Kelas Berbagi

07/02/2018 0 comments 28 views

Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), Muhammad Nur Rizal, memberi pandangannya terhadap fenomena sikap buruk siswa terhadap gurunya dalam dunia pendidikan di Indonesia belakangan ini.

Baru-baru ini terjadi satu kejadian memilukan saat seorang murid melakukan pemukulan kepada seorang guru yang akhirnya merenggut nyawa sang guru. Sistem pendidikan menjadi salah satu faktor kuat yang dinilai mengakibatkan ini bisa terjadi.

Tentu banyak aspek yang harus dilihat dari kejadian ini. Dari aspek psikologi misalkan, efek otak remaja memang membutuhkan satu eksistensi diri.

Khususnya, dari satu bagian korteks yang memang membutuhkan efek-efek eksistensi dan kebahagiaan. Bila itu tidak didapatkan di sekolah, anak-anak tentu tidak memiliki ruang untuk membangun emosi secara seimbang.

Menurut pengamat pendidikan dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Muhammad Nur Rizal, hal itu dikarenakan anak-anak membutuhkan luapan, dan bila ketidakhadiran ruang itu di rumah sama seperti di sekolah, tuntutan itu semakin menguat. Baik dari sekolah, rumah dan mungkin masyarakat.

“Karena masyarakat itu hanya melihat mereka yang nilainya tinggi, sehingga anak ini merasa tidak punya eksistensi dan benefit kepada lingkungan sekitar, anak kemudian lari mencari aspek kebahagiaan itu,” kata Rizal saat dihubungi Republika, Senin (5/2).

Pengaruh Media Sosial

Sayangnya, lanjut Rizal, pencarian itu mungkin malah menemukannya ke suplemen lain yang tidak baik seperti kekerasan atau pemukulan. Terlebih, ada satu aspek lain yang menguatkan itu yaitu efek dari media sosial.

Terbukanya informasi turut mengakibatkan hal-hal seperti itu, mengingat berita yang dulu dibatasi saat ini begitu mudah diakses. Menengok ke belakang, di era Presiden Soeharto malah mungkin berita-berita itu tidak akan ditayangkan.

Rizal melihat, saat ini terjadi satu connecting cognitive karena kita semua terhubung satu sama lain melalui internet dan media sosial. Apalagi, dengan biaya internet dan teknologi yang semakin terjangkau.

“Kita semakin mudah menjangkau informasi itu, dan ketika kita memperoleh berita membunuh dan sebagainya itu biasa, karena diberitakan seolah itu biasa, anak-anak jadi lebih mudah memperoleh informasi kekerasan,” ujar Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) tersebut.

Ketika informasi itu mudah diperoleh, bukan tidak mungkin anak-anak memiliki ide kreatif yang terbilang negatif. Misalkan, anak memiliki pola pikir kalau pemukulan bisa dilakukan di luar rumah, perlawanan bisa dilakukan di dalam rumah, dan lain-lain.

Ia berpendapat, terbukanya hubungan kognitif dengan media sosial ini semakin meningkatkan kemungkinan kekerasan itu terjadi. Terlebih, seperti sekarang saat kemampuan berpikir kritis dan mencari eksistensinya tidak sehat secara emosi.

Pola Pikir Lama

Sebagai pendidik, Rizal melihat apa yang terjadi merupakan akumulasi mengingat teguran yang dilakukan sang guru kemungkinan berulang kali terjadi dan membuat emosinya terpendam. Dari sisi pendidik, mungkin pula sang guru memiliki pola pikir lama yaitu hak menegur.

“Tapi, ketika guru punya perspektif berbeda terkait karakter anak muda di era milenial, guru ini akan memandang apa yang dilakukan anak semata-mata negatif,” kata Rizal.
Padahal, tidur itu tentu merupakan suatu proses alamiah, tergantung bagaimana melihatnya. Karenanya, jangan-jangan pendekatan pembelajaran atau memang tidak tersalurkan stimulan-stimulan yang menantang otak anak, sehingga anak itu tertidur.

Artinya, banyak aspek yang harus dilihat karena guru perlu juga mencoba merubah gayanya mengajar, dari model lama ke model milenial. Sebab, anak milenial tidak bisa diceramahi melainkan lewat mentorship.

“Anak milenial itu tidak bisa dimarahi atau ditegur, tapi dibangun sisi positifnya, mereka tidak senang diungkit hal-hal negatifnya, tapi senang bila dibangun hal-hal positifnya,” ujar Rizal.

Artinya, guru di era milenial memang harus banyak memberikan apresiasi kepada anak atau murid. Sebagai manusia, mungkin mereka salah, tapi salah itu tidak harus selalu diungkit karena mereka tidak bisa menerima itu.

Sistem Pendidikan yang Kurang Adaptif

Selain itu, ia melihat, anak-anak di era ini memerlukan purpose of life, jadi ketika pengajaran harus dikaitkan dengan arti kehidupan kepada anak. Sehingga, penting bagi guru mengetahui latar belakang anak murid.

“Dengan mengetahui latar belakang anak, pengajaran nanti bisa dikaitkan dengan anak itu, itu tantangan pendidik, bagaimana anak dapat melihat pendidikan sebagai penyelesai persoalan-persoalan kehidupannya,” kata Rizal.

Menurut Rizal, kondisi itu yang terjadi saat ini, di mana sistem pendidikan malah mengalineasi pendidikan dengan persoalan nyata. Itu membuat pola pikir anak membenarkannya bebuat baik di sekolah, tapi berbuat seenaknya saat di luar sekolah.

Saat itu terjadi split personality, dan ketika personalitas negatif yang muncul, tentu anak bisa lepas kendali. Apalagi, ketika ruang emosi tidak dikelola dengan baik, dan saat itu muncul tentu bisa menghasilkan kekerasan.

Dulu, ia mengingatkan, ada tekanan sosial yang membuat anak tidak berani melawan guru, dan tekanan itu yang menghalangi anak melakukan kejahatan. Sekarang, ketika kognitif terbuka, ketakutan itu semakin berkurang.

Itu banyak dikarenakan anak yang semakin sering mendengar berita kekerasan, yang malah banyak diapresiasi kelompok-kelompok tertentu belakangan ini. Pola pikir anak malah senang karena diberitakan, dicari, seakan menjadi gangster, orang kuat atau sangat laki-laki.

Tanpa sadar, itu mempengaruhi ruang emosi, dan ketika split personality terjadi sangat mungkin kekerasan pula yang muncul. “Jadi, saya melihat guru dan murid jadi korban sistem pendidikan yang ada,” ujar Rizal.

Rizal melihat, sistem pendidikan yang dimiliki Indonesia sampai saat ini masih kurang adaptif dengan perubahan yang sangat cepat terjadi. Mulai dari perubahan ke era digital, sampai perubahan informasi yang begitu berlebih.

Penekanan sistem pendidikan yang ada dirasa terlalu terpacu kepada kognitif, apalagi kognitif itu berada di arah level rendah. Sistem pendidikan yang ada kurang menekankan pendidikan karakter dan daya juang.

“Mental kurang, dan kemiskinan aspek itu ada di sekolah-sekolah atau lembaga pendidikan Indonesia, dan ini bisa diisi secara salah melalui efek internet dan globalisasi,” kata Rizal.

Sumber: Guru dan Murid Jadi Korban Sistem Pendidikan | Republika

05/02/2018 0 comments 26 views

Menginjak Februari 2018, kegiatan dari sekolah-sekolah yang sudah tergabung dalam sekolah model Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) semakin nyata.

Begitu banyak kegiatan belajar-mengajar mengasyikkan yang mulai dan konsisten diterapkan oleh sederet sekolah yang masuk dalam model sekolah GSM menginjak Februari ini.

Mulai dari metode belajar “circle time” yang diterapkan oleh tiga sekolah model GSM sekaligus. Selain itu terdapat pula metode belajar dengan terjun langsung ke lapangan ala SD Unnes Labschool.

Namun perhatian utama layak kita arahkan pada SD Ngebelgede 02, yang dengan berani menggunakan aplikasi e-learning bernama “Kahoot!”. Difasilitasi oleh mahasiswa teknik dan Psikologi UGM, para siswa diajari metode belajar-mengajar modern yang belum banyak diterapkan di sekolah lain.

Bagaimana dengan aktivitas sekolah model GSM lainnya di awal Februari ini? Simak rangkuman selengkapnya di bawah ini!




27/01/2018 0 comments 62 views

GSM (Gerakan Sekolah Menyenangkan) membuka 2018 dengan mengadakan TOT (Training of Trainer) untuk para guru dari sekolah-sekolah yang sudah tergabung dalam gerakan.

Kamis (25/1), menjadi gebrakan baru untuk GSM. Gerakan yang diinisiasi oleh Muhammad Nur Rizal ini mengadakan TOT sebagai kegiatan pembuka mereka di tahun baru 2018.

Bertempat di SD Kalam Kudus Yogyakarta, kegiatan yang berlangsung hingga Jumat (26/1) itu diikuti oleh 25 guru dari sekolah-sekolah yang sudah tergabung dan menerapkan model GSM. TOT diadakan untuk melatih para guru agar bisa menerapkan pengajaran yang sesuai dengan modul pembelajaran GSM.

“TOT sudah kami lakukan beberapa kali, tapi memang ini jadi kegiatan pertama GSM pada 2018. Fokus dari TOT kali ini lebih ke penerapan modul pelatihan yang sudah kami buat untuk para guru. Selain itu mereka juga diajarkan untuk menjadi fasilitator, motivator, perlunya perubahan pola pikir, bagaimana menyambut era desrupsi, bagaimana menciptakan lingkungan sekolah yang positif, bagaimana setting lingkungan kelas, sampai seperti apa metode pembelajaran untuk mengatasi persoalan nyata,” terang Rizal.

Terdapat empat sesi dalam dua hari pelaksanaan kegiatan TOT. Pada hari pertama sesi dibuka oleh Iwan dengan pembahasan teknik fasilitasi. Dalam sesi ini para guru diajari untuk jadi fasilitator juga motivator yang bisa melihat dan menangani siswa dari berbagai sisi. Sesi kemudian dilanjutkan oleh Rizal dan Novi Candra mengenai pembahasan dan praktik modul pembelajaran GSM.

Sementara di hari kedua, TOT dibuka dengan pelatihan menulis berita oleh redaktur Republika, Fernan Rahadi. Para peserta diajari cara menulis dasar yang baik dan benar hingga praktik membuat tulisan berita. Setelahnya sesi diisi oleh Novi yang meneruskan pembahasan serta praktik modul pembelajaran GSM.

“TOT ini berlangsung menyenangkan walaupun berlangsung selama dua hari. Dibanding TOT lain yang pernah saya ikuti, TOT GSM ini lebih menginspirasi, menantang, dan menginisiasi perubahan di dunia pendidikan,” tutur salah satu peserta, Muhammad Mukhlas, guru SD Labschool UNNES.

Meski Rizal belum bisa memastikan, para peserta berharap jika kegiatan TOT ini bisa rutin diadakan oleh GSM seperti yang diungkap oleh Nugroho, guru SD Rejosari. “Semoga tidak berhenti sampai di sini, karena biasanya euforia-nya cuma berlangsung di awal. Saya berharap gairah ini tetap terjaga dan ada kelanjutannya,” harapnya.

 

Ahmad Reza Hikmatyar

14/12/2017 0 comments 111 views
Profesor dari Fakultas Pendidikan Monash University, Melbourne, Australia, Marc Puyn, saat berkunjung ke Kulonprogo, Selasa (12/12) lalu.

YOGYAKARTA — Seorang profesor asal Australia, Marc Pruyn, mengungkapkan ketertarikannya untuk mempelajari pendidikan di sekolah-sekolah Indonesia. Menurut dosen senior dari Fakultas Pendidikan Monash University, Melbourne, tersebut masalah pendidikan yang dijumpainya di Indonesia mirip dengan yang dijumpainya di negara-negara lain.

“Masalah-masalah yang dijumpai pada sistem pendidikan di Indonesia mirip dengan yang saya jumpai di negara-negara lain di dunia, termasuk Australia dan Amerika Serikat. Di antaranya sistem pembelajaran yang terlalu terpusat pada guru, tidak interaktif, serta tidak terhubung pada persoalan sehari-hari,” ujar Marc yang ditemui di sela acara kelas berbagi di SD Negeri Rejodani, Sleman, Senin (11/12).

Senin lalu, SD Negeri Rejodani menjadi tuan rumah acara kelas berbagi yang diadakan rutin oleh Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), gerakan pendidikan di Indonesia yang berbasis gerakan akar rumput. Hingga saat ini, GSM telah memiliki puluhan sekolah model yang tersebar di sejumlah wilayah seperti di Provinsi Jawa Tengah, Banten, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Konsep dari GSM ialah ingin membawakan konsep yang dibawa bapak pendidikan Ki Hajar Dewantara secara modern dan milenial.

Setelah berinteraksi dengan sejumlah kepala sekolah dan guru sekolah model GSM, Marc mengaku terkesan karena para guru ternyata banyak memiliki ide-ide segar tentang bagaimana seharusnya sistem pembelajaran di sekolah. “Saya melihat mereka (para guru-Red) sangat antusias dan memiliki banyak ide. Sebelumnya mereka tidak tahu cara menerapkannya dalam keseharian, namun kemudian setelah bergabung dengan GSM mereka mengenal konsep yang sangat praktis untuk melakukan perubahan di sekolah,” kata Marc.

Menurut Marc, yang membuat menarik dari GSM adalah keberadaannya yang lebih merupakan sebuah gerakan ketimbang program, bersifat bottom up, dan bercorak demokratis. “Saya kira dengan adanya sedikit dana, GSM berpotensi untuk memperluas cakupannya dan memiliki dampak yang lebih besar di Indonesia,” ujar Marc.

Pendiri GSM, Muhammad Nur Rizal, mengungkapkan apresiasinya atas kunjungan akademisi asal Australia tersebut. Kedatangan Marc, kata dia, menunjukkan bahwa GSM dipandang telah memberikan solusi atas permasalahan pendidikan di Indonesia yang sering dinilai gagal menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Australia, kata dia, bahkan  bisa belajar mengenai pendidikan berbasis budaya dan nilai-nilai ketimuran dari Indonesia.

Menurut Rizal, konsep yang coba ditawarkan GSM adalah bahwa pendidikan masa depan itu dibangun melalui empat framework, yakni menekankan pendidikan karakter dan kompetensi, pengajaran inovatif berbasis teknologi, menciptakan lingkungan belajar yang positif, serta terhubung dengan persoalan sosial dan nyata.

“Aplikasinya ada empat. Yang pertama menciptakan ruang emosi dan gerak yang seimbang baik di kelas dan sekolah. Kedua, menciptakan interaksi yang hangat demokratif dan partisipatif di antara guru, murid, dan sekolah. Ketiga, membangun lingkungan yang mendorong anak agar merasa bergairah untuk sukses. Keempat, pembelajarannya terhubung dengan persoalan nyata,” kata Rizal.

Selain melakukan wawancara dan berkunjung ke sekolah-sekolah model GSM, Marc juga mendampingi GSM menggelar workshop kepada sebanyak 65 SMP di Kulonprogo. Rencananya, Marc akan menuliskan hasil penelitiannya tentang GSM dan perannya terhadap pendidikan di Indonesia tahun depan dalam bentuk jurnal internasional.

“Saya berharap model kerja sama pendidikan seperti ini bisa meningkatkan kualitas hubungan bilateral kedua negara tetangga,” ujar Rizal

Sumber;

Republika.co.id

10/05/2017 0 comments 576 views

Gerakan Sekolah Menyenangkan Presents

Seleksi Sekolah Model GSM Batch 2

 

==> Untuk Sekolah Dasar (SD) di Indonesia

 

Ingin menjadi salah satu sekolah model dampingan GSM?

 

Ikuti seleksi Sekolah Model GSM (Gerakan Sekolah menyenangkan) batch 2. Sekolah Anda akan didampingi oleh Guru-Guru dari Australia, Dosen UGM dan Monash University dalam program GSM.

 

Dengan Cara :

 

Kirimkan essay berisi profil sekolah dan alasan kenapa sekolah Anda layak untuk diseleksi.

Pendaftaran paling lambat tanggal 20 Mei 2017.

 

Poster rekrutmen sekolah model GSM

 

Informasi dan Pendaftaran:
Ninik  0811 2863 97
gerakansekolahmenyenangkan@gmail.com

06/06/2016 1 comments 950 views

*Fair dalam Penilaian*

_Oleh: Fauzan, Zuqi, & Qoni_

 

Ternyata menjalani workshop seperti ini cukup melelahkan teman2. Berangkat pagi, pulang sore, malam nulis, pagi posting. Lelah juga teman2. Tapi kami heran, kenapa Joanne, Jesie dan Ken tidak pernah terlihat ya. Padahal mereka setelah mengisi workshop selalu saja diajak untuk berkunjung ke sekolah-sekolah lain yang notabene tidak dijadikan tempat workshop. Guru-guru Clayton North keren pokoknya. Kita tidak boleh kalah dong.

workshop day 4 di SD Kalam Kudus
workshop day 4 di SD Kalam Kudus

Sebelum memasuki materi, Pak Yudi kepala sekolah SD M Noyokerten terlebih dahulu memberikan refleksi tentang pembelajaran kemarin. Beliau mengatakan bahwa, “ada 2 hal yang ditekankan dalam pembelajaran menyenangkan, *yaitu pembelajaran berbasis nilai dan pembelajaran berbasis proses*”. Hasil yang diperoleh tidak akan kita petik sekarang, tapi dimasa yang akan datang. Sehingga kita tidak perlu risau anak kita sekarang tidak bisa, Insya Allah kita bisa. Seperti salah prinsip Nabi Muhammad SAW., bahwa kalau mereka tidak mau beriman, Insya Allah anaknya akan beriman, kalau tidak anaknya ya cucunya, kalau tidak cicitnya, dan seterusnya tidak pernah ada kata putus asa. Makanya dalam ajaran agama kita ada anjuran, *”gembirakanlah jangan kau takut-takuti dan mudahkanlah jangan kau persulit”*. Lama-lama kita malah ngomongin Pak Yudi ya. Udah kita masuk ke materi aja yuks.

student will dan kolom Know-want to know
student will dan kolom Know-want to know

Pada kesempatan ini kami mengupas tentang tema pembelajaran. Kami diberi 75 menit untuk mengulas learning tema.  Ada 3 hal penting yg akan kita capai:
1. Student Will *learnt key facts* about Australia (kami akan belajar fakta2 ttg Australia),
2. Student will *practise mapping* skills (memetakan /membuat map terkait fakta yg didapat)
3. Student will *practise classification* (belajar mengelompokkan fakta)
Untuk membantu kita menemukan fakta2 tersebut  Ken membuat rubrik yang berisi “*Know*/apa yang kita ketahui? , *Want to know*/apa yang ingin kita ketahui? , *Learnt* /apa yang sudah kita pelajari (KWL).

Pertama-tama kita diminta mengisi terlebih dahulu kolom Know dan Want to know sesuai selera masing2. Yang penting tentang Australia. Paling tidak 3 isian. Misalnya yang Know, _saya sudah tahu PM Australia bernama Malcom Turnbull, saya sudah tahu Australia satu-satunya negara yang berbentuk benua, dan lain sebagainya_. Yang Want to know juga harus kita isi. Waktu itu kami isinya seperti ini, _kami ingin tahu hubungan manusia dengan manusia di Australia_ . Maksudnya pola interaksi di Australia tu gimana. Yang jelas kami juga menuliskan, _bagaimana pendidikan SD, SMP, SMA sampai dengan kuliah disana.
Dan terakhir kami juga menulis tempat wisata yang rekomended untuk dikunjungi. Eh lagi2 yang jawab Pak Rizal, _”Paris, Denhag, Yunani, semua bagus, tapi Melbourne is the best”_. Wah, oke Pak Rizal. Kita berusaha ya, kalau ndak study kesana ya modus study banding ndak papa ya.

Setelah kami menuliskan Know dan Want to know, kami diminta mencari fakta-fakta tentang Australia yang sudah ditulis dalam post-it yang ditempel diberbagai sudut gedung SDK Kalam Kudus, tempat  kami workshop.

Fakta tentang Australia
Fakta tentang Australia

Kami mendapat fakta, ada _Australia negara kedua yang memberi hak suara pada perempuan tahun 1902, Australia terdiri dari 6 negara bagian dan 2 wilayah teritorial_, dan lain sebagainya.

Semuanya ada 12 fakta, tetapi kelompok kami hanya dapat 7 teman2. Kata Ken, ndak papa dapat berapapun akan dihargai. Setelah kami dapat beberapa fakta, kami diminta berdiskusi untuk mengklasifikasikan fakta-fakta tersebut. Tapi uniknya kami tidak diberi petunjuk klasifikasi berdasarkan apa. Terserah pokoknya. Wah, ini kalau di sekolah kita bisa rame ya. Asyik tuh. Hehehe. Fakta _memberi hak suara pada perempuan_, kami klasifikasikan dalam bidang politik. Sedangkan _Australia terdiri dari 6 negara bagian_, kami klasifikasikan ke dalam bidang geografi.

Kegiatan diksusi dalam workshop
Kegiatan diksusi dalam workshop

Dari beberapa kelompok yang telah berdiskusi, semua maju ke depan untuk mempresentasikan hasil diskusinya. Dan hasilnya sangat beragam jenis klasifikasinya. Namun semua diapresiasi oleh Ken. Ken bukan melihat jenis klasifikasi itu benar atau salah, namun *Ken melihat cara berpikir anak-anaknya yang nantinya sebagai bahan pertimbangan Ken dalam menyusun tema pembelajaran selanjutnya.* Ternyata cara berpikir Ken sangat berbeda dari kita yang terlalu fokus pada benar-salah ya. Ayo sadar teman2.

Baru setelah kami presentasi, Ken mempersilakan untuk menilai diri sendiri dengan rubrik yang telah disediakan Ken di depan. Ada *partisipasi dalam kelompok, ada pemahaman terhadap fakta-fakta, dan kemampuan dalam mapping*.

rubrik penilaian
rubrik penilaian dari Ken (narasumber)

Perlu kita pahami bersama bahwa *rubrik penilaian sudah harus kita beritahu ke anak di awal pembelajaran. Agar anak terpacu untuk mencapai the best. Juga untuk menjunjung fairplay. Atau keadilan dalam penilaian *. Wah, ini yang sering kita lupakan. Kita terlalu sering menutup kriteria penilaian.

 

#WorkshopGSM4

06/06/2016 0 comments 794 views

Terus Fokus, Selalu Ada Celah untuk Berubah

Oleh: Fauzan,  Zuqi, &  Qoni

Acara workshop hari ini menghadirkan narasumber baru yang tidak kalah menariknya. Beliau sangat energik, smart, ekspresif dan tentunya semangat sekali. Beliau adalah Ken Catterton. Wakil kepala sekolah Clayton North Primary School, sekolah pemerintah yang mendidik siswa dari berbagai negara. Ken sedianya datang bersama Joanne dan Jesie tempo hari. Akan tetapi Ken baru bisa hadir membersamai kami dihari ketiga ini, karena baru saja mendapat amanah seorang bayi.

Biar ndak ngalamun langsung saja kita ice breaking ya. Eh, maksudnya membahas ice breaking dari Joanne. Hehehe. Joanne kali ini memberikan ice breaking yang mungkin sudah sering kita dengar atau bahkan kita lakukan. Jesie memutar musik, kami diminta untuk berputar-putar, dan ketika musik berhenti Joanne mengucapkan sebuah angka, seketika itu juga kita harus membuat kelompok sesuai dengan angka yang disebutkan Joanne. Jika Joanne menyebutkan angka 3 maka kami harus membentuk kelompok dengan jumlah peserta 3 orang dan jika Joanne menyebutkan 8 maka kami juga harus membentuk kelompok dengan jumlah peserta 8 orang begitu seterusnya.

Apa yang kita pelajari bukan ice breakingnya teman2. Ketika kami selesai berkelompok, dan mungkin beberapa ada yang tidak mendapat kelompok, Joanne langsung memuji kelompok yang tercepat, “your group the fasttest”. Kelompok tersebut mendapat predikat “good student”. Dan Joanne tidak menyinggung sama sekali diantara kami yang tidak mendapat kelompok. Hebat kan teman2.

Ternyata ada makna tersembunyi dibalik itu.  Setiap kali kita mencontohkan ini adalah good student, *maka dengan sendirinya anak akan belajar meniru dan selalu mengingat hal baik/prestasi tersebut.* Luar biasa kan!!?

workshop hari ke 2
workshop hari ke 3 di SD N Percobaan 2

Kali ini Ken sebagai wakil kepala sekolah Clayton North Primary School memberikan pencerahan kepada kami tentang Visi Sekolah. Ken terlebih dahulu memaparkan Visi CNPS, kemudian juga meminta kami menuliskan visi sekolah kami masing2. Setelah ditulis, Ken memberikan cara kepada kami bagaimana menilai visi sekolah kami. _Wah, ternyata visi sekolah juga perlu dinilai teman2_. Bukan dinilai benar dan salahnya lho, *tapi dinilai sudah bagus atau belum visi sekolah kita*.

Parameter yang Ken gunakan untuk menilai ada *bahasa, merepresentasikan komunitas, dan aspirasional*. Kita mah tahunya kalau visi ya diawali kata _terwujudnya_, gitu kan. Hehehehe.
Dari segi bahasa, Ken menuturkan *visi yang bagus panjangnya kurang dari 10 kata.* Ingat ya, 10 kata bukan kalimat. Hahahaha. Sekolah kita gimana!? Kita cek aja bareng2 nanti yuks. Tapi besok aja.

Yang kedua _merepresentasikan komunitas_. Maksudnya, *kalau kita sudah mencantumkan keterlibatan masyarakat dan orangtua dalam visi sekolah, berarti visi kita sudah bagus.* Ken juga sempat memamerkan visi sekolahnya. *A Partnership That Nurtures*. Tuh kan sudah ada partnership berarti mereka selalu melibatkan masyarakat dan berbagai pihak. Kalau tidak ada pelibatan masyarakat dan orangtua, Ken hanya memberi 1 bintang. Kita mungkin malah bersyukur ya dapat bintang, lah kalau kebanyakan bintang di kepala ndak enak to.

_Yang ketiga_, aspirasional. *Visi yang kita susun harus menetapkan target yang lebih baik dari saat ini*. Kita harus berpikir agar sekolah kita tidak hanya good, tapi *excellent pada 5 tahun mendatang*. Pandangannya harus jauh, melihat peluang dan tantangan yang akan sekolah hadapi. Model penilaian tadi akan sangat membantu kita untuk memaknai kata sukses dalam perumusan visi.

Penilaian visi yang Ken contohkan pada kami dimulai dari self assessment. Kita menilai rumusan kita sendiri. Dari segi bahasa apakah good, better ataukah best. Begitu juga dari aspek representasi komunitas dan aspirasional. Metode ini juga dapat digunakan untuk penilaian karya anak2. Biasanya ketika anak2 diminta menilai diri sendiri terlebih dahulu, mereka akan menilai dengan nilai yang rendah.

Setelah self assessment selesai, dilanjutkan dengan peer assessment. Rumusan kita dinilai oleh teman sebaya. Sama dengan self assessment, penilaian juga menggunakan kategori good, better dan best atau kalau menggunakan bintang berarti good 1 bintang, better 2 bintang dan best 3 bintang. Teman sebaya juga harus memberikan saran. Apa yang perlu diperbaiki dari rumusan itu. Baru dikembalikan pada perumus dan diperbaiki. Setelah diperbaiki dinilai kembali oleh diri sendiri, kemudian teman sebaya, diperbaiki lagi, begitu seterusnya sampai menghasilkan rumusan visi yang excellent. Ken menegaskan bahwa, *kalau kita ingin mendapatkan visi sekolah yang excellent, perlu berkali-kali revisi rumusan visi sekolah*.

Ken juga menyampaikan pentingnya metode penilaian seperti ini diterapkan pada anak, *anak akan tahu sukses itu seperti apa, dan akan termotivasi berbuat yang terbaik*. Lalu kenapa dimulai dengan self assessment tidak langsung peer atau bahkan share dalam forum besar, *karena itu akan membuat anak tahu dan lebih mengerti jika dinilai orang lain*. Artinya anak tidak marah dengan penilaian orang lain, karena dia sedikit-banyak tahu kekurangannya pada waktu si anak menilai diri sendiri. Ini yang jarang kita sadari kan!?

#WorkshopGSM_3

03/06/2016 0 comments 1041 views

UGM – Monash University Pererat Kerjasama untuk Sekolah Menyenangkan di Indonesia

Foto: Penandatanganan MOU antara Monash-UGM-GSM-Clayton North Primary School
Foto: Penandatanganan MOU kerjasama antara Monash-UGM-GSM-Clayton North Primary School: Dari kiri Mohammad Nur Rizal (GSM), Danang Sri Hadmoko (UGM), Ken Chatterton Wakil Kepsek CPNS, Paripurna Wakil Rektor UGM dan John Lougran Dekan Fakultas Pendidikan Monash

 

Dua universitas dari Australia dan Indonesia, Monash University dan Universitas Gadjah Mada secara resmi setuju bekerjasama membantu pengembangan pendidikan masa depan yang menyenangkan dan manusiawi.

Diwakili oleh Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Alumni UGM, Dr. Paripurna dan Profesor John Lougran, Dekan Fakultas Pendidikan Monash University, kedua universitas meresmikan kerjasama riset untuk mendukung pengembangan pendidikan masa depan yang menyenangkan dan manusiawi yang digagas oleh Gerakan Sekolah Menyenangkan hari Senin (30/5/2016) di Auditorium MM UGM Yogyakarta.

Selain penandatanganan kerjasama, acara yang dihadiri ratusan peserta berasal dari kalangan pendidik, kepala sekolah, orang tua, mahasiswa, akademisi serta perwakilan pemerintah dilanjukan oleh seminar yang bertema “Revolusi Mental melalui Transformasi Sekolah untuk Pendidikan yang Menyenangkan dan Manusiawi”.

Dalam keterangan yang disampaikan kepada ABC Australia Plus Indonesia, disebutkan bahwa dengan penuh antusias, peserta yang memenuhi ruangan menyimak paparan yang disampaikan oleh Prof J John Loughan dari Monash University, Prof Laksono dari  UGM, Ken Chatterton dari CNPS (Clayton North Primary School) dan Dr. Muhammad N Rizal sebagai Ketua GSM (Gerakan Sekolah Menyenangkan) yang dipandu oleh Prof. Tina Afiatin dan Novi Candra, keduanya dosen Psikologi UGM.

Suara keempat pembicara dengan pandangannya masing-masing sama yakni menegaskan bahwa esensi pendidikan itu untuk membangun manusia bukan mengajar untuk mendapatkan nilai tinggi, yang lebih mencerminkan kemampuan anak menghapal isi buku ataupun catatan dari guru.

Hal itu dapat tercapai ketika anak dilatih untuk dapat “memprediksi”, “mengamati” sekaligus “menjelaskan” fenomena yang terjadi melalui pengetahuan yang dimilikinya. Sehingga anak akan memiliki kemampuan “mencipta’ dari sekedar “mengeja”, kata Professor Lougran”.

Sedangkan, Professor Laksono menyarankan agar pengajaran sekolah tidak boleh tercerabut dari akarnya agar muncul konsep pendidikan yang “reflektif partisipatoris.

Ilmu yang dipelajari digunakan untuk mengidentifikasi masalah di sekelilingnya, sekaligus mengidentifikasi diri untuk membangun kesejarahan baru.

Ken Chatterton juga mengungkapkan efek negatif testing dan testing yang menceritakan hlangnya keceriaan dan inisiatif anak didiknya mendadak menjadi pendiam dan susah bergaul sekembalinya sekolah di negara asalnya.

“Kemana hakekat keguruan ketika mengajar hanya berorientasi pada nilai ujian nasional tinggi namun lupa mengajarkan anak-anak “critical thinking’dan kreativitas? ”, Rizal melanjutkan pertanyaannya, “Untuk siapa bapak-ibu mengajar? memenuhi target dinas pendidikan, tuntutan orang tua atau ingin mengajar anak-anak?“.

Mereka butuh ruang bermain dan bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya. Mengeksplorasi apa saja yang terjadi di sekelilingnya. Sehingga ilmu dan pengetahuan yang diperolehnya di sekolah dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan sederhana dalam kehidupan sehari-harinya.

Sekolah harus mengajarkan kemandirian dengan mendekatkan ilmu pada realitas sosialnya. Sekolah harus menjadi pusat saling belajar bagaimana memanusiakan anak-anak dilakukan. Sekolah harus menjadi tempat yang menyenangkan untuk menumbuhkan sikap disiplin dan karakter positif untuk bekal ketrampilan hidupnya kelak.

Rizal menambahkan bahwa “sekolah menyenangkan itu bukan sekolah senang-senang saja, melainkan tempat yang membuat anak bahagia untuk mengembangkan diri dengan pola pembelajaran nyata serta mengakomodasi setiap jengkal potensi anak anak dalam iklim belajar yang positif dan saling menghargai.”

 

“Ujian boleh dilakukan namun bukan ukuran keberhasilan, melainkan salah satu cara mengukur kesungguhan anak dalam belajar. Yang terpenting adalah pengukuran proses belajar bukan hasil akhir. Sehingga kemampuan komunikasi, kolaborasi (teamwork) dan ketrampilan problem solver” (menyelesaikan masalah) anak dapat tergali optimal.” Muhammad Nur Rizal

 

Rizal menambahkan bahwa launching kerjasama riset ini merupakan lanjutan kegiatan workshop seminggu untuk peningkatan kualitas guru-guru.

Lebih dari dua puluh sekolah lolos seleksi untuk menjadi sekolah model sekolah menyenangkan di Propinsi Yogyakarta dan sekitarnya.

Guru-guru ini dilatih oleh GSM bersama tiga guru dari Clayton North Primary School, yakni Ken Chatterton, Joane Weston dan Josie Burt yang datang ke Indonesia dengan biaya sendiri.

Materi pelatihannya dari merubah mindset hingga skill praktis dari membuat visi sekolah yang terukur dan dapat diimplementasikan secara nyata menjadi kebijakan sekolah, iklim belajar positif hingga model dan evaluasi (assessment) pembelajaran yang menyenangkan dan manusiawi.

Foto: Seminar di Gedung MM UGM
Foto: Seminar di Gedung MM UGM

Guru-guru itu bahkan diharuskan untuk mempraktikkan seluruh materi yang diwujudkan dalam rencana belajar kepada murid-murid sekaligus mendapatkan “feedback” langsung dari anak-anak tersebut.

Dan yang perlu bapak-ibu ketahui, “bahwa seluruh pembiayaan operasional workshop ditanggung bersama melalui iuran guru-guru tersebut”, ujar Rizal.

“GSM bertujuan untuk mengisi gap antara konsep dan praktis yang justru minim dikembangkan oleh pemerintah “, lanjut Rizal.

Dari pendekatan gorong royong serta materi pengembangan guru-guru ala GSM kemudian diriset oleh peneliti dari UGM dan Monash untuk mendapatkan data akurat yang dapat digunakan sebagai acuan pengembangan selanjutnya.

Sehingga pengembangan ke depan didasarkan suara akar rumput dari guru-guru serta feedback langsung anak-anak dan komunitas orang tua yang terlibat.

 

“Kami menamakan kolaborasi ini “an educational partnership with a grass root approach to innovative school transformation” (kemitraan pendidikan dengan pendekatan akar rumput bagi tranformasi sekolah yang inovatif)”

 

“UGM akan selalu terdepan memfasilitasi inovasi riset yang diprakarsai oleh GSM ini. Selain kegiatan ini digagas oleh dosen UGM juga memiliki dampak nyata dan positif yang tidak hanya pada pengembangan ilmu pengetahuan, malainkan bagi pengabdian dan pengembangan masyarakat. Sesuai dengan visi dan cita-cita di statuta kampus kami,” tegas Wakil Rektor bidang Kerjasama dan Alumni UGM Dr Paripurna di akhir sambutannya.

Sumber : www.australiaplus.com

01/06/2016 0 comments 811 views
Workshop hari ke-2 (Selasa, 24 mei 2016) di SD Muhammadiyah Noyokerten

*FAIL = First Attempt In Learning*

Oleh: Fauzan, Zuqi, & Qoni

.

Workshop dimulai dengan ice breaking yang cukup menarik. Joanne meminta kami untuk berdiri dengan 1 kaki, kemudian Joanne menyampaikan beberapa pertanyaan yang sederhana tentang anggota tubuh. Kita diminta menunjukkan bagian tubuh yang disebutkan Joanne.

Joanne ingin menunjukkan pada kami bahwa keseimbangan akan membantu kita menjadi nyaman. Begitu juga kelas. Tidak hanya siswa yang punya keinginan, tetapi keinginan itu harus diimbangi dengan peraturan. *Jika kelas tidak mempunyai peraturan, anak tidak akan nyaman. Karena anak tidak mempunyai tujuan*. Begitu kata Jesie.

Peraturan kelas yang sudah kita bahas kemarin adalah classroom agreement. Dimana peraturan ini dibuat setiap awal tahun dengan melibatkan seluruh siswa sebagai warga kelas. Nah, ternyata sebelum ada peraturan kelas tersebut, di Clayton North Primary School (CNPS) ada yang namanya Classroom Expectation atau ekspektasi kelas. Kita ingin kelas kita terlihat seperti apa ya. Semua dirembuk dengan warga kelas dan disepakati bersama. Barulah kalau sudah punya keinginan atau ekspektasi tadi, dibuatlah classroom agreement tadi atau peraturan kelas agar ekspektasi kelas tercapai. Ekspektasi kelas harus memakai kalimat yang positif.

workshop hari 2
workshop hari 2

Disinilah peran guru untuk meluruskan atau membetulkan setiap kalimat yang condong pada kalimat negatif menjadi kalimat positif. Contohnya ketika anak menyampaikan usulan ekspektasinya “sesama anak tidak boleh saling menyakiti”, guru bisa memperbaiki kalimat anak misalnya menjadi, “kita harus respek terhadap sesama”. Contoh lain ekspektasi kelas di CNPS misalnya, _kita akan saling memperhatikan, kita akan berbicara sopan, kita akan fokus dan menyelesaikan setiap tugas, kita akan peduli dengan saling menasehati, kita akan peduli dengan barang miliknya dan akan mengembalikan pada tepatnya_.

Josie menjelaskan bahwa anak yang melanggar classroom agreement dan classroom expectation cukup kita beri peringatan/teguran. Dan peringatan itupun tidak boleh disampaikan didepan teman2 nya. Cukup ketika si anak sendirian. Hal ini untuk menjaga kepercayaan diri anak dimata teman2 nya. Karena classroom expectation dan classroom agreement *bertujuan untuk menata keseharian anak*. Berbeda dengan code of conduct, anak yang terbukti melanggar tidak perlu diberi peringatan, melainkan langsung diberi hukuman. Entah itu kerja sosial atau diskors sesuai dengan level pelanggaran yang dilakukan anak. Walaupun berbeda, ekspektasi dan kesepakatan kelas tadi tetap harus sesuai dengan peraturan atau code of conduct.

Materi yang tidak kalah menarik adalah tentang display karya siswa. Yang berbeda dari CNPS adalah, mereka melakukan display karya anak *tidak berpatokan pada sisi artistik* seperti kita, melainkan berpatokan pada tujuan. Kalau kita kan biasanya, “ayo karyanya ditempel biar kelasnya bagus”. Di CNPS semua karya siswa dipajang, baik yang sempurna, maupun kurang sempurna. Hal ini bertujuan agar anak *mengerti akan kerja kerasnya*. Foto kegiatan pun mereka display disetiap sudut kelas. Ada yang ditempel di dinding, jendela, bahkan digantung dengan kawat.

Dengan ditempelnya karya anak2, mereka juga bisa melihat perkembangan belajarnya masing2. Ketika pertama belajar menulis, anak akan melihat tulisannya seperti itu, terkadang banyak yang keliru. Dan sekarang tulisan anak sudah lumayan bisa dibaca. Karya atau hasil kerja yang keliru, tidak perlu siswa perbaiki. Yang penting anak mengerti akan kesalahannya dan besok lagi tidak diulangi. Karena perasaan anak *”Dulu aku pernah salah” itu menjadi hal penting bagi anak*. Salah satu prinsip yang diajarkan Joanne pada anak2 nya adalah FAIL. First Attempt In Learning. Yang artinya kurang lebih *mencoba untuk pertama kalinya adalah belajar*. Singkat & sangat manjur untuk menanamkan pada anak sikap tidak takut gagal. Mencoba dan mencoba terus tanpa menyerah.

workshop hari2
workshop hari2

Sekarang kita masuk ke kegiatan pembelajaran. Clayton membiasakan gurunya untuk menuliskan Learning to Intention atau kalau di sekolah kita disebut indikator. Disana biasanya diawali dengan kata “kita akan mempelajari  . . .”. Misalnya kita akan mempelajari bilangan loncat. Nah, selain Learning to Intention tadi, guru juga menuliskan success criteria atau kalau di sekolah kita namanya tujuan pembelajaran. Biasanya diawali dengan kata “saya bisa. . .”. Kedua komponen ini ditulis guru didepan kelas agar anak bisa membaca dan mengingat terus tujuan pembelajaran hari ini. Sehingga semangat untuk mencapai atau menguasai tujuan pembelajaran mengalir terus. Kalau hanya diucapkan anak dan guru akan mudah lupa. Kedua komponen itu guru ambil dari kurikulum yang dibuat pemerintah. Guru menciptakan kedua komponen itu dengan kalimat sendiri yang mudah anak mengerti.

Setelah anak mengerti akan tujuan pembelajaran yang akan dilaksanakan hari ini, anak dipersilakan membuat personal goal, atau target capaian masing2 anak. Anak2 membuat personal goal dengan melihat tujuan pembelajaran dan kondisi anak. Misalnya dalam tujuan pembelajaran tertulis, “saya dapat menghitung bilangan loncat 3”. Anak bisa menulis, “aku bisa menghitung bilangan loncat 3 sampai dengan 42”. Sehingga disini tidak ada anak yang tidak tuntas pada tujuan pembelajaran, yang ada siswa tidak mencapai target yang telah dibuat. Misal targetnya menghitung sampai 40, tapi ternyata waktu evaluasi cuma sampai 30. Akan tetapi walaupun anak tidak mencapai target, anak tetap menyelesaikan tujuan pembelajaran, yang mana dapat disimpulkan kalau mereka telah tuntas.

Kami juga diajari bagaimana cara efektif menukar tempat duduk anak tanpa harus memaksa si A untuk duduk disini dan si B disana. Karena menurut Joanne dan Jesie, pertukaran tempat duduk dapat meminimalisir anak untuk nge-gang. Joanne meminta kami untuk berkumpul sesuai dengan warna baju yang kami pakai. Yang merah berkumpul dengan yang merah, biru dengan biru, dan lain sebagainya. Setelah semua berkumpul sesuai warna, Joanne meminta kami untuk membentuk kelompok yang beranggotakan masing2 warna baju. Ada yang merah 1 orang, biru seorang, hijau seorang dan seterusnya. Jesie menegaskan bahwa dikelas yang kita ampu masing2 bisa diterapkan sesuai konteksnya. Bisa memakai warna kaos kaki, tinggi badan, dan lain sebagainya.

workshop hari 2
workshop hari 2

Joanne dan Jesie juga mengajak kami untuk merasakan suasana kelas yang mereka ajar di Australia. Joanne menuliskan tugas untuk “menghitung dengan pola bilangan loncat”. Tidak lupa Joanne mengajak kami bermain terlebih dahulu dengan permainan tentang bilangan loncat. Setelah itu kami diminta membuat hitungan bilangan loncat. Kami dibebaskan mau membuat bilangan loncat berapa. Bisa 2, 3, 4, dan lain sebagainya. Kami tuliskan dikertas post-it agar bisa ditempel. Joanne memang sudah memperkirakan beberapa siswa akan sama dalam membuat pola. Misalnya si A membuat bilangan loncat 4, si B pun demikian. Akan tetapi yang membedakan disini adalah hitungannya. Misalnya si A hanya sampai 20, si B bisa sampai 30. Dan Joanne selalu membuat pujian yang detail untuk setiap anak didiknya. Tidak lupa hasil kerja mereka ditempel untuk dijadikan pelajaran berikutnya. Perlu kita pahami bersama, *Joanne dan Jesie tidak memberikan nilai dalam bentuk angka, akan tetapi semua diberi penghargaan lewat feedback yang detail kepada setiap anak.* Setelah itu kami diminta berdiskusi untuk membuat pola sendiri dan memberi alasan kenapa memilih pola tersebut. Misalnya waktu itu kami memilih pola bilangan loncat 4. Alasan kami adalah karena kami berjumlah 4 orang dalam satu kelompok.

Joanne memberikan pendapat bahwa dengan anak mengemukakan alasan, anak akan belajar untuk menyampaikan gagasannya masing2.

Di akhir pembelajaran, Joanne meminta anak didiknya untuk membuat self assessment dan ditempel didinding kelas mereka. Melihat dari personal goal yang telah dibuat, sampai mana anak2 bisa mencapainya. Dan tidak lupa juga untuk menuliskan apa yang perlu diperbaiki dan bagaimana usahanya untuk memperbaiki. Semua anak pastinya menuliskannya berbeda-beda, karena diawal mereka membuat personal goal juga berbeda. Baru setelah itu Joanne memberikan refleksi dan motivasi. Kalimatnya begini, *”Oke, hari ini kalian sudah bisa melakukan yang terbaik.

Walaupun ada yang baru sampai 10 atau 20 tidak apa-apa. Sekarang mari kita tantang diri kita sendiri untuk melebihi apa yang kita hasilkan hari ini”*. Didada kami cukup terasa energi kata-kata itu.

01/06/2016 0 comments 953 views
Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) bekerjasama dengan Universitas Gajah Mada Yogyakarta dan Clayton North Primary School (CNPS), mengadakan Workshop tentang "Pendidikan yang Menyenangkan dan Manusiawi di Abad 21". Workshop yang berlangsung 23-27 Mei 2016 ini dihadiri puluhan Kepala Sekolah dan Guru SD di Yogyakarta yang tergabung dalam Calon Sekolah Model GSM. Pembicara workshop adalah tiga orang guru yang didatangkan langsung dari Clayton North Primary School (CNPS), Australia, yaitu: Joanne Weston, Jossie Burt, dan Ken Chatterton. Workshop hari pertama dilaksanakan di Gedung Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, sedangkan hari ke-2 sampai hari ke-5 dilaksanakan di sekolah-sekolah pilihan GSM.

*Belajar Bersama Guru Clayton North Primary School Australia*

_oleh: Fauzan, Zuqi, Qoni_

backdrop Workshop hari 1
backdrop Workshop hari 1

(Senin,23 Mei 2016) Belajar bersama praktisi jelas berbeda dengan profesor ataupun dosen. Tidak banyak teori yang beliau sampaikan. Beliau adalah Joanne Weston Leading Teacher Early Years, atau terjemahannya kira2 Kepala Guru Kelas Bawah, dan Josie Burt, Dolphin Teacher atau Guru kelas Lumba-lumba. Jadi disana kelasnya diberi nama hewan kesayangan anak2. Tidak ada kelas 1, 2, dan lainnya.

Modul 1 Workshop hari 1
Modul 1 Workshop hari 1

Beliau banyak menyampaikan langkah-langkah strategis untuk mencapai kategori “sekolah menyenangkan”. Beliau juga melengkapinya dengan hasil penelitian beliau tentang faktor penentu keberhasilan sekolah menyenangkan.

Salah satu yang menjadi faktor penting dalam penelitian beliau adalah Feedback atau tanggapan. Bagaimana cara menanggapi ketika siswa bertingkah lucu, ketika siswa melanggar aturan, ketika siswa dapat menjawab pertanyaan, dan lain sebagainya. Feedback bisa dilakukan guru ke siswa ataupun antar siswa. Feedback yang detail akan membantu siswa meningkatkan diri. Tidak hanya sekedar dengan kata “bagus” atau “oke”.

13335380_953296588123351_487589128_n

Feedback juga akan membantu meningkatkan hubungan emosional guru-siswa. Karena sekolah menyenangkan harus memperhatikan beberapa hal berikut ini:
1. Ruang emosional siswa
2. Hubungan guru-siswa & siswa-siswa
3. Rasa aman dan percaya diri dalam belajar, dan
4. Keterikatan dalam pengalaman

kegiatan workshop hari 1
kegiatan workshop hari 1

Class size_ menjadi faktor penentu kedua sekolah menyenangkan. Kelas yang menyenangkan adalah kelas yang kecil. Dalam artian siswanya tidak banyak. Dalam video yang diperlihatkan ke kami, Joanne membandingkan kelas Basa Jawa pada salah satu sekolah di Sleman, dan kelas Matematika Clayton North PS. Dikelas Basa Jawa, siswanya banyak sekali. Kalau ditaksir ada 30an, ruang kelas penuh. Sedangkan di Clayton, ruang kelas yang dipakai hanya separo saja. Siswa duduk lesehan melingkar dengan papan tulis kecil macam pelukis. Jumlah siswanya hanya berkisar 15 siswa. Dalam kelas Basa Jawa terlihat sekali suasana yang membosankan, guru kurang memperhatikan siswa, dan lain sebagainya. Sedangkan di kelas Matematika, siswa begitu antusias. Karena siswa tidak banyak, guru dapat leluasa memperhatikan satu persatu siswanya.

workshop hari 1
workshop hari 1

Training Teacher menjadi faktor ketiga penentu keberhasilan program sekolah menyenangkan. Guru memang perlu dilatih secara terus-menerus. Tapi kalau tidak dilaksanakan pemberian dan pembudayaan “Feedback” dan kebijakan size class ideal, maka menjadi sulit sekolah menyenangkan terwujud.

Sekolah menyenangkan bukan sekolah seenaknya. Justru sekolah menyenangkan punya peraturan untuk menanamkan _moral value_ pada anak menjadi sebuah budaya sekolah. Di Clayton sendiri ada beberapa kemasan peraturan yang dibuat secara demokratis, melibatkan banyak pihak. Yang pertama_ peraturan dalam bentuk *Student Engagement Policy* artinya kurang lebih Kebijakan Keterikatan Siswa . Kalau di kita namanya mungkin visi dan misi lah. Tapi visi tersebut memang konsen untuk membuat anak tertarik di sekolah, utamanya dalam pembelajaran dan seluruh kegiatan sekolah.

Foto workshop hari 1 di Dinas Dikpora DIY
Foto workshop hari 1 di Dinas Dikpora DIY

_Yang kedua_, peraturan dalam bentuk *Code of Conduct* atau kesepakatan dalam berperilaku. _Yang ketiga_, peraturan bentuk *Golden Rules* atau kata kunci. Kedua peraturan ini disusun melibatkan seluruh guru dan orangtua, baik secara langsung maupun tidak langsung. Makanya tidak heran, menyusun keduanya dilakukan dalam waktu satu tahun. Satu tahun bukan karena tidak digarap, tetapi mereka begitu memperhatikan Feedback dari orang tua dan guru. Setiap minggu digarap, didiskusikan dan dikonsultasikan. Bayangan kami, bertemu dan berdiskusi dengan guru dan orang tua tidak hanya sekali dua kali, tapi berpuluh-puluh kali.

Joanne dan Jesie menyampaikan bahwa “berubah itu tidak perlu buru-buru, yang penting tahan berkelanjutan”.

Code of conduct bentuknya sama dengan peraturan akademik yang kita punya, tetapi sekali lagi konsennya pada perilaku. Ada tindakan dan konsekuensinya. Juga ada level dari tindakan, ada ringan, sedang dan berat. Semisal di level ringan ada tindakan “meludah permen karet”, konsekuensinya anak mendapat hukuman social community atau hukuman sosial. Membantu orang lain yang sudah ditentukan sekolah. Entah membantu Pak Bon menyapu lantai, atau membersihkan dapur. Di level sedang ada tindakan membolos, konsekuensinya anak harus apa. . . Sehingga anak akan berpikir “kalau aku meludah, sudah siap belum aku menjalani social community!!??”. Disini tidak menutup kemungkinan anak akan mencoba untuk melakukan tindakan pelanggaran tersebut, tetapi itu hanya akan berjalan dua tiga kali. Karena ketika konsekuensinya adalah perbuatan kebaikan, maka hati anak akan terbuka.

Kalau Golden rules ini sangat singkat tetapi padat maknanya. Mudah diingat anak. Ada Respect, Creativity, Responsibility, & Acceptance. Golden rules ini terpampang di berbagai sudut sekolah. Setiap satu siswa yang terlihat melakukan salah satu Golden rules akan mendapat penghargaan dari kepala sekolah. Begitu seterusnya sampai membentuk budaya.

workshop hari 1
workshop hari 1

Yang keempat adalah peraturan berbentuk *Classroom Agreement*. Perjanjian kelas. Peraturan ini disusun oleh guru dan siswa di masing2 kelas. Kita sering mendengarkan ini, akan tetapi sekali lagi bedanya ini konsen pada perilaku siswa. Contohnya “in our class, we care about our environment” terjemahannya kira2 begini “dikelas kita, kita peduli dengan lingkungan”. Ada juga “in our class, we celebrate each other’s success”. Dikelas kita, kita merayakan setiap kesuksesan orang lain. Bukan berarti cukup orang lain juara, aku sudah bahagia. Tapi kita ikut peduli dengan kesuksesan orang lain. Nantinya akan tumbuh kepedulian pada kemalangan orang lain.

Classroom agreement ini disusun setiap awal tahun. Kelas yang berbeda, maka peraturannya juga berbeda. Walaupun pasti ada yang sama. Semua dibicarakan dengan anak2 dikelas, dan hasilnya dilaporkan ke orangtua dirumah. Sehingga sinkron antara yang ingin dibudayakan sekolah dan pelaksanaan dirumah. Seperti penuturan Kabag. Dikdas Dikpora DIY, beliau bapak Didik Wardoyo adalah “Tri pusat yaitu sekolah, rumah dan masyarakat”.

workshop hari 1
workshop hari 1

Akhirnya, selesai sudah yang dapat kami sampaikan. Mohon maaf kalau terlalu panjang, ini menandakan bahwa setiap sesi workshop ini sangat menarik dan berguna bagi kita semua.

Terimakasih atas perhatiannya.

.

.

oleh: Fauzan, Zuqi, Qoni (SD NU Yogyakarta) . Salah satu calon sekolah model GSM yang menjadi peserta workshop.

Loading...