Cerita Inspiratif

22/12/2016 0 comments 655 views

Gerakan Sekolah Menyenangkan dan Program BRIDGE Australia di Indonesia

Novi Candra (kiri), Muhammad Nur Rizal (keduanya dari GSM) dan Konsul Australia di Makassar Richard Mathews<br />Foto: Istimewa

Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) yang terinspirasi dari penyelenggaran pendidikan di Australia semakin banyak diminta menjelaskan konsep tersebut kepada berbagai kalangan pendidikan di Indonesia. Pendirinya Muhammad Nur Rizal baru-baru ini berbicara di Makassar (Sulawesi Selatan).

“Kerjasama di bidang pendidikan melalui program pertukaran guru seperti program Building Relationships through Intercultural Dialogue and Growing Engagement (BRIDGE) perlu diperluas kemanfaatannya.

Tidak hanya guru yang terlibat di program itu yang dapat merasakan kelebihan program ini melainkan seluruh warga sekolah termasuk siswa, guru lainnya hingga lingkungan di sekitarnya.

Jadi tidak cukup hanya membangun satu manusianya, namun diperlukan membangun ekosistem sekolahnya, “ungkapan yang saya kemukakan pada acara seminar yang diselenggarakan oleh Konsulat Jendral Australia di Makasar di depan alumni Autralia baik dosen, aktivis, guru program Bridge serta Dinas Pendidikan di Makassar (Sulawesi Selatan) baru-baru ini.

Sebagai Pendiri Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), kami diundang oleh Konsulat di Makasar untuk berbagi tips dan pengalaman bagaimana memulai perubahan di sekolah sekolah jejaring di Yogyakarta untuk membuat sekolah lebih menyenangkan dan memanusiakan seperti ajaran Ki Hadjar Dewantoro lalu.

Harapannya gerakan yang kami pelopori dapat menular di sekolah sekolah di Makassar.

 

“Seminar ini diselenggarakan dalam rangka menginisiasi program pengembangan untuk pendidikan dasar dan menengah di Makassar”, papar Konsul Jendral Richard Mathews, yang sebelumnya berprofesi sebagai guru bahasa Indonesia di Melbourne, saat membuka acara tersebut.

 

Dalam sambutannya disampaikan bahwa Konsulat yang baru diresmikan beberapa bulan lalu ini berkepentingan untuk memfasilitasi program pendidikan yang telah dirancang oleh pemerintah Australia dan Indonesia seperti Program Bridge untuk berkembang di Makasar.

Dalam paparan kami, saya mengajak peserta untuk menerapkan ilmu, pengalaman dan wawasan yang diperoleh selama di Australia kepada masyarakat atau lingkungan dimana mereka bekerja.

Bagi guru diharapkan mampu untuk membawa iklim atau lingkungan belajar yang positif dari Australia ke dalam pembelajaran di kelas atau sekolah.

Bagi dosen atau aktivis dapat mengaplikasikan berbagai filosofi dan teori baru ke dalam kurikulum kampus atau kegiatan pengabdian masyarakat.

Sedangkan bagi Dinas, untuk lebih terbuka dan mendukung berbagai ide perubahan yang dibawa oleh para alumni Bridge di Makassar.

Cara atau pendekatan itu akan memberikan kemanfaatan kepada masyarakat yang lebih luas.

 

Dengan semakin banyaknya masyarakat yang paham dan toleran atas kemajemukan kultur atau pola pikir yang berkembang, ini akan berguna untuk menjembatani hubungan antar warga atas berbagai kecurigaan atau ketidakpahaman yang terjadi selama ini.

 

Lebih luas, hal ini bermanfaat untuk memastikan kualitas hubungan Indonesia dan Australia yang kadang naik turun seperti permainan roller coster.

Selama sesi diskusi, banyak dari peserta yang menanyakan bagaimana memulai gerakan ini? apa hambatan dan tantangannya? serta bagaimana pendanaannya?

Kami bersama guru-guru di Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) memilih untuk berbuat melakukan pertukaran sistem dan praktik pendidikan yang telah dilakukan.

Sifatnya mutual dan melalui pendekatan bottom up dimana materi pelatihan didasarkan pada kebutuhan dan persoalan sehari-hari di kelas atau sekolah seperti kekerasan, bully, tidak fokus belajar hingga persoalan penerapan kurikulum 2013.

Indonesia bisa belajar dari sistem pendidikan Australia yang sudah ‘personalised learning‘ serta fit dengan tantangan perubahan kedepan, sedangkan Australia dapat belajar tentang ragam bahasa dan budaya Indonesia.

 

Yang kami lakukan tidak berhenti pada bertukar pengalaman dan pengetahuan saja, melainkan menerapkan sistem atau praktek pendidikan dari Australia ke dalam pembelajaran di kelas atau sekolah dengan konteks dan seting Indonesia.

 

Hal ini kami yakini selain dapat meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, juga efektif untuk membangun toleransi dan jembatan antarwarga kedua negara. Dampaknya tidak hanya bersifat personal melainkan lintas negara.

Agar gerakan ini terus berdampak nyata, setelah workshop kami mendorong dan memfasilitasi guru jejaring GSM untuk menyelenggarakan kelas berbagai praktek perubahan baik melalui tatap muka (offline) ataupun online menggunakan Whatsap atau Facebook.

Setiap perubahan yang dilakukan, kita apresiasi bersama dan dibagikan kepada publik atau guru guru lain untuk menginspirasi bagi yang belum berubah. Guru dapat saling menyampaikan masukan atau feedback untuk perbaikan kedepan sehingga proses evaluasi menjadi mudah dilakukan.

Muhammad Nur Rizal (kiri) dan Richard Mathews<br />Foto: Istimewa

Memberikan ruang kemerdekaan bagi untuk berinovasi

Selama pelatihan dan proses pendampingan, platform di gerakan kami adalah menggali inspirasi baru (mindset dan inovasi pembelajaran baru) dan memberikan ruang kemerdekaan bagi guru untuk berinovasi.

Saat pelaksanaan, perubahan didasari oleh semangat kolaborasi dan gotong royong bukan kompetisi antar sekolah seperti sekolah favorit atau non favorit, sekolah di kota atau desa.

Tidak ada dana khusus yang diperoleh dari institusi tertentu untuk memulai gerakan ini, melainkan hasil Crowd Funding, dimana setiap sekolah atau guru yang terlibat wajib mendanai dirinya sendiri.

Saat workshop berlangsung, tempat pelaksanaannya juga dilaksanakan secara bergiliran di sekolah yang berbeda.

Jikapun ada institusi atau pihak lain yang ingin menyumbang, sifatnya adhoc bukan utama.

Seketika peserta terhenyak, hening mendengar jawaban kami tentang gotong royong pendanaan ini.

Selalu saja jika kita berkata tentang perubahan, maka hambatannya adalah dana dan keterbatasan kondisi sekolah.

Padahal bukan itu. Perubahan adalah bagaimana kita melakukan satu hal kecil, namun tujuannya besar kemudian dibagikan untuk memberikan pesan bahwa perubahan itu dapat dilakukan. That is a change!

 

Kami juga mengingatkan, jika ingin berubah, bergaulah dengan kelompok.yang juga ingin perubahan agar selalu positif, optimis dan tak pernah merasa sendiri.

 

Di akhir sesi kami sampaikan bahwa jika Tujuan dan Skala Program Bridge diperluas seperti yang dilakukan di GSM, maka perubahannya akan dirasakan nyata oleh masyarakat luas.

Dan akan menjadi upaya konkrit dalam meningkatkan kualitas interaksi dan hubungan kedua warga negara.

 * Muhammad Nur Rizal PhD, Dosen Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan mendapat gelar PhD dari Monash University, Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan, sering diundang untuk sharing pengalaman kepada para alumni Australia yang diselenggarakan baik oleh Kedutaan Besar atau Konsulat Australia di Indonesia

Sumber: http://www.australiaplus.com/indonesian/studi-nad-inovasi/gerakan-gerakan-sekolah-menyenangkan-dan-program-bridge-austral/8138016

23/08/2016 1 comments 752 views

Sekolah Menyenangkan

Hak Seluruh Anak Indonesia

Berikut merupakan kutipan wawancara antara Kanti (PhD mamaindonesia.com) dengan Novi Candra (Gerakan Sekolah Menyenangkan)

 

Mbak Novi, apa saja kesibukan sekarang? 

Kesibukan saya setelah kembali ke Indonesia tentu saja menjalankan 3 darma perguruan tinggi yaitu mengajar, meneliti dan melakukan pengabdian masyarakat. Saya kembali mengajar psikologi perkembangan di Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada.

Nah selain itu, untuk pengabdian masyarakat kebetulan karena ada Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), maka saya terus bekerja sosial bersama para guru guru,volunteer orangtua juga mahasiswa untuk bersama sama mengembalikan sekolah Indonesia menjadi tempat yang menyenangkan dan manusiawi buat anak-anak Indonesia.

Biasanya saya akan keliling ke sekolah sekolah dasar yang menjadi jejaring untuk berbagi tentang sekolah menyenangkan dan manusiawi abad 21, kompetensi apa yang mesti dimiliki oleh anak-anak dan juga bagi guru.

Di bulan Mei yang lalu GSM bekerja sama dengan Clayton North Primary School (CNPS), sekolah anak kami di Melbourne dulu, mengadakan workshop selama 5 hari bagi 75 guru dan kepala sekolah calon sekolah model yang telah lolos seleksi di Yogyakarta.

Sekolah model ini akan didampingi untuk membuat perubahan dari penciptaan lingkungan belajar yang positif, pelibatan anak-anak dalam proses pendidikan dan belajar, pelibatan komunitas dan orangtua, manajemen kelas, pengajaran menyenangkan abad 21 juga model assesmennya.

Perubahan ini nantinya akan diriset bersama oleh UGM dan juga Monash University. Semua aktivitas ini alhamdulillah bisa terlaksana karena gotong royong semua pihak. CNPS membiayai sendiri para gurunya, demikian juga Monash dan UGM, serta para guru iuran untuk membiayai workshopnya.

Foto: Seusai workshop bersama salah seorang guru dari Melbourne yang berbagi ide, ilmu dan pengalaman tentang sekolah menyenangkan
Foto: Seusai workshop bersama salah seorang guru dari Melbourne yang berbagi ide, ilmu dan pengalaman tentang sekolah menyenangkan

Boleh cerita sedikit tentang proses kelahiran Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM)? Apa tujuan utama dari GSM?

GSM berdiri tahun 2013 ketika saya dan mas Rizal (suami) studi di Melbourne. Gerakan ini lahir karena kami melihat ada gap antara pendidikan di Indonesia dan pendidikan di negara Australia.

Saat itu kami menyaksikan betapa anak anak sangat bahagia di sekolah dan memiliki antusiasisme tinggi sebagai pembelajar mandiri.

Mereka juga diberi ruang oleh sekolah dalam mengembangkan kompetensi uniknya. Kami juga melihat bagaimana pendidikan dasar juga mestinya adalah waktu dimana ditumbuhkan kecintaan anak anak pada belajar, ilmu pengetahuan, sumber-sumber belajar, serta tak lupa menumbuhkan karakter-karakter poistif dalam diri anak-anak. Kondisi ini berbeda dengan kebanyakan sekolah di Indonesia yang kami temui (terutama sekolah negeri).

Mungkin sudah banyak juga sekolah menyenangkan seperti sekolah anak-anak kami di Melbourne, namun biasanya kalau di Indonesia itu harganya mahal dan hanya bisa diakses oleh masyarakat menengah ke atas.

Di sela-sela kesibukan thesis, saya luangkan untuk selalu sit-in di kelas anak anak dan menjadi volunteer orangtua agar saya dapat belajar dari sekolah tersebut. Karena itulah kami ingin membawa pulang ilmu tersebut untuk kami bagi kepada para guru di Indonesia lewat GSM.

Harapan: Saya ingin semua anak Indonesia bisa menikmati suasana kelas yang menyenangkan yang dapat membantu mereka menikmati proses belajarnya di sekolah
Harapan: Saya ingin semua anak Indonesia bisa menikmati suasana kelas yang menyenangkan yang dapat membantu mereka menikmati proses belajarnya di sekolah

Awalnya itu berangkat dari sebuah program sederhana bernama ‘Berbagi Satu Mimpi’. Kami kumpulkan cerita-cerita tentang praktek baik pendidikan Australia yang ditulis oleh para orangtua yang diantaranya juga adalah mahasiswa PhD Indonesia yg ada di Australia. Cerita itu lalu diterbitkan dalam buku berjudul ‘Sekolah itu Asyik’.

Saat ini kami juga akan mempublish satu buku lagi berjudul ‘Sekolah nir Kekerasan: Inspirasi dari 4 Benua’.

Sejak itu kami bergerak membagikan praktek baik tersebut untuk sekolah di Indonesia sampai beberapa sekolah melakukan perubahan dan membuat jejaring atas inisiatif sendiri.

Jadi GSM adalah gerakan akar rumput pendidikan bertujuan menjadikan sekolah Indonesia menjadi tempat menyenangkan dan manusiawi untuk belajar anak anak Indonesia, untuk menumbuhkan kompetensi abad 21 (kreatif, kolaborasi, berpikir kritis dan komunikasi).

Seperti apa mbak menggambarkan kondisi pendidikan di Indonesia — apa sajakah kekuatan dan kelemahannya, serta potensi ke depan?

Selain aksesibilitas yang tidak merata, kualitas pendidikan yang tidak merata pun menjadi isu.

Pendidikan Indonesia secara umum masih berorientasi pada hasil bukan proses (makanya nilai sangat penting di Indonesia), pendidikan Indonesia juga masih untuk tujuan standarisasi bukan pengembangan kompetensi (makanya masih banyak testing-testing/ulangan), pendidikan kita juga masih mengutamakan kognitif bukan kompetensi utuh dan terakhir pendidikan kita masih berpusat pada guru belum berpusat pada anak anak sebagai pembelajar.

Padahal kita memiliki kekuatan luar biasa yaitu anak-anak Indonesia yang potensial, guru guru yang ingin melakukan perubahan serta kekayaan budaya yang luar biasa yang dapat memperkaya konsep pendidikan Indonesia.

Kelemahannya: sistem birokrasi yang masih lemah. Pemerintah selalu menyatakan bahwa pendidikan adalah yang utama namun bebarengan dengan itu terobosan yang dibuat pun belum optimal.

Pak mantan Menteri Anies Baswedan sebetulnya sudah memberikan dukungan untuk gerakan sekolah menyenangkan yang ikut menyemangati kami untuk terus bergerak dari bawah.

Nah sekarang dengan pergantian Menteri, apakah mewujudkan sekolah menyenangkan tetap menjadi salah satu fokus kebijakan atau tidak, saya tetap yakin anak-anak Indonesia membutuhkannya.

Sekolah semestinya mampu menjadi rumah kedua bagi anak anak kita. Dan kita tidak sedang bicara satu, dua, tiga atau puluhan sekolah yang telah menyenangkan, kita berbicara tentang sebagian besar sekolah di Indonesia.

Terkait ide sekolah penuh hari (full day school), menurut saya tak apa sekolah lebih lama asal membuat anak anak bahagia. Namun pernahkan kita bertanya apa yang membuat mereka bahagia dan tak bahagia di sekolah? Kadang banyak hal tak terpikirkan dari sudut pandang mereka.

Foto: Ekspresi antusias anak-anak saat belajar dengan cara yang lebih menyenangkan (SD Muh Sidoarum)
Foto: Ekspresi antusias anak-anak saat belajar dengan cara yang lebih menyenangkan (SD Muh Sidoarum)

Apa saja rintangan/tantangan yang dihadapi GSM? Apa harapan mbak ke depannya?

Tantangannya adalah mindset lama yang dimiliki oleh para pendidik, orangtua dan masyarakat bahwa pendidikan yang berkualitas adalah yang berstandarisasi melalui ujian dan anak-anak yang hebat adalah anak-anak yang pintar secara akademis.

Ke depan kami berharap GSM mampu mengubah mindset bahwa setiap anak adalah manusia yang memiliki keunikan untuk dikembangkan, oleh karenanya nilai bukan segala-galanya.

Kami berharap sekolah Indonesia ke depan adalah tempat menumbuhkan manusia manusia yang berjiwa, peduli pada lingkungannya juga mampu memberi manfaat pada sekitarnya. Bukan manusia yang memiliki nilai akademik tinggi namun kering jiwa dan tak peduli dengan sekitarnya.

Juga mindset bahwa guru Indonesia itu ‘kurang pintar’ sehingga tidak sanggup membuat inovasi, imbasnya adalah pendekatan yang dilakukan oleh pemerintah selalu top-down.

Ada banyak guru Indonesia yang memiliki kreativitas dan kemampuan menginspirasi, oleh karenanya ke depan GSM berharap mampu membantu para guru bahwa sejatinya mereka adalah juga pembelajar yang mampu berinovasi dan mengispirasi.

Foto: Salah satu sesi saya bersama para guru yang bersemangat untuk perubahan demi anak-anak didiknya (Guru SD Kalam Kudus Yogyakarta)
Foto: Salah satu sesi saya bersama para guru yang bersemangat untuk perubahan demi anak-anak didiknya (Guru SD Kalam Kudus Yogyakarta)

Tiga kata yang paling pas untuk menggambarkan perempuan?

Perempuan adalah.. sumber kehidupan, kekuatan dan kebijaksanaan.

Kanti, buat saya pribadi mengetahui banyak hal tentang bangsa ini membuat saya merefleksi bahwa perjalanan sebagai PhD student sekaligus PhD yang seorang ibu bukan sekadar perjalanan meraih sebuah gelar doktor.

Tapi bagi saya perjalanan saya sebagai PhD adalah perjalanan spiritual yang justru mengingatkan bahwa gelar doktor pun tidak akan berarti apa apa jika kita tidak melakukan sesuatu yang sangat sederhana yang dibutuhkan bangsa kita.

Terima kasih mbak Novi!

Thanks Kanti buat kesempatannya. Sukses selalu.

Sumber:

https://phdmamaindonesia.com

13/06/2016 0 comments 549 views

MERUBAH ORANG LEBIH PENTING

 

Oleh: Agung Wibawanto

 

Bagi yang belum sempat membaca Profile Prof John Loughran (Dean of Faculty of Education Monash University of Australia) di Swara Kampus KR Edisi Selasa (7/6) yang lalu, berikut naskah asli saat Swara Kampus KR mewawancarai Prof John Loughran

 

Foto : Prof John Loughran
Foto : Prof John Loughran

 

Di sela kesibukannya sebagai Dekan Fakultas Pendidikan Monash University, Prof John Loughran menyempatkan diri menjadi pembicara seminar Sekolah Menyenangkan dan Manusiawi yang diselenggarakan oleh Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) di MM UGM, Senin (30/5). Swara Kampus KR berkesempatan melakukan interview singkat kepada John Loughran. Berikut liputan wawancara selengkapnya:

 

Bagi Anda, apa pentingnya pendidikan untuk kehidupan manusia?
Pendidikan menciptakan kesempatan bagi orang untuk mengendalikan kehidupan mereka. Dengan dididik, peluang, ide-ide dan kemungkinan dapat lebih dipahami dan diambil untuk membentuk apa yang kita lakukan, bagaimana dan mengapa. Pendidikan memberikan kesempatan menjadi anggota informasi dari masyarakat dan untuk berkontribusi secara positif membentuk dunia di sekitar kita.

 

Apa alasan Anda sehingga memutuskan untuk bekerjasama dengan Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM)?
Alasan saya memutuskan bekerja dengan GSM adalah karena orang-orang yang terlibat, gairah, minat dan keterlibatan mereka dan kejujuran pendekatan mereka. Mereka memiliki kepedulian yang nyata untuk belajar yang berkualitas dan itu adalah sesuatu yang beresonansi kuat dengan saya sebagai seorang pendidik. Ini benar-benar penting dan GSM berniat baik, orang-orang jujur berusaha untuk meningkatkan pembelajaran dari orang lain. Itu adalah suatu hal yang baik untuk melihat dan terlibat.

 

Apa pendapat Anda tentang pendidikan di Indonesia?
Saya bukan ahli tentang pendidikan di Indonesia tapi saya sadar melalui GSM perhatian untuk meningkatkan pengajaran dan pembelajaran. Itu adalah keinginan yang sama seperti di Australia. Kedua negara mungkin berbeda dalam hal pengembangan kualitas pengajaran dan pembelajaran, tapi pada akhirnya, keinginan untuk student centered, peserta didik aktif yang mampu bertanggungjawab untuk belajar dan tindakan mereka sangat penting. Mendorong maju dengan itu agenda (pendidikan) di Indonesia benar-benar penting.

 

Apa perbedaan antara pendidikan di Australia dengan di Indonesia?
Pendidikan di Australia mungkin resource-nya lebih tinggi daripada di Indonesia, tapi yang penting bagi kedua negara adalah tentang maksud pengembangan pendidikan. Itu berarti bahwa guru perlu kesempatan untuk pengembangan profesional berkelanjutan sehingga mereka dapat belajar bagaimana mendukung pembelajaran siswa.

Mengajar yang baik menuntut kerja dan membutuhkan keterampilan canggih, pengetahuan dan kemampuan yang perlu terus-menerus diasah. Ketika guru ditantang tentang perkembangan ajaran mereka itu mempengaruhi secara dramatis cara mereka mendukung pembelajaran siswa mereka. Jadi mendukung pengembangan guru merupakan hal terpenting untuk mendukung peningkatan belajar siswa.

 

Ini pertanyaan klasik, bagi anda mana yang lebih penting? Sebuah sistem yang baik atau sumber daya manusia dengan baik?
Dan jawaban klasik saya adalah untuk berinvestasi pada orang. Sumber daya manusia yang paling penting, sistem harus dirancang untuk mendukung sumber daya manusia yang membuat sistem kerja terbaik.

 

Pertanyaan terakhir, apa pesan atau harapan anda kepada para guru ataupun mahasiswa program pendidikan (calon guru) di Indonesia?
Pesan saya adalah: belajar mengajar harus ada dalam hubungan dua arah dengan dekat. Mengajar harus mempengaruhi belajar dan pembelajaran harus membentuk mengajar, dengan demikian karya guru dan siswa bersama-sama adalah pengalaman kolaboratif, bijaksana dan bermakna dan memang itulah sekolah yang seharusnya. Sebuah hubungan yang kuat dibangun atas rasa hormat, kepercayaan dan pembangunan untuk semua.

 

Profil Prof John Loughran di Swara Kampus Kedaulatan Rakyat edisi Selasa (7/6)
Profil Prof John Loughran di Swara Kampus Kedaulatan Rakyat edisi Selasa (7/6)
03/06/2016 0 comments 784 views

UGM – Monash University Pererat Kerjasama untuk Sekolah Menyenangkan di Indonesia

Foto: Penandatanganan MOU antara Monash-UGM-GSM-Clayton North Primary School
Foto: Penandatanganan MOU kerjasama antara Monash-UGM-GSM-Clayton North Primary School: Dari kiri Mohammad Nur Rizal (GSM), Danang Sri Hadmoko (UGM), Ken Chatterton Wakil Kepsek CPNS, Paripurna Wakil Rektor UGM dan John Lougran Dekan Fakultas Pendidikan Monash

 

Dua universitas dari Australia dan Indonesia, Monash University dan Universitas Gadjah Mada secara resmi setuju bekerjasama membantu pengembangan pendidikan masa depan yang menyenangkan dan manusiawi.

Diwakili oleh Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Alumni UGM, Dr. Paripurna dan Profesor John Lougran, Dekan Fakultas Pendidikan Monash University, kedua universitas meresmikan kerjasama riset untuk mendukung pengembangan pendidikan masa depan yang menyenangkan dan manusiawi yang digagas oleh Gerakan Sekolah Menyenangkan hari Senin (30/5/2016) di Auditorium MM UGM Yogyakarta.

Selain penandatanganan kerjasama, acara yang dihadiri ratusan peserta berasal dari kalangan pendidik, kepala sekolah, orang tua, mahasiswa, akademisi serta perwakilan pemerintah dilanjukan oleh seminar yang bertema “Revolusi Mental melalui Transformasi Sekolah untuk Pendidikan yang Menyenangkan dan Manusiawi”.

Dalam keterangan yang disampaikan kepada ABC Australia Plus Indonesia, disebutkan bahwa dengan penuh antusias, peserta yang memenuhi ruangan menyimak paparan yang disampaikan oleh Prof J John Loughan dari Monash University, Prof Laksono dari  UGM, Ken Chatterton dari CNPS (Clayton North Primary School) dan Dr. Muhammad N Rizal sebagai Ketua GSM (Gerakan Sekolah Menyenangkan) yang dipandu oleh Prof. Tina Afiatin dan Novi Candra, keduanya dosen Psikologi UGM.

Suara keempat pembicara dengan pandangannya masing-masing sama yakni menegaskan bahwa esensi pendidikan itu untuk membangun manusia bukan mengajar untuk mendapatkan nilai tinggi, yang lebih mencerminkan kemampuan anak menghapal isi buku ataupun catatan dari guru.

Hal itu dapat tercapai ketika anak dilatih untuk dapat “memprediksi”, “mengamati” sekaligus “menjelaskan” fenomena yang terjadi melalui pengetahuan yang dimilikinya. Sehingga anak akan memiliki kemampuan “mencipta’ dari sekedar “mengeja”, kata Professor Lougran”.

Sedangkan, Professor Laksono menyarankan agar pengajaran sekolah tidak boleh tercerabut dari akarnya agar muncul konsep pendidikan yang “reflektif partisipatoris.

Ilmu yang dipelajari digunakan untuk mengidentifikasi masalah di sekelilingnya, sekaligus mengidentifikasi diri untuk membangun kesejarahan baru.

Ken Chatterton juga mengungkapkan efek negatif testing dan testing yang menceritakan hlangnya keceriaan dan inisiatif anak didiknya mendadak menjadi pendiam dan susah bergaul sekembalinya sekolah di negara asalnya.

“Kemana hakekat keguruan ketika mengajar hanya berorientasi pada nilai ujian nasional tinggi namun lupa mengajarkan anak-anak “critical thinking’dan kreativitas? ”, Rizal melanjutkan pertanyaannya, “Untuk siapa bapak-ibu mengajar? memenuhi target dinas pendidikan, tuntutan orang tua atau ingin mengajar anak-anak?“.

Mereka butuh ruang bermain dan bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya. Mengeksplorasi apa saja yang terjadi di sekelilingnya. Sehingga ilmu dan pengetahuan yang diperolehnya di sekolah dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan sederhana dalam kehidupan sehari-harinya.

Sekolah harus mengajarkan kemandirian dengan mendekatkan ilmu pada realitas sosialnya. Sekolah harus menjadi pusat saling belajar bagaimana memanusiakan anak-anak dilakukan. Sekolah harus menjadi tempat yang menyenangkan untuk menumbuhkan sikap disiplin dan karakter positif untuk bekal ketrampilan hidupnya kelak.

Rizal menambahkan bahwa “sekolah menyenangkan itu bukan sekolah senang-senang saja, melainkan tempat yang membuat anak bahagia untuk mengembangkan diri dengan pola pembelajaran nyata serta mengakomodasi setiap jengkal potensi anak anak dalam iklim belajar yang positif dan saling menghargai.”

 

“Ujian boleh dilakukan namun bukan ukuran keberhasilan, melainkan salah satu cara mengukur kesungguhan anak dalam belajar. Yang terpenting adalah pengukuran proses belajar bukan hasil akhir. Sehingga kemampuan komunikasi, kolaborasi (teamwork) dan ketrampilan problem solver” (menyelesaikan masalah) anak dapat tergali optimal.” Muhammad Nur Rizal

 

Rizal menambahkan bahwa launching kerjasama riset ini merupakan lanjutan kegiatan workshop seminggu untuk peningkatan kualitas guru-guru.

Lebih dari dua puluh sekolah lolos seleksi untuk menjadi sekolah model sekolah menyenangkan di Propinsi Yogyakarta dan sekitarnya.

Guru-guru ini dilatih oleh GSM bersama tiga guru dari Clayton North Primary School, yakni Ken Chatterton, Joane Weston dan Josie Burt yang datang ke Indonesia dengan biaya sendiri.

Materi pelatihannya dari merubah mindset hingga skill praktis dari membuat visi sekolah yang terukur dan dapat diimplementasikan secara nyata menjadi kebijakan sekolah, iklim belajar positif hingga model dan evaluasi (assessment) pembelajaran yang menyenangkan dan manusiawi.

Foto: Seminar di Gedung MM UGM
Foto: Seminar di Gedung MM UGM

Guru-guru itu bahkan diharuskan untuk mempraktikkan seluruh materi yang diwujudkan dalam rencana belajar kepada murid-murid sekaligus mendapatkan “feedback” langsung dari anak-anak tersebut.

Dan yang perlu bapak-ibu ketahui, “bahwa seluruh pembiayaan operasional workshop ditanggung bersama melalui iuran guru-guru tersebut”, ujar Rizal.

“GSM bertujuan untuk mengisi gap antara konsep dan praktis yang justru minim dikembangkan oleh pemerintah “, lanjut Rizal.

Dari pendekatan gorong royong serta materi pengembangan guru-guru ala GSM kemudian diriset oleh peneliti dari UGM dan Monash untuk mendapatkan data akurat yang dapat digunakan sebagai acuan pengembangan selanjutnya.

Sehingga pengembangan ke depan didasarkan suara akar rumput dari guru-guru serta feedback langsung anak-anak dan komunitas orang tua yang terlibat.

 

“Kami menamakan kolaborasi ini “an educational partnership with a grass root approach to innovative school transformation” (kemitraan pendidikan dengan pendekatan akar rumput bagi tranformasi sekolah yang inovatif)”

 

“UGM akan selalu terdepan memfasilitasi inovasi riset yang diprakarsai oleh GSM ini. Selain kegiatan ini digagas oleh dosen UGM juga memiliki dampak nyata dan positif yang tidak hanya pada pengembangan ilmu pengetahuan, malainkan bagi pengabdian dan pengembangan masyarakat. Sesuai dengan visi dan cita-cita di statuta kampus kami,” tegas Wakil Rektor bidang Kerjasama dan Alumni UGM Dr Paripurna di akhir sambutannya.

Sumber : www.australiaplus.com

09/05/2016 0 comments 1316 views
Berikut merupakan tulisan dari ibu Ailis Safitri dari SD Muhammadiyah Macanan
Sleman yang merupakan salah satu sekolah dalam jaringan GSM.
Beliau berbagi pengalaman mengenai PR yang sering diberikan guru kepada siswanya.

13095771_1174752359221660_884549048293011474_n

PR KREATIF ABAD 21
Oleh Ailis Safitri

Saat anak lelah pulang sekolah lalu dilanjutkan dengan les ini itu, apa yg diharapkan guru untuk dilakukan seorang peserta didik di rumah? Ya, terkadang guru masih membebankan pekerjaan rumah (PR) dengan alasan agar si anak mau belajar. “Kalau tidak diberi PR, maka anak akan malas belajar di rumah…,” demikian komentar guru pada umumnya.

PR nya berupa mengulang pelajaran di sekolah (biasanya membaca dan menghafal), atau mengerjakan soal-soal di buku latihan, semuanya berkait dengan baca, tulis dan hitung. Sesungguhnya ada beberapa metode belajar di rumah untuk mengulang pelajaran di sekolah melalui bertutur atau bercerita (menceritakan kembali pelajaran yang ia terima di sekolah).

Penting ya mengulang kembali pelajaran di sekolah saat di rumah? Ya memang penting, namun jika itu saja yang diberikan maka si anak bisa jenuh atau bosan. Pengetahuan tidak hanya baca, tulis dan hitung dalam buku pelajaran, tapi juga bisa mengamati dan melakukan sesuatu. Sebagai contoh, si anak diberi PR untuk memperhatikan ibu memasak, jika ingin membantu boleh juga.

Saat di sekolah si anak diminta untuk bercerita pengalamannya mengamati ibu memasak, apa nama masakannya, apa saja bumbu yang digunakan, apa saja bahan masakannya, bagaimana cara memasaknya. Maka jadilah resep versi anak melalui sebuah pengamatan. Ia juga diperkenankan memberi tanggapan atau pendapat terhadap masakan ibunya tersebut.

Atau saat hari libur, mintalah si anak untuk ikut ibunya belanja ke pasar. Atau bisa juga mengamati dan membantu ayah mencuci kendaraan. Orangtua mengajak diskusi beberapa hal yang tidak dimengerti anak. Kemudian si anak akan menceritakan kembali pengalamannya tersebut dan tanyakan pelajaran penting apa yang ia dapatkan? Bukankah itu juga sebuah pembelajaran?

Banyak hal yang sifatnya tematik yang dapat dikerjakan anak saat di rumah sebagai sebuah PR. Contoh mengamati suasana di pasar, maka tema tersebut akan terkait dengan cara menghitung, berkomunikasi, ekonomi, pendidikan moral, dan sebagainya. Si Anak juga tidak hanya bisa “calistung” tapi juga melatih pengamatan, nalar/pikir serta mengetahui bagaimana bertindak.

Untuk itu kepada guru juga orangtua agar tidak memaknai belajar hanya dalam bentuk menghafal ulang ataupun mengerjakan soal-soal latihan, namun praktik juga penting. Agar anak menjadi terlatih logikanya dan mandiri. Bukan menghilangkan PR sekolah berupa latihan soal-soal, tapi dikurangi porsinya dan diganti dengan PR berupa praktik langsung.

Mintalah kepada orangtua untuk selalu mendampingi selama anak mengerjakan tugasnya tersebut. Bila ada hal-hal yang belum bisa terjawab oleh orangtua, maka pertanyaan dapat dibawa ke sekolah keesokan harinya. Si Anak bisa belajar (tanpa ia sadari sesungguhnya ia sedang belajar) dan komunikasi dengan orangtua dapat terjalin. Semoga bermanfaat 🙂

*Penulis : Ailis Safitri (SD Muhammadiyah Macanan, Sleman)

03/05/2016 0 comments 693 views

Sabtu, 30 April 2016. Kunjungan Agung Wibawato (Wartawan KR) ke SD Muhammadiyah Macanan (salah satu sekolah dalam jaringan GSM). Beliau menyampaikan bahwa di sekolah desa juga banyak siswa cerdas, sepanjang metode pembelajarannya juga tepat. Seperti saat mengajarkan tentang kerjasama berikut ini.

 

KERJASAMA

 

Ada sebuah kejadian yang menarik tadi siang (menurut saya, gak tau menurut pembaca, hehehe…). Saat memperhatikan setiap tingkah laku anak-anak siswa sekolah dasar, bermacam tingkah polahnya, ada yang lucu, mengharukan, bangga dan kadang memunculkan inspirasi.

Seperti saat beberapa orang anak kelas 2-3 mengerumuni sebuah mobil. Satu persatu bergantian berusaha mendorong mobil yang tampak tidak bergeming sedikitpun. Sepertinya mereka tengah “berlomba” siapa yang paling kuat mendorong mobil. Penasaran, saya pun mendekati dan bertanya, apa yang tengah mereka lakukan.

Setelah tahu permasalahannya, saya bertanya, “iapa yang tahu, mengapa mobil tidak bergerak dan terasa berat ketika didorong sendirian?” Mereka hanya tersenyum-senyum malu. Saya ajak mereka mengamati mobil dan bertanya kembali, “Kira-kira mana yang lebih berat, mobil ini dengan tubuhmu?”–“Ya, jelas mobil to, Pak,” balas mereka cepat. “Lantas, mungkin gak sebuah benda kecil menggeser benda yang lebih besar dan lebih berat?”

Foto : Agung Wibawanto bersama Siswa SD muhammadiyah Macanan
Foto : Agung Wibawanto bersama Siswa SD Muhammadiyah Macanan

Mereka berpikir sebentar, lalu menjawab, “Bisa jika Allah mengijinkan,”–“Bisa kalau aku jadi Hulk,”–“Ya, gak bisa dong,” bermacam jawabannya, namanya juga anak-anak yang kadang berimajinasi. Saya minta untuk mencoba lagi mendorong mobil sendiri-sendiri, “Tenan toooo…, ora iso,” (bener kan, gak bisa), jawab yang satu.

“Sekarang kita coba yuk 5 orang mendorong bersama…” Mereka pun dengan senang mencoba dan ban mobil mulai bergerak maju perlahan…. “Hiyaaaaa…. berhasil!!” Pertanyaannya, dan coba dipikirkan, kenapa kalau sendiri tidak bisa mendorong mobil tapi kalau berlima bisa? Tanya saya memacu mereka untuk berpikir…. “Karena banyak… tenaganya bertambah,” jawab mereka cerdas.

“Artinya, kalau kita bekerja bersama-sama, maka apa yang kita lakukan akan terasa lebih ringan atau mudah. Bandingkan jika dikerjakan sendiri?”–“Saya tahuuuu…, gotongroyong!” kata seseorang tanpa ditanya. “Bukan yoooo, tapi bersatu kita teguh bercerai kita runtuh,” jawab yang lainnya. Lihatlah, mereka tengah mempelajari dan sekarang sudah memahami akan arti “gotongroyong” dan “bersatu”.

Siswa yang cerdas bukan hanya melulu soal calistung (baca, tulis dan hitung) dan juga tidak selalu berada di sekolah yang bergedung mewah dan lengkap fasilitasnya serta berada di perkotaan (sehingga dicap sebagai sekolah favorit). Di sekolah desa juga banyak siswa cerdas, sepanjang metode pembelajarannya juga tepat. Big thanks for Sekolah Dasar Muhammadiyah Macanan, terima kasih atas pembelajarannya.

 

*Tulisan ini adalah pendapat pribadi. Agung Wibawanto. Wartawan Kedaulatan rakyat (KR).

17/03/2016 0 comments 696 views

Gerakan Sekolah Menyenangkan (baca : GSM) yang berdiri sekitar 2 tahun yg lalu kini semakin kuat. Hal ini dibuktikan dengan hubungan kerjasama antara GSM dengan berbagai pihak yang sangat peduli terhadap dunia pendidikan di Indonesia. Audiensi dengan kepala Dinas Pendidikan DIY , bapak Kadarmanta Baskara Aji pun terlaksana dengan lancar bahkan dukungan dari bapak Kepala Dinas pun luar biasa.

Audiensi GSM dengan Kepala Dinas DIKPORA DIY
Audiensi GSM dengan Kepala Dinas DIKPORA DIY

Layaknya mengangkat batu besar, tentu akan terasa sulit bahkan tidak mungkin jika dilakukan sendiri. Demikian juga sebuah gerakan, membutuhkan daya dukung dari segala pihak, maka proses yang dilalui relatif lebih ringan dan cepat sehingga mencapai perubahan yang diharapkan. Demikian yang dilakukan GSM saat ke gedung Dikpora DIY, Rabu (16/3).

 

Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) seperti tidak lelah mencari, mengajak dan menggandeng pihak lain yang memiliki concern sama terhadap kemajuan dunia pendidikan di Indonesia, “Kita harus menjemput bola dan tidak mungkin berdiam diri berharap orang mengerti dengan sendirinya apa itu GSM,” demikian Rizal, penggagas GSM.

Audiensi GSM dengan Kepala Dinas DIKPORA DIY
Audiensi GSM dengan Kepala Dinas DIKPORA DIY

Muhammad Nur Rizal datang bersama pengurus harian GSM serta turut serta beberapa kepala sekolah/guru dari sekolah model GSM. Menyampaikan gagasan serta bertukar pikiran dan pengalaman seputar dunia pendidikan menjadi agenda utama dalam pertemuan dengan Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Propinsi DIY, Baskara Aji.

Baskara mengaku senang menyambut kedatangan GSM, karena menjadi bukti masih ada komunitas atau masyarakat yang peduli dengan dunia pendidikan, “Komunitas masyarakat seperti GSM ini tentu merupakan akses bangsa dan diharapkan bisa muncul di daerah-daerah lain sehingga pembenahan sistem pendidikan bisa dilakukan bersama,” tutur Baskara.

Audiensi GSM dengan Kepala Dinas DIKPORA DIY
Audiensi GSM dengan Kepala Dinas DIKPORA DIY

Lebih lanjut Baskara menjelaskan bahwa dinas DIY selama ini telah berupaya membangun konsep sinergitas antara sekolah, orang tua dan masyarakat, “Dalam menciptakan suasana belajar yang kodusif bagi anak, baik di sekolah maupun di rumah, maka perlu menggerakkan seluruh komponen diantaranya sekolah, orang tua dan masyarakat,” tambah Baskara.

Dalam pertemuan itu juga Rizal menyerahkan semacam kertas kerja dari apa yang sudah dilakukan GSM baik selama masih menjadi mahasiswa di Australia maupun di Indonesia. Dikpora DIY secara eksplisit menyatakan dukungan bahkan bersedia terlibat sesuai dengan kapasitas dan kompetensinya bila memang dibutuhkan.

Penyerahan Lembar Kerja yang telah dilakukan GSM
Penyerahan Lembar Kerja yang telah dilakukan GSM

Satu lagi rekan dan mitra gerakan didapatkan dan akan terus dikembangkan. Sesuatu yang baik perlu disebarluaskan dan tidak akan ada kendala jika dilakukan dengan cara dan pemikiran yang baik pula. Bekerja dengan hati dan berkolaborasi, “Inilah modal sosial yang sudah dimiliki bangsa Indonesia sejak lama, yakni gotong royong,” pungkas Rizal.

Komunikasi dengan pemikiran terbuka adalah kunci bagi perubahan mindset. Produktif, edukatif dan kreatif adalah hasilnya. Dan tumbuhnya generasi bangsa yang cerdas hingga meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta menjadikan Indonesia sebagai negara maju adalah cita-citanya. Tidak ada istilah pesimis selama bersama berkolaborasi.

 

Penulis : Ailis Safitri (Kepala SD Muhammadiyah Macanan)

31/07/2015 0 comments 1202 views

Kompetisi memasak MasterChef Australia, baru berakhir penayangannya Senin (27/7/2015). Acara ini menarik perhatian warga Indonesia di Australia. Pasalnya, seorang peserta yang terhenti di empat besar, Reynold Poernomo, memiliki latar belakang Indonesia. Bagi Novi Candra, mahasiswa doktoral di Universitas Melbourne, acara ini juga memberikan banyak pelajaran bagi dunia pendidikan di Indonesia.

sumber: tarkanews.com
sumber: tarkanews.com

Selama studi di Melbourne, salah satu acara favorit saya adalah program MasterChef – kompetisi mencari koki andal dari orang amatiran yang hobi memasak. Mereka berasal dari berbagai profesi, ada guru, akuntan, dokter bahkan ibu rumah tangga biasa.

Biasanya acara ini dimulai pukul 7.30 malam dan berakhir pukul 9.00. Selain menyukai berbagai inovasi yang dilakukan para peserta dalam memasak dan menyajikan masakannya, saya juga selalu tertarik dan terinspirasi dengan ketangguhan, persistensi, keseriusan belajar serta naik turunnya peserta sampai akhirnya mereka harus tersingkir atau justru melaju menjadi pemenang.

Hal lainnya, acara ini juga mampu mengubah paradigma saya yang tadinya melihat pekerjaan memasak adalah sesuatu rutinitas membosankan, menjadi pekerjaan indah jika didedikasikan dengan cinta. Tapi lebih dari itu, ada satu hal yang menginspirasi dan dapat diambil manfaatnya bagi pendidikan Indonesia.

Hal yang paling menarik bagi saya adalah bahwa acara ini adalah program kompetisi, namun sejak pertama sampai dengan final, suasana yang dibangun begitu positif, penuh dengan kebersamaan, saling mendukung dan pada beberapa aktivitas mereka bahkan diminta pada saat yang sama juga berkolaborasi satu dengan yang lainnya. Di Indonesia secara kultur, kompetisi dan kolaborasi seolah-olah berada di dua kutub yang berlawanan. Kultur kompetisi akan menghilangkan semangat kolaborasi, dan sebaliknya kolaborasi tidak mungkin memotivasi karena tidak ada kompetisi.

Saya teringat saat berdiskusi dengan salah satu kepala sekolah di Yogyakarta. Ketika kami mendiskusikan kolaborasi sebagai kompetensi yang diharapkan ada di kurikulum 2013 dan juga menjadi salah satu pilar 21st century learning, terlontar pertanyaan yang memancing diskusi panjang.

“Susah di Indonesia. Kita ini biasanya semangat berprestasi karena ada kompetisi. Makanya dulu ada ranking, terus sampai sekarang juga ada olimpiade sains, matematika, lomba menggambar, mewarnai dan lomba lain untuk memancing anak-anak menjadi terbaik. Nah kalau diganti dengan kolaborasi, nanti mereka kurang termotivasi untuk berprestasi?”

Kurang-lebih begitu pernyataan kepala sekolah tersebut. Dan benar, lontaran itupun menjadi diskusi panjang kami yang memang menarik, bagaimana kompetisi yang tidak selalu buruk tersebut, dapat beriringan dengan semangat kolaborasi yang dilatihkan sejak di sekolah.

Sebagai negara yang diprediksi termasuk dalam 10 negara dengan tingkat ekonomi terbaik dalam beberapa waktu mendatang, saya meyakini bahwa anak-anak Indonesia harus mampu berkompetisi dan pada saat yang sama mereka juga harus memiliki kemampuan  membuka diri, berkolaborasi secara percaya diri.

Saya terus mencari tahu dan belajar mengenai formula tersebut, dan akhirnya saya menemukannya di acara MasterChef Australia. Menurut saya, apa yang digambarkan di acara itu menggambarkan sebuah hasil pendidikan negara ini, demikian juga apa yang digambarkan oleh acara MasterChef Indonesia. Beruntung saya sempat menyaksikan MasterChef versi Australia dan versi Indonesia, dan dari situlah saya memulai beberapa refleksi saya mengenai pendidikan kita berikut ini:

sumber: www.gr8mag.com
sumber: www.gr8mag.com

Ketika peserta pertama kali hadir di acara MasterChef Australia, para juri (biasanya ada 3 juri tetap di acara itu) akan menyambut dengan hangat dengan kata-kata positif dan semangat yang membuat para peserta exciting untuk mengikuti perlombaannya. Para juri akan memotivasi bahwa seluruh peserta yang ada di ruangan ini semua memiliki kesempatan sama menjadi pemenang dan bertarung menaklukkan diri sendiri untuk menjadi terbaik. Suasananya terasa hangat, positif dan bersemangat.

Berbeda ketika saya menyaksikan acara MasterChef Indonesia, ketiga juri yang ada terlihat memasang muka angker, persis seperti kakak senior yang sedang melakukan MOS di Indonesia. Pada masa-masa awal kedatangan peserta, terasa sekali suasana tegang yang dibangun di ruangan para peserta baru yang akan bertanding. Tekanan, ketakutan dan persaingan adalah suasana yang dibangun di acara MasterChef Indonesia.

Suasana yang terjadi di kedua acara bertajuk sama ini, sedikit banyak menggambarkan kultur yang terbangun di tempat pendidikan kedua negara. Terbentuk kebiasaan bahwa murid baru di Australia disambut dengan kehangatan dan senyum ceria seluruh warga sekolah, dan bahkan alih-alih diorientasi dengan keras, mereka akan dilindungi oleh kakak kelasnya.

Kesan pertama saat kita hadir di suatu tempat baru tentu saja sangat berpengaruh pada hubungan kita dengan orang lain di lingkungan tersebut. Saya gembira saat ini, Indonesia mulai mengubah budaya senioritas dalam orientasi siswa baru menjadi budaya kehangatan dalam menyambut kedatangan mereka ke sekolah sebagai tempat yang menyenangkan untuk belajar.

Kedua, di MasterChef Australia, saat para juri mencicipi masakan para peserta. Tidak ada sediki pun terlihat wajah menyepelekan atau merendahkan hasil kreasi masakan peserta. Hal pertama yang mereka lakukan adalah sedapat mungkin melihat sisi positif pada makanan tersebut dan tidak segan-segan memberikan apresiasi positif jika memang masakan peserta tersebut tergolong luar biasa. Selanjutnya jika mereka menemukan kekurangan, baru kemudian mereka mengatakannya secara obyektif bahwa ada hal-hal yang kurang optimal dicapai oleh peserta. Terakhir mereka akan memberi kata-kata penyemangat untuk peserta.

Hal sebaliknya terjadi di MasterChef Indonesia. Para juri mencari-cari kekurangan peserta sebelum menemukan hal positif masakan yang dibuat peserta, sehingga dapat dibayangkan akibatnya bagi peserta. Dalam konteks pendidikan, adalah kewajiban pendidik menemukan hal-hal positif yang pasti ada di setiap anak didiknya, setelah itu memberikan apresiasi positif kepada mereka. Di kultur Indonesia tampaknya mudah sekali kita melihat kesalahan lupa mengapresiasi saat anak-anak kita melakukan hal positif.

sumber: tenplay.com.au
sumber: tenplay.com.au

Ketiga, meskipun program ini adalah program kompetisi, namun setiap kali ada peserta yang dipanggil ke depan untuk mempresentasikan masakannya, peserta lainnya akan bertepuk tangan untuk memberi semangat kepada peserta yang maju tersebut. Tepuk tangan, pelukan hangat dan wajah gembira juga ditampakkan saat ada peserta yang berhasil melaju dan meraih prestasi atau pujian dari juri. Begitu pun jika ada yang sedang bersedih karena hasil masakan tidak memuaskan, peserta lain akan mendukung dan memberi semangat. Kultur seperti ini dilatihkan di sekolah Australia.

Menurut guru di Australia, merayakan keberhasilan orang lain adalah sebuah nilai dan ketrampilan yang dilatih dan ditekankan. Keterampilan untuk ikut senang dengan keberhasilan orang lain akan menciptakan kultur kompetisi sehat sekaligus kemungkinan kolaborasi. Penekanan bahwa keberhasilan seseorang bukanlah sebuah ancaman namun sebuah inspirasi untuk orang lain berhasil memberikan rasa aman percaya diri dan berbesar hati dalam menghargai keberhasilan orang lain.

Keempat, para juri sangat menekankan kelebihan yang dimiliki tiap peserta. Misal si A dikenal sangat canggih memasak makanan Asia, sedang peserta B bagus sekali dalam memasak pastry, sementara peserta C memiliki kemampuan luar biasa saat memasak dessert dan lainnya.

Hal ini sangat terasa membangun sebuah nilai bahwa setiap peserta pasti memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh peserta lain sebagai tempat belajar.

Hal inilah yang mendorong pada saatnya mereka harus mampu berkolaborasi sesuai dengan kebutuhan akan keahlian lain yang diperoleh dari rekan rekannya tanpa harus merasa kurang percaya diri, karena diri mereka juga memiliki kelebihan.

Hal ini pun sangat kental saya temukan dalam kultur pendidikan dasar di Australia, dimana guru sangat mengenal kelebihan dan keunikan masing-masing anak dan secara terbuka dikemukakan kepada anak tersebut atau rekan-rekannya. Selain untuk membangun kepercayaan diri juga semangat terbuka untuk berkolaborasi.

Kelima, peserta yang diwawancara atau diminta mengomentari pengalaman mereka hari itu, masing-masing peserta akan fokus pada dirinya. Pada usaha apa yang telah dilakukannya, berfleksi atas kesalahan atau mengapresiasi usaha yang telah dia lakukan. Mereka fokus pada pengembangan diri mereka sendiri. Sementara, saya masih ingat dalam acara MasterChef Indonesia, para peserta justru sibuk menilai apa yang dilakukan peserta lain, bahkan sebagian besar adalah menilai secara negatif peserta lainnya.

Persaingan yang tidak sehat sangat kental dirasakan di acara MasterChef Indonesia. Hal inilah yang membuat kultur kita mempercayai bahwa kompetisi dan kolaborasi selalu ada di kutub yang berbeda. Belajar dari acara MasterChef Australia dan berangkat dari apa yang diungkapkan John Dewey dalam bukunya  School and Social Change, saya meyakini bahwa institusi sekolah akan mampu menciptakan generasi baru Indonesia, yang juga warga dunia. Sekolah mampu memberi ruang pada anak-anak untuk menghargai dirinya dan orang lain, untuk dapat ‘menang tanpa merendahkan’ seperti kata pepatah Jawa ‘menang tanpo ngasorake’.

*Tulisan ini adalah pendapat pribadi. Novi Candra adalah Dosen Fakultas Psikologi UGM Yogyakarta yang sekarang sedang melanjutkan pendidikan doktoral di School of Population and Global Health di University of Melbourne. Artikel ini disadur dari  www.australiaplus.com

22/05/2015 0 comments 2481 views

Permasalahan yang terjadi di sekolah bukanlah hal yang sederhana. Isu-isu kecil yang terjadi dapat memberi dampak yang besar bagi banyak orang. Misalnya saja masalah kekerasan di lingkungan sekolah, siswa yang menyimpang, keisengan yang menimbulkan pengrusakan dan sampah, perbedaan sosial ekonomi. Bahkan sampai dengan masalah kesejahteraan guru yang membuat guru tidak maksimal dalam mengajar.

Penelitian menunjukkan bahwa lingkungan sekolah yang positif dapat membantu menyelesaikan masalah-masalah di sekolah. Menurut hasil penelitian, lingkungan sekolah positif dapat menurunkan perilaku membolos, skors, penyalahgunaan zat, bullying, dan meningkatkan pencapaian akademik, motivasi untuk belajar, serta kesejahteraan psikologis. Bahkan dapat mengurangi efek negatif dari kritik dan status sosial ekonomi dalam kesuksesan akademik. Selain itu, guru pun dapat lebih nyaman.

sumber: youth.gov
sumber: youth.gov

Tantangannya adalah, menciptakan iklim lingkungan sekolah yang positif adalah hal yang sangat sulit. Setiap manusia memiliki pemikiran sendiri-sendiri, sehingga akan sulit untuk membuat seseroang menjadi bersemangat dan optimis dengan perintah. Hal itu membutuhkan perawatan yang banyak, sebab motivasi dan kebutuhan manusia adalah hal yang kompleks. Berikut beberapa tips bagaimana cara memulainya.

Mari gambarkan sejenak bagaimana yang dimaksud dengan iklim sekolah yang positif. Ketika kita memasuki sekolah, kita dapat langsung merasakan iklim sekolah dengan hanya melihat interaksi antar manusia dan melihat lingkungan fisiknya. Apakah guru, murid, dan kepala sekolahnya terlihat senang dan saling menghormati satu sama lain? Apakah sekolahnya bersih dan teratur? Apakah papan pengumuman berisi pesan-pesan yang positif? Apakah murid terikat dengan apa yang mereka pelajari?

Pada tahun 2007, National School Climate Council, mengeluarkan criteria spesifik yang mendefinisikan iklim sekolah yang positif, yaitu:

  • Norma, nilai, dan harapan yang mendukung kemanan sosial, emosional, dan fisik.
  • Keterikatan dan saling menghormati satu sama lain.
  • Murid, keluarga, dan pendidik bekerja bersama-sama untuk mengembangkan visi sekolah.
  • Pendidik memelihara sikap menekankan keuntungan yang didapatkan dari belajar.
  • Setiap orang berkontribusi dalam operasional sekolah dan menjaga lingkungan fisik sekolah.

Sumber: greatergood.berkeley.edu

05/05/2015 0 comments 1423 views
sumber: http://www.edgazette.govt.nz/
sumber: http://www.edgazette.govt.nz/

Entah apa yang ada di pikiran seorang guru SD ketika menyuruh muridnya mencari materi pelajaran di internet. Entah pula apa yang ada di pikiran seorang guru dan kepala sekolah SMA ketika membiarkan anak didiknya mengakses kunci jawaban Ujian Nasional demi mendapati kelulusan 100% untuk sekolahnya. Bimbingan belajar dengan trik-trik instan, tanpa menekankan pada logika ilmu pengetahuan, bermunculan bak cendawan di musim hujan. Joki-joki menanti siapa saja yang sedia membayar sekian juta dan dengan cara apa pun membantu mereka mendapatkan jurusan favorit. Gedung-gedung pendidikan dan fasilitas pendidikan meniru standardisasi global. Mahasiswa, pelajar, ataupun cendekiawan pada umumnya barangkali kehilangan orientasi, tentang apa yang mereka cari di institusi pendidikan.

Banyak masalah terjadi. Paragraf di atas barangkali hanya contoh-contoh yang terlihat di permukaan. Seperti batu es di lautan, yang terlihat hanya bagian permukaannya. Padahal, bisa jadi permasalahan ini berantai dengan minimnya wawasan masyarakat tentang negara, bangsa, dan Nusantara-nya, atau kealpaan kita tentang landasan yang membangun negara Indonesia.

Frustrasi dan anakronisme yang terjadi lantaran permasalahan-permasalahan ini ternyata masih memiliki jalan keluar. Ada beberapa pendidikan alternatif bagi masyarakat untuk mengelola tradisi lokalnya dan memahami apa yang terjadi di sekitarnya.

Pada mulanya mungkin hanyalah amanat ibu saya sebelum beliau tutup usia bahwa saya harus menjadi seorang dokter, dan berkuliah di almamater ibu. Amanat itu mengantarkan saya ke Yogyakarta. Dan ternyata Bali jauh berbeda dari Jawa. Di Bali, tak ada transportasi dengan kereta api, transportasi publik juga tak beroperasi. Beberapa saat, saya menjadi the others, tak ada sanak famili, tak fasih bahasa Jawa. Namun kini, agaknya kota ini telah menahan saya, bahkan hanya dengan tawaran nasib ke depan yang masih belum jelas.

Gelar diploma yang saya peroleh dari universitas tak akan mampu mengantarkan saya ke cita-cita saya menjadi jurnalis, kecuali saya mengambil kuliah lain lagi tahun depan. Meski sayalah yang secara sadar memilih jurusan ini lantaran merasa lelah mengejar impian ibu. Tiga tahun lewat, saya akhirnya bisa lepas dari bayang-bayang amanat ibu, dan saya tahu apa yang saya inginkan. Namun hari ini, jurang antara saya dan cita-cita saya adalah syarat gelar minimum sarjana.

Adalah mudah untuk sekadar mengambil alih program dari diploma ke sarjana, bila yang saya butuhkan hanya sebatas gelar. Tetapi untuk apa? Harold Ross, pencetus The New Yorker dan membidani tokoh-tokoh jurnalistik seperti John Hersey yang menulis laporan berita Hiroshima malah tak pernah merampungkan pendidikan tinggi. Saya paham kami berbeda zaman. Terlahir di zaman yang penuh standardisasi global, ketika seorang Ph.D. di Amerika saja bisa menjadi pengangguran, saya terkadang merasa mengalami anakronisme. Suatu sensasi, seolah seharusnya beberapa orang tak terlahir pada zaman tertentu.

Meski antipati, bagaimanapun saya telah banyak belajar dari zaman yang seperti ini. Dua tahun menjadi bagian pers mahasiswa, saya berkesempatan mampir ke diskusi, seminar, festival, pameran lukisan, penampilan teater, monolog puisi teatrikal, peluncuran buku, demonstrasi jalanan, dan mengobrol dengan banyak narasumber mumpuni dalam bidang-bidang sosial budaya, politik, pertanian, hukum, atau apa pun. Bagi saya, Yogyakarta—dan pers mahasiswa khususnya—adalah tempat saya bertumbuh. Saya tak akan mendapatkan pengalaman itu hanya dari kelas-kelas perkuliahan yang telah ditentukan silabusnya.

Perubahan adalah semacam keniscayaan. Silabus-silabus pendidikan kini persis menuruti tuntutan pasar kerja, alih-alih mengejar wacana globalisasi. Saat ini, universitas negeri hanya menyediakan jatah waktu tiga tahun untuk penerimaan mahasiswa, dan tuntutan waktu maksimal empat tahun untuk merampungkan gelar sarjana. Gagal tiga kali dalam tes masuk, berarti tak ada kesempatan untuk berkuliah murah; lulus lebih dari jatah waktu empat tahun juga menjadi tak umum.

Sementara itu, universitas swasta bukan main mahalnya; mengambil satu sks (satu semester umumnya 18-24 sks) bisa ditagihi Rp160.000 – Rp250.000, belum lagi ada biaya tambahan pada tiap semester yang besarannya sekitar Rp2-7 jutaan. Tak ada yang menyalahkan saat kepala yayasan universitas-universitas swasta itu berdalih kuliah di Jepang atau Amerika Serikat lebih mahal 80 kali lipat. Padahal kita sudah sama-sama mengetahui perbedaan kemampuan negara berkembang dan negara maju.

UGM yang dulunya dijuluki “universitas kerakyatan” pun turut menjadi semakin mahal; mengikuti alur pikir UU BHMN sejak 2000, berlanjut ke UU Dikti yang diresmikan pada Juli 2012. Dalihnya sama, untuk membangun fasilitas, universitas tak mesti ketergantungan pada subsidi pemerintah. Imbasnya, program internasional dibuka—yang mirisnya kelas-kelas itu justru melulu diisi masyarakat lokal­­—dan semakin banyak mahasiswa baru berasal dari keluarga menengah ke atas, ber-gadget, bermobil, dan berpakaian mentereng. Dengan keadaan ini, angka 2%-an dari jumlah generasi muda Indonesia yang menempuh pendidikan tinggi sepertinya tak akan bertambah.

Dalam Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia, pada pasal 4, termaktub bahwa “Tidak seorang pun boleh diperbudak atau diperhambakan, perbudakan dan perdagangan budak dalam bentuk apa pun mesti dilarang.”; namun saya lihat pendidikan tinggi justru mencetak lulusan-lulusan yang siap kerja (istilah halus dari diperbudak). Saya meragukan apakah teman-teman saya menikmati perkuliahannya, ataukah sebatas berniat lulus dengan IPK bagus dan mendapat pekerjaan bergengsi.

Sekat-sekat interdisipliner semakin kentara jelas. Di zaman ini tak perlu mengharapkan kemunculan polymath yang memiliki prekositas semacam Aristoteles atau Goethe, atau yang paling dekat—Tan Malaka, Hatta, dan Sjahrir. Mahasiswa-mahasiswa di jurusan perkuliahan IPA menghadapi keadaan yang amat ekstrim. Senin hingga Jumat, mereka mendapat lima tugas mengerjakan laporan tak diketik, wajib dikerjakan dalam tulisan tangan. Belum lagi sederet praktikum dan membantu dosen meriset. Mana punya waktu belajar seni dan sosial humaniora, terkecuali mereka sudi menelantarkan separuh mata kuliahnya dan ber-Indeks Prestasi tak bagus-bagus amat. Berbeda dengan penerapan sistem NKK/BKK pada era ’70-an, di sini terlihat injeksi normalisasi kampus dilakukan dengan upaya sehalus mungkin. Atau karena kita memang dituntut menjadi semakin mondial (berkaitan dengan seluruh dunia)? Mungkinkah praktik-praktik riset dan tugas yang menggunung itu ditujukan untuk menandingi penemuan-penemuan teknologi mutakhir Jepang, Jerman, dan Amerika Serikat?

Pernah ada yang berujar kepada saya, mulailah dari Yogyakarta untuk mengukur taraf minimum pendidikan dan budaya Indonesia karena kota ini semacam miniaturnya Indonesia. Ia menambahkan, alasannya adalah karena pemuda/i sepenjuru Indonesia merantau ke kota ini. Maka, kalau mahasiswa-mahasiswa di UGM, misalnya, sudah marak bawa mobil dan meninggalkan masyarakatnya, maka di Jakarta atau Bandung akan lebih parah lagi keadaannya. Di atas telah saya paparkan sedikit mengenai apa yang kini terjadi di Yogyakarta. Meski kemudian saya mendapati, sejumlah representasi pelajar luar kota Yogya itu tak bisa dijadikan parameter. Karenanya, bila ditarik secara umum, perspektif ini tak layak diterima karena Yogya, Bandung, dan Jakarta bukan tolak ukur bangsa Indonesia.

Saya mafhum bangsa kita selalu melupakan banyak hal; hutang negara kepada Bank Dunia, politik Nasakom, tragedi G-30-S 1965, perjuangan reformasi 1998, pembukaan UUD 1945, dan bahkan Pancasila. Termasuk juga perjuangan seorang Djuanda Kartawidjaja saat mendeklarasikan kepada dunia bahwa laut Indonesia, di antara dan di dalam kepulauan Indonesia, menjadi satu kesatuan wilayah NKRI. Deklarasi Djuanda ini menegaskan posisi Indonesia yang menganut prinsip-prinsip kepulauan (Archipelagic State). Intinya, sejak dahulu kepulauan nusantara sudah merupakan satu kesatuan; dan dipertegas demi mewujudkan bentuk wilayah Kesatuan Republik Indonesia yang utuh dan bulat. Namun apa yang terjadi saat ini?

Apakah kita benar masih memiliki rasa persatuan ataukah peduli dengan saudara setanah air? Pendidikan saja tak tersebar merata ke seluruh Indonesia. Jangankan ke Sabang atau Papua, di Denpasar saja—yang dekat dengan Jawa, tempat saya dibesarkan, tak ada toko buku bekas semacam Shopping-nya Yogya atau Palasari-nya Bandung. Perpustakaan sekolah saya tak menyediakan lengkap karya sastrawan dunia dan Indonesia; akibatnya, sewaktu SMA saya lebih mengenal Gabriel GarcíaMárquez yang lebih komersil daripada Y.B. Mangunwijaya yang sulit ditemukan di pasaran. Dan bila ukurannya adalah tenaga pengajar, saya yakin tiap sekolah di Indonesia memiliki guru bahasa Indonesia dan guru Sejarah yang membuat muridnya mengantuk di kelas dan membenci dua mata pelajaran penting itu.

Meski setidaknya saya beruntung keadaan SD-SMP di tahun 1990-2000-an tak seganjil apa yang dihadapi cohort 2000-an. Pernah suatu kali, adik sepupu saya yang kelas 1 SD menerima surel dari gurunya yang hanya berisi PR hitungan. Menjelang kelas 2-3 SD, ia mengerjakan segala tugas sekolah yang di zaman saya baru saya peroleh di kelas 4-6 SD. Lagi-lagi, ia mengerjakan tugas dengan bantuan internet. Saya yakin ini pun terjadi karena tuntutan pendidikan dari pemerintah.

Di lain pihak, niat baik pemerintah mengadakan Ujian Nasional (UN)—bahkan dari level SD—untuk memeratakan standar pendidikan Indonesia juga tak berjalan mulus. Sewaktu mengikuti UN SMA, saya menjadi saksi bagaimana jawaban-jawaban ujian telah disebar jauh-jauh hari sebelum ujian; bahkan oleh guru SMA bersangkutan, bahkan meski ada dua jenis soal yang digunakan (A dan B). Tujuannya satu, agar sekolah tersebut terakreditasi baik lantaran mampu meluluskan muridnya 100%. Murid-murid yang menjadi peringkat tiga besar di kelas bertugas mengoreksi kunci jawaban saat ujian berlangsung. Selepas SMA, kami dianjurkan ikut bimbingan-bimbingan belajar untuk menghafal rumus cepat demi persiapan SNMPTN. Lembaga bimbingan itu juga menawarkan paket emas, perak, reguler dalam tarif berbeda dengan jaminan diterima di jurusan bergengsi.

Menjelang SNMPTN, lagi-lagi saya menjadi saksi korupsi dalam sistem pendidikan. Agak linglung dengan suasana pendaftaran tes, saya bertemu orang asing yang menawarkan jasa perjokian. Karena suka tantangan, saya coba mengobrol iseng dengan mereka. Joki-joki itu mengumpet di dalam mobil, menawarkan jasanya yang berkisaran harga Rp 17 juta – 175 juta. Jaminannya, pengguna jasa akan berkuliah di jurusan favorit; dan bila tidak, uang akan dikembalikan 100%. Saya tak tergiur, terlepas dari iming-iming mereka.

Saya masih pesimis apakah kegiatan Indonesia Mengajar yang menjadi prestise bagi pengajar fresh graduate dapat mengubah sistem karut-marut ini. Tetapi paling tidak saya mengapresiasi Anies Baswedan; karena kegiatan itu diinisiasi di wilayah-wilayah terpencil Indonesia yang mungkin para pelajarnya memiliki semangat yang lebih murni untuk belajar.

Di Yogyakarta, Ainun Chomsun menginisiasi gerakan Akber (Akademi Berbagi) yang meluas hingga ke Jakarta. Meski yang disasar adalah masyarakat middle-class atau yang melek teknologi karena mediumnya melalui Twitter, ide Ainun memberi harapan bahwa pendidikan tak mengenal sekat-sekat dan tak saklekFollower akun Twitter Akber Jogja dapat mengajukan kelas apa pun yang mereka minati, dan siapapun yang berkompeten dapat mengajukan diri menjadi pengajar dengan medium Twitter. Tiap kelas dibatasi untuk 25 orang pendaftar tercepat. Boediono Darsono, pemimpin redaksi detik.com, ketika itu menjadi tutor pertama kelas Akber Jogja di Twitter.

Begitu juga Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM menyasar pedagang pasar dalam kegiatan Sekolah Pasar lantaran pertumbuhan waralaba asing yang tak terkendali. Masih soal ekonomi rakyat, Center for Extension and Empowerment Studies(CEES) membuka kelas kedaulatan pangan dengan bahwa sagu, ketela, dan ubi-ubian dapat menjadi alternatif pangan selain beras. Kenyataannya, kedelai untuk bahan dasar tempe-tahu pun masih mengimpor dari Amerika. Meski terbuka untuk masyarkat umum, kelas ini secara khusus diperuntukkan bagi wirausahawan restoran dan pengusaha pangan di wilayah Yogyakarta.

Kelas-kelas untuk masyarakat juga dibuka oleh Institute for Multiculturalism & Pluralism (IMPULSE). Baru-baru ini, mereka mengadakan kelas-kelas kritik ideologi. Hal ini dilandasi pemikiran bahwa Indonesia nampaknya memang sedang krisis semangat kebhinnekaan. Lihat saja akun Anda Bertanya Habib Rizieq Menjawab di Facebook, ada parodi tentang laskar 2D (ber-Intelligent Quotient dua digit) untuk menyebut laskar-laskar Forum Pembela Islam. Seringkali memang, tindak-tindak kekerasan dilakukan dengan membawa-bawa nama agama. Di luar negeri, Indonesia lebih dikenal sebagai negara teroris. Dari sini kelihatan, keadaan masyarakat Indonesia yang minim toleransi atas sesama bisa jadi neraca gagalnya pendidikan—utamanya pendidikan karakter.

Selain itu, ada juga pelatihan-pelatihan antikorupsi oleh Pusat Studi Anti Korupsi (PUSKAT) UGM yang bekerja sama dengan tim redaksi situs web Infokorupsi. Anies, rektor Universitas Paramadina, pun sudah mulai memasukkan kurikulum antikorupsi pada mata kuliah umum di universitas binaannya. Setelah mengikuti pelatihan jurnalisme media rakyat (citizen journalism for anti-corruption) yang diadakan PUSKAT UGM pada Januari 2010 lalu, saya pun mulai belajar tentang perkembangan media rakyat.

Meskipun, secara umum, permasalahan di lingkup pendidikan tak bisa lepas dari budaya kita yang, istilahnya, masih seperti layangan. Nirwan Dewanto, melalui Kebudayaan Indonesia: Pandangan 1991, mengingatkan kembali tentang polemik kebudayaan antara Radjiman Wediodiningrat dengan Tjipto Mangunkusumo yang bahkan telah terjadi sejak 1908. Paradoks yang muncul mengenai apakah perkembangan kebudayaan perlu melalui tahapan ataukah dapat berkembang secara revolusioner dan terjadi dengan instan. Bagi Radjiman, nasionalisme maupun kebudayaan Jawa harus dipertahankan, sementara bagi Djipto Jawa sudah hilang kedaulatan, dan sebagai entitas baru adalah Indonesia yang perlu memanfaatkan pengetahuan Barat dan unsur-unsur budaya lain[1].

Namun kita juga perlu melihat konteks. Di tahun 1908, teknologi belum seperti sekarang. Bila dulu budaya bertransmisi ke masyarakat dengan bantuan literatur, kini masyarakat mengadopsi budaya dari televisi dan media digital lainnya. Generasi muda lebih dekat dengan budaya pop Korea daripada budaya wayang Indonesia. Ini mengingatkan saya bahwa dalam hal ini pun, kita masih dapat mengupayakan pendidikan alternatif. Sejak 2001, masih di Yogyakarta, ada gerakan Combine Resource Institution(CRI) yang menggiatkan media rakyat. Rakyat diajak belajar memanfaatkan teknologi dengan cerdas; istilahnya, melek media. Mereka akan belajar mendapatkan akses informasi secara mandiri tanpa perlu melalui alur birokrasi. Program terbaru yang dilakukan adalah Lumbung Komunitas; di mana masyarakat dituntun untuk mengelola pengetahuan lokal dan mengenal desa mereka sendiri. Pada akhirnya, semua usaha-usaha pendidikan alternatif itu membuat saya yakin masih akan ada harapan untuk Indonesia.

[1] Dewanto, Nirwan (1996), Senjakala Kebudayaan, Penerbit Yayasan Bentang Budaya

 

Dewi Kharisma Michellia, penulis, editor, dan penerjemah lepas.

Tulisan ini sebelumnya pernah dimuat di sini.

Loading...