Character Development

07/06/2017 0 comments 67 views

” P E N G U M U M A N “

 

Bagi sekolah yang belum sempat mendaftar sebagai calon sekolah model GSM batch 2, jangan khawatir , karena waktu pendaftaran seleksi sekolah model GSM diperpanjang hingga tanggal 20 Juni 2017.

Syaratnya pun juga semakin mudah, hanya dengan mengisi formulir yang telah kami sediakan pada link di bawah.

======   Ayooo….buruan daftar… 🙂   ======

 

Seleksi Sekolah Model GSM Batch 2

==> Untuk Sekolah Dasar (SD) di Indonesia

Ingin menjadi salah satu sekolah model dampingan GSM?

Ikuti seleksi Sekolah Model GSM (Gerakan Sekolah menyenangkan) batch 2. Sekolah Anda akan didampingi oleh Guru-Guru dari Australia, Dosen UGM dan Monash University dalam program GSM.

Dengan Cara mengisi Form pada link berikut:

tinyurl.com/PendaftaranSekolahGSM

Pendaftaran paling lambat tanggal 20 Juni 2017.

Poster rekrutmen sekolah model GSM – baru

Informasi dan Pendaftaran:
Ninik  0811 2863 97
gerakansekolahmenyenangkan@gmail.com

10/05/2017 0 comments 124 views

Gerakan Sekolah Menyenangkan Presents

Seleksi Sekolah Model GSM Batch 2

 

==> Untuk Sekolah Dasar (SD) di Indonesia

 

Ingin menjadi salah satu sekolah model dampingan GSM?

 

Ikuti seleksi Sekolah Model GSM (Gerakan Sekolah menyenangkan) batch 2. Sekolah Anda akan didampingi oleh Guru-Guru dari Australia, Dosen UGM dan Monash University dalam program GSM.

 

Dengan Cara :

 

Kirimkan essay berisi profil sekolah dan alasan kenapa sekolah Anda layak untuk diseleksi.

Pendaftaran paling lambat tanggal 20 Mei 2017.

 

Poster rekrutmen sekolah model GSM

 

Informasi dan Pendaftaran:
Ninik  0811 2863 97
gerakansekolahmenyenangkan@gmail.com

10/05/2017 1 comments 101 views

Gerakan Sekolah Menyenangkan Presents 🙂

[OPEN RECRUITMENT]

Poster Open Recruitment Panitia Seminar dan Workshop Sekolah Menyenangkan

 

Tertarik dengan dunia pendidikan Indonesia? Ingin jadi agen perubahan pendidikan Indonesia? Atau ingin mendapatkan pengalaman dengan orang-orang keren?

 

Disinilah tempatnya~

 

Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) mengundang mahasiswa untuk berpartisipasi sebagai panitia dalam acara Seminar & Workshop Sekolah Menyenangkan pada bulan Agustus 2017.

 

Bagi kamu mahasiswa aktif, energik, senang bergaul, senang berorganisasi, dan berdedikasi tinggi. Jangan lewatkan kesempatan untuk meraih banyak teman, ilmu dan pengalaman di sini.

 

Berikut daftar divisi yang bisa teman teman pilih:

 

Sie

 

🎯   Acara               🍛   Konsumsi

📷   PDD                           📞   Humas dan Sponsor

💻   Kesekretariatan        💪   Perlengkapan

 

Pendaftaran

 

Kamu bisa menjadi salah satu agen perubahan dengan mengisi form di bawah ini~   🙂

bit.ly/VolunteerGSM2017 

 

Deadline 14 Mei 2017

 

Info lebih lanjut:

email: gerakansekolahmenyenangkan@gmail.com

Contact: Dewi 0878 4566 1516

 

Jangan lewatkan kesempatan ini yaa teman teman… 🙂

 

Kami tunggu kesertaanmu!

 

Salam,

Gerakan Sekolah Menyenangkan

28/11/2016 3 comments 526 views

Open Rekruitment Panitia

Festival Sekolah Menyenangkan 2017

Poster Open Recruitmen Panitia Festival Sekolah Menyenangkan 2017
Poster Open Recruitmen Panitia Festival Sekolah Menyenangkan 2017

Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) mengundang mahasiswa untuk berpartisipasi sebagai panitia dalam acara Festival Sekolah Menyenangkan 2017.

Bagi kamu mahasiswa aktif, energik, senang bergaul, senang berorganisasi, dan berdedikasi tinggi. Jangan lewatkan kesempatan untuk meraih banyak teman, ilmu dan pengalaman di sini.

Berikut daftar divisi yang bisa teman teman pilih:

  1. Acara

  2. Kesekretariatan

  3. Konsumsi

  4. PDD

  5. Humas dan Sponsorship

  6. Perkap

Nah, bagi teman teman mahasiswa yang tertarik menjadi panitia, Yuuk….segera daftar di link berikut:

http://bit.ly/FormSekolahMenyenangkan

Pendaftaran: 28 November 2016 – 28 Desember 2016.

Jangan lewatkan kesempatan ini yaa guys… 🙂

Kami nantikan Partisipasimu 🙂

Salam,

Gerakan Sekolah Menyenangkan 🙂

 

15/08/2016 0 comments 524 views

Bagaimana pendapat M. Nur Rizal, Ph.D selaku pendiri GSM (Gerakan Sekolah Menyenangkan)  mengenai sistem belajar Full Day School yang digagas oleh menteri pendidikan Muhadjir Effendi ?

“Sepengetahuan saya Full day school ini kan ide pak menteri pendidikan yang baru yang ingin menerapkan program nawacita di pendidikan dasar dan menengah, dimana pembentukan karakter i ni menjadi porsi dan harus diberikan ruang porsi bobot yang sangat besar. Kemudian pak menteri pendidikan yang baru pak Muhadjir ingin menerapkannya dengan full day school, dimana di siang hingga sore hari banyak kegiatan ekstra kurikuler yang merangsang aktivitas perkembangan budi pekerti dan karakter ank-anak.

“Bahwa sekolah itu menjadi tempat anak-anak mengembangkan karakternya di dalam sekolah. Kita juga harus menilik dari aspek sosiologis di Indonesia. (M Nur RIzal, Ph.D).”

“Mendidik tidak hanya mengajar, Ki Hadjar Dewantara sebagai tokoh pendidikan itu mengatakan pendidikan itu selain mengasah pola pikir itu juga mengasah akal budi dan juga kebudayaan, makanya Ki Hajar Dewantara itu menyebut sekolah bukan hanya sekolah, tetapi taman. Taman itu adalah tempat yang menyenangkan, maka pola pembelajarannya harus menyenangkan, membahagiakan, memberikan motivasi pada anak, agar anak tidak hanya dijejali ilmu pengetahuan. Tetapi juga belajar bagaimana menumbuhkan kepedulian, bagaimana menumbuhkan kejujuran, bagaimana kemudian membangun karakter-karakter positif lainnya, dan yang terpenting membangun budaya. (M Nur Rizal, Ph.D)”

Video berikut merupakan pendapat pendiri GSM tentang Full Day School

Sumber : Link Video

03/06/2016 0 comments 716 views

UGM – Monash University Pererat Kerjasama untuk Sekolah Menyenangkan di Indonesia

Foto: Penandatanganan MOU antara Monash-UGM-GSM-Clayton North Primary School
Foto: Penandatanganan MOU kerjasama antara Monash-UGM-GSM-Clayton North Primary School: Dari kiri Mohammad Nur Rizal (GSM), Danang Sri Hadmoko (UGM), Ken Chatterton Wakil Kepsek CPNS, Paripurna Wakil Rektor UGM dan John Lougran Dekan Fakultas Pendidikan Monash

 

Dua universitas dari Australia dan Indonesia, Monash University dan Universitas Gadjah Mada secara resmi setuju bekerjasama membantu pengembangan pendidikan masa depan yang menyenangkan dan manusiawi.

Diwakili oleh Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Alumni UGM, Dr. Paripurna dan Profesor John Lougran, Dekan Fakultas Pendidikan Monash University, kedua universitas meresmikan kerjasama riset untuk mendukung pengembangan pendidikan masa depan yang menyenangkan dan manusiawi yang digagas oleh Gerakan Sekolah Menyenangkan hari Senin (30/5/2016) di Auditorium MM UGM Yogyakarta.

Selain penandatanganan kerjasama, acara yang dihadiri ratusan peserta berasal dari kalangan pendidik, kepala sekolah, orang tua, mahasiswa, akademisi serta perwakilan pemerintah dilanjukan oleh seminar yang bertema “Revolusi Mental melalui Transformasi Sekolah untuk Pendidikan yang Menyenangkan dan Manusiawi”.

Dalam keterangan yang disampaikan kepada ABC Australia Plus Indonesia, disebutkan bahwa dengan penuh antusias, peserta yang memenuhi ruangan menyimak paparan yang disampaikan oleh Prof J John Loughan dari Monash University, Prof Laksono dari  UGM, Ken Chatterton dari CNPS (Clayton North Primary School) dan Dr. Muhammad N Rizal sebagai Ketua GSM (Gerakan Sekolah Menyenangkan) yang dipandu oleh Prof. Tina Afiatin dan Novi Candra, keduanya dosen Psikologi UGM.

Suara keempat pembicara dengan pandangannya masing-masing sama yakni menegaskan bahwa esensi pendidikan itu untuk membangun manusia bukan mengajar untuk mendapatkan nilai tinggi, yang lebih mencerminkan kemampuan anak menghapal isi buku ataupun catatan dari guru.

Hal itu dapat tercapai ketika anak dilatih untuk dapat “memprediksi”, “mengamati” sekaligus “menjelaskan” fenomena yang terjadi melalui pengetahuan yang dimilikinya. Sehingga anak akan memiliki kemampuan “mencipta’ dari sekedar “mengeja”, kata Professor Lougran”.

Sedangkan, Professor Laksono menyarankan agar pengajaran sekolah tidak boleh tercerabut dari akarnya agar muncul konsep pendidikan yang “reflektif partisipatoris.

Ilmu yang dipelajari digunakan untuk mengidentifikasi masalah di sekelilingnya, sekaligus mengidentifikasi diri untuk membangun kesejarahan baru.

Ken Chatterton juga mengungkapkan efek negatif testing dan testing yang menceritakan hlangnya keceriaan dan inisiatif anak didiknya mendadak menjadi pendiam dan susah bergaul sekembalinya sekolah di negara asalnya.

“Kemana hakekat keguruan ketika mengajar hanya berorientasi pada nilai ujian nasional tinggi namun lupa mengajarkan anak-anak “critical thinking’dan kreativitas? ”, Rizal melanjutkan pertanyaannya, “Untuk siapa bapak-ibu mengajar? memenuhi target dinas pendidikan, tuntutan orang tua atau ingin mengajar anak-anak?“.

Mereka butuh ruang bermain dan bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya. Mengeksplorasi apa saja yang terjadi di sekelilingnya. Sehingga ilmu dan pengetahuan yang diperolehnya di sekolah dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan sederhana dalam kehidupan sehari-harinya.

Sekolah harus mengajarkan kemandirian dengan mendekatkan ilmu pada realitas sosialnya. Sekolah harus menjadi pusat saling belajar bagaimana memanusiakan anak-anak dilakukan. Sekolah harus menjadi tempat yang menyenangkan untuk menumbuhkan sikap disiplin dan karakter positif untuk bekal ketrampilan hidupnya kelak.

Rizal menambahkan bahwa “sekolah menyenangkan itu bukan sekolah senang-senang saja, melainkan tempat yang membuat anak bahagia untuk mengembangkan diri dengan pola pembelajaran nyata serta mengakomodasi setiap jengkal potensi anak anak dalam iklim belajar yang positif dan saling menghargai.”

 

“Ujian boleh dilakukan namun bukan ukuran keberhasilan, melainkan salah satu cara mengukur kesungguhan anak dalam belajar. Yang terpenting adalah pengukuran proses belajar bukan hasil akhir. Sehingga kemampuan komunikasi, kolaborasi (teamwork) dan ketrampilan problem solver” (menyelesaikan masalah) anak dapat tergali optimal.” Muhammad Nur Rizal

 

Rizal menambahkan bahwa launching kerjasama riset ini merupakan lanjutan kegiatan workshop seminggu untuk peningkatan kualitas guru-guru.

Lebih dari dua puluh sekolah lolos seleksi untuk menjadi sekolah model sekolah menyenangkan di Propinsi Yogyakarta dan sekitarnya.

Guru-guru ini dilatih oleh GSM bersama tiga guru dari Clayton North Primary School, yakni Ken Chatterton, Joane Weston dan Josie Burt yang datang ke Indonesia dengan biaya sendiri.

Materi pelatihannya dari merubah mindset hingga skill praktis dari membuat visi sekolah yang terukur dan dapat diimplementasikan secara nyata menjadi kebijakan sekolah, iklim belajar positif hingga model dan evaluasi (assessment) pembelajaran yang menyenangkan dan manusiawi.

Foto: Seminar di Gedung MM UGM
Foto: Seminar di Gedung MM UGM

Guru-guru itu bahkan diharuskan untuk mempraktikkan seluruh materi yang diwujudkan dalam rencana belajar kepada murid-murid sekaligus mendapatkan “feedback” langsung dari anak-anak tersebut.

Dan yang perlu bapak-ibu ketahui, “bahwa seluruh pembiayaan operasional workshop ditanggung bersama melalui iuran guru-guru tersebut”, ujar Rizal.

“GSM bertujuan untuk mengisi gap antara konsep dan praktis yang justru minim dikembangkan oleh pemerintah “, lanjut Rizal.

Dari pendekatan gorong royong serta materi pengembangan guru-guru ala GSM kemudian diriset oleh peneliti dari UGM dan Monash untuk mendapatkan data akurat yang dapat digunakan sebagai acuan pengembangan selanjutnya.

Sehingga pengembangan ke depan didasarkan suara akar rumput dari guru-guru serta feedback langsung anak-anak dan komunitas orang tua yang terlibat.

 

“Kami menamakan kolaborasi ini “an educational partnership with a grass root approach to innovative school transformation” (kemitraan pendidikan dengan pendekatan akar rumput bagi tranformasi sekolah yang inovatif)”

 

“UGM akan selalu terdepan memfasilitasi inovasi riset yang diprakarsai oleh GSM ini. Selain kegiatan ini digagas oleh dosen UGM juga memiliki dampak nyata dan positif yang tidak hanya pada pengembangan ilmu pengetahuan, malainkan bagi pengabdian dan pengembangan masyarakat. Sesuai dengan visi dan cita-cita di statuta kampus kami,” tegas Wakil Rektor bidang Kerjasama dan Alumni UGM Dr Paripurna di akhir sambutannya.

Sumber : www.australiaplus.com

13/05/2016 0 comments 536 views
Berikut merupakan tulisan dari Novi Candra, salah satu penggagas Gerakan sekolah Menyenangkan (GSM) yang juga sebagai kandidat doktor Melbourne University. Beliau menyampaikan bahwa Ujian Nasional dapat membuat Guru kehilangan kreativitas, kadang juga kehilangan rasa kemanusiaan karena ujian nasional membuat semua insan pendidikan menjadirobot tak berjiwa.

Elegi Pagi Tentang Ujian Nasional di Sekolah

oleh Novi Candra, M.Si., Psi

Ketika saya menonton beberapa anak yang sakit di rumah sakit harus mengikuti UAN, tertatihtatih, dibopong untuk mengerjakan soal2,dan dalam keterbatasan itu mereka harus bertarung dengan anak anak lain yang sehat, saya mulai berpikir…apa yang bangsa ini lakukan pada mereka? Untuk apa mereka harus seperti itu?
Tanpa mengindahkan jika mereka sakit dan tertatih, yang penting mereka ikut ujian agar mereka punya nilai akhir atas nama standarisasi.

Saya tiba tiba ingat ini ketika pagi kemarin saya dengar sendiri salah satu perkataan guru pada anak SD yang sakit, ‘bisa ya, sakitnya nggak lama lama biar ulangannya nggak banyak nyusul. Kalau banyak nyusul nanti saya yang repot atur jadwal ulangannya.”

Lihat, poinnya bukan lagi pada kesehatan anak anak, tapi pada repotnya guru.
Guru seolah olah hanya tahu bahwa tanggung jawab sekolah adalah mengetes anak setiap waktu.

Anak anak seolah bukan manusia yang punya rasa lelah, butuh istirahat karena sakit, punya rasa cemas untuk selalu dites.
Guru kehilangan kreativitas, kadang juga kehilangan rasa kemanusiaan karena ujian nasional membuat semua insan pendidikan menjadi robot tak berjiwa.

Lihat betapa Ujian Nasional membuat kita berpikir untuk apa menumbuhkan daya nalar,budi pekerti, potensi dan keunikan jika akhirnya mereka harus distandarkan seperti produk barang.

Sudah berapa lama orangtua Indonesia lupa bertanya, belajar apa saja nak hari ini? Apa yang membuat kamu gelisah dan ingin kamu bantu mengubah?
Sudah lama anak anak kita dihujani pertanyaan dapat berapa ulangan hari ini, hari kemarin dan akan masuk sekolah favorit mana?

Sudah lama guru guru tidak punya waktu bertanya, “ingin belajar apa hari ini?, apa yang kamu temukan hari ini, dan ingin kamu ciptakan.

Tidakkah kita rindu akan hal itu?

Saya selalu gelisah dan marah pada Ujian Nasional dan setiap bentuk tes, ulangan, ulangan ulangan yang menghantui hidup anak anak kita. Kita takperlu lagi itu agar anak anak kita hidup di abad 21. Tak perlu. Banyak jalan, banyak cara kalau kita mau untuk benar benar mengubah desain pendidikan kita, agar lebih manusiawi.

Kalaupun belum sanggup mengubah, gerakan sekolah menyenangkan adalah sebuah ihtiar agar kita masih selalu punya harapan bahwa pendidikan adalah tentang memanusiakan manusia.

Cukup..sudahi Ujian Nasional! apapun bentuknya, maka kita akan lebih mudah berubah.

 

By: Novi candra, M.Si, Psi (kandidat doktor Melbourne University)

14/03/2016 0 comments 1081 views

Berpikir kritis adalah proses berpikir dimana informasi menjadi keputusan atau kesimpulan untuk menciptakan sesuatu yang baru. Hal ini memang tidak mudah dilakukan, perlu latihan dan pembiasaan setiap hari secara rutin dan berkelanjutan. Sayangnya kemampuan berpikir kritis tidak diberikan kepada kita sejak lahir. Anak harus belajar untuk dapat menguasainya. Jadi adalah tugas orangtua dan guru untuk dapat mengembangkan ketrampilan berpikir kritis pada anak. Bagaimana caranya?

id.theasianparent.com
id.theasianparent.com

Salah satu cara yang paling mudah dan sederhana adalah dengan bertanya pada anak dalam berbagai macam bentuk pertanyaan. Karena dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan, anak akan terdorong untuk berpikir. Tentu saja bentuk pertanyaannya harus tepat.

Benjamin Bloom (2001), seorang ahli pendidikan, yang membuat klasifikasi (taxonomy) pertanyaan-pertanyaan yang dapat dipakai untuk merangsang proses berpikir pada manusia (lebih dikenal dengan istilah “taxonomy Bloom”). Menurut Bloom kecakapan berpikir pada manusia dapat dibagi ke dalam enam kategori, yaitu: mengingat, mengerti, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan. Tiga kategori pertama lebih merupakan ketrampilan berpikir kongkrit, sedangkan menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan lebih abstrak sifatnya dan dikenal sebagai ketrampilan berpikir kritis.       Berikut ini penjelasan lebih terinci disertai pertanyaan-pertanyaan berdasar taxonomy Bloom:

www.kenilworthlearning.co.uk
www.kenilworthlearning.co.uk
  1. Mengingat (Remembering) mencakup ketrampilan mengingat kembali fakta-fakta yang pernah dipelajari oleh anak yang biasanya menghasilkan jawaban yang benar atau salah. Biasanya bentuk pertanyaannya dimulai dengan kata: berapa banyak, kapan, dimana. sebutkan, jelaskan, dll. Contoh pertanyaannya: Kapan hari kemerdekaan Republik Indonesia? Atau ada berapa banyak selusin itu?
  2. Mengerti/Memahami (Understanding) meliputi pemahaman terhadap informasi yang ada. Biasanya bentuk pertanyaannya diawali dengan kata: jelaskan, gambarkan, bedakan antara satu hal dan lain hal, prediksikan, dll. Contoh pertanyaannya: Jelaskan bagaimana terjadinya hujan? Atau peristiwa-peristiwa penting apa saja yang terjadi sebelum kemerdekaan Indonesia?
  3. Menerapkan (Applying) mencakup ketrampilan menerapkan informasi atau pengetahuan yang telah dipelajari ke dalam situasi yang baru. Biasanya bentuk pertanyaannya menggunakan kata-kata: tunjukan, terapkan, eksperimen, dicobakan, selesaikan, klasifikasikan, dll. Contoh pertanyaannya: Tunjukan persamaan antara telur dan bola dunia? Apakah telur dapat berubah menjadi seekor sapi? Atau bagaimana rumus luas segiempat dapat dipakai untuk mengetahui luas kubus?

    kalangkangmencrang.blogspot.com
    kalangkangmencrang.blogspot.com
  4. Analisis (Analyzing) meliputi pemilahan informasi menjadi bagian-bagian atau meneliti dan mencoba memahami struktur informasi. Biasanya bentuk pertanyaannya memakai kata-kata: klasifikasikan, sunsunlah, bandingkan, apa perbedaan-perbedaannya, dll. Contoh pertanyaannya: Apa salah satu perbedaan antara telur ayam dengan telur katak? Atau bandingkan dan bedakan ciri-ciri penting diantara alat-alat transportasi yang ada saat ini?
  5. Evaluasi (Evaluating) meliputi pengambilan keputusan atau menyimpulkan berdasarkan kriteria-kriteria yang ada. Biasanya pertanyaannya memakai kata: pertimbangkanlah, bagaimana kesimpulannya, dll. Contoh pertanyaannya: Apa yang terjadi kalau Soekarno dan Hatta tidak pernah ada? Apakah dan bagaimana sejarah itu (kemerdekaan Indonesia) mungkin berbeda dari yang ada?
  6. Menciptakan (Creating) mencakup menerapkan pengetahuan dan ketrampilan yang sudah ada untuk menggabungkan elemen-elemen menjadi suatu pola yang tidak ada sebelumnya (menciptakan sesuatu yang baru). Biasanya pertanyaannya menggunakan kata: bagaimana kalau, temukan, ciptakan, buatlah, gabungkanlah, dll. Contoh pertanyaannya: Apa yang terjadi kalau kucing bertelur? Dengan mengetahui ciri-ciri hewan yang bertelur, apa yang dapat kamu jelaskan tentang hewan yang tidak bertelur?
www.ciputra-uceo.net
www.ciputra-uceo.net

Orangtua, maupun guru, dapat menerapkan bentuk pertanyaan diatas dalam situasi sehari-hari, selain dalam bentuk yang berkaitan dengan bidang akademis atau pelajaran di sekolah. Situasi sosial seperti bagaimana menanggulangi kemacetan lalu-lintas, atau apa dampak positif dan negatif dari merokok dan obat-obat terlarang dan bagaimana menghadapi ajakan teman untuk memakainya, atau bagaimana menghadapi pergaulan bebas, dsb dapat dijadikan sebagai simulasi untuk mengembangkan ketrampilan berpikir kritis pada anak. Tentu saja ketrampilan ini harus dimulai sejak dini dan situasi yang dipakai sebagai bahan simulasi harus disesuaikan dengan usia dan perkembangan anak. Selama orangtua dan guru melakukannya dalam bentuk dan situasi yang menyenangkan, maka anak akan merasa senang menjawab pertanyaan orangtua dan guru dan berdiskusi dengan mereka.

 

Daftar Pustaka:

www.ciputra-uceo.net

www.untukku.com

id.theasianparent.com

04/02/2016 0 comments 736 views

Setelah melalui pertemuan intensif sejak bulan Agustus 2015, Fakultas Pendidikan Monash University, SD Clayton North Primary School (CNPS) di Melbourne, serta Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) bersepakat melakukan implementasi sekolah aman dan menyenangkan di sejumlah SD percontohan di Yogyakarta.

Dalam kerjasama ini, CNPS berperan mempersiapkan modul sekolah aman dan menyenangkan yang akan dikontektualisasikan dengan kondisi di sekolah Indonesia, khusunya di Yogyakarta.

Sementara Monash University dan GSM akan meneliti terkait dengan persiapan implementasi program tersebut maupun pasca implementasinya. Dalam hal ini GSM juga berperan dalam implementasi program di sekolah-sekolah di Yogyakarta.

Implementasi yang akan berlangsung mulai tahun 2016 ini ditandai dengan penandatanganan MoU antara Dekan Fakultas Pendidikan Prof. Dr. John Loughran dan Ketua GSM Muhammad Nur Rizal, PhD.

Menurut Rizal, ke depan akan ada beberapa kegiatan kunjungan yang dilakukan oleh beberapa dosen atau peneliti Monash ke beberapa sekolah dasar percontohan GSM di Yogyakarta. Penelitian ini akan mengukur dan mengevaluasi pengaruh dan hasil dari pengembangan kapasitas guru di Indonesia.

Beliau juga mengatakan bahhwa intervensi dan pendampingan yang dilakukan tidak bersifat top down melainkan lebih membangun dialog.

Tujuannya bukan mengajarkan materi kurikulum internasional melainkan memfasilitasi guru-guru agar memiliki mindset baru dan ketrampilan praktis untuk menciptakan atmosfir belajar yang aman dan menyenangkan karena melibarkan partisipasi aktif anak. Potensi anak akan tumbuh optimal baik kognitif, afektif dan psikomotorik.

“Sebenarnya, kurikulum yang ada khususnya 2013 dengan pendekatan tematiknya sudah mengarah ke situ, namun guru-guru masih kekurangan ide, kemampuan dan contoh nyata untuk menerapkannya di kelas. Sedangkan pendekatan pemerintah masih terlalu administratif di dalam mengembangkan kapasitas dan mengevaluasi kinerja guru”, lanjut Rizal.

Di SD percontohan di Yogyakarta ini, diharapkan guru tidak lagi mencekoki anak oleh hapalan rumus dan soal-soal karena mengejar target UN, melainkan membangun daya kritis dan imajinatif anak melalui kultur dan pengelolaan sekolah yang positif.

Rizal menilai dipilihnya Yogyakarta sebagai piloting project, karena kota ini dikenal sebagai kota pendidikan di Indonesia, diharapkan mempunyai peran yang besar untuk menjaga kualitas sekaligus memperluas jangkauan ke daerah-daerah lain. Sehingga jumlah anak-anak Indonesia yang dapat menikmati sekolah aman dan menyenangkan lebih banyak.

Secara terpisah, John Lougran, Dekan Monash University berujar bahwa keterlibatan universitas Monash sangat penting di pilot project ini.

Hasil riset lapangan yang dilakukan Monash akan membantu GSM dan pemangku kebijakan pendidikan di Indonesia menggunakannya untuk membuat regulasi yang tepat dan terukur untuk menciptakan sekolah yang aman dan menyenangkan.

Selain itu Monash akan mengajak Universitas Gadjah Mada melakukan riset bersama (kolaborasi) karena mereka lebih mengetahui kultur dan karakter sekolah ataupun masyarakat setempat.

“Kami sudah mengirim surat ajakan kerjasama ke Rektor UGM Prof. Dwikorita. Tentunya akan ada agenda petemuan antar dosen Monash dan UGM serta tim Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) untuk membicarakan target, substansi hingga teknis impelmentasi dan riset tersebut. Saya sendiri akan datang ke Yogyakarta di bulan Mei 2016 ini untuk menghadiri kick off  project ini,” lanjut John.

Saat ini tim GSM di Australia, Monash dan CNPS secara intensif dan rutin melakukan pertemuan untuk membicarakan persiapan seperti pembuatan modul, baseline riset hingga metodologi dan monitoring evaluasi riset.

Adapun tim GSM di Yogyakarta bertugas melakukan observasi sekolah sekaligus melakukan kerjasama dengan stakeholder lain seperti pemerintah daerah dan organisasi lain yang diharapkan terlibat.

 Sumber : www.australiaplus.com

31/07/2015 0 comments 1154 views

Kompetisi memasak MasterChef Australia, baru berakhir penayangannya Senin (27/7/2015). Acara ini menarik perhatian warga Indonesia di Australia. Pasalnya, seorang peserta yang terhenti di empat besar, Reynold Poernomo, memiliki latar belakang Indonesia. Bagi Novi Candra, mahasiswa doktoral di Universitas Melbourne, acara ini juga memberikan banyak pelajaran bagi dunia pendidikan di Indonesia.

sumber: tarkanews.com
sumber: tarkanews.com

Selama studi di Melbourne, salah satu acara favorit saya adalah program MasterChef – kompetisi mencari koki andal dari orang amatiran yang hobi memasak. Mereka berasal dari berbagai profesi, ada guru, akuntan, dokter bahkan ibu rumah tangga biasa.

Biasanya acara ini dimulai pukul 7.30 malam dan berakhir pukul 9.00. Selain menyukai berbagai inovasi yang dilakukan para peserta dalam memasak dan menyajikan masakannya, saya juga selalu tertarik dan terinspirasi dengan ketangguhan, persistensi, keseriusan belajar serta naik turunnya peserta sampai akhirnya mereka harus tersingkir atau justru melaju menjadi pemenang.

Hal lainnya, acara ini juga mampu mengubah paradigma saya yang tadinya melihat pekerjaan memasak adalah sesuatu rutinitas membosankan, menjadi pekerjaan indah jika didedikasikan dengan cinta. Tapi lebih dari itu, ada satu hal yang menginspirasi dan dapat diambil manfaatnya bagi pendidikan Indonesia.

Hal yang paling menarik bagi saya adalah bahwa acara ini adalah program kompetisi, namun sejak pertama sampai dengan final, suasana yang dibangun begitu positif, penuh dengan kebersamaan, saling mendukung dan pada beberapa aktivitas mereka bahkan diminta pada saat yang sama juga berkolaborasi satu dengan yang lainnya. Di Indonesia secara kultur, kompetisi dan kolaborasi seolah-olah berada di dua kutub yang berlawanan. Kultur kompetisi akan menghilangkan semangat kolaborasi, dan sebaliknya kolaborasi tidak mungkin memotivasi karena tidak ada kompetisi.

Saya teringat saat berdiskusi dengan salah satu kepala sekolah di Yogyakarta. Ketika kami mendiskusikan kolaborasi sebagai kompetensi yang diharapkan ada di kurikulum 2013 dan juga menjadi salah satu pilar 21st century learning, terlontar pertanyaan yang memancing diskusi panjang.

“Susah di Indonesia. Kita ini biasanya semangat berprestasi karena ada kompetisi. Makanya dulu ada ranking, terus sampai sekarang juga ada olimpiade sains, matematika, lomba menggambar, mewarnai dan lomba lain untuk memancing anak-anak menjadi terbaik. Nah kalau diganti dengan kolaborasi, nanti mereka kurang termotivasi untuk berprestasi?”

Kurang-lebih begitu pernyataan kepala sekolah tersebut. Dan benar, lontaran itupun menjadi diskusi panjang kami yang memang menarik, bagaimana kompetisi yang tidak selalu buruk tersebut, dapat beriringan dengan semangat kolaborasi yang dilatihkan sejak di sekolah.

Sebagai negara yang diprediksi termasuk dalam 10 negara dengan tingkat ekonomi terbaik dalam beberapa waktu mendatang, saya meyakini bahwa anak-anak Indonesia harus mampu berkompetisi dan pada saat yang sama mereka juga harus memiliki kemampuan  membuka diri, berkolaborasi secara percaya diri.

Saya terus mencari tahu dan belajar mengenai formula tersebut, dan akhirnya saya menemukannya di acara MasterChef Australia. Menurut saya, apa yang digambarkan di acara itu menggambarkan sebuah hasil pendidikan negara ini, demikian juga apa yang digambarkan oleh acara MasterChef Indonesia. Beruntung saya sempat menyaksikan MasterChef versi Australia dan versi Indonesia, dan dari situlah saya memulai beberapa refleksi saya mengenai pendidikan kita berikut ini:

sumber: www.gr8mag.com
sumber: www.gr8mag.com

Ketika peserta pertama kali hadir di acara MasterChef Australia, para juri (biasanya ada 3 juri tetap di acara itu) akan menyambut dengan hangat dengan kata-kata positif dan semangat yang membuat para peserta exciting untuk mengikuti perlombaannya. Para juri akan memotivasi bahwa seluruh peserta yang ada di ruangan ini semua memiliki kesempatan sama menjadi pemenang dan bertarung menaklukkan diri sendiri untuk menjadi terbaik. Suasananya terasa hangat, positif dan bersemangat.

Berbeda ketika saya menyaksikan acara MasterChef Indonesia, ketiga juri yang ada terlihat memasang muka angker, persis seperti kakak senior yang sedang melakukan MOS di Indonesia. Pada masa-masa awal kedatangan peserta, terasa sekali suasana tegang yang dibangun di ruangan para peserta baru yang akan bertanding. Tekanan, ketakutan dan persaingan adalah suasana yang dibangun di acara MasterChef Indonesia.

Suasana yang terjadi di kedua acara bertajuk sama ini, sedikit banyak menggambarkan kultur yang terbangun di tempat pendidikan kedua negara. Terbentuk kebiasaan bahwa murid baru di Australia disambut dengan kehangatan dan senyum ceria seluruh warga sekolah, dan bahkan alih-alih diorientasi dengan keras, mereka akan dilindungi oleh kakak kelasnya.

Kesan pertama saat kita hadir di suatu tempat baru tentu saja sangat berpengaruh pada hubungan kita dengan orang lain di lingkungan tersebut. Saya gembira saat ini, Indonesia mulai mengubah budaya senioritas dalam orientasi siswa baru menjadi budaya kehangatan dalam menyambut kedatangan mereka ke sekolah sebagai tempat yang menyenangkan untuk belajar.

Kedua, di MasterChef Australia, saat para juri mencicipi masakan para peserta. Tidak ada sediki pun terlihat wajah menyepelekan atau merendahkan hasil kreasi masakan peserta. Hal pertama yang mereka lakukan adalah sedapat mungkin melihat sisi positif pada makanan tersebut dan tidak segan-segan memberikan apresiasi positif jika memang masakan peserta tersebut tergolong luar biasa. Selanjutnya jika mereka menemukan kekurangan, baru kemudian mereka mengatakannya secara obyektif bahwa ada hal-hal yang kurang optimal dicapai oleh peserta. Terakhir mereka akan memberi kata-kata penyemangat untuk peserta.

Hal sebaliknya terjadi di MasterChef Indonesia. Para juri mencari-cari kekurangan peserta sebelum menemukan hal positif masakan yang dibuat peserta, sehingga dapat dibayangkan akibatnya bagi peserta. Dalam konteks pendidikan, adalah kewajiban pendidik menemukan hal-hal positif yang pasti ada di setiap anak didiknya, setelah itu memberikan apresiasi positif kepada mereka. Di kultur Indonesia tampaknya mudah sekali kita melihat kesalahan lupa mengapresiasi saat anak-anak kita melakukan hal positif.

sumber: tenplay.com.au
sumber: tenplay.com.au

Ketiga, meskipun program ini adalah program kompetisi, namun setiap kali ada peserta yang dipanggil ke depan untuk mempresentasikan masakannya, peserta lainnya akan bertepuk tangan untuk memberi semangat kepada peserta yang maju tersebut. Tepuk tangan, pelukan hangat dan wajah gembira juga ditampakkan saat ada peserta yang berhasil melaju dan meraih prestasi atau pujian dari juri. Begitu pun jika ada yang sedang bersedih karena hasil masakan tidak memuaskan, peserta lain akan mendukung dan memberi semangat. Kultur seperti ini dilatihkan di sekolah Australia.

Menurut guru di Australia, merayakan keberhasilan orang lain adalah sebuah nilai dan ketrampilan yang dilatih dan ditekankan. Keterampilan untuk ikut senang dengan keberhasilan orang lain akan menciptakan kultur kompetisi sehat sekaligus kemungkinan kolaborasi. Penekanan bahwa keberhasilan seseorang bukanlah sebuah ancaman namun sebuah inspirasi untuk orang lain berhasil memberikan rasa aman percaya diri dan berbesar hati dalam menghargai keberhasilan orang lain.

Keempat, para juri sangat menekankan kelebihan yang dimiliki tiap peserta. Misal si A dikenal sangat canggih memasak makanan Asia, sedang peserta B bagus sekali dalam memasak pastry, sementara peserta C memiliki kemampuan luar biasa saat memasak dessert dan lainnya.

Hal ini sangat terasa membangun sebuah nilai bahwa setiap peserta pasti memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh peserta lain sebagai tempat belajar.

Hal inilah yang mendorong pada saatnya mereka harus mampu berkolaborasi sesuai dengan kebutuhan akan keahlian lain yang diperoleh dari rekan rekannya tanpa harus merasa kurang percaya diri, karena diri mereka juga memiliki kelebihan.

Hal ini pun sangat kental saya temukan dalam kultur pendidikan dasar di Australia, dimana guru sangat mengenal kelebihan dan keunikan masing-masing anak dan secara terbuka dikemukakan kepada anak tersebut atau rekan-rekannya. Selain untuk membangun kepercayaan diri juga semangat terbuka untuk berkolaborasi.

Kelima, peserta yang diwawancara atau diminta mengomentari pengalaman mereka hari itu, masing-masing peserta akan fokus pada dirinya. Pada usaha apa yang telah dilakukannya, berfleksi atas kesalahan atau mengapresiasi usaha yang telah dia lakukan. Mereka fokus pada pengembangan diri mereka sendiri. Sementara, saya masih ingat dalam acara MasterChef Indonesia, para peserta justru sibuk menilai apa yang dilakukan peserta lain, bahkan sebagian besar adalah menilai secara negatif peserta lainnya.

Persaingan yang tidak sehat sangat kental dirasakan di acara MasterChef Indonesia. Hal inilah yang membuat kultur kita mempercayai bahwa kompetisi dan kolaborasi selalu ada di kutub yang berbeda. Belajar dari acara MasterChef Australia dan berangkat dari apa yang diungkapkan John Dewey dalam bukunya  School and Social Change, saya meyakini bahwa institusi sekolah akan mampu menciptakan generasi baru Indonesia, yang juga warga dunia. Sekolah mampu memberi ruang pada anak-anak untuk menghargai dirinya dan orang lain, untuk dapat ‘menang tanpa merendahkan’ seperti kata pepatah Jawa ‘menang tanpo ngasorake’.

*Tulisan ini adalah pendapat pribadi. Novi Candra adalah Dosen Fakultas Psikologi UGM Yogyakarta yang sekarang sedang melanjutkan pendidikan doktoral di School of Population and Global Health di University of Melbourne. Artikel ini disadur dari  www.australiaplus.com

Loading...