Inspirasi Sekolah Menyenangkan

22/12/2016 0 comments 507 views

Gerakan Sekolah Menyenangkan dan Program BRIDGE Australia di Indonesia

Novi Candra (kiri), Muhammad Nur Rizal (keduanya dari GSM) dan Konsul Australia di Makassar Richard Mathews<br />Foto: Istimewa

Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) yang terinspirasi dari penyelenggaran pendidikan di Australia semakin banyak diminta menjelaskan konsep tersebut kepada berbagai kalangan pendidikan di Indonesia. Pendirinya Muhammad Nur Rizal baru-baru ini berbicara di Makassar (Sulawesi Selatan).

“Kerjasama di bidang pendidikan melalui program pertukaran guru seperti program Building Relationships through Intercultural Dialogue and Growing Engagement (BRIDGE) perlu diperluas kemanfaatannya.

Tidak hanya guru yang terlibat di program itu yang dapat merasakan kelebihan program ini melainkan seluruh warga sekolah termasuk siswa, guru lainnya hingga lingkungan di sekitarnya.

Jadi tidak cukup hanya membangun satu manusianya, namun diperlukan membangun ekosistem sekolahnya, “ungkapan yang saya kemukakan pada acara seminar yang diselenggarakan oleh Konsulat Jendral Australia di Makasar di depan alumni Autralia baik dosen, aktivis, guru program Bridge serta Dinas Pendidikan di Makassar (Sulawesi Selatan) baru-baru ini.

Sebagai Pendiri Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), kami diundang oleh Konsulat di Makasar untuk berbagi tips dan pengalaman bagaimana memulai perubahan di sekolah sekolah jejaring di Yogyakarta untuk membuat sekolah lebih menyenangkan dan memanusiakan seperti ajaran Ki Hadjar Dewantoro lalu.

Harapannya gerakan yang kami pelopori dapat menular di sekolah sekolah di Makassar.

 

“Seminar ini diselenggarakan dalam rangka menginisiasi program pengembangan untuk pendidikan dasar dan menengah di Makassar”, papar Konsul Jendral Richard Mathews, yang sebelumnya berprofesi sebagai guru bahasa Indonesia di Melbourne, saat membuka acara tersebut.

 

Dalam sambutannya disampaikan bahwa Konsulat yang baru diresmikan beberapa bulan lalu ini berkepentingan untuk memfasilitasi program pendidikan yang telah dirancang oleh pemerintah Australia dan Indonesia seperti Program Bridge untuk berkembang di Makasar.

Dalam paparan kami, saya mengajak peserta untuk menerapkan ilmu, pengalaman dan wawasan yang diperoleh selama di Australia kepada masyarakat atau lingkungan dimana mereka bekerja.

Bagi guru diharapkan mampu untuk membawa iklim atau lingkungan belajar yang positif dari Australia ke dalam pembelajaran di kelas atau sekolah.

Bagi dosen atau aktivis dapat mengaplikasikan berbagai filosofi dan teori baru ke dalam kurikulum kampus atau kegiatan pengabdian masyarakat.

Sedangkan bagi Dinas, untuk lebih terbuka dan mendukung berbagai ide perubahan yang dibawa oleh para alumni Bridge di Makassar.

Cara atau pendekatan itu akan memberikan kemanfaatan kepada masyarakat yang lebih luas.

 

Dengan semakin banyaknya masyarakat yang paham dan toleran atas kemajemukan kultur atau pola pikir yang berkembang, ini akan berguna untuk menjembatani hubungan antar warga atas berbagai kecurigaan atau ketidakpahaman yang terjadi selama ini.

 

Lebih luas, hal ini bermanfaat untuk memastikan kualitas hubungan Indonesia dan Australia yang kadang naik turun seperti permainan roller coster.

Selama sesi diskusi, banyak dari peserta yang menanyakan bagaimana memulai gerakan ini? apa hambatan dan tantangannya? serta bagaimana pendanaannya?

Kami bersama guru-guru di Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) memilih untuk berbuat melakukan pertukaran sistem dan praktik pendidikan yang telah dilakukan.

Sifatnya mutual dan melalui pendekatan bottom up dimana materi pelatihan didasarkan pada kebutuhan dan persoalan sehari-hari di kelas atau sekolah seperti kekerasan, bully, tidak fokus belajar hingga persoalan penerapan kurikulum 2013.

Indonesia bisa belajar dari sistem pendidikan Australia yang sudah ‘personalised learning‘ serta fit dengan tantangan perubahan kedepan, sedangkan Australia dapat belajar tentang ragam bahasa dan budaya Indonesia.

 

Yang kami lakukan tidak berhenti pada bertukar pengalaman dan pengetahuan saja, melainkan menerapkan sistem atau praktek pendidikan dari Australia ke dalam pembelajaran di kelas atau sekolah dengan konteks dan seting Indonesia.

 

Hal ini kami yakini selain dapat meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, juga efektif untuk membangun toleransi dan jembatan antarwarga kedua negara. Dampaknya tidak hanya bersifat personal melainkan lintas negara.

Agar gerakan ini terus berdampak nyata, setelah workshop kami mendorong dan memfasilitasi guru jejaring GSM untuk menyelenggarakan kelas berbagai praktek perubahan baik melalui tatap muka (offline) ataupun online menggunakan Whatsap atau Facebook.

Setiap perubahan yang dilakukan, kita apresiasi bersama dan dibagikan kepada publik atau guru guru lain untuk menginspirasi bagi yang belum berubah. Guru dapat saling menyampaikan masukan atau feedback untuk perbaikan kedepan sehingga proses evaluasi menjadi mudah dilakukan.

Muhammad Nur Rizal (kiri) dan Richard Mathews<br />Foto: Istimewa

Memberikan ruang kemerdekaan bagi untuk berinovasi

Selama pelatihan dan proses pendampingan, platform di gerakan kami adalah menggali inspirasi baru (mindset dan inovasi pembelajaran baru) dan memberikan ruang kemerdekaan bagi guru untuk berinovasi.

Saat pelaksanaan, perubahan didasari oleh semangat kolaborasi dan gotong royong bukan kompetisi antar sekolah seperti sekolah favorit atau non favorit, sekolah di kota atau desa.

Tidak ada dana khusus yang diperoleh dari institusi tertentu untuk memulai gerakan ini, melainkan hasil Crowd Funding, dimana setiap sekolah atau guru yang terlibat wajib mendanai dirinya sendiri.

Saat workshop berlangsung, tempat pelaksanaannya juga dilaksanakan secara bergiliran di sekolah yang berbeda.

Jikapun ada institusi atau pihak lain yang ingin menyumbang, sifatnya adhoc bukan utama.

Seketika peserta terhenyak, hening mendengar jawaban kami tentang gotong royong pendanaan ini.

Selalu saja jika kita berkata tentang perubahan, maka hambatannya adalah dana dan keterbatasan kondisi sekolah.

Padahal bukan itu. Perubahan adalah bagaimana kita melakukan satu hal kecil, namun tujuannya besar kemudian dibagikan untuk memberikan pesan bahwa perubahan itu dapat dilakukan. That is a change!

 

Kami juga mengingatkan, jika ingin berubah, bergaulah dengan kelompok.yang juga ingin perubahan agar selalu positif, optimis dan tak pernah merasa sendiri.

 

Di akhir sesi kami sampaikan bahwa jika Tujuan dan Skala Program Bridge diperluas seperti yang dilakukan di GSM, maka perubahannya akan dirasakan nyata oleh masyarakat luas.

Dan akan menjadi upaya konkrit dalam meningkatkan kualitas interaksi dan hubungan kedua warga negara.

 * Muhammad Nur Rizal PhD, Dosen Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan mendapat gelar PhD dari Monash University, Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan, sering diundang untuk sharing pengalaman kepada para alumni Australia yang diselenggarakan baik oleh Kedutaan Besar atau Konsulat Australia di Indonesia

Sumber: http://www.australiaplus.com/indonesian/studi-nad-inovasi/gerakan-gerakan-sekolah-menyenangkan-dan-program-bridge-austral/8138016

05/09/2016 0 comments 726 views

Penerapan Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM)  di beberapa sekolah di Yogyakarta telah dimulai dan telah merubah lingkungan di sekolah-sekolah tersebut. Banyak kepala sekolah dan guru yang baru mengetahui adanya cara belajar yang baru.

 

Berikut rekaman wawancara antara sbs dengan founder Gerakan Sekolah Menyenangkan Muhammad Nur Rizal, Ph.D terkait perkembangan penerapan konsep sekolah menyenangkan yang telah menghasilkan perubahan-perubahan di sekolah, seperti setting kelas, pelibatan secara aktif siswa, model belajar, dll.

 

Rekaman

 

Dalam wawancara tersebut  Muhammad Nur Rizal menjelaskan bahwa sekolah yang tergabung dalam jejaring GSM dapat dipantau/didampingi perubahannya melalui forum kunjungan di sekolah-sekolah dan juga forum group di WhatsApp (WA).

Kita menggunakan teknologi, karena kita pahami bahwa teknologi bisa melakukan penetrasi untuk media sosial baru. Dalam hal ini sekolah-sekolah, sehingga pendampingan yang kita lakukan kita diundang biasanya oleh sekolah itu untuk melihat dan mengunjungi perubahan-perubahan yang dilakukan kemudian kita memberikan masukan-masukan terhadap perubahan yang terjadi, itu pertama secara fisik.

Contoh yang dilakukan anak-anak di SD Negeri Tiimbulharjo di Yogyakarta dimana kelas mereka didesain untuk memiliki ruang bergerak dan berkolaborasi
Contoh yang dilakukan anak-anak di SD Negeri Tiimbulharjo di Yogyakarta dimana kelas mereka didesain untuk memiliki ruang bergerak dan berkolaborasi dalam sebuah project

Yang kedua dengan teknologi kita punya group WA yang kemudian kita dorong mereka men-sharing kan / meng-upload kan perubahan yang terjadi. Misalnya, ada sekolah yang tidak punya atap di kelasnya, kemudian anak-anak dan guru menaruh hasil kreasi project anak-anak di pojok-pojok kelas ataupun digantung di ruang ruang kelas yang tidak beratap. Kemudian mereka membuat target belajar sendiri. Mereka membuat bagaimana membuat anak-anak itu dibangun literasinya, dan banyak perubahan-perubahan lainnya. Dan itu kemudian menginspirasi sekolah-sekolah lain yang belum bergerak berubah untuk kemudian berubah.

Contoh setting kelas SD N Karangmloko 2
Contoh setting kelas SD N Karangmloko 2 beserta pajangan hasil karya anak di dinding kelas

Pendekatan kita , apresiasi inquiry approach, yakni kita mengapresiasi perubahan-perubahan yang terjadi dengan cara menselebrasi merayakan yang kemudian perubahan itu kita viralkan agar menjadi momentum perubahan yang besar. Jadi yang belum berubah tidak kita hukum, tidak kita coret dari sekolah jejaring, tapi kita tunggu untuk kita sadarkan bahwa ada komitmen (Muhammad Nur Rizal).

Contoh MI Muh Pengkol saat siswa memajang hasil karyanya di ruang-ruang atap
Contoh MI Muh Pengkol saat siswa memajang hasil karyanya di ruang-ruang atap

Untuk tanggapan siswa sendiri siswa merasa senang ketika ulangan diganti dengan projek tematik. Karena siswa lebih aktif dilibatkan, suasana lingkungan kelas sudah berubah sehingga lebih senang.

 

Sumber:

http://www.sbs.com.au/yourlanguage/indonesian/id/content/gerakan-sekolah-menyenangkan?language=id

03/09/2016 0 comments 504 views

Muhammad Nur Rizal adalah inisiator Gerakan Sekolah Menyenangkan dan baru-baru ini dia diundang ke Kedutaan Besar Australia di Jakarta untuk menjelaskan gerakan yang dibuatnya tersebut, dan bertukar pikiran dengan para pegiat dan pemerhati pendidikan.

Sudah dua kali saya diundang di Kedutaan Besar Australia di Jakarta dalam Program “Principle Leture Series” untuk bertukar pengetahuan dan pengalaman praktik sekolah yang menyenangkan dan aman kepada puluhan Kepala Sekolah, Pengawas serta Aktivis LSM Pendidikan di Jakarta.

Pada acara ini juga mengundang Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Komisi Perlindungan Anak Indonesia dan Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), gerakan akar rumput yang terinspirasi nilai-nilai sekolah Australia yang sejalan dengan Ajaran Ki Hadjar Dewantoro untuk diterapkan di Indonesia.

Sekitar dua puluh lebih sekolah dasar di Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi piloting sekolah jejaring GSM

Contoh yang dilakukan anak-anak di SD Negeri Tiimbulharjo di Yogyakarta dimana kelas mereka didesain untuk memiliki ruang bergerak dan berkolaborasi
Contoh yang dilakukan anak-anak di SD Negeri Tiimbulharjo di Yogyakarta dimana kelas mereka didesain untuk memiliki ruang bergerak dan berkolaborasi

Acara di Kedutaan Besar Australia di Jakarta ini mendapatkan tanggapan yang positif dari peserta. Berbagai pertanyaan yang diajukan menunjukkan ketertarikan mereka dengan isu yang dibahas.

Besarnya animo peserta oleh karena materi yang disampaikan sangat relevan dengan persoalan kekerasan atau bulying yang terjadi di sekolah-sekolah mereka.

Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebutkan bahwa lebih dari 80 persen anak di Indonesia mengalami kekerasan atau bullying.

Data serupa dilaporkan oleh Lembaga PLAN yang dirilis awal Maret 2015 menunjukkan fakta mencengangkan bahwa 84 persen anak di Indonesia mengalami kekerasan di sekolah.

Para peserta yang notabene adalah pendidik atau aktivis cukup terkejut dengan data kekerasan yang disampaikan oleh Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia yang turut menjadi pembicara.

Peserta mempertanyakan tindakan revolusioner apa yang harus dilakukan oleh bangsa ini untuk memutus mata rantai kekerasan di sekolah itu?

Pembicara lain dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI menjelaskan bahwa Pemerintah telah meluncurkan berbagai peraturan untuk menciptakan ekosistem sekolah yang kondusif, yakni Peraturan Mentri (Permen) Nomor 23/2015 tentang Program Penumbuhan Budi Pekerti dan Permen nomor 18 tahun 2016 tentang Program Pengenalan Lingkungan Sekolah untuk mengganti kegiatan ‘masa orientasi sekolah’ yang ditengarai sarat kekerasan oleh Kakak Senior kepada siswa baru.

“Kita menginginkan hal-hal praktis yang mudah dilakukan oleh guru dan siswa secara luas”  tanggap peserta diskusi.

SD Muhamadiyah Sidoarum di Yogyakarta menghargai keunikan dan bakat anak di kelas 6.
SD Muhamadiyah Sidoarum di Yogyakarta menghargai keunikan dan bakat anak di kelas 6.

Sebagai pembicara terakhir, saya menangkap keinginan kuat guru untuk merubah pola pendidikan yang selama ini terlalu menekan siswa yang berakibat pada maraknya kekerasan.

Indonesia memang sedang menghadapi peningkatan kekerasan akibat lunturnya sikap keberagaman dan kelenturan masyarakat terkait kompleksitas dan tekanan sosial saat ini.

Lembaga UNICEF PBB menyebutkan bahwa satu dari tiga anak perempuan atau satu dari empat anak laki-laki Indonesia mengalami kekerasan. Walaupun data ini tidak menggambarkan potret sesungguhnya, namun tren angkanya masih lebih tinggi dibandingkan di Asia.

“Dalam Gerakan Sekolah Menyenangkan ada beberapa prinsip dan praktik yang dapat membantu sekolah untuk mengurangi kekerasan dengan menciptakan budaya pembelajaran yang positif dan menyenangkan” jawab saya kepada peserta.

Prinsip pertama adalah menciptakan  ruang fisik dan emosi yang seimbang.

 

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Gerakan Sekolah Menyenangkan oleh Novi Candra, Dosen Psikologi UGM (Kandidat PhD di Universitas Melbourne) menyatakan bahwa ruang kelas yang kaku, kamar mandi yang kotor dan berbau, lorong yang gelap dan minimnya tempat bermain adalah faktor utama yang membuat anak tidak betah di sekolah.

 

Menurut penelitian tersebut, sering dijumpai bahwa kekerasan pada umumnya dilakukan di tempat-tempat yang gelap dan terpencil di sekolah. Jauh dari pengawasan guru atau orang tua seperti di kamar mandi, lorong sekolah atau kebun belakang sekolah.

Sehingga sekolah di jejaring GSM didorong untuk mendisain ulang lorong dan tempat bermain yang dimilikinya menjadi tempat untuk memajang hasil kreasi belajar anak-anak. Sehingga tempat itu menjadi lebih ramai dan meriah agar tidak lagi digunakan untuk melakukan tindakan kekerasan.

Ketika kamar mandi lebih bersih dan wangi, anak-anak tidak ragu untuk membersihkan diri mereka selama di sekolah. Dan ketika ruang kelasnya lebih dinamis dan memiliki ruang bergerak yang cukup, maka anak-anak akan lebih betah belajar karena kelasnya seolah menjadi rumah kedua mereka.

Prinsip kedua adalah membangun keterlibatan siswa (Student Engagement) dalam proses belajar akan menumbuhkan rasa kepemilikan dan tanggungjawab anak-anak selama di kelas atau sekolah.

Ketika anak dilibatkan dalam membuat berbagai kesepakatan belajar hingga membuat tata aturan kelas atau sekolah, anak-anak merasa dihargai sebagai warga komunitas sekolah. Peran mereka tidak lagi hanya sebagai “obyek” melainkan pelaku utama (subyek) di sekolah.

Anak-anak juga dilatih untuk menerapkan model konsekuensi – apresiasi bagi mereka yang melanggar atau mentaati kesepakatan.

*Tulisan ini merupakan pendapat pribadi. Muhammad Nur Rizal Alumni PhD Monash Australia dan Inisiator Gerakan Sekolah Menyenangkan.

Sumber:

Australiaplus.com

22/08/2016 0 comments 549 views

Kolaborasi Siswa Aktif

Oleh: Ailis Safitri

Pembelajaran kolaborasi (Collaborative Learning) merupakan model pembelajaran yang menerapkan paradigma baru dalam teori-teori belajar. Pendekatan ini dapat digambarkan sebagai sebuah model pembelajaran dengan menumbuhkan siswa secara aktif untuk bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil dalam mencapai tujuan bersama.

Foto: SD Muhammadiyah Macanan - penerapan model pembelajaran kolaborasi
Foto: SD Muhammadiyah Macanan – penerapan model pembelajaran kolaborasi

Pendekatan kolaborasi bertujuan agar siswa dapat membangun pengetahuannya melalui dialog, saling membagi informasi sesama siswa dan guru sehingga siswa dapat meningkatkan kemampuan mental pada tingkat tinggi. Model ini digunakan pada setiap mata pelajaran terutama yang mungkin berkembang sharing of information di antara siswa.
Hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan belajar kolaboratif, para siswa bekerja sama menyelesaikan masalah yang sama, dan bukan secara individual menyelesaikan bagian-bagian yang terpisah dari masalah tersebut. Dengan demikian, selama berkolaborasi para siswa bekerja sama membangun pemahaman dan konsep yang sama menyelesaikan setiap bagian dari masalah atau tugas tersebut.

Foto: SD Muhammadiyah Macanan - penerapan model pembelajaran kolaborasi
Foto: SD Muhammadiyah Macanan – penerapan model pembelajaran kolaborasi

Dari sudut pandang ini, model belajar kolaboratif menjadi efisien karena setiap siswa dituntut untuk berfikir secara interaktif. Para ahli berpendapaat bahwa berfikir bukanlah sekedar memanipulasi objek-objek mental, melainkan juga interaksi dengan orang lain dan dengan lingkungan. Dalam kelas yang menerapkan model kolaboratif, guru membagi otoritas dengan siswa dalam berbagai cara khusus. Guru mendorong siswa menggunakan pengetahuan mereka, menghormati rekan kerjanya dan memfokuskan diri pada pemahaman tingkat tinggi.

Foto: SD Muhammadiyah Macanan - penerapan model pembelajaran kolaborasi
Foto: SD Muhammadiyah Macanan – penerapan model pembelajaran kolaborasi

Peran guru dalam model pembelajaran kolaboratif adalah sebagai mediator. Guru menghubungkan informasi baru terhadap pengalaman siswa dengan proses belajar di bidang lain, membantu siswa menentukan apa yang harus dilakukan jika siswa mengalami kesulitan dan membantu mereka belajar tentang bagaimana caranya belajar. Lebih dari itu, guru sebagai mediator menyesuaikan tingkat informasi siswa dan mendorong agar siswa memaksimalkan kemampuannya untuk bertanggung jawab atas proses belajar mengajar selanjutnya.

Foto: SD Muhammadiyah Macanan - penerapan model pembelajaran kolaborasi
Foto: SD Muhammadiyah Macanan – penerapan model pembelajaran kolaborasi

Kini belajar di sekolah menjadi lebih mudah, menggembirakan, asyik dan keren. Itulah metode pembelajaran yang tengah dikembangkan di Sekolah Dasar Muhammadiyah Macanan.

  

Penulis:

Ailis Safitri

Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Macanan, Sleman (sekolah dalam jaringan GSM)

09/05/2016 0 comments 1264 views
Berikut merupakan tulisan dari ibu Ailis Safitri dari SD Muhammadiyah Macanan
Sleman yang merupakan salah satu sekolah dalam jaringan GSM.
Beliau berbagi pengalaman mengenai PR yang sering diberikan guru kepada siswanya.

13095771_1174752359221660_884549048293011474_n

PR KREATIF ABAD 21
Oleh Ailis Safitri

Saat anak lelah pulang sekolah lalu dilanjutkan dengan les ini itu, apa yg diharapkan guru untuk dilakukan seorang peserta didik di rumah? Ya, terkadang guru masih membebankan pekerjaan rumah (PR) dengan alasan agar si anak mau belajar. “Kalau tidak diberi PR, maka anak akan malas belajar di rumah…,” demikian komentar guru pada umumnya.

PR nya berupa mengulang pelajaran di sekolah (biasanya membaca dan menghafal), atau mengerjakan soal-soal di buku latihan, semuanya berkait dengan baca, tulis dan hitung. Sesungguhnya ada beberapa metode belajar di rumah untuk mengulang pelajaran di sekolah melalui bertutur atau bercerita (menceritakan kembali pelajaran yang ia terima di sekolah).

Penting ya mengulang kembali pelajaran di sekolah saat di rumah? Ya memang penting, namun jika itu saja yang diberikan maka si anak bisa jenuh atau bosan. Pengetahuan tidak hanya baca, tulis dan hitung dalam buku pelajaran, tapi juga bisa mengamati dan melakukan sesuatu. Sebagai contoh, si anak diberi PR untuk memperhatikan ibu memasak, jika ingin membantu boleh juga.

Saat di sekolah si anak diminta untuk bercerita pengalamannya mengamati ibu memasak, apa nama masakannya, apa saja bumbu yang digunakan, apa saja bahan masakannya, bagaimana cara memasaknya. Maka jadilah resep versi anak melalui sebuah pengamatan. Ia juga diperkenankan memberi tanggapan atau pendapat terhadap masakan ibunya tersebut.

Atau saat hari libur, mintalah si anak untuk ikut ibunya belanja ke pasar. Atau bisa juga mengamati dan membantu ayah mencuci kendaraan. Orangtua mengajak diskusi beberapa hal yang tidak dimengerti anak. Kemudian si anak akan menceritakan kembali pengalamannya tersebut dan tanyakan pelajaran penting apa yang ia dapatkan? Bukankah itu juga sebuah pembelajaran?

Banyak hal yang sifatnya tematik yang dapat dikerjakan anak saat di rumah sebagai sebuah PR. Contoh mengamati suasana di pasar, maka tema tersebut akan terkait dengan cara menghitung, berkomunikasi, ekonomi, pendidikan moral, dan sebagainya. Si Anak juga tidak hanya bisa “calistung” tapi juga melatih pengamatan, nalar/pikir serta mengetahui bagaimana bertindak.

Untuk itu kepada guru juga orangtua agar tidak memaknai belajar hanya dalam bentuk menghafal ulang ataupun mengerjakan soal-soal latihan, namun praktik juga penting. Agar anak menjadi terlatih logikanya dan mandiri. Bukan menghilangkan PR sekolah berupa latihan soal-soal, tapi dikurangi porsinya dan diganti dengan PR berupa praktik langsung.

Mintalah kepada orangtua untuk selalu mendampingi selama anak mengerjakan tugasnya tersebut. Bila ada hal-hal yang belum bisa terjawab oleh orangtua, maka pertanyaan dapat dibawa ke sekolah keesokan harinya. Si Anak bisa belajar (tanpa ia sadari sesungguhnya ia sedang belajar) dan komunikasi dengan orangtua dapat terjalin. Semoga bermanfaat 🙂

*Penulis : Ailis Safitri (SD Muhammadiyah Macanan, Sleman)

02/03/2016 0 comments 638 views

Kunjungan Yuna Puteri Kadarisman ke Clayton North Primary School (CNPS) dalam rangka Program Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) yaitu School Visit bagi mahasiswa Master Indonesia di Melbourne. Dengan tujuan untuk belajar tentang suasana belajar yang menyenangkan di Australia.

Beliau bertemu dengan Shaun (Student Well-Being Officer) dan berdiskusi tentang rumah pohon. Rumah pohon ini adalah sarana untuk menyalurkan emosi  (channel down emotion) para siswa ketika mereka merasa bosan atau memiliki masalah perilaku di kelas.

 

Ketika pertama kali melihat halaman belakang Clayton North Primary School (CNPS), saya berpikir saya datang ke tempat pembuangan sampah besar. Kayu berserakan, bekas-bekas galian disana sini, rumah burung yang setengah di cat, tempat penyimpanan alat-alat (tool shed) yang berwarna-warni namun sebagian belum sempurna dikerjakan, dan sebuah rumah pohon yang melingkari sebuah pohon besar. Rumah pohon ini tampak baru dan sangat rapi dibandingkan dengan keadaan disekitarnya.

Pak Shaun, Social Worker @ CNPS
Pak Shaun, Social Worker @ CNPS

Pak Shaun, Student Well-Being Officer, bercerita kalau dia dan siswa-siswa kelas 4,5, dan 6 membangun rumah pohon ini bersama-sama. Rumah pohon ini adalah sarana untuk menyalurkan emosi (channel down emotion). Saat ada siswa yang merasa bosan dikelas, mereka akan diminta untuk membantu membangun rumah pohon ini. Saat ada siswa yang memiliki masalah perilaku dikelas, mereka juga akan dikirim kemari untuk melepaskan emosi mereka sambil membantu memasang bilah-bilah kayu yang menyusun rumah pohon ini. Bahkan, saat jam istirahat sekolah, beberapa dari siswa-siswa CNPS juga memilih untuk kemari dan mengerjakan rumah pohon mereka.

tree house
tree house

Saya bisa membayangkan, perasaan marah berubah menjadi semangat karena merasa menghasilkan sesuatu. Atau rasa bosan yang berubah menjadi ingin tahu ketika harus memastikan kayu dengan ukuran yang sesuai ditempatkan ditempat yang sesuai. Dan saat semua sudah selesai, saya juga bisa membayangkan rasa bangga dan ‘sense of accomplishment’ yang muncul terutama saat melihat banyak teman-teman lain menikmati hasil karya saya, rumah pohon.

Mungkin disekolah kita tidak ada pohon yang cukup besar, atau membuat rumah pohon akan memakan biaya yang tidak sedikit. Namun, kita masih bisa melakukan project lainnya yang serupa, seperti membuat taman, mempercantik sekolah, atau memperindah perpustakaan. Sebuah catatan yang harus diperhatikan adalah tentang masalah keselamatan. Pastikan kegiatan ini tidak melibatkan hal-hal yang membahayakan dan pastikan ada guru atau petugas khusus yang senantiasa membantu mengawasi siswa saat mereka berkegiatan.

 

*Tulisan ini adalah pendapat pribadi. Yuna Puteri Kadarisman , MAN Insan Cendekia Serpong

22/02/2016 0 comments 1373 views
Berikut merupakan tulisan dari Ibu Yuna Puteri Kadarisman berdasarkan pengalaman saat malaksanakan penelitian di SD Muhammadiyah Macanan, Sleman dan SDN Babarsari, Yogyakarta.

 

            Bulan Januari 2016 yang lalu saya berkesempatan untuk mengunjungi dua sekolah dalam jaringan Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM). SD Muhammadiyah Macanan, Sleman dan SDN Babarsari, Yogyakarta.  Kedua sekolah ini begitu berbeda, namun memiliki semangat yang sama, berusaha membuat lingkungan sekolah menjadi tempat yang menyenangkan bagi siswa-siswanya.

SD Muh Macanan
SD Muh Macanan

            SD Muhammadiyah Macanan, yang merupakan SD swasta, mencoba menciptakan suasana menyenangkan melalui lingkungan sekolah yang menyenangkan. Ruang kelas dan lingkungan sekolah di beri warna-warna menarik bukan hanya menyenangkan namun juga mengundang rasa ingin tahu. Setiap kelas mendapat sentuhan yang berbeda. Kelas 1 dan 2 memiliki perpustakaan mini di belakang kelas yang menyediakan buku-buku bacaan bagi siswa di kelas. Kelas 3 sampai kelas 6 sudah mulai dihiasi dengan kreatifitas penghuni kelas. Ada hiasan di kaca, hingga tulisan ringan tentang cita-cita semasa dewasa.

SD Macanan
SD Muh Macanan

            Berbeda dengan SD Muhammadiyah Macanan, SDN Babarsari lebih mengedepankan aktifitas di kelas untuk menciptakan suasana menyenangkan. Salam ‘tos’ yang berbeda dilakukan antara guru dan murid tanpa terkecuali. Hal ini membawa semangat tersendiri bagi setiap siswa yang datang ke sekolah. Selain itu, beberapa kelas yang saya kunjungi melibatkan banyak kegiatan yang menuntut siswa untuk aktif berpartisipasi. Di kelas 1 yang sedang membuat kebun binatang dari bahan lilin, sesekali mereka berhenti untuk bernyanyi agar senantiasa bersemangat. Di kelas 3 yang sedang belajar tentang perkembangan tumbuhan, mereka sibuk menyiapkan pot-pot untuk langsung menanam aneka biji yang sudah mereka siapkan dari rumah.

            Apapun bentuknya, atau pendekatannya, saya sangat menghargai semangat kedua sekolah ini untuk menciptakan sekolah sebagai lebih dari sekedar tempat menimba ilmu, namun juga sebagai rumah kedua yang menyenangkan.

 

Regards,

Yuna Puteri Kadarisman

MAN Insan Cendekia Serpong

Jl. Cendekia, sektor XI, BSD, Serpong, Tangerang Selatan
15310

01/02/2016 0 comments 1548 views

Menciptakan sekolah yang aman, nyaman, dan disiplin sangatlah penting agar siswa dapat mencapai prestasi yang terbaik dan guru dapat menampilkan kinerja yang terbaik. Untuk menciptakan kondisi yang baik sangat diperlukan perhatian, kepedulian, dan kerjasama dari semua elemen (stake holder)  yang ada, mulai dari pimpinan/kepala sekolah, guru, siswa, orang tua, komite sekolah, dan masyarakat sekitar sebagai pendukung pendidikan. Semua elemen ini bertanggungjawab menciptakan suasana yang aman, nyaman dan efektif bagi terlaksananya pendidikan yang baik. Dalam hal ini pembelajaran akan sukses bila suasana sekolah aman,nyaman dan tertib.

Berikut cara menciptakan sekolah aman, nyaman, dan efektif:

  1. Meningkatkan keamanan lingkungan fisik sekolah

Untuk meningkatkan keamanan sekolah, upaya harus difokuskan pada bangunan fisik sekolah, tata letak dan kebijakan dan prosedur yang ada untuk melaksanakan kegiatan sehari-hari dan menyelesaikan masalah yang mungkin timbul. Bangunan sekolah, kelas, ruang lab, kantor, perpustakaan, lapangan olah raga dan halaman sekolah harus direview. Selain itu, berbagai kebijakan dan prosedur juga akses masuk sekolah harus dinilai kembali. Penggunaan teknologi untuk mencegah orang masuk penyusup masuk dari luar seperti alarm, pagar, teralis harus dipertimbangkan.

 

  1. Meningkatkan disiplin siswa

Disiplin menurut paradigma baru adalah langkah-langkah atau upaya yang perlu guru, kepala sekolah orang tua dan siswa ikuti untuk mengembangkan keberhasilan prilaku siswa secara akademik maupun sosial. Jadi disiplin dianggap sebagai alat untuk untuk menuju keberhasilan untuk semua guru, dan semua siswa di berbagai situasi.

 

  1. Menghilangkan hukuman fisik dan merendahkan oleh guru terhadap siswa

Siswa memang perlu belajar untuk disiplin terutama disiplin diri. Akan tetapi untuk mengajarkan disiplin tersebut bukan dengan cara memberikan hukuman fisik dan hukuman merendahkan karena hukuman ini terbukti tidak efektif untuk menegakkan disiplin. Sebaiknya guru menasehati atau memberitahu dan menjelaskan kepada siswa kesalahan apa yang telah mereka lakukan bukan dengan cara memberi hukuman fisik atau hukuman merendahkan.

 

  1. Menghilangkan kekerasan terhadap siswa yang lebih lemah di sekolah

Kekerasan terhadap siswa yang lebih lemah (bullying) adalah suatu situasi dimana seorang siswa atau lebih secara terus menerus melakukan tindakan yang menyebabkan siswa lain menderita. Agar kekerasan terhadap siswa yang lebih lemah ini tidak terjadi maka perlu dibuat aturan sekolah untuk melindungi siswa korban kekerasan.

Strategi anti kekerasan terhadap siswa yang lebih lemah antara lain:

 

  • Pencegahan

Pencegahan preventif diintegrasikan dalam semua kurikulum mata pelajaran, termasuk hubungan, tanggung jawab, dan akibat negatif dari kekerasan.

  • Dukungan antar teman
  • Prosedur yang jelas

Prosedur untuk menyampaikan keluhan tindakan kekerasan antar teman harus tersedia, misalnya kepada unit bimbingan dan konseling, atau konseling antar teman.

 

  • Promosi

Promosi ini dapat berupa leaflet, poster, laporan berkala dan bentuk penerbitan lain yang berisi kebijakan anti kekerasan sekolah.

Sumber di sini

Loading...