Kelas Berbagi

10/05/2017 0 comments 226 views

Gerakan Sekolah Menyenangkan Presents

Seleksi Sekolah Model GSM Batch 2

 

==> Untuk Sekolah Dasar (SD) di Indonesia

 

Ingin menjadi salah satu sekolah model dampingan GSM?

 

Ikuti seleksi Sekolah Model GSM (Gerakan Sekolah menyenangkan) batch 2. Sekolah Anda akan didampingi oleh Guru-Guru dari Australia, Dosen UGM dan Monash University dalam program GSM.

 

Dengan Cara :

 

Kirimkan essay berisi profil sekolah dan alasan kenapa sekolah Anda layak untuk diseleksi.

Pendaftaran paling lambat tanggal 20 Mei 2017.

 

Poster rekrutmen sekolah model GSM

 

Informasi dan Pendaftaran:
Ninik  0811 2863 97
gerakansekolahmenyenangkan@gmail.com

06/06/2016 1 comments 730 views

*Fair dalam Penilaian*

_Oleh: Fauzan, Zuqi, & Qoni_

 

Ternyata menjalani workshop seperti ini cukup melelahkan teman2. Berangkat pagi, pulang sore, malam nulis, pagi posting. Lelah juga teman2. Tapi kami heran, kenapa Joanne, Jesie dan Ken tidak pernah terlihat ya. Padahal mereka setelah mengisi workshop selalu saja diajak untuk berkunjung ke sekolah-sekolah lain yang notabene tidak dijadikan tempat workshop. Guru-guru Clayton North keren pokoknya. Kita tidak boleh kalah dong.

workshop day 4 di SD Kalam Kudus
workshop day 4 di SD Kalam Kudus

Sebelum memasuki materi, Pak Yudi kepala sekolah SD M Noyokerten terlebih dahulu memberikan refleksi tentang pembelajaran kemarin. Beliau mengatakan bahwa, “ada 2 hal yang ditekankan dalam pembelajaran menyenangkan, *yaitu pembelajaran berbasis nilai dan pembelajaran berbasis proses*”. Hasil yang diperoleh tidak akan kita petik sekarang, tapi dimasa yang akan datang. Sehingga kita tidak perlu risau anak kita sekarang tidak bisa, Insya Allah kita bisa. Seperti salah prinsip Nabi Muhammad SAW., bahwa kalau mereka tidak mau beriman, Insya Allah anaknya akan beriman, kalau tidak anaknya ya cucunya, kalau tidak cicitnya, dan seterusnya tidak pernah ada kata putus asa. Makanya dalam ajaran agama kita ada anjuran, *”gembirakanlah jangan kau takut-takuti dan mudahkanlah jangan kau persulit”*. Lama-lama kita malah ngomongin Pak Yudi ya. Udah kita masuk ke materi aja yuks.

student will dan kolom Know-want to know
student will dan kolom Know-want to know

Pada kesempatan ini kami mengupas tentang tema pembelajaran. Kami diberi 75 menit untuk mengulas learning tema.  Ada 3 hal penting yg akan kita capai:
1. Student Will *learnt key facts* about Australia (kami akan belajar fakta2 ttg Australia),
2. Student will *practise mapping* skills (memetakan /membuat map terkait fakta yg didapat)
3. Student will *practise classification* (belajar mengelompokkan fakta)
Untuk membantu kita menemukan fakta2 tersebut  Ken membuat rubrik yang berisi “*Know*/apa yang kita ketahui? , *Want to know*/apa yang ingin kita ketahui? , *Learnt* /apa yang sudah kita pelajari (KWL).

Pertama-tama kita diminta mengisi terlebih dahulu kolom Know dan Want to know sesuai selera masing2. Yang penting tentang Australia. Paling tidak 3 isian. Misalnya yang Know, _saya sudah tahu PM Australia bernama Malcom Turnbull, saya sudah tahu Australia satu-satunya negara yang berbentuk benua, dan lain sebagainya_. Yang Want to know juga harus kita isi. Waktu itu kami isinya seperti ini, _kami ingin tahu hubungan manusia dengan manusia di Australia_ . Maksudnya pola interaksi di Australia tu gimana. Yang jelas kami juga menuliskan, _bagaimana pendidikan SD, SMP, SMA sampai dengan kuliah disana.
Dan terakhir kami juga menulis tempat wisata yang rekomended untuk dikunjungi. Eh lagi2 yang jawab Pak Rizal, _”Paris, Denhag, Yunani, semua bagus, tapi Melbourne is the best”_. Wah, oke Pak Rizal. Kita berusaha ya, kalau ndak study kesana ya modus study banding ndak papa ya.

Setelah kami menuliskan Know dan Want to know, kami diminta mencari fakta-fakta tentang Australia yang sudah ditulis dalam post-it yang ditempel diberbagai sudut gedung SDK Kalam Kudus, tempat  kami workshop.

Fakta tentang Australia
Fakta tentang Australia

Kami mendapat fakta, ada _Australia negara kedua yang memberi hak suara pada perempuan tahun 1902, Australia terdiri dari 6 negara bagian dan 2 wilayah teritorial_, dan lain sebagainya.

Semuanya ada 12 fakta, tetapi kelompok kami hanya dapat 7 teman2. Kata Ken, ndak papa dapat berapapun akan dihargai. Setelah kami dapat beberapa fakta, kami diminta berdiskusi untuk mengklasifikasikan fakta-fakta tersebut. Tapi uniknya kami tidak diberi petunjuk klasifikasi berdasarkan apa. Terserah pokoknya. Wah, ini kalau di sekolah kita bisa rame ya. Asyik tuh. Hehehe. Fakta _memberi hak suara pada perempuan_, kami klasifikasikan dalam bidang politik. Sedangkan _Australia terdiri dari 6 negara bagian_, kami klasifikasikan ke dalam bidang geografi.

Kegiatan diksusi dalam workshop
Kegiatan diksusi dalam workshop

Dari beberapa kelompok yang telah berdiskusi, semua maju ke depan untuk mempresentasikan hasil diskusinya. Dan hasilnya sangat beragam jenis klasifikasinya. Namun semua diapresiasi oleh Ken. Ken bukan melihat jenis klasifikasi itu benar atau salah, namun *Ken melihat cara berpikir anak-anaknya yang nantinya sebagai bahan pertimbangan Ken dalam menyusun tema pembelajaran selanjutnya.* Ternyata cara berpikir Ken sangat berbeda dari kita yang terlalu fokus pada benar-salah ya. Ayo sadar teman2.

Baru setelah kami presentasi, Ken mempersilakan untuk menilai diri sendiri dengan rubrik yang telah disediakan Ken di depan. Ada *partisipasi dalam kelompok, ada pemahaman terhadap fakta-fakta, dan kemampuan dalam mapping*.

rubrik penilaian
rubrik penilaian dari Ken (narasumber)

Perlu kita pahami bersama bahwa *rubrik penilaian sudah harus kita beritahu ke anak di awal pembelajaran. Agar anak terpacu untuk mencapai the best. Juga untuk menjunjung fairplay. Atau keadilan dalam penilaian *. Wah, ini yang sering kita lupakan. Kita terlalu sering menutup kriteria penilaian.

 

#WorkshopGSM4

06/06/2016 0 comments 588 views

Terus Fokus, Selalu Ada Celah untuk Berubah

Oleh: Fauzan,  Zuqi, &  Qoni

Acara workshop hari ini menghadirkan narasumber baru yang tidak kalah menariknya. Beliau sangat energik, smart, ekspresif dan tentunya semangat sekali. Beliau adalah Ken Catterton. Wakil kepala sekolah Clayton North Primary School, sekolah pemerintah yang mendidik siswa dari berbagai negara. Ken sedianya datang bersama Joanne dan Jesie tempo hari. Akan tetapi Ken baru bisa hadir membersamai kami dihari ketiga ini, karena baru saja mendapat amanah seorang bayi.

Biar ndak ngalamun langsung saja kita ice breaking ya. Eh, maksudnya membahas ice breaking dari Joanne. Hehehe. Joanne kali ini memberikan ice breaking yang mungkin sudah sering kita dengar atau bahkan kita lakukan. Jesie memutar musik, kami diminta untuk berputar-putar, dan ketika musik berhenti Joanne mengucapkan sebuah angka, seketika itu juga kita harus membuat kelompok sesuai dengan angka yang disebutkan Joanne. Jika Joanne menyebutkan angka 3 maka kami harus membentuk kelompok dengan jumlah peserta 3 orang dan jika Joanne menyebutkan 8 maka kami juga harus membentuk kelompok dengan jumlah peserta 8 orang begitu seterusnya.

Apa yang kita pelajari bukan ice breakingnya teman2. Ketika kami selesai berkelompok, dan mungkin beberapa ada yang tidak mendapat kelompok, Joanne langsung memuji kelompok yang tercepat, “your group the fasttest”. Kelompok tersebut mendapat predikat “good student”. Dan Joanne tidak menyinggung sama sekali diantara kami yang tidak mendapat kelompok. Hebat kan teman2.

Ternyata ada makna tersembunyi dibalik itu.  Setiap kali kita mencontohkan ini adalah good student, *maka dengan sendirinya anak akan belajar meniru dan selalu mengingat hal baik/prestasi tersebut.* Luar biasa kan!!?

workshop hari ke 2
workshop hari ke 3 di SD N Percobaan 2

Kali ini Ken sebagai wakil kepala sekolah Clayton North Primary School memberikan pencerahan kepada kami tentang Visi Sekolah. Ken terlebih dahulu memaparkan Visi CNPS, kemudian juga meminta kami menuliskan visi sekolah kami masing2. Setelah ditulis, Ken memberikan cara kepada kami bagaimana menilai visi sekolah kami. _Wah, ternyata visi sekolah juga perlu dinilai teman2_. Bukan dinilai benar dan salahnya lho, *tapi dinilai sudah bagus atau belum visi sekolah kita*.

Parameter yang Ken gunakan untuk menilai ada *bahasa, merepresentasikan komunitas, dan aspirasional*. Kita mah tahunya kalau visi ya diawali kata _terwujudnya_, gitu kan. Hehehehe.
Dari segi bahasa, Ken menuturkan *visi yang bagus panjangnya kurang dari 10 kata.* Ingat ya, 10 kata bukan kalimat. Hahahaha. Sekolah kita gimana!? Kita cek aja bareng2 nanti yuks. Tapi besok aja.

Yang kedua _merepresentasikan komunitas_. Maksudnya, *kalau kita sudah mencantumkan keterlibatan masyarakat dan orangtua dalam visi sekolah, berarti visi kita sudah bagus.* Ken juga sempat memamerkan visi sekolahnya. *A Partnership That Nurtures*. Tuh kan sudah ada partnership berarti mereka selalu melibatkan masyarakat dan berbagai pihak. Kalau tidak ada pelibatan masyarakat dan orangtua, Ken hanya memberi 1 bintang. Kita mungkin malah bersyukur ya dapat bintang, lah kalau kebanyakan bintang di kepala ndak enak to.

_Yang ketiga_, aspirasional. *Visi yang kita susun harus menetapkan target yang lebih baik dari saat ini*. Kita harus berpikir agar sekolah kita tidak hanya good, tapi *excellent pada 5 tahun mendatang*. Pandangannya harus jauh, melihat peluang dan tantangan yang akan sekolah hadapi. Model penilaian tadi akan sangat membantu kita untuk memaknai kata sukses dalam perumusan visi.

Penilaian visi yang Ken contohkan pada kami dimulai dari self assessment. Kita menilai rumusan kita sendiri. Dari segi bahasa apakah good, better ataukah best. Begitu juga dari aspek representasi komunitas dan aspirasional. Metode ini juga dapat digunakan untuk penilaian karya anak2. Biasanya ketika anak2 diminta menilai diri sendiri terlebih dahulu, mereka akan menilai dengan nilai yang rendah.

Setelah self assessment selesai, dilanjutkan dengan peer assessment. Rumusan kita dinilai oleh teman sebaya. Sama dengan self assessment, penilaian juga menggunakan kategori good, better dan best atau kalau menggunakan bintang berarti good 1 bintang, better 2 bintang dan best 3 bintang. Teman sebaya juga harus memberikan saran. Apa yang perlu diperbaiki dari rumusan itu. Baru dikembalikan pada perumus dan diperbaiki. Setelah diperbaiki dinilai kembali oleh diri sendiri, kemudian teman sebaya, diperbaiki lagi, begitu seterusnya sampai menghasilkan rumusan visi yang excellent. Ken menegaskan bahwa, *kalau kita ingin mendapatkan visi sekolah yang excellent, perlu berkali-kali revisi rumusan visi sekolah*.

Ken juga menyampaikan pentingnya metode penilaian seperti ini diterapkan pada anak, *anak akan tahu sukses itu seperti apa, dan akan termotivasi berbuat yang terbaik*. Lalu kenapa dimulai dengan self assessment tidak langsung peer atau bahkan share dalam forum besar, *karena itu akan membuat anak tahu dan lebih mengerti jika dinilai orang lain*. Artinya anak tidak marah dengan penilaian orang lain, karena dia sedikit-banyak tahu kekurangannya pada waktu si anak menilai diri sendiri. Ini yang jarang kita sadari kan!?

#WorkshopGSM_3

03/06/2016 0 comments 784 views

UGM – Monash University Pererat Kerjasama untuk Sekolah Menyenangkan di Indonesia

Foto: Penandatanganan MOU antara Monash-UGM-GSM-Clayton North Primary School
Foto: Penandatanganan MOU kerjasama antara Monash-UGM-GSM-Clayton North Primary School: Dari kiri Mohammad Nur Rizal (GSM), Danang Sri Hadmoko (UGM), Ken Chatterton Wakil Kepsek CPNS, Paripurna Wakil Rektor UGM dan John Lougran Dekan Fakultas Pendidikan Monash

 

Dua universitas dari Australia dan Indonesia, Monash University dan Universitas Gadjah Mada secara resmi setuju bekerjasama membantu pengembangan pendidikan masa depan yang menyenangkan dan manusiawi.

Diwakili oleh Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Alumni UGM, Dr. Paripurna dan Profesor John Lougran, Dekan Fakultas Pendidikan Monash University, kedua universitas meresmikan kerjasama riset untuk mendukung pengembangan pendidikan masa depan yang menyenangkan dan manusiawi yang digagas oleh Gerakan Sekolah Menyenangkan hari Senin (30/5/2016) di Auditorium MM UGM Yogyakarta.

Selain penandatanganan kerjasama, acara yang dihadiri ratusan peserta berasal dari kalangan pendidik, kepala sekolah, orang tua, mahasiswa, akademisi serta perwakilan pemerintah dilanjukan oleh seminar yang bertema “Revolusi Mental melalui Transformasi Sekolah untuk Pendidikan yang Menyenangkan dan Manusiawi”.

Dalam keterangan yang disampaikan kepada ABC Australia Plus Indonesia, disebutkan bahwa dengan penuh antusias, peserta yang memenuhi ruangan menyimak paparan yang disampaikan oleh Prof J John Loughan dari Monash University, Prof Laksono dari  UGM, Ken Chatterton dari CNPS (Clayton North Primary School) dan Dr. Muhammad N Rizal sebagai Ketua GSM (Gerakan Sekolah Menyenangkan) yang dipandu oleh Prof. Tina Afiatin dan Novi Candra, keduanya dosen Psikologi UGM.

Suara keempat pembicara dengan pandangannya masing-masing sama yakni menegaskan bahwa esensi pendidikan itu untuk membangun manusia bukan mengajar untuk mendapatkan nilai tinggi, yang lebih mencerminkan kemampuan anak menghapal isi buku ataupun catatan dari guru.

Hal itu dapat tercapai ketika anak dilatih untuk dapat “memprediksi”, “mengamati” sekaligus “menjelaskan” fenomena yang terjadi melalui pengetahuan yang dimilikinya. Sehingga anak akan memiliki kemampuan “mencipta’ dari sekedar “mengeja”, kata Professor Lougran”.

Sedangkan, Professor Laksono menyarankan agar pengajaran sekolah tidak boleh tercerabut dari akarnya agar muncul konsep pendidikan yang “reflektif partisipatoris.

Ilmu yang dipelajari digunakan untuk mengidentifikasi masalah di sekelilingnya, sekaligus mengidentifikasi diri untuk membangun kesejarahan baru.

Ken Chatterton juga mengungkapkan efek negatif testing dan testing yang menceritakan hlangnya keceriaan dan inisiatif anak didiknya mendadak menjadi pendiam dan susah bergaul sekembalinya sekolah di negara asalnya.

“Kemana hakekat keguruan ketika mengajar hanya berorientasi pada nilai ujian nasional tinggi namun lupa mengajarkan anak-anak “critical thinking’dan kreativitas? ”, Rizal melanjutkan pertanyaannya, “Untuk siapa bapak-ibu mengajar? memenuhi target dinas pendidikan, tuntutan orang tua atau ingin mengajar anak-anak?“.

Mereka butuh ruang bermain dan bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya. Mengeksplorasi apa saja yang terjadi di sekelilingnya. Sehingga ilmu dan pengetahuan yang diperolehnya di sekolah dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan sederhana dalam kehidupan sehari-harinya.

Sekolah harus mengajarkan kemandirian dengan mendekatkan ilmu pada realitas sosialnya. Sekolah harus menjadi pusat saling belajar bagaimana memanusiakan anak-anak dilakukan. Sekolah harus menjadi tempat yang menyenangkan untuk menumbuhkan sikap disiplin dan karakter positif untuk bekal ketrampilan hidupnya kelak.

Rizal menambahkan bahwa “sekolah menyenangkan itu bukan sekolah senang-senang saja, melainkan tempat yang membuat anak bahagia untuk mengembangkan diri dengan pola pembelajaran nyata serta mengakomodasi setiap jengkal potensi anak anak dalam iklim belajar yang positif dan saling menghargai.”

 

“Ujian boleh dilakukan namun bukan ukuran keberhasilan, melainkan salah satu cara mengukur kesungguhan anak dalam belajar. Yang terpenting adalah pengukuran proses belajar bukan hasil akhir. Sehingga kemampuan komunikasi, kolaborasi (teamwork) dan ketrampilan problem solver” (menyelesaikan masalah) anak dapat tergali optimal.” Muhammad Nur Rizal

 

Rizal menambahkan bahwa launching kerjasama riset ini merupakan lanjutan kegiatan workshop seminggu untuk peningkatan kualitas guru-guru.

Lebih dari dua puluh sekolah lolos seleksi untuk menjadi sekolah model sekolah menyenangkan di Propinsi Yogyakarta dan sekitarnya.

Guru-guru ini dilatih oleh GSM bersama tiga guru dari Clayton North Primary School, yakni Ken Chatterton, Joane Weston dan Josie Burt yang datang ke Indonesia dengan biaya sendiri.

Materi pelatihannya dari merubah mindset hingga skill praktis dari membuat visi sekolah yang terukur dan dapat diimplementasikan secara nyata menjadi kebijakan sekolah, iklim belajar positif hingga model dan evaluasi (assessment) pembelajaran yang menyenangkan dan manusiawi.

Foto: Seminar di Gedung MM UGM
Foto: Seminar di Gedung MM UGM

Guru-guru itu bahkan diharuskan untuk mempraktikkan seluruh materi yang diwujudkan dalam rencana belajar kepada murid-murid sekaligus mendapatkan “feedback” langsung dari anak-anak tersebut.

Dan yang perlu bapak-ibu ketahui, “bahwa seluruh pembiayaan operasional workshop ditanggung bersama melalui iuran guru-guru tersebut”, ujar Rizal.

“GSM bertujuan untuk mengisi gap antara konsep dan praktis yang justru minim dikembangkan oleh pemerintah “, lanjut Rizal.

Dari pendekatan gorong royong serta materi pengembangan guru-guru ala GSM kemudian diriset oleh peneliti dari UGM dan Monash untuk mendapatkan data akurat yang dapat digunakan sebagai acuan pengembangan selanjutnya.

Sehingga pengembangan ke depan didasarkan suara akar rumput dari guru-guru serta feedback langsung anak-anak dan komunitas orang tua yang terlibat.

 

“Kami menamakan kolaborasi ini “an educational partnership with a grass root approach to innovative school transformation” (kemitraan pendidikan dengan pendekatan akar rumput bagi tranformasi sekolah yang inovatif)”

 

“UGM akan selalu terdepan memfasilitasi inovasi riset yang diprakarsai oleh GSM ini. Selain kegiatan ini digagas oleh dosen UGM juga memiliki dampak nyata dan positif yang tidak hanya pada pengembangan ilmu pengetahuan, malainkan bagi pengabdian dan pengembangan masyarakat. Sesuai dengan visi dan cita-cita di statuta kampus kami,” tegas Wakil Rektor bidang Kerjasama dan Alumni UGM Dr Paripurna di akhir sambutannya.

Sumber : www.australiaplus.com

01/06/2016 0 comments 621 views
Workshop hari ke-2 (Selasa, 24 mei 2016) di SD Muhammadiyah Noyokerten

*FAIL = First Attempt In Learning*

Oleh: Fauzan, Zuqi, & Qoni

.

Workshop dimulai dengan ice breaking yang cukup menarik. Joanne meminta kami untuk berdiri dengan 1 kaki, kemudian Joanne menyampaikan beberapa pertanyaan yang sederhana tentang anggota tubuh. Kita diminta menunjukkan bagian tubuh yang disebutkan Joanne.

Joanne ingin menunjukkan pada kami bahwa keseimbangan akan membantu kita menjadi nyaman. Begitu juga kelas. Tidak hanya siswa yang punya keinginan, tetapi keinginan itu harus diimbangi dengan peraturan. *Jika kelas tidak mempunyai peraturan, anak tidak akan nyaman. Karena anak tidak mempunyai tujuan*. Begitu kata Jesie.

Peraturan kelas yang sudah kita bahas kemarin adalah classroom agreement. Dimana peraturan ini dibuat setiap awal tahun dengan melibatkan seluruh siswa sebagai warga kelas. Nah, ternyata sebelum ada peraturan kelas tersebut, di Clayton North Primary School (CNPS) ada yang namanya Classroom Expectation atau ekspektasi kelas. Kita ingin kelas kita terlihat seperti apa ya. Semua dirembuk dengan warga kelas dan disepakati bersama. Barulah kalau sudah punya keinginan atau ekspektasi tadi, dibuatlah classroom agreement tadi atau peraturan kelas agar ekspektasi kelas tercapai. Ekspektasi kelas harus memakai kalimat yang positif.

workshop hari 2
workshop hari 2

Disinilah peran guru untuk meluruskan atau membetulkan setiap kalimat yang condong pada kalimat negatif menjadi kalimat positif. Contohnya ketika anak menyampaikan usulan ekspektasinya “sesama anak tidak boleh saling menyakiti”, guru bisa memperbaiki kalimat anak misalnya menjadi, “kita harus respek terhadap sesama”. Contoh lain ekspektasi kelas di CNPS misalnya, _kita akan saling memperhatikan, kita akan berbicara sopan, kita akan fokus dan menyelesaikan setiap tugas, kita akan peduli dengan saling menasehati, kita akan peduli dengan barang miliknya dan akan mengembalikan pada tepatnya_.

Josie menjelaskan bahwa anak yang melanggar classroom agreement dan classroom expectation cukup kita beri peringatan/teguran. Dan peringatan itupun tidak boleh disampaikan didepan teman2 nya. Cukup ketika si anak sendirian. Hal ini untuk menjaga kepercayaan diri anak dimata teman2 nya. Karena classroom expectation dan classroom agreement *bertujuan untuk menata keseharian anak*. Berbeda dengan code of conduct, anak yang terbukti melanggar tidak perlu diberi peringatan, melainkan langsung diberi hukuman. Entah itu kerja sosial atau diskors sesuai dengan level pelanggaran yang dilakukan anak. Walaupun berbeda, ekspektasi dan kesepakatan kelas tadi tetap harus sesuai dengan peraturan atau code of conduct.

Materi yang tidak kalah menarik adalah tentang display karya siswa. Yang berbeda dari CNPS adalah, mereka melakukan display karya anak *tidak berpatokan pada sisi artistik* seperti kita, melainkan berpatokan pada tujuan. Kalau kita kan biasanya, “ayo karyanya ditempel biar kelasnya bagus”. Di CNPS semua karya siswa dipajang, baik yang sempurna, maupun kurang sempurna. Hal ini bertujuan agar anak *mengerti akan kerja kerasnya*. Foto kegiatan pun mereka display disetiap sudut kelas. Ada yang ditempel di dinding, jendela, bahkan digantung dengan kawat.

Dengan ditempelnya karya anak2, mereka juga bisa melihat perkembangan belajarnya masing2. Ketika pertama belajar menulis, anak akan melihat tulisannya seperti itu, terkadang banyak yang keliru. Dan sekarang tulisan anak sudah lumayan bisa dibaca. Karya atau hasil kerja yang keliru, tidak perlu siswa perbaiki. Yang penting anak mengerti akan kesalahannya dan besok lagi tidak diulangi. Karena perasaan anak *”Dulu aku pernah salah” itu menjadi hal penting bagi anak*. Salah satu prinsip yang diajarkan Joanne pada anak2 nya adalah FAIL. First Attempt In Learning. Yang artinya kurang lebih *mencoba untuk pertama kalinya adalah belajar*. Singkat & sangat manjur untuk menanamkan pada anak sikap tidak takut gagal. Mencoba dan mencoba terus tanpa menyerah.

workshop hari2
workshop hari2

Sekarang kita masuk ke kegiatan pembelajaran. Clayton membiasakan gurunya untuk menuliskan Learning to Intention atau kalau di sekolah kita disebut indikator. Disana biasanya diawali dengan kata “kita akan mempelajari  . . .”. Misalnya kita akan mempelajari bilangan loncat. Nah, selain Learning to Intention tadi, guru juga menuliskan success criteria atau kalau di sekolah kita namanya tujuan pembelajaran. Biasanya diawali dengan kata “saya bisa. . .”. Kedua komponen ini ditulis guru didepan kelas agar anak bisa membaca dan mengingat terus tujuan pembelajaran hari ini. Sehingga semangat untuk mencapai atau menguasai tujuan pembelajaran mengalir terus. Kalau hanya diucapkan anak dan guru akan mudah lupa. Kedua komponen itu guru ambil dari kurikulum yang dibuat pemerintah. Guru menciptakan kedua komponen itu dengan kalimat sendiri yang mudah anak mengerti.

Setelah anak mengerti akan tujuan pembelajaran yang akan dilaksanakan hari ini, anak dipersilakan membuat personal goal, atau target capaian masing2 anak. Anak2 membuat personal goal dengan melihat tujuan pembelajaran dan kondisi anak. Misalnya dalam tujuan pembelajaran tertulis, “saya dapat menghitung bilangan loncat 3”. Anak bisa menulis, “aku bisa menghitung bilangan loncat 3 sampai dengan 42”. Sehingga disini tidak ada anak yang tidak tuntas pada tujuan pembelajaran, yang ada siswa tidak mencapai target yang telah dibuat. Misal targetnya menghitung sampai 40, tapi ternyata waktu evaluasi cuma sampai 30. Akan tetapi walaupun anak tidak mencapai target, anak tetap menyelesaikan tujuan pembelajaran, yang mana dapat disimpulkan kalau mereka telah tuntas.

Kami juga diajari bagaimana cara efektif menukar tempat duduk anak tanpa harus memaksa si A untuk duduk disini dan si B disana. Karena menurut Joanne dan Jesie, pertukaran tempat duduk dapat meminimalisir anak untuk nge-gang. Joanne meminta kami untuk berkumpul sesuai dengan warna baju yang kami pakai. Yang merah berkumpul dengan yang merah, biru dengan biru, dan lain sebagainya. Setelah semua berkumpul sesuai warna, Joanne meminta kami untuk membentuk kelompok yang beranggotakan masing2 warna baju. Ada yang merah 1 orang, biru seorang, hijau seorang dan seterusnya. Jesie menegaskan bahwa dikelas yang kita ampu masing2 bisa diterapkan sesuai konteksnya. Bisa memakai warna kaos kaki, tinggi badan, dan lain sebagainya.

workshop hari 2
workshop hari 2

Joanne dan Jesie juga mengajak kami untuk merasakan suasana kelas yang mereka ajar di Australia. Joanne menuliskan tugas untuk “menghitung dengan pola bilangan loncat”. Tidak lupa Joanne mengajak kami bermain terlebih dahulu dengan permainan tentang bilangan loncat. Setelah itu kami diminta membuat hitungan bilangan loncat. Kami dibebaskan mau membuat bilangan loncat berapa. Bisa 2, 3, 4, dan lain sebagainya. Kami tuliskan dikertas post-it agar bisa ditempel. Joanne memang sudah memperkirakan beberapa siswa akan sama dalam membuat pola. Misalnya si A membuat bilangan loncat 4, si B pun demikian. Akan tetapi yang membedakan disini adalah hitungannya. Misalnya si A hanya sampai 20, si B bisa sampai 30. Dan Joanne selalu membuat pujian yang detail untuk setiap anak didiknya. Tidak lupa hasil kerja mereka ditempel untuk dijadikan pelajaran berikutnya. Perlu kita pahami bersama, *Joanne dan Jesie tidak memberikan nilai dalam bentuk angka, akan tetapi semua diberi penghargaan lewat feedback yang detail kepada setiap anak.* Setelah itu kami diminta berdiskusi untuk membuat pola sendiri dan memberi alasan kenapa memilih pola tersebut. Misalnya waktu itu kami memilih pola bilangan loncat 4. Alasan kami adalah karena kami berjumlah 4 orang dalam satu kelompok.

Joanne memberikan pendapat bahwa dengan anak mengemukakan alasan, anak akan belajar untuk menyampaikan gagasannya masing2.

Di akhir pembelajaran, Joanne meminta anak didiknya untuk membuat self assessment dan ditempel didinding kelas mereka. Melihat dari personal goal yang telah dibuat, sampai mana anak2 bisa mencapainya. Dan tidak lupa juga untuk menuliskan apa yang perlu diperbaiki dan bagaimana usahanya untuk memperbaiki. Semua anak pastinya menuliskannya berbeda-beda, karena diawal mereka membuat personal goal juga berbeda. Baru setelah itu Joanne memberikan refleksi dan motivasi. Kalimatnya begini, *”Oke, hari ini kalian sudah bisa melakukan yang terbaik.

Walaupun ada yang baru sampai 10 atau 20 tidak apa-apa. Sekarang mari kita tantang diri kita sendiri untuk melebihi apa yang kita hasilkan hari ini”*. Didada kami cukup terasa energi kata-kata itu.

01/06/2016 0 comments 744 views
Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) bekerjasama dengan Universitas Gajah Mada Yogyakarta dan Clayton North Primary School (CNPS), mengadakan Workshop tentang "Pendidikan yang Menyenangkan dan Manusiawi di Abad 21". Workshop yang berlangsung 23-27 Mei 2016 ini dihadiri puluhan Kepala Sekolah dan Guru SD di Yogyakarta yang tergabung dalam Calon Sekolah Model GSM. Pembicara workshop adalah tiga orang guru yang didatangkan langsung dari Clayton North Primary School (CNPS), Australia, yaitu: Joanne Weston, Jossie Burt, dan Ken Chatterton. Workshop hari pertama dilaksanakan di Gedung Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, sedangkan hari ke-2 sampai hari ke-5 dilaksanakan di sekolah-sekolah pilihan GSM.

*Belajar Bersama Guru Clayton North Primary School Australia*

_oleh: Fauzan, Zuqi, Qoni_

backdrop Workshop hari 1
backdrop Workshop hari 1

(Senin,23 Mei 2016) Belajar bersama praktisi jelas berbeda dengan profesor ataupun dosen. Tidak banyak teori yang beliau sampaikan. Beliau adalah Joanne Weston Leading Teacher Early Years, atau terjemahannya kira2 Kepala Guru Kelas Bawah, dan Josie Burt, Dolphin Teacher atau Guru kelas Lumba-lumba. Jadi disana kelasnya diberi nama hewan kesayangan anak2. Tidak ada kelas 1, 2, dan lainnya.

Modul 1 Workshop hari 1
Modul 1 Workshop hari 1

Beliau banyak menyampaikan langkah-langkah strategis untuk mencapai kategori “sekolah menyenangkan”. Beliau juga melengkapinya dengan hasil penelitian beliau tentang faktor penentu keberhasilan sekolah menyenangkan.

Salah satu yang menjadi faktor penting dalam penelitian beliau adalah Feedback atau tanggapan. Bagaimana cara menanggapi ketika siswa bertingkah lucu, ketika siswa melanggar aturan, ketika siswa dapat menjawab pertanyaan, dan lain sebagainya. Feedback bisa dilakukan guru ke siswa ataupun antar siswa. Feedback yang detail akan membantu siswa meningkatkan diri. Tidak hanya sekedar dengan kata “bagus” atau “oke”.

13335380_953296588123351_487589128_n

Feedback juga akan membantu meningkatkan hubungan emosional guru-siswa. Karena sekolah menyenangkan harus memperhatikan beberapa hal berikut ini:
1. Ruang emosional siswa
2. Hubungan guru-siswa & siswa-siswa
3. Rasa aman dan percaya diri dalam belajar, dan
4. Keterikatan dalam pengalaman

kegiatan workshop hari 1
kegiatan workshop hari 1

Class size_ menjadi faktor penentu kedua sekolah menyenangkan. Kelas yang menyenangkan adalah kelas yang kecil. Dalam artian siswanya tidak banyak. Dalam video yang diperlihatkan ke kami, Joanne membandingkan kelas Basa Jawa pada salah satu sekolah di Sleman, dan kelas Matematika Clayton North PS. Dikelas Basa Jawa, siswanya banyak sekali. Kalau ditaksir ada 30an, ruang kelas penuh. Sedangkan di Clayton, ruang kelas yang dipakai hanya separo saja. Siswa duduk lesehan melingkar dengan papan tulis kecil macam pelukis. Jumlah siswanya hanya berkisar 15 siswa. Dalam kelas Basa Jawa terlihat sekali suasana yang membosankan, guru kurang memperhatikan siswa, dan lain sebagainya. Sedangkan di kelas Matematika, siswa begitu antusias. Karena siswa tidak banyak, guru dapat leluasa memperhatikan satu persatu siswanya.

workshop hari 1
workshop hari 1

Training Teacher menjadi faktor ketiga penentu keberhasilan program sekolah menyenangkan. Guru memang perlu dilatih secara terus-menerus. Tapi kalau tidak dilaksanakan pemberian dan pembudayaan “Feedback” dan kebijakan size class ideal, maka menjadi sulit sekolah menyenangkan terwujud.

Sekolah menyenangkan bukan sekolah seenaknya. Justru sekolah menyenangkan punya peraturan untuk menanamkan _moral value_ pada anak menjadi sebuah budaya sekolah. Di Clayton sendiri ada beberapa kemasan peraturan yang dibuat secara demokratis, melibatkan banyak pihak. Yang pertama_ peraturan dalam bentuk *Student Engagement Policy* artinya kurang lebih Kebijakan Keterikatan Siswa . Kalau di kita namanya mungkin visi dan misi lah. Tapi visi tersebut memang konsen untuk membuat anak tertarik di sekolah, utamanya dalam pembelajaran dan seluruh kegiatan sekolah.

Foto workshop hari 1 di Dinas Dikpora DIY
Foto workshop hari 1 di Dinas Dikpora DIY

_Yang kedua_, peraturan dalam bentuk *Code of Conduct* atau kesepakatan dalam berperilaku. _Yang ketiga_, peraturan bentuk *Golden Rules* atau kata kunci. Kedua peraturan ini disusun melibatkan seluruh guru dan orangtua, baik secara langsung maupun tidak langsung. Makanya tidak heran, menyusun keduanya dilakukan dalam waktu satu tahun. Satu tahun bukan karena tidak digarap, tetapi mereka begitu memperhatikan Feedback dari orang tua dan guru. Setiap minggu digarap, didiskusikan dan dikonsultasikan. Bayangan kami, bertemu dan berdiskusi dengan guru dan orang tua tidak hanya sekali dua kali, tapi berpuluh-puluh kali.

Joanne dan Jesie menyampaikan bahwa “berubah itu tidak perlu buru-buru, yang penting tahan berkelanjutan”.

Code of conduct bentuknya sama dengan peraturan akademik yang kita punya, tetapi sekali lagi konsennya pada perilaku. Ada tindakan dan konsekuensinya. Juga ada level dari tindakan, ada ringan, sedang dan berat. Semisal di level ringan ada tindakan “meludah permen karet”, konsekuensinya anak mendapat hukuman social community atau hukuman sosial. Membantu orang lain yang sudah ditentukan sekolah. Entah membantu Pak Bon menyapu lantai, atau membersihkan dapur. Di level sedang ada tindakan membolos, konsekuensinya anak harus apa. . . Sehingga anak akan berpikir “kalau aku meludah, sudah siap belum aku menjalani social community!!??”. Disini tidak menutup kemungkinan anak akan mencoba untuk melakukan tindakan pelanggaran tersebut, tetapi itu hanya akan berjalan dua tiga kali. Karena ketika konsekuensinya adalah perbuatan kebaikan, maka hati anak akan terbuka.

Kalau Golden rules ini sangat singkat tetapi padat maknanya. Mudah diingat anak. Ada Respect, Creativity, Responsibility, & Acceptance. Golden rules ini terpampang di berbagai sudut sekolah. Setiap satu siswa yang terlihat melakukan salah satu Golden rules akan mendapat penghargaan dari kepala sekolah. Begitu seterusnya sampai membentuk budaya.

workshop hari 1
workshop hari 1

Yang keempat adalah peraturan berbentuk *Classroom Agreement*. Perjanjian kelas. Peraturan ini disusun oleh guru dan siswa di masing2 kelas. Kita sering mendengarkan ini, akan tetapi sekali lagi bedanya ini konsen pada perilaku siswa. Contohnya “in our class, we care about our environment” terjemahannya kira2 begini “dikelas kita, kita peduli dengan lingkungan”. Ada juga “in our class, we celebrate each other’s success”. Dikelas kita, kita merayakan setiap kesuksesan orang lain. Bukan berarti cukup orang lain juara, aku sudah bahagia. Tapi kita ikut peduli dengan kesuksesan orang lain. Nantinya akan tumbuh kepedulian pada kemalangan orang lain.

Classroom agreement ini disusun setiap awal tahun. Kelas yang berbeda, maka peraturannya juga berbeda. Walaupun pasti ada yang sama. Semua dibicarakan dengan anak2 dikelas, dan hasilnya dilaporkan ke orangtua dirumah. Sehingga sinkron antara yang ingin dibudayakan sekolah dan pelaksanaan dirumah. Seperti penuturan Kabag. Dikdas Dikpora DIY, beliau bapak Didik Wardoyo adalah “Tri pusat yaitu sekolah, rumah dan masyarakat”.

workshop hari 1
workshop hari 1

Akhirnya, selesai sudah yang dapat kami sampaikan. Mohon maaf kalau terlalu panjang, ini menandakan bahwa setiap sesi workshop ini sangat menarik dan berguna bagi kita semua.

Terimakasih atas perhatiannya.

.

.

oleh: Fauzan, Zuqi, Qoni (SD NU Yogyakarta) . Salah satu calon sekolah model GSM yang menjadi peserta workshop.

13/05/2016 0 comments 578 views
Berikut merupakan tulisan dari Novi Candra, salah satu penggagas Gerakan sekolah Menyenangkan (GSM) yang juga sebagai kandidat doktor Melbourne University. Beliau menyampaikan bahwa Ujian Nasional dapat membuat Guru kehilangan kreativitas, kadang juga kehilangan rasa kemanusiaan karena ujian nasional membuat semua insan pendidikan menjadirobot tak berjiwa.

Elegi Pagi Tentang Ujian Nasional di Sekolah

oleh Novi Candra, M.Si., Psi

Ketika saya menonton beberapa anak yang sakit di rumah sakit harus mengikuti UAN, tertatihtatih, dibopong untuk mengerjakan soal2,dan dalam keterbatasan itu mereka harus bertarung dengan anak anak lain yang sehat, saya mulai berpikir…apa yang bangsa ini lakukan pada mereka? Untuk apa mereka harus seperti itu?
Tanpa mengindahkan jika mereka sakit dan tertatih, yang penting mereka ikut ujian agar mereka punya nilai akhir atas nama standarisasi.

Saya tiba tiba ingat ini ketika pagi kemarin saya dengar sendiri salah satu perkataan guru pada anak SD yang sakit, ‘bisa ya, sakitnya nggak lama lama biar ulangannya nggak banyak nyusul. Kalau banyak nyusul nanti saya yang repot atur jadwal ulangannya.”

Lihat, poinnya bukan lagi pada kesehatan anak anak, tapi pada repotnya guru.
Guru seolah olah hanya tahu bahwa tanggung jawab sekolah adalah mengetes anak setiap waktu.

Anak anak seolah bukan manusia yang punya rasa lelah, butuh istirahat karena sakit, punya rasa cemas untuk selalu dites.
Guru kehilangan kreativitas, kadang juga kehilangan rasa kemanusiaan karena ujian nasional membuat semua insan pendidikan menjadi robot tak berjiwa.

Lihat betapa Ujian Nasional membuat kita berpikir untuk apa menumbuhkan daya nalar,budi pekerti, potensi dan keunikan jika akhirnya mereka harus distandarkan seperti produk barang.

Sudah berapa lama orangtua Indonesia lupa bertanya, belajar apa saja nak hari ini? Apa yang membuat kamu gelisah dan ingin kamu bantu mengubah?
Sudah lama anak anak kita dihujani pertanyaan dapat berapa ulangan hari ini, hari kemarin dan akan masuk sekolah favorit mana?

Sudah lama guru guru tidak punya waktu bertanya, “ingin belajar apa hari ini?, apa yang kamu temukan hari ini, dan ingin kamu ciptakan.

Tidakkah kita rindu akan hal itu?

Saya selalu gelisah dan marah pada Ujian Nasional dan setiap bentuk tes, ulangan, ulangan ulangan yang menghantui hidup anak anak kita. Kita takperlu lagi itu agar anak anak kita hidup di abad 21. Tak perlu. Banyak jalan, banyak cara kalau kita mau untuk benar benar mengubah desain pendidikan kita, agar lebih manusiawi.

Kalaupun belum sanggup mengubah, gerakan sekolah menyenangkan adalah sebuah ihtiar agar kita masih selalu punya harapan bahwa pendidikan adalah tentang memanusiakan manusia.

Cukup..sudahi Ujian Nasional! apapun bentuknya, maka kita akan lebih mudah berubah.

 

By: Novi candra, M.Si, Psi (kandidat doktor Melbourne University)

09/05/2016 0 comments 1316 views
Berikut merupakan tulisan dari ibu Ailis Safitri dari SD Muhammadiyah Macanan
Sleman yang merupakan salah satu sekolah dalam jaringan GSM.
Beliau berbagi pengalaman mengenai PR yang sering diberikan guru kepada siswanya.

13095771_1174752359221660_884549048293011474_n

PR KREATIF ABAD 21
Oleh Ailis Safitri

Saat anak lelah pulang sekolah lalu dilanjutkan dengan les ini itu, apa yg diharapkan guru untuk dilakukan seorang peserta didik di rumah? Ya, terkadang guru masih membebankan pekerjaan rumah (PR) dengan alasan agar si anak mau belajar. “Kalau tidak diberi PR, maka anak akan malas belajar di rumah…,” demikian komentar guru pada umumnya.

PR nya berupa mengulang pelajaran di sekolah (biasanya membaca dan menghafal), atau mengerjakan soal-soal di buku latihan, semuanya berkait dengan baca, tulis dan hitung. Sesungguhnya ada beberapa metode belajar di rumah untuk mengulang pelajaran di sekolah melalui bertutur atau bercerita (menceritakan kembali pelajaran yang ia terima di sekolah).

Penting ya mengulang kembali pelajaran di sekolah saat di rumah? Ya memang penting, namun jika itu saja yang diberikan maka si anak bisa jenuh atau bosan. Pengetahuan tidak hanya baca, tulis dan hitung dalam buku pelajaran, tapi juga bisa mengamati dan melakukan sesuatu. Sebagai contoh, si anak diberi PR untuk memperhatikan ibu memasak, jika ingin membantu boleh juga.

Saat di sekolah si anak diminta untuk bercerita pengalamannya mengamati ibu memasak, apa nama masakannya, apa saja bumbu yang digunakan, apa saja bahan masakannya, bagaimana cara memasaknya. Maka jadilah resep versi anak melalui sebuah pengamatan. Ia juga diperkenankan memberi tanggapan atau pendapat terhadap masakan ibunya tersebut.

Atau saat hari libur, mintalah si anak untuk ikut ibunya belanja ke pasar. Atau bisa juga mengamati dan membantu ayah mencuci kendaraan. Orangtua mengajak diskusi beberapa hal yang tidak dimengerti anak. Kemudian si anak akan menceritakan kembali pengalamannya tersebut dan tanyakan pelajaran penting apa yang ia dapatkan? Bukankah itu juga sebuah pembelajaran?

Banyak hal yang sifatnya tematik yang dapat dikerjakan anak saat di rumah sebagai sebuah PR. Contoh mengamati suasana di pasar, maka tema tersebut akan terkait dengan cara menghitung, berkomunikasi, ekonomi, pendidikan moral, dan sebagainya. Si Anak juga tidak hanya bisa “calistung” tapi juga melatih pengamatan, nalar/pikir serta mengetahui bagaimana bertindak.

Untuk itu kepada guru juga orangtua agar tidak memaknai belajar hanya dalam bentuk menghafal ulang ataupun mengerjakan soal-soal latihan, namun praktik juga penting. Agar anak menjadi terlatih logikanya dan mandiri. Bukan menghilangkan PR sekolah berupa latihan soal-soal, tapi dikurangi porsinya dan diganti dengan PR berupa praktik langsung.

Mintalah kepada orangtua untuk selalu mendampingi selama anak mengerjakan tugasnya tersebut. Bila ada hal-hal yang belum bisa terjawab oleh orangtua, maka pertanyaan dapat dibawa ke sekolah keesokan harinya. Si Anak bisa belajar (tanpa ia sadari sesungguhnya ia sedang belajar) dan komunikasi dengan orangtua dapat terjalin. Semoga bermanfaat 🙂

*Penulis : Ailis Safitri (SD Muhammadiyah Macanan, Sleman)

16/04/2016 0 comments 665 views

Pelaksanaan Workshop Parenting Skill: Getting Closer To Your Children

 

Sabtu tanggal 16 April 2016 di Ruang G100 Fakultas Psikologi UGM Yogyakarta telah berlangsung acara workshop parenting skill: Getting Closer To Your Children dengan tema “Gadget”. Acara dimulai pukul 09.00 WIB dengan pembicara Dr. Neila Ramdhani, M.Si.,M.Ed.

 

Anak dan Gadget di Era Digital

 

Saat ini, Gadget diasosiasikan sebagai istilah produk-produk teknologi informasi seperti telepon genggam (HP), tablet, notebook, perangkat GPS, perangkat permainan (game player).

Indonesia sendiri telah menjadi Negara keempat di Asia yang paling tinggi dalam menggunakan internet dan menjadi Negara kedua terbesar dalam menggunakan facebook. Selain itu, sebanyak 4 juta penduduk Indonesia adalah pengguna Path serta pengguna media sosial lainnya yang juga sebagai salah satu fitur dalam gadget. termasuk juga game online dimana populasi tertinggi dalam menggunakan game online terletak di Jakarta dan Lampung.

 

Gadget dapat membuat anak menjadi kacanduan. biasanya anak-anak yang kecanduan gadget akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama gadget daripada berinteraksi dengan orang lain. kondisi tersebut menyebabkan seseorang kurang dalam bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain.

 

Dampak Positif dari Gadget:

1. Menambah pengetahuan tentang teknologi

2. mempermudah komunikasi terutama jarak jauh

3. memperluas jaringan pertemanan

4. sebagai hiburan

5. alat informatif

6. dapat menyimpan data.

 

Dampak Negatif dari Gadget:

1. efek radiasi yang mempengaruhi otak

2. rawan tindakan kejahatan

3. mengganggu perkembangan otak anak

4. menurunkan motivasi belajar anak

5. penyalahgunaan fitur

6. penurunan konsentrasi pada anak.

 

Jika ingin memperkenalkan gadget pada anak, beberapa ahli menyarankan sebaiknya mengenalkan fungsi dan operasi gadget pada anak saat usia 6 tahun. karena perkembangan anatomi otak anak sudah meningkat sebesar 95% otak dewasa.

 

Hal yang perlu diperhatikan:

1. penggunaan gadget harus sesuai dengan kebutuhan anak dan usia

2. perlu adanya kontrol waktu dari orang tua

3. penggunaan gadget berdasarkan manfaat

4. mengawasi adanya arus informasi dari gadget yang bersifat negatif

5. waspadai antisosial

6. waspadai adanya kecanduan.

13/04/2016 0 comments 752 views
Fakultas Psikologi UGM _ PSIKOLOGIA mempersembahkan acara Workshop Parenting : 
"GETTING CLOSER TO YOUR CHILDREN". Dalam Workshop tersebut, PSIKOLOGIA bekerjasama
dengan GSM sebagai Media Partner. Dalam workshop ini, kita bisa tahu bagaimana cara
membimbing anak dalam dunia internet dan cara menjauhkan anak dari bullying.

Melindungi anak-anak dari pengaruh buruk lingkungan membutuhkan strategi yang efektif. Menjadi orang dewasa yang berada di sekitar anak-anak adalah tantangan tersendiri. Isu mengenai bullying dan penggunaan gadget bagi anak menjadi hal penting yang perlu diperhatikan.

Berdasarkan data KPAI tahun 2011-2014, kasus bullying menduduki peringkat teratas pengaduan masyarakat dalam kategori kekerasan pada anak. Jumlahnya sekitar 25% dari total pengaduan di bidang pendidikan dari sebanyak 1.480 kasus yang dilaporkan. Sementara itu, penggunaan gadget yang kurang terkontrol memberi dampak negatif. Mulai dari bahaya radiasi terhadap mata, menurunnya tingkat produktivitas anak, kecanduan game, rentan terhadap pornografi dan kekerasan, sampai mengganggu konsentrasi anak dalam hal akademik. Lalu, bagaimana orang dewasa di sekitar anak berperan memberi perlindungan?

Magister Profesi Psikologi Klinis Fakultas Psikologi UGM mengadakan workshop parenting bertajuk “Getting Closer To Your Children”. Workshop akan diselenggarakan dalam dua hari, tanggal 16 April (Tema: Penggunaan gadget bagi anak) dan 17 April (Tema: Menghadapi bullying pada anak) 2016 di gedung G 100 Fakultas Psikologi UGM pukul 09.00-16.00. Workshop ditujukan untuk orangtua, guru, praktisi psikologi, dan akademisi.

Workshop mengenai penggunaan gadget akan menghadirkan pakar psikologi dan media, Dr. Neila Ramdhani M.Si, M.Ed, serta dokter spesialis tumbuh kembang anak. Materi diharapkan dapat meningkatkan pemahaman peserta mengenai perkembangan gadget, kasus gangguan kesehatan, adiksi pada gadget dan cara penangannya secara individu. Pemahaman terhadap dampak gadget pada kesehatan dan komunikasi keluarga diharapkan dapat meningkatkan keterampilan dalam mengatur penggunaan gadget secara efektif pada anak.

Sementara workshop mengenai bullying di sekolah akan menghadirkan pakar psikologi perkembangan, Dr. Maria Goretti Adiyanti, M.S, guru sekolah, serta mantan korban bullying. Materi akan difokuskan kepada meningkatkan pemahaman terhadap kasus bullying, penyebab, sampai dengan cara mengatasi kasus bullying pada anak.

Info lebih lanjut dan pendaftaran dapat menghubungi nomor 08561031266 dengan format: nama lengkap_instansi_pekerjaan_workshop gadget/bullying_no hp. Biaya pendaftaran ke nomor rekening 431666345 di bank BNI atas nama Arindah Arimoerti Dano. Konfirmasi pembayaran dapat dilakukan dengan mengirim bukti transfer ke psychologia101@gmail.com atau melalui sms/WA.

Poster Workshop Parenting
Poster Workshop Parenting
Loading...