good things

25/08/2015 0 comments 1000 views

Masa kejayaan dunia catur terjadi pada tahun 80-an. Saat itu, banyak grandmaster catur handal yang bermuculan dan meraih berbagai prestasi. Namun pamor catur mulai meredup setelah kekalahan Garry Kasparov dari sebuah komputer IBM bernama Deep Blue. Walaupun begitu, dunia catur di Indonesia masih terus melahirkan grandmaster muda. Salah satunya adalah Medina, gadis cerdas lulusan SMA Negeri I Bekasi, Jawa Barat. Pada usia yang sangat muda, ia berhasil meraih prestasi yang membanggakan bangsa.

Keberhasilan terbesar Media terjadi dua tahun lalu, ketika usianya baru menginjak 16 tahun 2 bulan. Pecatur bernama lengkap Medina Warda Aulia ini berhasil meraih gelar grandmaster perempuan termuda di Indonesia. Gelar tersebut didapatkan Medina setelah mengalahkan pecatur Rusia, Lanita Stesko, dalam kejuaraan catur junior dunia di Turki tahun 2013 lalu. Dalam wawancara khusus dengan BBC Indonesia, Minggu (26/4), Medina berkata bahwa ia merasa sangat bangga dengan prestasinya. Dari sekian banyak pecatur di Indonesia, baru dua orang yang meraih gelar grandmaster perempuan, dan dirinyalah yang termuda.

sumber: www.lensaindonesia.com
sumber: www.lensaindonesia.com

Pada usia sekitar sembilan tahun, Medina mengenal catur melalui sosok ayahnya, Nur Muchlisin. Ia dikenal menggilai permainan catur secara turun-temurun. Namun menurut Nur, pada awalnya ia tidak mengarahkan Media untuk bermain catur. Ketertarikan anaknya pada permainan itu berawal dari rasa penasaran.

Suatu saat, Medina kecil melihat sang ayah asyik bermain catur dengan teman sekantornya. Setelah memerhatikan keduanya memainkan bidak-bidak catur, sebuah pertanyaan polos pun meluncur dari mulut Medina, “Ini apa Ayah?” Medina menunjuk bidak catur berbentuk kepala kuda. Pertanyaan kedua, ketiga, dan keempat pun meluncur. Semuanya berangkat dari rasa ingin tahu sang bocah.

Nur berusaha menimpali rasa penasaran Medina dengan jawaban yang menarik. Ia bercerita pada anaknya, “Ini tentara berkuda zaman dulu, kalau yang ini tentara bergajah. Ini adalah suatu kerajaan di mana para tentara melindungi sang raja untuk menghancurkan lawan.” Dari momen ketertarikan itulah, sang ayah mendorong dan membimbing Medina belajar bermain catur.

Tahun demi tahun dilalui Medina dengan belajar dan berlatih. Kini, ia merupakan salah satu pecatur terbaik Indonesia dengan segudang prestasi di tingkat nasional, regional, maupun dunia. Semenjak menjuarai kejuaraan daerah catur se-Jakarta pada 2006, Medina  telah meraih lebih dari 20 trofi kejuaraan catur bergengsi tingkat dunia dan regional. Selain menjadi Grandmaster termuda di Indonesia, Medina juga berhasil memecahkan rekor MURI dengan mengalahkan 650 pecatur dalam kompetisi secara online. Pertandingan Indosat Grand Master Chess Match dengan 650 pecatur melawan Medina ini didaftarkan ke Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai rekor dunia. Bahkan, gadis ini mendapat penghargaan Satya Lancana Wira Karya dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2008 lalu.

Menurut gadis kelahiran Jakarta, 7 Juli 1997 ini, catur adalah permainan yang unik. Kecintaannya pada dunia catur ikut pula membentuk karakternya dalam menjalani kehidupan keseharian. Misalnya saja jika hendak mengambil langkah, ia memikirkan efek yang akan ditimbulkan. Ia juga memiliki filosofi tertentu dalam bermain catur. “Permainan catur itu seperti seni. Jadi kita berkreasi dan berkarya dengan langkah maupun pemikiran kita,” tuturnya.

 

disadur dari isigood.com

20/08/2015 0 comments 949 views

Mencoba mendudukkan kembali apa bedanya ‘Mendidik’ dan ‘Mengajar’, dan apa ukuran kesuksesan dan kebahagiaan seorang guru/dosen.

Bila kesuksesan adalah tujuan para guru….

Bila kebahagiaan adalah tujuan para guru….

Maka…

Patut dikhawatirkan … BANGSA INI TIDAK AKAN MENDAPATKAN GENERASI YANG SUKSES DAN BAHAGIA.

Karena yang dikejar adalah kesuksesan diri …

Kesuksesan guru/dosen yang diukur dengan aturan-aturan administratif…

yang lebih banyak mengatur tentang kenaikan pangkat guru/dosen …

Apakah ini yang menjadi patokan para guru/dosen untuk memperoleh kebahagiaan?

sumber: www.huffingtonpost.com
sumber: www.huffingtonpost.com

Kesuksesan seorang GURU/DOSEN dan kebahagiaan seorang GURU/DOSEN adalah ketika mampu menghasilkan sebanyak mungkin ANAK-ANAK DIDIK yang sukses dan bahagia. Maka akan menghasilkan kesuksesan dan kebahagiaan bagi BANGSA.

Jadi fokusnya adalah bukan seorang guru/dosen berhasil mencapai derajad kesuksesan administratif, misalnya jabatan dan pangkatnya tinggi. Namun lebih bagaimana mampu memberikan SURI TAULADAN dan INSPIRASI kepada anak-anak didiknya.

Kesuksesan bukan karena diberi, kebahagiaan juga bukan karena kemauannya dituruti. Keteladanan adalah karakter guru. Sukses dan kebahagiaan anak didik adalah kesuksesan dan kebahagiaan seorang guru.

Jika sang guru/dosen sukses dan bahagia bukan karena dasar kesuksesan dan kebahagiaan yang diraih oleh anak didiknya, maka dia tidak lebih sebagai seorang PENGAJAR. Seorang Pengajar itu ibarat tap (kran), sementara pipa-pipa adalah lembaga pendidikan itu sendiri. Pengajar punya KUASA untuk “mengatur” aliran pengetahuan itu.

Apakah karena gaji, insentif dan banyak pemberian oleh Pemerintah/banyak pihak yang selama ini diberikan membuat guru sukses dan bahagia? Mungkinkah itu bentuk kebohongan dalam fatamorgana? Sawang sinawang.

 

Disadur dan dikembangkan dari kutipan Gede Bayu Suparta, staf pengajar Fakultas MIPA UGM.

Artikel asli dapat dilihat di sini,

24/07/2015 0 comments 946 views

Beberapa waktu lalu, sebuah perusahaan makanan cepat saji asal Amerika, Burger King, manyatakan menghapus minuman bersoda (soft drink) dari menu untuk anak. Kebijakan itu diambil karena desakan untuk mengurangi kadar pemanis dalam minuman soda yang diminum anak.

Tak mau ketinggalan dari pesaing beratnya, McDonald’s, pihak Burger King mengatakan menu anak-anak di gerainya akan terdiri dari jus apel, susu tanpa lemak, atau susu cokelat rendah lemak. “Kami sudah menghapus mesin minuman soda dari papan menu anak dan itu juga tak lagi jadi bagian dari hadiah untuk menu anak,” kata perusahaan tersebut dalam pernyataannya.

Kebijakan ini sangat didukung oleh salah satu kelompok advokasi pola makan sehat untuk anak, yaitu The Center for Science in the Public Interest. Mereka sangat pro pada keputusan Burger King, yang melayani sekitar 11 juta orang setiap harinya di 13.000 restoran dan outlet di seluruh dunia.

“Soda dan minuman manis memicu diabetes, kerusakan gigi, obesitas, bahkan penyakit jantung. Seharusnya minuman itu tak ada dalam menu untuk anak kecil. Kami memuji Burger King untuk mengambil langkah ini dan berharap cabang-cabagnya juga mengikuti,” katanya.

Selain McDonalds yang telah melakukan langkah serupa di tahun 2013, restoran cepat saji lainnya, Wendy’s juga melakukannya di bulan Januari tahun ini.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga telah menyerukan untuk pengurangan konsumsi gula tambahan dalam makanan, terutama dalam minuman. Menurut WHO, orang dewasa dan anak harus mengurangi asupan gula sekitar 10 persen dari asupan energi harian.

“Pengurangan gula di bawah 5 persen atau sekitar 25 gram (6 sendok teh) perhari akan memberi manfaat menyehatkan,” katanya.

Butuh Jalan Kaki 42 Menit Untuk Bakar Kalori Sebotol Soft-drink

Pernahkah Anda memperhatikan jumlah kalori yang tercantum dalam kemasan makanan maupun minuman? Informasi jumlah kalori ini bermanfaat untuk Anda yang ingin membakar kalori. Bahkan sebaiknya dalam kemasan tersebut juga dicantumkan berapa lama harus beraktivitas fisik untuk membakar kalori tersebut.

Kandungan kalori minuman bersoda

Dalam botol minuman bersoda 500 ml, misalnya, mengandung 210 kalori. Untuk membakar kalori dari asupan minuman bersoda itu, Anda bisa berlari sejauh 4,2 mil atau berjalan kaki selama 42 menit untuk membakar kalori.

Para peneliti dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health di Baltimore menemukan bahwa para remaja yang diberikan informasi mengenai kalori dan cara membakar kalori akan memilih minuman sehat atau botol soda yang lebih kecil.

Para ilmuwan ini juga menyarankan pemberian informasi gizi tersebut kepada restoran cepat saji. Misalnya, restoran tersebut memberikan informasi bahwa jika memakan burger keju ukuran besar, Anda harus berjalan sejauh 5,6 mil untuk membakar kalori. Maka, konsumen akan memilih hamburger yang lebih kecil dan hanya membutuhkan berjalan 2,6 mil.

Hasil penelitian yang dipublikasikan American Journal of Public Health menunjukkan, informasi kalori selalu diabaikan banyak konsumen. Mereka pun tidak mengerti jika hanya terdapat informasi kalori yang terkandung di dalam makanan atau minuman tersebut.

“Penelitian yang kami temukan, jika dijelaskan mengenai kalori dan dengan cara yang mudah dimengerti seperti berapa mil harus berjalan untuk membakar kalori itu, maka dapat mendorong perubahan perilaku,” sebut penelitian itu.

Penelitian ini telah dilakukan terhadap enam toko di Baltimore yang menyajikan informasi lengkap dalam 590 ml minuman bersoda. Informasi itu berisi, jika ingin membakar 250 kalori dalam tubuh, dibutuhkan berjalan kaki selama 50 menit atau 5 mil.

Hasilnya, para konsumen yang umumnya kaum muda akhirnya membeli minuman yang lebih sehat dan dengan kalori yang lebih sedikit. Para peneliti mengatakan, mengurangi konsumsi minuman dengan kalori tinggi seperti minuman manis akan mencegah obesitas dan menurunkan berat badan.

Para ilmuwan di University of North Carolina menemukan bahwa informasi ini dapat membuat seseorang memilih makanan yang lebih sehat pada menu di restoran.

“Kami percaya bahwa dengan menampilkan label informasi tentang aktivitas fisik, memungkinkan seseorang untuk lebih memilih makanan dengan kalori yang lebih rendah,” ujar Profesor Anthony Viera dari University of North Carolina.

 

disadur dari isigood.com

Baca juga: Tips Menyiapkan Bekal Makanan Anak

23/07/2015 0 comments 718 views

Fakultas Pendidikan Monash University, Melbourne menyatakan kesediaannya untuk membantu mengembangkan modul sekolah menyenangkan sehingga metode pendidikan ini bisa diterapkan lebih sistematis di Indonesia.

Pernyataan Monash University ini disampaikan Dekan Fakultas Pendidikan Prof John Loughran yang bertemu dengan tim Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) baru-baru ini di kampus Monash di Clayton, Melbourne.

Tim GSM adalah para mahasiswa pasca-sarjana asal Indonesia yang sekarang sedang atau baru saja menyelesaikan pendidikan mereka di Australia.

Tim ini sebelumnya sudah menjalankan berbagai pelatihan di beberapa sekolah di Indonesia, khususnya di Yogyakarta dengan menggandeng SD Clayton North Primary School untuk memberikan contoh bagaimana model pengajaran yang menyenangkan di Australia.

Menurut rilis yang diterima ABC Australia Plus Indonesia, dari tim GSM, mereka bertemu dengan Prof John Loughran dan Louise Goold, Manajer Bagian Kerjasama Fakultas Pendidikan.

Pada pertemuan ini disepakati kerjasama pengembangan modul ‘sekolah menyenangkan’ berbasis riset yang akan dimulai dengan pembentukan joint committee  atau komite bersama.

Komite itu akan terdiri dari tim GSM dan beberapa dosen Monash yang memiliki kepakaran di bidang ‘Wellbeing School Framework’ dan ‘Engaging Learner’.

Sebagai salah satu kampus dengan jumlah mahasiswa asal Indonesia terbesar di Australia, Monash University akan berkomitmen penuh membantu aktifitas peningkatan kapasitas pendidikan di Indonesia ini.

“Kita sedang merencanakan pertemuan lanjutan untuk membicarakan skala pekerjaan, jadwal hingga proposal yang sistematis,”  ujar Louise.

Setelah pertemuan dengan pihak Monash University, Muhammad Nur Rizal Phd, penggagas GSM mengatakan kerjasama ini diperlukan agar pertukaran praktik cara mengajar lebih terarah dan berbasiskan riset.

“Setelah melakukan kerjasama dengan beberapa sekolah di Australia, kami pandang perlu meningkatkan kerjasama dengan kampus di Australia agar pertukaran praktik baik pendidikan yang selama ini kita lakukan melalui forum workshop dan pertukaran guru serta penerjemahan buku yang berisi kumpulan praktis metode pembelajaran yang menyenangkan, menjadi lebih terarah dan berbasiskan riset. ” kata Rizal.

“Respon positif dari lebih dari 20 sekolah yang tergabung dalam jaringan GSM di Yogyakarta memotivasi kami untuk menggandeng pihak Monash University untuk terlibat aktif dalam pembuatan modul-modul untuk para guru dan kepala sekolah di Indonesia yang menempatkan sekolah sebagai tempat yang menyenangkan dalam proses belajar, sekaligus mengaktualisasikan budi pekerti dan nilai-nilai dasar kehidupan”, tambah Rizal.

Menurut tim GSM, modul ini diharapkan menjadi pedoman praktis untuk para pendidik di Indonesia bersama para orangtua siswa dan masyarakat untuk menggali potensi unik dan utuh para peserta didik.

Berbeda dengan layaknya kerjasama pendidikan yang cenderung dimotori oleh organisasi internasional, GSM mengajak semua pihak termasuk mahasiswa di luar negeri terlibat dalam peningkatan pendidikan di Indonesia lewat berbagai forum diskusi dan riset.

“Gerakan ini bertujuan mengembangkan perilaku dan budaya positif masyarakat Indonesia melalui sekolah.” lanjut Rizal.

Sementara itu, Agus Mutohar, kandidat doktor bidang pendidikan di Monash University yang juga terlibat dalam GSM mengatakan bahwa Indonesia bisa belajar banyak dari negara maju dalam mengelola pendidikan, praktik yang kemudian bisa diterjemahkan dalam konteks Indonesia.

“Satu contoh, di Australia terdapat, school assembly atau pertemuan bersama antara guru, murid, dan orang tua sebagai sarana untuk berbagi informasi dan komunikasi. Dalam konteks Indonesia, kegiatan assembly tersebut bisa dilakukan dengan menggelar pentas kebudayaan atau keagamaan yang bisa menumbuhkan budi pekerti dan nasionalisme”. kata Agus Mutohar.

Dalam praktiknya, GSM fokus pada pengembangan well-being di sekolah yang sedang dan akan melaksanakan proses pembelajarannya baik menggunakan kurikulum lama atau baru nantinya.

“Well-being adalah sebuah pendekatan yang melihat bahwa seorang anak harus diberi kesempatan berkembang secara utuh baik dari sisi intelektual, personal, sosial, dan spiritual sehingga anak-anak akan tumbuh sebagai insan yang cerdas dan produktif yang memiliki kepekaan dan kepedulian sosial tinggi.” kata Novi Chandra dosen Fakultas Psikologi UGM Yogyakarta yang juga sedang menyelesaikan pendidikan doktoral di Monash University.

“Penumbuhan aktifitas yang berdasar pada well-being tersebut nantinya sedang diterjemahkan ke dalam modul yang bersisi panduan aktifitas “sekolah menyenangkan” dalam tingkat kelas dan sekolah”, tukas Novi Candra.

 

Disadur dari edukasi.kompas.com

03/07/2015 0 comments 869 views

Kini, anak-anak berseragam sekolah menggendong tas yang besar dan terlihat berat menjadi pemandangan yang jamak. Pernah merasa khawatir pada pertumbuhan fisik adik atau putra-putri tercinta? Pertanyaan tersebut terutama terkait dengan akankan tinggi anak bisa maksimal jika setiap hari dibebani dengan tas yang berat penuh buku paket?

Sebenarnya hingga saat ini, tidak ada bukti mengenai tas sekolah yang terlalu berat dapat menghambat pertumbuhan seorang anak. Namun, studi dalam jurnal Pediatric Physical Therapy mengungkapkan, bahwa tas yang terlalu berat, dapat membuat tubuh cenderung membungkuk. Ini merupakan dampak dari bergesernya titik berat tubuh.

Dengan tubuh yang membungkuk, maka tubuh juga akan terlihat lebih pendek, sehingga seolah-olah pertumbuhannya terhambat. Selain tubuh akan menjadi bungkuk, membawa tas yang terlalu berat juga menyebabkan nyeri di bagian pinggang.

sumber: bakprotek.com
sumber: bakprotek.com

Untuk menyiasatinya, baiknya berat beban di dalam tas anak hanya 10%-15% dari berat badan mereka, apalagi jika anak sering mengeluh tentang tas mereka yang terlalu berat. Jika memang karena kewajiban, harus membawa banyak buku, apalagi tebal-tebal, pisahkan beban. Misalnya, selain menggunakan rasel, beberapa buku dijinjing menggunakan tas yang lebih kecil. Repot sih, daripada nyeri di kemudian hari.

Selain itu, ada baiknya hindari penggunaan tas yang hanya bertumpu pada salah satu pundak, seperti tas selempang. Tas yang terlalu berat di salah satu bahu, akan menimbulkan kompensasi pada tubuh dengan menaikkan bahu tersebut. Efek yang ditimbulkan dalam jangka waktu panjang adalah, menderita pembengkokan tulang belakang. Bila memang bebannya berat, pilihan terbaik adalah tas ransel.

Meski belum ada bukti, bahwa tas sekolah yang terlalu berat akan menghambat pertumbuhan anak, sebaiknya beban di dalam tas yang dibawa harus dibatasi. Hal ini untuk menghindari risiko yang tidak diinginkan, seperti bentuk tulang yang menjadi tak normal.

 

Disadur dari isigood.com

01/07/2015 0 comments 726 views

Sebelumnya:

Workshop Sekolah Menyenangkan Day 1, Positive Learning Environment

Workshop Sekolah Menyenangkan Day 2, Student Engagement

Workshop Sekolah Menyenangkan (Day 3, Part 1)

Workshop bertajuk Membangun “Dynamic and Positive Learning Environment” di Sekolah sebagai Wujud Implementasi Gerakan Sekolah Menyenangkan diselenggarakan selama tiga hari, yaitu tanggal 9 – 11 Juni 2015 (Baca: Guru Australia Isi Workshop Sekolah Menyenangkan). Pada Hari ke tiga workshop, Josie, Brad, dan Joanne menerangkan tentang bagaimana mereka biasanya merencanakan pembelajaran untuk siswa.

Berkumpulnya beberapa guru untuk membahas perencanaan adalah hal yang cukup penting. Merancang indikator pembelajaran melalui beberapa tahap, yang pertama adalah mengetahui indicator yang diinginkan. Misalnya anak bisa menghitung angka 1 sampai 10. Hal kedua, mengetahui indicator yang bisa dinilai dari anak. Misalnya, anak bisa menuliskan angka 1-10, atau anak bisa menyebutkan angka 1-10. Ketiga, adalah merencanakan kegiatan yang dilakukan untuk belajar. Misalnya menyanyikan lagu soal angka, atau cara lainnya.

20150611_135521

Selain melakukan perencanaan sesama guru, dalam pembelajaran, guru di Australia juga menekankan soal pengelompokan. Pengelompokan ini didasarkan pada kemampuan pemahaman tiap siswa. Jika anak memang memiliki pemahaman yang cepat, maka tantangan yang diberikan memang harus berbeda dibandingkan dengan anak yang membutuhkan waktu yang lebih lama. Tuntutan yang diberikan pun berbeda.

Kelompok itu pun berbeda untuk setiap mata pelajaran, sebab mungkin ada anak yang pandai di bidang matematika, tapi lambat dalam pelajaran bahasa. Itulah fungsinya pergantian kelompok. Anak diberi kesempatan belajar sesuai dengan kemampuan mengikuti laju pembelajaran  masing-masing. Selain itu, guru akan lebih mudah untuk tahu dan dapat mengukur pemahaman apa yang masih perlu diajarkan oleh tiap anak.

Sempat ada pertanyaan dari peserta, sebab pembagian kelompok dikhawatirkan malah memancing bullying karena siswa dikotakkan. Akan sangat mungkin jika ada saling ejek antara mereka. Namun menurut pembicara, hal tersebut sangat bisa ditekan ketika sekolah sudah memiliki lingkungan belajar yang positif, seperti yang disampaikan di workshop hari pertama (Baca: Workshop Sekolah Menyenangkan Hari 1, Positive Learning Environment), dimana anak bisa saling menerima satu sama lain.

 

Tulisan ini disarikan dari Workshop Sekolah Menyenangkan 11 Juni 2015

30/06/2015 0 comments 947 views

Sebelumnya:

Workshop Sekolah Menyenangkan Day 1, Positive Learning Environment

Workshop Sekolah Menyenangkan Day 2, Student Engagement

Workshop bertajuk Membangun “Dynamic and Positive Learning Environment” di Sekolah sebagai Wujud Implementasi Gerakan Sekolah Menyenangkan diselenggarakan selama tiga hari, yaitu tanggal 9 – 11 Juni 2015 (Baca: Guru Australia Isi Workshop Sekolah Menyenangkan). Pada Hari ke tiga workshop, Josie, Brad, dan Joanne menerangkan tentang bagaimana mereka biasanya merencanakan pembelajaran untuk siswa.

Workshop dibuka dengan sebuah permainan kecil yang biasanya digunakan untuk anak-anak ketika mereka belajar perhitungan aritmatika sederhana. Caranya, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil berisi 5-6 orang. Tiap kelompok akan diberi satu pak kartu bridge. Peserta lalu membuka beberapa kartu di atas meja. Tugas mereka sederhana, mencari kombinasi penjumlahan yang akan menghasilkan angka 10, secara bergantian. Semakin banyak kartu yang mereka kumpulkan, dialah yang akan jadi pemenang. Misalnya, jika peserta melakukan kombinasi dengan kartu 2+3+4+1, akan menang dibandingkan dengan anak yang hanya melakukan kombinasi 5+5, karena kartu yang digunakan untuk menjumlahkan angka 10 semakin banyak.

Permainan tersebut tidak hanya dapat dilakukan untuk penjumlahan, tetapi juga dapat digunakan untuk pengurangan, perkalian, dan pembagian. Untuk anak-anak yang lebih dewasa, operasi hitung bisa dibuat untuk angka yang lebih besar dan kompleks, tidak hanya menjumlah sampai dengan 10. Cara itu adalah salah satu cara pembelajaran matematika yang sederhana, namun tidak membosankan.

20150611_135404

 

Untuk sampai ke permainan semacam itu, tentu dibutuhkan perencanaan sebelumnya. Rencana besar pembelajaran, biasanya berasal dari sekolah. Perencanaan tersebut lalu dibagian kepada guru-guru untuk diturunkan dalam pembelajaran praktis di kelas, serta menyesuaikan tingkat kesulitannya dengan kelas.

Dalam merencanakan pembelajaran, mulailah dengan kurikulum, baik dari sekolah maupun kurikulum nasional. Biasanya, perencanaan semacam ini dilakukan bersama-sama oleh guru yang tingkatan kelasnya sama, sehingga tidak menjadi beban pribadi tiap guru. Petakan apa yang sudah dipahami anak, serta apa yang menjadi kebutuhan anak. Misalnya, dari kompetensi yang ada di kurikulum, guru perlu melihat, yang mana yang anak sudah bisa, mana yang belum, serta apa yang ingin dipelajari oleh anak. Memperhitungkan apa yang ingin dipelajari anak juga penting untuk membuat anak terikat dengan pembelajaran. Tidak perlu terlalu memaksakan anak harus menguasai semuanya.

Informasi tentang apa yang telah diketahui, apa yang ingin diketahui dan perlu diajarkan akan membantu ketika membuat cara pembelajaran. Biasanya, guru akan mendaftar apa saja yang perlu dipelajari, lalu merancang bagaimana cara belajar dan cara mengevaluasi apakah anak sudah paham atau belum.

Dalam melakukan pemeriksaan kemampuan siswa, tes baiknya dibuat oleh sekolah sendiri, sehingga dapat menjadi evaluasi sekolah juga, sejauh mana mereka bisa memahamkan siswa. Selain itu, untuk melihat kemampuan siswa dapat menggunakan observasi, guru dapat melakukan tanya jawab interaktif di kelas.

 

Tulisan ini disarikan dari Workshop Sekolah Menyenangkan 11 Juni 2015

29/06/2015 0 comments 922 views

Sebelumnya:

Workshop Sekolah Menyenangkan (Day 1, Positive Learning Environment)

Workshop Sekolah Menyenangkan (Day 2, Part 1)

Workshop Sekolah Menyenangkan (Day 2, Part 2)

Workshop Sekolah Menyenangkan (Day 2, Part 3)

Workshop bertajuk Membangun “Dynamic and Positive Learning Environment” di Sekolah sebagai Wujud Implementasi Gerakan Sekolah Menyenangkan diselenggarakan selama tiga hari, yaitu tanggal 9 – 11 Juni 2015 (Baca: Guru Australia Isi Workshop Sekolah Menyenangkan). Pada hari kedua workshop, ketiga pembicara, Brad, Josie, dan Joanne, mengisi materi tentang student engagement dan student centered learning. Untuk itu, ada empat hal yang ditekankan oleh pembicara, yaitu project based learning, open ended mathematics task, go public, serta critical thinking and student questioning.

20150610_134352

Pada pembahasan hari ke dua sebelumnya, telah dijelaskan mengenai critical thinking dan bagaimana langkah awal guru mengembangkan critical thinking siswa. Mengapa hal tersebut penting? Critical thinking adalah hal yang digunakan setiap hari. Biarkan murid bertanya tentang apapun yang ia inginkan.  Di mana semakin dalam pertanyaan yang tercipta, semakin dalam pula pemahaman yang akan ia peroleh. Pertanyaan-pertanyaan itu pula yang akan membuat rasa ingin tahunya berkembang.

Selain menciptakan pertanyaan, cara lain yang dapat digunakan oleh guru untuk mengembangkan critical thinking adalah membandingkan dua hal atau benda. Minta siswa untuk mengenali ciri-ciri benda atau suatu isu, minta mereka mencari persamaannya, lalu cari apa yang membuat mereka berlawanan.

Kemampuan critical thinking bukanlah kemampuan tunggal yang akan dikembangkan. Oleh sebab itu, dalam memberikan tugas, guru perlu merangkai kegiatan yang dapat mengintegrasikan beberapa aktivitas seperti kolaborasi, perencanaan, penyelesaian masalah, dan sebagainya. Salah satu kegiatan yang dicontohkan oleh pembicara adalah membuat menara dari spaghetti. Peserta dibagi beberapa kelompok, satu kelompok berisi 5-6 orang. Mereka dibekali beberapa batang spaghetti, kapas, dan lakban. Tugasnya adalah membuat menara spaghetti setinggi-tingginya, lalu meletakkan kapas di puncaknya, tanpa jatuh.

20150610_135322

Aktivitas tersebut terlihat sederhana, namun ternyata, ada berbagai proses yang terjadi mulai dari pembentukan kelompok sampai dengan menara bisa berdiri. Ada kelompok yang dapat menyelesaikan menara yang kuat dengan cepat, ada yang lambat. Ada juga yang menaranya tidak kokoh meskipun sangat tinggi. Fungsi kegiatan tersebut sebenarnya adalah melatih kerjasama antar anggota tim. Bagaimana mereka melakukan perencanaan, berpikir kritis, penyelesaian masalah, dan sebagainya. Kegiatan semacam ini lah yang lerlu direncanakan oleh guru, dengan mengolaborasikan kurikulum yang diminta ke dalam aktivitas sederhana yang mengasah berbagai hal.

Aktivitas pembelajaran tidak hanya berhenti sampai pada kegiatan. Setelah selesai, maka peserta akan ditanya, bagaimana proses pengerjaan tugas tersebut. Rencana apa yang mereka buat, mengapa sukses atau mengapa gagal, serta evaluasi apa yang akan mereka lakukan jika menghadapi tugas semacam itu lagi. Itu adalah salah satu cara untuk membuat anak belajar menganalisis atas proses yang telah ia jalani. DI CNPS, terkadang diadakan kesempatan bagi siswa untuk mempresentasikan apa yang mereka kerjakan kepada orang di lain kelas, atau bahkan orang tua, dengan alat peraga yang bebas.

Brad, Josie, dan Joanne menerangkan, dalam merangkai pembelajaran yang menyenangkan, syarat utamanya adalah membangun lingkungan belajar yang positif. Dengan rasa nyaman dan aman, anak dapat belajar dengan baik dan tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik. Bekal penting bagi guru yang utama adalah enjoy. Jika guru mengajar dengan senang, maka energi tersebut ditangkap oleh siswa dengan menyenangkan juga. Mengertilah kebutuhan tiap anak dan jadikan rasa senang anak sebagai motivasi dalam mengajar.

Tulisan ini disarikan dari Workshop Sekolah Menyenangkan 10 Juni 2015

26/06/2015 0 comments 720 views

Workshop bertajuk Membangun “Dynamic and Positive Learning Environment” di Sekolah sebagai Wujud Implementasi Gerakan Sekolah Menyenangkan diselenggarakan selama tiga hari, yaitu tanggal 9 – 11 Juni 2015 (Baca: Guru Australia Isi Workshop Sekolah Menyenangkan). Pada hari kedua workshop, ketiga pembicara, Brad, Josie, dan Joanne, mengisi materi tentang student engagement dan student centered learning. Untuk itu, ada empat hal yang ditekankan oleh pembicara, yaitu project based learning, open ended mathematics task, go public, serta critical thinking and student questioning.

Setelah kemarin membahas project based learning, open ended mathematics taskgo public, pada bagian ke tiga ini, akan dibahas yang terakhir, yaitu critical thinking. Guru perlu mengerti, bagaimana kekritisan siswa meningkatkan keterlibatannya dalam pembelajaran. Yaitu dengan membiarkan siswa tertarik, lalu berpikir soal jawaban, dan melihat, bagaimana apa yang mereka pelajari diaplikasikan ke dunia nyata.

Biasanya, cara yang dilakukan oleh guru untuk mengembangkan critical thinking adalah dengan think-pair-share. Yaitu, guru memberikan pertanyaan atau tantangan kepada murid, lalu murid memikirkan jawabannya secara individual. Selanjutnya, guru meminta murid untuk berkolaborasi secara berpasangan untuk menghasilkan jawaban yang menurutt mereka paling baik dan lengkap. Yang terakhir, murid diminta untuk membagi jawaban yang telah mereka gabungkan di depan kelas.

Jossie, Brad, dan Joanne menerangkan, ada beberapa hal yang dapat menjadi ciri-ciri pengajaran yang produktif. Yaitu menantang siswa untuk mengerti, bukan mengingat, berupa pertanyaan, merangsang siswa menganalisis, mendorong untuk menciptakan sesuatu, menginterprestasikan, berdiskusi, dan mencari jalan keluar. Selain itu, kelas memiliki tujuan yang jelas dan diorganisir dengan baik. Murid juga diberikan kesempatan untuk memikirkan dan membawa apa yang dipelajari ke dalam situasi nyata, serta merangssang siswa untuk melanjutkan belajar secara mandiri.

Pembicara mengaku menggunakan taksonomi Bloom untuk menggerakkan critical thinking. Taksonomi Bloom adalah sejenis tahapan pemahaman yang menunjukkan peningkatan critical thinking. Ada 6 tahapan di dalamnya, dengan kesulitan yang meningkat seiring tahapan. Tahapan yang terdasar adalah mengingat, memahami, mengaplikasikan, menganalisis, mengevalusi, serta yang terakhir adalah membuat atau menciptakan. Hal itulah yang digunakan guru sebagai tahapan untuk mengajar muridnya dalam berpikir.

Selain itu, dalam mengajar, guru perlu mempertimbangkan kemampuan siswa. Guru perlu tahu sejauh mana siswa sudah mampu menjawab tantangan. Sesuaikan antara level tantangan dengan kemampuan yang sudah dimiliki siswa, serta yang mana yang membutuhkan bantuan dari guru. Sebab jika diberi telalu sedikit dan tantangan terlalu mudah, siswa akan bosan. Tapi jika diberi tantangan yang terlalu berlebihan dan di luar kompetensinya, siswa justru akan cemas.

 

Tulisan ini disarikan dari Workshop Sekolah Menyenangkan 10 Juni 2015

 

24/06/2015 0 comments 768 views

Sebelumnya:

Workshop Sekolah Menyenangkan (Day 1)

Workshop Sekolah Menyenangkan (Day 2, Part 1)

Workshop bertajuk Membangun “Dynamic and Positive Learning Environment” di Sekolah sebagai Wujud Implementasi Gerakan Sekolah Menyenangkan diselenggarakan selama tiga hari, yaitu tanggal 9 – 11 Juni 2015 (Baca: Guru Australia Isi Workshop Sekolah Menyenangkan). Pada hari kedua workshop, ketiga pembicara, Brad, Josie, dan Joanne, mengisi materi tentang student engagement dan student centered learning. Untuk itu, ada empat hal yang ditekankan oleh pembicara, yaitu project based learning, open ended mathematics task, go public, serta critical thinking and student questioning.

Open ended task adalah bagaimana guru dapat memberikan pertanyaan yang dapat memancing siswa untuk melakukan diskusi mendalam tentang penyelesaikan masalah. Poinnya adalah, bagaimana pertanyaan tersebut memantik diskusi dan siswa dapat berbagi ide mereka masing-masing. Hal ini dilakukan agar anak tidak hanya melihat adanya pertanyaan dan jawaban, tetapi juga tahu bagaimana proses menuju jawaban itu.

Apakah pertanyaan yang baik itu? Brad, Josie, dan Joanne menerangkan tujuh ciri pertanyaan yang baik, yaitu: (1) membantu siswa memahami topic, (2) pertanyaan adalah jenis pertanyaan terbuka, sehingga memungkinkan jawaban yang lebih dari satu, (3) membiarkan siswa menemukan jawabannya, (4) pertanyaan mengarah ke topic yang spesifik, tetapi mendorong rasa ingin tahu siswa kepada topik lain, (5) pertanyaan dapat dipahami oleh semua anak yang memiliki latar belakang dan tingkat pemahaman yang berbeda, (6) pertanyaan dapat membuat guru tahu sampai mana pemahaman dan pengalaman anak, sehingga mempermudahnya untuk tahu apa yang perlu diajarkan selanjutnya, (7) pertanyaan mendorong siswa untuk berpikir bagaimana cara mengaplikasikan suatu jawaban ke situasi lain.

Pertanyaan yang baik biasanya menggunakan pengetahuan aplikatif sebagai stimulus, lalu pahami apa yang siswa belum mengerti. Selain itu, guru juga perlu menghubungkan pertanyaan terbuka dengan pengetahuan yang sudah didapat oleh siswa sebelumnya. Jawaban yang didapat anak dari pertanyaan ini dapat membuat anak memikirkan pertanyaan lain, sehingga mereka tertarik untuk mencari tahu sendiri.

Pertanyaan terbuka dibuat untuk mengembangkan cara berpikir anak. Sementara itu, pertanyaan tertutup biasanya digunakan untuk logika. Dalam mengajar pelajaran yang membutuhkan logika, guru perlu mengajarkan dasarnya terlebih dahulu. Misalnya dalam matematika. Guru perlu mengajarkan anak dasar penjumlahan, pengurangan, pembagian, dan sebagainya, sebelum memberi mereka pertanyaan terbuka. Pertanyaan terbuka dalam matematika misalnya: dari mana mendapatkan angka 10? Anak bisa menjawabnya dengan variasi penjumlahan, pengurangan, perkalian, maupun pembagian.

Setelah open ended task, ada juga go public. Go public yang dimaksud adalah sharing, yaitu memberi ruang bagi anak untuk menunjukkan hasil karya dan keativitas yang ia lakukan di sekolah kepada orang lain, seperti orang tua. Hal ini dapat membuat anak merasa terapresiasi dan bersemangat untuk melakukan hal lain yang kreatif.

 

Tulisan ini disarikan dari Workshop Sekolah Menyenangkan 10 Juni 2015

Loading...