Character Development

12/02/2018 0 comments 49 views

OPEN REKRUITMEN : MANAJER OPERASIONAL 

Bagi kamu yang tertarik dengan dunia pendidikan, fresh graduate, semangat belajar, mudah beradaptasi, dan mampu berkomunikasi dengan baik.

 

Yuk segera daftarkan diri kamu untuk bergabung bersama Gerakan Sekolah Menyenangkan sebagai MANAJER OPERASIONAL.

 

 

Caranya mudah
Kirimkan CV dan surat lamaran melalui email GSM :
gerakansekolahmenyenangkan@gmail.com

Sebelum 23 Februari 2018.

info lebih lanjut : 087845661516 (Dewi)

 

07/02/2018 0 comments 28 views

Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), Muhammad Nur Rizal, memberi pandangannya terhadap fenomena sikap buruk siswa terhadap gurunya dalam dunia pendidikan di Indonesia belakangan ini.

Baru-baru ini terjadi satu kejadian memilukan saat seorang murid melakukan pemukulan kepada seorang guru yang akhirnya merenggut nyawa sang guru. Sistem pendidikan menjadi salah satu faktor kuat yang dinilai mengakibatkan ini bisa terjadi.

Tentu banyak aspek yang harus dilihat dari kejadian ini. Dari aspek psikologi misalkan, efek otak remaja memang membutuhkan satu eksistensi diri.

Khususnya, dari satu bagian korteks yang memang membutuhkan efek-efek eksistensi dan kebahagiaan. Bila itu tidak didapatkan di sekolah, anak-anak tentu tidak memiliki ruang untuk membangun emosi secara seimbang.

Menurut pengamat pendidikan dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Muhammad Nur Rizal, hal itu dikarenakan anak-anak membutuhkan luapan, dan bila ketidakhadiran ruang itu di rumah sama seperti di sekolah, tuntutan itu semakin menguat. Baik dari sekolah, rumah dan mungkin masyarakat.

“Karena masyarakat itu hanya melihat mereka yang nilainya tinggi, sehingga anak ini merasa tidak punya eksistensi dan benefit kepada lingkungan sekitar, anak kemudian lari mencari aspek kebahagiaan itu,” kata Rizal saat dihubungi Republika, Senin (5/2).

Pengaruh Media Sosial

Sayangnya, lanjut Rizal, pencarian itu mungkin malah menemukannya ke suplemen lain yang tidak baik seperti kekerasan atau pemukulan. Terlebih, ada satu aspek lain yang menguatkan itu yaitu efek dari media sosial.

Terbukanya informasi turut mengakibatkan hal-hal seperti itu, mengingat berita yang dulu dibatasi saat ini begitu mudah diakses. Menengok ke belakang, di era Presiden Soeharto malah mungkin berita-berita itu tidak akan ditayangkan.

Rizal melihat, saat ini terjadi satu connecting cognitive karena kita semua terhubung satu sama lain melalui internet dan media sosial. Apalagi, dengan biaya internet dan teknologi yang semakin terjangkau.

“Kita semakin mudah menjangkau informasi itu, dan ketika kita memperoleh berita membunuh dan sebagainya itu biasa, karena diberitakan seolah itu biasa, anak-anak jadi lebih mudah memperoleh informasi kekerasan,” ujar Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) tersebut.

Ketika informasi itu mudah diperoleh, bukan tidak mungkin anak-anak memiliki ide kreatif yang terbilang negatif. Misalkan, anak memiliki pola pikir kalau pemukulan bisa dilakukan di luar rumah, perlawanan bisa dilakukan di dalam rumah, dan lain-lain.

Ia berpendapat, terbukanya hubungan kognitif dengan media sosial ini semakin meningkatkan kemungkinan kekerasan itu terjadi. Terlebih, seperti sekarang saat kemampuan berpikir kritis dan mencari eksistensinya tidak sehat secara emosi.

Pola Pikir Lama

Sebagai pendidik, Rizal melihat apa yang terjadi merupakan akumulasi mengingat teguran yang dilakukan sang guru kemungkinan berulang kali terjadi dan membuat emosinya terpendam. Dari sisi pendidik, mungkin pula sang guru memiliki pola pikir lama yaitu hak menegur.

“Tapi, ketika guru punya perspektif berbeda terkait karakter anak muda di era milenial, guru ini akan memandang apa yang dilakukan anak semata-mata negatif,” kata Rizal.
Padahal, tidur itu tentu merupakan suatu proses alamiah, tergantung bagaimana melihatnya. Karenanya, jangan-jangan pendekatan pembelajaran atau memang tidak tersalurkan stimulan-stimulan yang menantang otak anak, sehingga anak itu tertidur.

Artinya, banyak aspek yang harus dilihat karena guru perlu juga mencoba merubah gayanya mengajar, dari model lama ke model milenial. Sebab, anak milenial tidak bisa diceramahi melainkan lewat mentorship.

“Anak milenial itu tidak bisa dimarahi atau ditegur, tapi dibangun sisi positifnya, mereka tidak senang diungkit hal-hal negatifnya, tapi senang bila dibangun hal-hal positifnya,” ujar Rizal.

Artinya, guru di era milenial memang harus banyak memberikan apresiasi kepada anak atau murid. Sebagai manusia, mungkin mereka salah, tapi salah itu tidak harus selalu diungkit karena mereka tidak bisa menerima itu.

Sistem Pendidikan yang Kurang Adaptif

Selain itu, ia melihat, anak-anak di era ini memerlukan purpose of life, jadi ketika pengajaran harus dikaitkan dengan arti kehidupan kepada anak. Sehingga, penting bagi guru mengetahui latar belakang anak murid.

“Dengan mengetahui latar belakang anak, pengajaran nanti bisa dikaitkan dengan anak itu, itu tantangan pendidik, bagaimana anak dapat melihat pendidikan sebagai penyelesai persoalan-persoalan kehidupannya,” kata Rizal.

Menurut Rizal, kondisi itu yang terjadi saat ini, di mana sistem pendidikan malah mengalineasi pendidikan dengan persoalan nyata. Itu membuat pola pikir anak membenarkannya bebuat baik di sekolah, tapi berbuat seenaknya saat di luar sekolah.

Saat itu terjadi split personality, dan ketika personalitas negatif yang muncul, tentu anak bisa lepas kendali. Apalagi, ketika ruang emosi tidak dikelola dengan baik, dan saat itu muncul tentu bisa menghasilkan kekerasan.

Dulu, ia mengingatkan, ada tekanan sosial yang membuat anak tidak berani melawan guru, dan tekanan itu yang menghalangi anak melakukan kejahatan. Sekarang, ketika kognitif terbuka, ketakutan itu semakin berkurang.

Itu banyak dikarenakan anak yang semakin sering mendengar berita kekerasan, yang malah banyak diapresiasi kelompok-kelompok tertentu belakangan ini. Pola pikir anak malah senang karena diberitakan, dicari, seakan menjadi gangster, orang kuat atau sangat laki-laki.

Tanpa sadar, itu mempengaruhi ruang emosi, dan ketika split personality terjadi sangat mungkin kekerasan pula yang muncul. “Jadi, saya melihat guru dan murid jadi korban sistem pendidikan yang ada,” ujar Rizal.

Rizal melihat, sistem pendidikan yang dimiliki Indonesia sampai saat ini masih kurang adaptif dengan perubahan yang sangat cepat terjadi. Mulai dari perubahan ke era digital, sampai perubahan informasi yang begitu berlebih.

Penekanan sistem pendidikan yang ada dirasa terlalu terpacu kepada kognitif, apalagi kognitif itu berada di arah level rendah. Sistem pendidikan yang ada kurang menekankan pendidikan karakter dan daya juang.

“Mental kurang, dan kemiskinan aspek itu ada di sekolah-sekolah atau lembaga pendidikan Indonesia, dan ini bisa diisi secara salah melalui efek internet dan globalisasi,” kata Rizal.

Sumber: Guru dan Murid Jadi Korban Sistem Pendidikan | Republika

27/01/2018 0 comments 62 views

GSM (Gerakan Sekolah Menyenangkan) membuka 2018 dengan mengadakan TOT (Training of Trainer) untuk para guru dari sekolah-sekolah yang sudah tergabung dalam gerakan.

Kamis (25/1), menjadi gebrakan baru untuk GSM. Gerakan yang diinisiasi oleh Muhammad Nur Rizal ini mengadakan TOT sebagai kegiatan pembuka mereka di tahun baru 2018.

Bertempat di SD Kalam Kudus Yogyakarta, kegiatan yang berlangsung hingga Jumat (26/1) itu diikuti oleh 25 guru dari sekolah-sekolah yang sudah tergabung dan menerapkan model GSM. TOT diadakan untuk melatih para guru agar bisa menerapkan pengajaran yang sesuai dengan modul pembelajaran GSM.

“TOT sudah kami lakukan beberapa kali, tapi memang ini jadi kegiatan pertama GSM pada 2018. Fokus dari TOT kali ini lebih ke penerapan modul pelatihan yang sudah kami buat untuk para guru. Selain itu mereka juga diajarkan untuk menjadi fasilitator, motivator, perlunya perubahan pola pikir, bagaimana menyambut era desrupsi, bagaimana menciptakan lingkungan sekolah yang positif, bagaimana setting lingkungan kelas, sampai seperti apa metode pembelajaran untuk mengatasi persoalan nyata,” terang Rizal.

Terdapat empat sesi dalam dua hari pelaksanaan kegiatan TOT. Pada hari pertama sesi dibuka oleh Iwan dengan pembahasan teknik fasilitasi. Dalam sesi ini para guru diajari untuk jadi fasilitator juga motivator yang bisa melihat dan menangani siswa dari berbagai sisi. Sesi kemudian dilanjutkan oleh Rizal dan Novi Candra mengenai pembahasan dan praktik modul pembelajaran GSM.

Sementara di hari kedua, TOT dibuka dengan pelatihan menulis berita oleh redaktur Republika, Fernan Rahadi. Para peserta diajari cara menulis dasar yang baik dan benar hingga praktik membuat tulisan berita. Setelahnya sesi diisi oleh Novi yang meneruskan pembahasan serta praktik modul pembelajaran GSM.

“TOT ini berlangsung menyenangkan walaupun berlangsung selama dua hari. Dibanding TOT lain yang pernah saya ikuti, TOT GSM ini lebih menginspirasi, menantang, dan menginisiasi perubahan di dunia pendidikan,” tutur salah satu peserta, Muhammad Mukhlas, guru SD Labschool UNNES.

Meski Rizal belum bisa memastikan, para peserta berharap jika kegiatan TOT ini bisa rutin diadakan oleh GSM seperti yang diungkap oleh Nugroho, guru SD Rejosari. “Semoga tidak berhenti sampai di sini, karena biasanya euforia-nya cuma berlangsung di awal. Saya berharap gairah ini tetap terjaga dan ada kelanjutannya,” harapnya.

 

Ahmad Reza Hikmatyar

25/07/2017 0 comments 499 views

 TALKSHOW DAN WORKSHOP
SEKOLAH MENYENANGKAN 2017

 

———————————————————————————————————–

Ingin tahu bagaimana pendidikan yang menyenangkan di kelas pada abad 21? Mau tahu bagaimana praktik belajar di sekolah-sekolah australia? Yuk ikuti talkshow dan workshop sekolah menyenangkan 2017.

Gerakan Sekolah Menyenangkan dengan bangga mempersembahkan :

1. Talkshow Sekolah Menyenangkan 2017 dengan Tema : “Nasib Revolusi Mental dan Urgensi Inovasi Pendidikan”

2. Workshop Sekolah Menyenangkan 2017
dengan Tema : “Praktik Baik Pengembangan Karakter Anak dalam Sekolah Menyenangkan”

———–

 Waktu : 08.00 – 16.00
 Tanggal : Senin, 7 Agustus 2017
 Tempat : UC (University Club) UGM
 Kontribusi : 150.000

 —————————————————————

PEMBAYARAN :
BRI :1056-01-003746-53-4 A.N NINIK SUPARWANTI

 ———

PENDAFTARAN
tinyurl.com/SeminarGSM2017

———

Atau hubungi CP dengan Format :
Talkshow_NamaLengkap_Pekerjaan_Lembaga_NoHp.

Yuk segera daftar, karena seat terbatas!! 🙂

07/06/2017 0 comments 518 views

” P E N G U M U M A N “

 

Bagi sekolah yang belum sempat mendaftar sebagai calon sekolah model GSM batch 2, jangan khawatir , karena waktu pendaftaran seleksi sekolah model GSM diperpanjang hingga tanggal 20 Juni 2017.

Syaratnya pun juga semakin mudah, hanya dengan mengisi formulir yang telah kami sediakan pada link di bawah.

======   Ayooo….buruan daftar… 🙂   ======

 

Seleksi Sekolah Model GSM Batch 2

==> Untuk Sekolah Dasar (SD) di Indonesia

Ingin menjadi salah satu sekolah model dampingan GSM?

Ikuti seleksi Sekolah Model GSM (Gerakan Sekolah menyenangkan) batch 2. Sekolah Anda akan didampingi oleh Guru-Guru dari Australia, Dosen UGM dan Monash University dalam program GSM.

Dengan Cara mengisi Form pada link berikut:

tinyurl.com/PendaftaranSekolahGSM

Pendaftaran paling lambat tanggal 20 Juni 2017.

Poster rekrutmen sekolah model GSM – baru

Informasi dan Pendaftaran:
Ninik  0811 2863 97
gerakansekolahmenyenangkan@gmail.com

10/05/2017 0 comments 576 views

Gerakan Sekolah Menyenangkan Presents

Seleksi Sekolah Model GSM Batch 2

 

==> Untuk Sekolah Dasar (SD) di Indonesia

 

Ingin menjadi salah satu sekolah model dampingan GSM?

 

Ikuti seleksi Sekolah Model GSM (Gerakan Sekolah menyenangkan) batch 2. Sekolah Anda akan didampingi oleh Guru-Guru dari Australia, Dosen UGM dan Monash University dalam program GSM.

 

Dengan Cara :

 

Kirimkan essay berisi profil sekolah dan alasan kenapa sekolah Anda layak untuk diseleksi.

Pendaftaran paling lambat tanggal 20 Mei 2017.

 

Poster rekrutmen sekolah model GSM

 

Informasi dan Pendaftaran:
Ninik  0811 2863 97
gerakansekolahmenyenangkan@gmail.com

10/05/2017 1 comments 570 views

Gerakan Sekolah Menyenangkan Presents 🙂

[OPEN RECRUITMENT]

Poster Open Recruitment Panitia Seminar dan Workshop Sekolah Menyenangkan

 

Tertarik dengan dunia pendidikan Indonesia? Ingin jadi agen perubahan pendidikan Indonesia? Atau ingin mendapatkan pengalaman dengan orang-orang keren?

 

Disinilah tempatnya~

 

Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) mengundang mahasiswa untuk berpartisipasi sebagai panitia dalam acara Seminar & Workshop Sekolah Menyenangkan pada bulan Agustus 2017.

 

Bagi kamu mahasiswa aktif, energik, senang bergaul, senang berorganisasi, dan berdedikasi tinggi. Jangan lewatkan kesempatan untuk meraih banyak teman, ilmu dan pengalaman di sini.

 

Berikut daftar divisi yang bisa teman teman pilih:

 

Sie

 

🎯   Acara               🍛   Konsumsi

📷   PDD                           📞   Humas dan Sponsor

💻   Kesekretariatan        💪   Perlengkapan

 

Pendaftaran

 

Kamu bisa menjadi salah satu agen perubahan dengan mengisi form di bawah ini~   🙂

bit.ly/VolunteerGSM2017 

 

Deadline 14 Mei 2017

 

Info lebih lanjut:

email: gerakansekolahmenyenangkan@gmail.com

Contact: Dewi 0878 4566 1516

 

Jangan lewatkan kesempatan ini yaa teman teman… 🙂

 

Kami tunggu kesertaanmu!

 

Salam,

Gerakan Sekolah Menyenangkan

28/11/2016 3 comments 1042 views

Open Rekruitment Panitia

Festival Sekolah Menyenangkan 2017

Poster Open Recruitmen Panitia Festival Sekolah Menyenangkan 2017
Poster Open Recruitmen Panitia Festival Sekolah Menyenangkan 2017

Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) mengundang mahasiswa untuk berpartisipasi sebagai panitia dalam acara Festival Sekolah Menyenangkan 2017.

Bagi kamu mahasiswa aktif, energik, senang bergaul, senang berorganisasi, dan berdedikasi tinggi. Jangan lewatkan kesempatan untuk meraih banyak teman, ilmu dan pengalaman di sini.

Berikut daftar divisi yang bisa teman teman pilih:

  1. Acara

  2. Kesekretariatan

  3. Konsumsi

  4. PDD

  5. Humas dan Sponsorship

  6. Perkap

Nah, bagi teman teman mahasiswa yang tertarik menjadi panitia, Yuuk….segera daftar di link berikut:

http://bit.ly/FormSekolahMenyenangkan

Pendaftaran: 28 November 2016 – 28 Desember 2016.

Jangan lewatkan kesempatan ini yaa guys… 🙂

Kami nantikan Partisipasimu 🙂

Salam,

Gerakan Sekolah Menyenangkan 🙂

 

15/08/2016 0 comments 703 views

Bagaimana pendapat M. Nur Rizal, Ph.D selaku pendiri GSM (Gerakan Sekolah Menyenangkan)  mengenai sistem belajar Full Day School yang digagas oleh menteri pendidikan Muhadjir Effendi ?

“Sepengetahuan saya Full day school ini kan ide pak menteri pendidikan yang baru yang ingin menerapkan program nawacita di pendidikan dasar dan menengah, dimana pembentukan karakter i ni menjadi porsi dan harus diberikan ruang porsi bobot yang sangat besar. Kemudian pak menteri pendidikan yang baru pak Muhadjir ingin menerapkannya dengan full day school, dimana di siang hingga sore hari banyak kegiatan ekstra kurikuler yang merangsang aktivitas perkembangan budi pekerti dan karakter ank-anak.

“Bahwa sekolah itu menjadi tempat anak-anak mengembangkan karakternya di dalam sekolah. Kita juga harus menilik dari aspek sosiologis di Indonesia. (M Nur RIzal, Ph.D).”

“Mendidik tidak hanya mengajar, Ki Hadjar Dewantara sebagai tokoh pendidikan itu mengatakan pendidikan itu selain mengasah pola pikir itu juga mengasah akal budi dan juga kebudayaan, makanya Ki Hajar Dewantara itu menyebut sekolah bukan hanya sekolah, tetapi taman. Taman itu adalah tempat yang menyenangkan, maka pola pembelajarannya harus menyenangkan, membahagiakan, memberikan motivasi pada anak, agar anak tidak hanya dijejali ilmu pengetahuan. Tetapi juga belajar bagaimana menumbuhkan kepedulian, bagaimana menumbuhkan kejujuran, bagaimana kemudian membangun karakter-karakter positif lainnya, dan yang terpenting membangun budaya. (M Nur Rizal, Ph.D)”

Video berikut merupakan pendapat pendiri GSM tentang Full Day School

Sumber : Link Video

03/06/2016 0 comments 1041 views

UGM – Monash University Pererat Kerjasama untuk Sekolah Menyenangkan di Indonesia

Foto: Penandatanganan MOU antara Monash-UGM-GSM-Clayton North Primary School
Foto: Penandatanganan MOU kerjasama antara Monash-UGM-GSM-Clayton North Primary School: Dari kiri Mohammad Nur Rizal (GSM), Danang Sri Hadmoko (UGM), Ken Chatterton Wakil Kepsek CPNS, Paripurna Wakil Rektor UGM dan John Lougran Dekan Fakultas Pendidikan Monash

 

Dua universitas dari Australia dan Indonesia, Monash University dan Universitas Gadjah Mada secara resmi setuju bekerjasama membantu pengembangan pendidikan masa depan yang menyenangkan dan manusiawi.

Diwakili oleh Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Alumni UGM, Dr. Paripurna dan Profesor John Lougran, Dekan Fakultas Pendidikan Monash University, kedua universitas meresmikan kerjasama riset untuk mendukung pengembangan pendidikan masa depan yang menyenangkan dan manusiawi yang digagas oleh Gerakan Sekolah Menyenangkan hari Senin (30/5/2016) di Auditorium MM UGM Yogyakarta.

Selain penandatanganan kerjasama, acara yang dihadiri ratusan peserta berasal dari kalangan pendidik, kepala sekolah, orang tua, mahasiswa, akademisi serta perwakilan pemerintah dilanjukan oleh seminar yang bertema “Revolusi Mental melalui Transformasi Sekolah untuk Pendidikan yang Menyenangkan dan Manusiawi”.

Dalam keterangan yang disampaikan kepada ABC Australia Plus Indonesia, disebutkan bahwa dengan penuh antusias, peserta yang memenuhi ruangan menyimak paparan yang disampaikan oleh Prof J John Loughan dari Monash University, Prof Laksono dari  UGM, Ken Chatterton dari CNPS (Clayton North Primary School) dan Dr. Muhammad N Rizal sebagai Ketua GSM (Gerakan Sekolah Menyenangkan) yang dipandu oleh Prof. Tina Afiatin dan Novi Candra, keduanya dosen Psikologi UGM.

Suara keempat pembicara dengan pandangannya masing-masing sama yakni menegaskan bahwa esensi pendidikan itu untuk membangun manusia bukan mengajar untuk mendapatkan nilai tinggi, yang lebih mencerminkan kemampuan anak menghapal isi buku ataupun catatan dari guru.

Hal itu dapat tercapai ketika anak dilatih untuk dapat “memprediksi”, “mengamati” sekaligus “menjelaskan” fenomena yang terjadi melalui pengetahuan yang dimilikinya. Sehingga anak akan memiliki kemampuan “mencipta’ dari sekedar “mengeja”, kata Professor Lougran”.

Sedangkan, Professor Laksono menyarankan agar pengajaran sekolah tidak boleh tercerabut dari akarnya agar muncul konsep pendidikan yang “reflektif partisipatoris.

Ilmu yang dipelajari digunakan untuk mengidentifikasi masalah di sekelilingnya, sekaligus mengidentifikasi diri untuk membangun kesejarahan baru.

Ken Chatterton juga mengungkapkan efek negatif testing dan testing yang menceritakan hlangnya keceriaan dan inisiatif anak didiknya mendadak menjadi pendiam dan susah bergaul sekembalinya sekolah di negara asalnya.

“Kemana hakekat keguruan ketika mengajar hanya berorientasi pada nilai ujian nasional tinggi namun lupa mengajarkan anak-anak “critical thinking’dan kreativitas? ”, Rizal melanjutkan pertanyaannya, “Untuk siapa bapak-ibu mengajar? memenuhi target dinas pendidikan, tuntutan orang tua atau ingin mengajar anak-anak?“.

Mereka butuh ruang bermain dan bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya. Mengeksplorasi apa saja yang terjadi di sekelilingnya. Sehingga ilmu dan pengetahuan yang diperolehnya di sekolah dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan sederhana dalam kehidupan sehari-harinya.

Sekolah harus mengajarkan kemandirian dengan mendekatkan ilmu pada realitas sosialnya. Sekolah harus menjadi pusat saling belajar bagaimana memanusiakan anak-anak dilakukan. Sekolah harus menjadi tempat yang menyenangkan untuk menumbuhkan sikap disiplin dan karakter positif untuk bekal ketrampilan hidupnya kelak.

Rizal menambahkan bahwa “sekolah menyenangkan itu bukan sekolah senang-senang saja, melainkan tempat yang membuat anak bahagia untuk mengembangkan diri dengan pola pembelajaran nyata serta mengakomodasi setiap jengkal potensi anak anak dalam iklim belajar yang positif dan saling menghargai.”

 

“Ujian boleh dilakukan namun bukan ukuran keberhasilan, melainkan salah satu cara mengukur kesungguhan anak dalam belajar. Yang terpenting adalah pengukuran proses belajar bukan hasil akhir. Sehingga kemampuan komunikasi, kolaborasi (teamwork) dan ketrampilan problem solver” (menyelesaikan masalah) anak dapat tergali optimal.” Muhammad Nur Rizal

 

Rizal menambahkan bahwa launching kerjasama riset ini merupakan lanjutan kegiatan workshop seminggu untuk peningkatan kualitas guru-guru.

Lebih dari dua puluh sekolah lolos seleksi untuk menjadi sekolah model sekolah menyenangkan di Propinsi Yogyakarta dan sekitarnya.

Guru-guru ini dilatih oleh GSM bersama tiga guru dari Clayton North Primary School, yakni Ken Chatterton, Joane Weston dan Josie Burt yang datang ke Indonesia dengan biaya sendiri.

Materi pelatihannya dari merubah mindset hingga skill praktis dari membuat visi sekolah yang terukur dan dapat diimplementasikan secara nyata menjadi kebijakan sekolah, iklim belajar positif hingga model dan evaluasi (assessment) pembelajaran yang menyenangkan dan manusiawi.

Foto: Seminar di Gedung MM UGM
Foto: Seminar di Gedung MM UGM

Guru-guru itu bahkan diharuskan untuk mempraktikkan seluruh materi yang diwujudkan dalam rencana belajar kepada murid-murid sekaligus mendapatkan “feedback” langsung dari anak-anak tersebut.

Dan yang perlu bapak-ibu ketahui, “bahwa seluruh pembiayaan operasional workshop ditanggung bersama melalui iuran guru-guru tersebut”, ujar Rizal.

“GSM bertujuan untuk mengisi gap antara konsep dan praktis yang justru minim dikembangkan oleh pemerintah “, lanjut Rizal.

Dari pendekatan gorong royong serta materi pengembangan guru-guru ala GSM kemudian diriset oleh peneliti dari UGM dan Monash untuk mendapatkan data akurat yang dapat digunakan sebagai acuan pengembangan selanjutnya.

Sehingga pengembangan ke depan didasarkan suara akar rumput dari guru-guru serta feedback langsung anak-anak dan komunitas orang tua yang terlibat.

 

“Kami menamakan kolaborasi ini “an educational partnership with a grass root approach to innovative school transformation” (kemitraan pendidikan dengan pendekatan akar rumput bagi tranformasi sekolah yang inovatif)”

 

“UGM akan selalu terdepan memfasilitasi inovasi riset yang diprakarsai oleh GSM ini. Selain kegiatan ini digagas oleh dosen UGM juga memiliki dampak nyata dan positif yang tidak hanya pada pengembangan ilmu pengetahuan, malainkan bagi pengabdian dan pengembangan masyarakat. Sesuai dengan visi dan cita-cita di statuta kampus kami,” tegas Wakil Rektor bidang Kerjasama dan Alumni UGM Dr Paripurna di akhir sambutannya.

Sumber : www.australiaplus.com

Loading...