dan keluarga  yang berasal dari berbagai penjuru dunia.

Sistem Buddy

Salah satu kegiatan hari pertama di sekolah untuk kelas Prep adalah berkenalan dan bertemu dengan ‘buddy’ mereka dari kelas lima. Masing-masing siswa kelas Prep kemudian dipanggil untuk maju ke depan dan dipertemukan dengan buddy mereka. Selama satu tahun tugas kakak buddy adalah menemani adik kelasnya untuk belajar seluk-beluk sekolah, menemani ketika istirahat, membantu ketika adik kelas perlu bantuan. Selain itu saya lihat dari sisi kakak kelasnya, banyak ketrampilan yang dimunculkan dari system buddy, misalnya belajar bertanggung jawab terhadap siswa yang lebih muda, belajar menjadi sabar, menghindari masalah bully yang bisa diderita oleh siswa baru terutama yang di kelas awal.

Belajar adalah ‘Pekerjaan’ Utama

Dari kecil saya biasakan untuk berbicara secara terbuka dengan anak saya. Saya putuskan untuk mengajari anak saya sebanyak mungkin tentang pekerjaan ibunya. Misalnya saya terangkan bahwa ibunya harus bekerja untuk mencari uang. Uang yang diperlukan untuk membayar berbagai rekening (listrik, air, gas) berbelanja makanan, dan mengembangkan ketrampilan ibunya. Ketika dia mulai sekolah kami punya bahasa khusus, yaitu ‘pekerjaan utama’ dia adalah belajar di sekolah.

PR Untuk Keluarga Bersama

Sudah menjadi kebiasaan bahwa anak saya tidak pernah mengerjakan PRnya sendirian. Kadang saya, ayahnya, nenek atau kakek ikut menemaninya. Meskipuan semakin besar dia bisa mengerjakan PRnya, kami selalu menekankan pentingnya salah satu dari orang tua untuk duduk di meja ketika dia mengerjakan PRnya. PR yang disusun sangat menggambarkan kehidupan nyata, misalnya topik matematika. Setiap siswa disuruh melihat belanjaan orang tua di lemari dapur dan mengidentifikasi 10 produk yand beratnya 1 mg. Siswa itu diminta untuk meminta salah satu anggota keluarganya untuk membantu mencari barang yang sesuai, menuliskannya dalam buku dan memberi komentar tentang barang itu.

Hal yang penting adalah menjadikan anak memiliki kepercayaan diri, bisa berteman dengan banyak anak, berani menyampaikan pendapat, dan menunjukkan respek pada aturan yang ada. Kami yakin, pengalamannya ketika belajar di TK telah memberikan fondasi atas hal-hal tersebut. Fondasi yang terbangun karena lingkungan dan sistem pendidikan; guru, framework dan detil aktivitas, serta tata lingkungan belajar TK yang memberinya kesempatan untuk secara luas melakukan eksplorasi dan ekspresi atas talenta yang dimiliki dan identitas dirinya.

 

Tulisan merupakan rangkuman dari tulisan Yacinta Kusdaryumi Kurniasih (pengajar di Indonesian Studies, Arts Faculty, Monash University) yang dimuat dalam buku Sekolah itu Asik (2014). Tulisan lengkap dapat dibaca dalam buku tersebut.

Loading...