Cerita Inspiratif

14/12/2017 0 comments 3 views
Profesor dari Fakultas Pendidikan Monash University, Melbourne, Australia, Marc Puyn, saat berkunjung ke Kulonprogo, Selasa (12/12) lalu.

YOGYAKARTA — Seorang profesor asal Australia, Marc Pruyn, mengungkapkan ketertarikannya untuk mempelajari pendidikan di sekolah-sekolah Indonesia. Menurut dosen senior dari Fakultas Pendidikan Monash University, Melbourne, tersebut masalah pendidikan yang dijumpainya di Indonesia mirip dengan yang dijumpainya di negara-negara lain.

“Masalah-masalah yang dijumpai pada sistem pendidikan di Indonesia mirip dengan yang saya jumpai di negara-negara lain di dunia, termasuk Australia dan Amerika Serikat. Di antaranya sistem pembelajaran yang terlalu terpusat pada guru, tidak interaktif, serta tidak terhubung pada persoalan sehari-hari,” ujar Marc yang ditemui di sela acara kelas berbagi di SD Negeri Rejodani, Sleman, Senin (11/12).

Senin lalu, SD Negeri Rejodani menjadi tuan rumah acara kelas berbagi yang diadakan rutin oleh Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), gerakan pendidikan di Indonesia yang berbasis gerakan akar rumput. Hingga saat ini, GSM telah memiliki puluhan sekolah model yang tersebar di sejumlah wilayah seperti di Provinsi Jawa Tengah, Banten, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Konsep dari GSM ialah ingin membawakan konsep yang dibawa bapak pendidikan Ki Hajar Dewantara secara modern dan milenial.

Setelah berinteraksi dengan sejumlah kepala sekolah dan guru sekolah model GSM, Marc mengaku terkesan karena para guru ternyata banyak memiliki ide-ide segar tentang bagaimana seharusnya sistem pembelajaran di sekolah. “Saya melihat mereka (para guru-Red) sangat antusias dan memiliki banyak ide. Sebelumnya mereka tidak tahu cara menerapkannya dalam keseharian, namun kemudian setelah bergabung dengan GSM mereka mengenal konsep yang sangat praktis untuk melakukan perubahan di sekolah,” kata Marc.

Menurut Marc, yang membuat menarik dari GSM adalah keberadaannya yang lebih merupakan sebuah gerakan ketimbang program, bersifat bottom up, dan bercorak demokratis. “Saya kira dengan adanya sedikit dana, GSM berpotensi untuk memperluas cakupannya dan memiliki dampak yang lebih besar di Indonesia,” ujar Marc.

Pendiri GSM, Muhammad Nur Rizal, mengungkapkan apresiasinya atas kunjungan akademisi asal Australia tersebut. Kedatangan Marc, kata dia, menunjukkan bahwa GSM dipandang telah memberikan solusi atas permasalahan pendidikan di Indonesia yang sering dinilai gagal menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Australia, kata dia, bahkan  bisa belajar mengenai pendidikan berbasis budaya dan nilai-nilai ketimuran dari Indonesia.

Menurut Rizal, konsep yang coba ditawarkan GSM adalah bahwa pendidikan masa depan itu dibangun melalui empat framework, yakni menekankan pendidikan karakter dan kompetensi, pengajaran inovatif berbasis teknologi, menciptakan lingkungan belajar yang positif, serta terhubung dengan persoalan sosial dan nyata.

“Aplikasinya ada empat. Yang pertama menciptakan ruang emosi dan gerak yang seimbang baik di kelas dan sekolah. Kedua, menciptakan interaksi yang hangat demokratif dan partisipatif di antara guru, murid, dan sekolah. Ketiga, membangun lingkungan yang mendorong anak agar merasa bergairah untuk sukses. Keempat, pembelajarannya terhubung dengan persoalan nyata,” kata Rizal.

Selain melakukan wawancara dan berkunjung ke sekolah-sekolah model GSM, Marc juga mendampingi GSM menggelar workshop kepada sebanyak 65 SMP di Kulonprogo. Rencananya, Marc akan menuliskan hasil penelitiannya tentang GSM dan perannya terhadap pendidikan di Indonesia tahun depan dalam bentuk jurnal internasional.

“Saya berharap model kerja sama pendidikan seperti ini bisa meningkatkan kualitas hubungan bilateral kedua negara tetangga,” ujar Rizal

Sumber;

Republika.co.id

01/12/2017 0 comments 30 views
Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan, Muhammad Nur Rizal, saat menjadi pembicara dalam talkshow Pendidikan Masa Depan di Era Digital yang digelar Perpustakaan Universitas Gadjah Mada (UGM), Selasa (28/11)

Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan, Muhammad Nur Rizal, jadi salah satu pembicara dalam talkshow Pendidikan Masa Depan di Era Digital yang digelar Perpustakaan Universitas Gadjah Mada. Dalam paparannya, ia menekankan betul pentingnya perubahan pola pikir dalam memajukan dunia pendidikan di Indonesia.

“Sebab, siapa saja yang tidak mau berubah dia akan punah,” kata Rizal, Selasa (28/11).

Ia mengatakan, salah satu langkah yang bisa dilakukan tentu peningkatan mutu, yang sasarannya untuk semua orang, terutama bagi orang-orang miskin. Pasalnya, pendidikan merupakan hak setiap warga negara, dan lembaga-lembaga pendidikan tidak seharusnya mengedepankan kapitalisi di atas segalanya.

Rizal mengungkapkan, kondisi itu pula yang selama ini membuatnya menolak tawaran dari luar negeri yang menginginkan dirinya membangun sekolah baru. Sebab, tentu akan jadi hampa bila Rizal yang selama ini menekankan betul penolakan terhadap sistem kapitalis, tapi malah melakukannya.

“Mungkin kalau saya menerimanya saya akan kaya raya, tapi seperti apa jika saya menolak sistem kapitalis eh malah melakukannya,” ujar Rizal.

Dalam pembelajaran, ia menekankan, Gerakan Sekolah Menyenangkan memanfaatkan media sosial, termasuk untuk pendampingan sekolah-sekolah sekalipun. Rizal merasa, sudah saatnya kemajuan teknologi yang diberikan media sosial mampu dimanfaatkan untuk lebih banyak memberikan manfaat.

“Sebab, perubahan utama yang ada dalam sekolah masa depan tidak lain perubahan mindset, pola pikir, dan saya rasa bukan masa depan, lima tahun lagi seperti itu,” kata Rizal.

Rizal mengingatkan, jangan sampai orang-orang Indonesia yang hendak menghadapi abad 21, malah berkembang dengan sistem abad 20 ditambah pola pikir abad 19. Semisal, sistem pendidikan Ujian Nasional selayaknya pengawas kualitas di buruh pabrik, yang disayangkan masih terjadi di Indonesia

Untuk itu, ia menegaskan, revolusi memang harus terjadi dalam dunia pendidikan Indonesia, yang salah satunya telah terjadi yaitu revolusi digital (informasi). Jauh dibandingkan masa-masa 90-an, sekarang semua orang sudah bisa mengakses informasi secara mudah dan interaktif.

“Jika sudah begitu, kita akan kasmaran terhadap informasi,” ujar Rizal.

Meski begitu, saat ini Indonesia memang belum terlalu siap menghadapi perubahan itu, terlihat dari sistem pendidikan yang ada di perguruan-perguruan tinggi unggulan sekalipun. Bahkan, kampus-kampus terbaik di Indonesia seperti UGM, UI atau ITB, dalam peringkat terbaik dunia masih berada di peringat ratusan.

Belum lagi, pola pikir pembelajaran yang dirasa masih tertinggal, sedangkan lembaga-lembaga pendidikan luar sudah mempelajari metakognisi. Artinya, saat pengajar-pengajar maupun sistem pembelajaran di Indonesia masih berkutat di tes dan batasan angka, mereka sudah belajar caranya mempelajari pelajaran.

“Metakognisi ini, dapat membuat kita mengolah setiap informasi yang masuk, sehingga setiap kita mampu membangun pola pikir agar lubernya informasi ini bisa lebih bermanfaat,” kata Rizal.

Sumber: Republika.co.id

27/11/2017 0 comments 45 views

 

Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) Muhammad Nur Rizal saat mengisi pelatihan (workshop) kepada guru-guru tingkat SMP Kota Tangerang Selatan dan Kabupaten Tangerang, Selasa (21/11).

MENYAMBUT peringatan Hari Guru Nasional, kalangan dunia pendidikan, khususnya para guru, diharapkan mampu memberi pelajaran dan pembelajaran yang menyenangkan bagi para pelajar atau peserta didik. Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), Muhammad Nur Rizal, mengatakan sekolah menyenangkan tidak hanya bisa diterapkan di sekolah swasta yang mahal tetapi juga sekolah negeri.

“Sekolah menyenangkan bisa diterapkan di semua sekolah karena konsepnya pendidikan untuk semua,” ujar Rizal di Jakarta, Selasa (21/11).

Uniknya, gerakan sekolah ini menyasar sekolah-sekolah negeri di pelosok yang bertempat di pinggiran perkotaan, atau desa serta sekolah-sekolah yang berisi anak-anak dari keluarga miskin atau kalangan marjinal. Konsep GSM yang menekankan ekosistem belajar melalui penciptaan lingkungan yang positif dan etis, interaksi yang hangat dan partisipatif, pembelajaran yang relevan dan menantang serta suasana yang membuat anak merdeka untuk bereksplorasi dan bermimpi tinggi.

Pada praktiknya, di sekolah tidak ada lagi yang namanya ulangan ataupun ujian. “Di negara maju, pekerjaan rumah dilarang diberikan pada hari Jumat, karena Sabtu dan Minggu adalah hari keluarga.”

Menurut dia, GSM itu bukanlah sesuatu yang mewah, namun sekolah ramah anak yang diterapkan di keseharian. Sekolah masa depan, lanjut dia, yakni sekolah menyenangkan, yang memberi ruang tumbuhnya keunikan potensi setiap anak.

Kemudian sekolah yang membangun tiga aspek dasar keterampilan manusia untuk hidup di era digital yakni pola pikir yang terbuka, kompetensi abad 21 (berpikir kritis, kreatif, komunikatif, kolaboratif, pemecahan masalah) serta karakter moral dan etos kerja.

Saat ini, GSM tersebut diterapkan di 30 sekolah model di daerah sleman, Yogya, Gunungkidul, Kulonprogo, Semarang, Temanggung, Salatiga dan Rembang. “Pada tahun ini, GSM mulai mengimbas ke 40 SD di Sleman, 40 SD di Kulonprogo, 65 SMP di Kulonprogo, 90 Madrasah Diniyah di Gunungkidul, Dinas pendidikan Natuna dan Pontianak,” papar dosen teknik elektro Universitas Gadjah Mada itu.

Sumber:

Antara, Republika, Media Indonesia

10/10/2017 0 comments 40 views

Perjalanan GSM yang Mulai Ramai dengan Perubahan

Oleh: Novi Candra

Kemarin saya senang sekali kedatangan ibu guru yang pernah mengajar di Papua Lany Rh yang sempat menyambangi salah satu sekolah jejaring GSM (Gerakan Sekolah Menyenangkan).

Di setiap waktu kita saling bertukar cerita perjalanan.
Ketika saya bercerita padanya tentang GSM, saya seperti membuka kembali lembar demi lembar perjalanan yang ternyata panjang juga 😊.

Foto:<br />Dari kiri : Lany (Guru tamu yang pernah mengajar di Papua) – Shinta (Guru SDN Karangmloko 2) – Novi (GSM) – Dian (GSM)

“Jalan yang kita pilih adalah salah satu jalan yang sepi Len. Waktu itu, sebelum pulang dari Melbourne, banyak pihak yang menawari kami membuat sekolah. Wahhh. . .pasti bisa kami ‘jual’ dengan sangat mahal. Atau kalaupun tidak mahal, buat sekolah alternatif murah yang jarang sekali ditemukan di sekolah sekolah yang sudah ada. ” Lebih enak dan merdeka.

Masalahnya kami tidak memilih jalan itu, karena kami yakin sudah banyak yang telah melakukan membuat sekolah alternatif. Tapi, ‘mengubah’ sekolah yang sudah ada dengan segala sistem rumit yang telah terbentuk sebelumnya. Siapa yang mau mengubah-ubah sekolah yang bukan miliknya?

Banyak yang menyangsikan itu akan berjalan.

Lha….apalagi tidak punya dana. Trus piye? (dalam Bahasa Indonesia artinya: Lalu Bagaimana ?)

Kami melakukan antitesis pada sistem yang biasanya dipakai. Kalau biasanya sekolah pilot ditunjuk, ini kita seleksi.

Kalau biasanya pelatihan guru atau workshop mereka didanai dan disangoni, sekarang mereka iuran.

Kalau biasanya mereka didampingi intensif di lapangan dengan support dana, kita justru menggunakan IT dalam melakukan pendampingan sehingga minim biaya.

Kalau biasanya sekolah pilot menjadi unggulan, di GSM sekolah pilot adalah buddy dan harus berkolaborasi dengan beberapa sekolah lain di sekitarnya.

Kemarin, salah satu sekolah jejaring GSM, SD Negeri Karangmloko 2 di sebuah desa Yogyakarta menjadi bukti bahwa apa yang kami yakini dan jalankan dengan cara tidak biasa , “cracking the system” mampu menghasilkan perubahan.

Berikut bukti perubahan SDN Karangmloko 2 yang berhasil kami dokumentasikan.

Foto perubahan : Dinding tempat parkir yang dimanfaatkan untuk media belajar

 

Foto perubahan: Pojok Baca di sudut kelas SDN Karangmloko 2
Foto Perubahan : Kesepakatan Kelas SDN Karangmloko 2

 

Foto perubahan: Belajar di luar kelas

 

Foto Perubahan: Pohon Amalan SDN Karangmloko 2

Buat Lany Rh, bu Shinta Irawan (guru SDN Karangmloko 2), bu Hatri (Kepala SDN Karangmloko 2), dan semua guru jejaring GSM yang masih percaya akan adanya perubahan dan terus menjalankannya, TERIMA KASIH.

Sekarang jalan itu sudah mulai ramai.😊

Penulis:

Novi Poespita Candra

Penggagas GSM (Gerakan Sekolah Menyenangkan)

Dosen Fakultas Psikologi UGM

23/08/2017 0 comments 295 views

Sebuah workshop pendidikan yang melibatkan guru dari Australia dan Indonesia dilangsungkan di Yogyakarta belum lama ini. Mereka belajar budaya lokal yang bisa digunakan untuk pelajaran di sekolah masing-masing. Salah satu penggagas workshop Novi Candra menuliskannya untuk Australia Plus.

Ini adalah tahun keempat dua orang guru dari Clayton North Primary School  (CNPS), Victoria (Australia) bekerja sama dengan Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) bertandang ke Yogyakarta. Tujuannya untuk melakukan workshop pelatihan guru dalam menciptakan suasana sekolah yang positif, menyenangkan dan mendidik karakter.

Workshop kali ini ditekankan pada melatih ketrampilan para guru dalam menumbuhkan karakter di sekolah, juga manajemen perilaku anak-anak menggunakan konsep-konsep sekolah menyenangkan.

Workshop yang dilakukan oleh GSM ini memang dirancang unik dibanding pelatihan lainnya di Yogyakarta.

Keunikan pertama adalah biasanya sekolah ditunjuk oleh Dinas Pendidikan untuk ikut pelatihan, namun untuk ini mereka harus mengikuti seleksi.

Kedua, jika biasanya pelatihan guru dilaksanakan di hotel, maka pelatihan di GSM dilaksanakan di sekolah–sekolah yang dengan sukarela menawarkan diri.

Keunikan ketiga, ini adalah workshop swadaya dari para guru sendiri baik guru Indonesia maupun guru Australia.

Kalau biasanya workshop guru di Indonesia, para guru diberi uang transpor, maka di workshop ini para guru justru iuran sendiri untuk makan siang menggunakan dana operasional sekolah.

Joanne Malorry Weston belajar menari bersama guru lainnya
Joanne Malorry Weston belajar menari bersama guru lainnya                            Foto: GSM

 

Sementara dari pihak Australia, guru-guru yang telah datang ke Indonesia beberapa kali ini menggunakan biaya mereka sendiri.

Ini semua dilandasi pada pemikiran bahwa guru dan sekolah adalah komunitas yang berdaya dan mampu memberdayakan diri sendiri bahkan komunitas lain.

Namun demikian ada keunikan baru yang tidak ditemui di pelatihan sebelumnya. Yakni pertama, banyaknya keterlibatan sekolah negeri dibandingkan sekolah swasta yang mendaftar dan lolos seleksi serta keterlibatan sekolah-sekolah lain dari luar Propinsi Yogyakarta.

Mereka mengirimkan 3 hingga 5 gurunya untuk mengikuti 5 hari pelatihan.

Mereka berasal dari sekolah di Kota Semarang, Temanggung, Rembang dan Salatiga dan bahkan ada beberapa sekolah yang mendaftar yang berasal dari Kalimantan hingga Sulawesi.

Yang kedua adalah kesempatan belajar bersama dan bertukar materi khususnya mengenai penumbuhan karakter di budaya masing-masing.

Para guru Indonesia mendapat ilmu dari guru Australia tentang bagaimana melatih implementasi karakter dasar anak-anak di sekolah Australia di hari 1-3.

Di hari ke-4 giliran guru Indonesia melatih dan mempresentasikan penumbuhan karakter anak-anak melalui kesenian dan budaya lokal yang dimiliki Indonesia seperti tari tradisional Jawa yang dilatihkan SDN Serayu Yogya, musik angklung yang diajarkan oleh SD Muhammadiyah Mantaran Yogya dan membatik yang dikenalkan oleh SD Lab UNES Semarang.

Selain itu mereka juga dikenalkan berbagai permainan tradisional seperti egrang dan dakon saat mereka melakukan workshop di SDN Karangmloko 2 Yogya.

Josie Burt salah satu guru Clayton Nort Primary School (CPNS) bermain angklung
Josie Burt salah satu guru Clayton Nort Primary School (CPNS) bermain angklung. Foto: GSM

 

Josie Burt salah seorang guru CNPS tampak takjub mengetahui betapa kayanya budaya Indonesia.

“Tampaknya mudah menari tarian Jawa, tetapi sebenarnya memerlukan ketrampilan tinggi dan juga ketekunan,” begitu kurang lebih ujarnya dalam Bahasa Inggris.

Guru lainnya Joanne Mallory Weston juga terkesan dengan nilai-nilai karakter yang tersimpan pada setiap kesenian Indonesia, seperti Tari Klasik Jawa yang melatih kesabaran dan kepekaan, juga membatik yang sangat bermanfaat bagi regulasi emosi.

Mereka terlihat sangat menikmati setiap kegiatan budaya yang dilatihkan hari itu, mereka asyik menari, bermain angklung dan mencoba membatik sampai proses finishingnya.

Di akhir acara salah satu sekolah SD Lab UNES Semarang memberikan kenang-kenangan berupa canting kepada Joanne dan Josie.

Kedua guru Australia itu mengatakan bahwa mereka akan mencobanya saat di CNPS untuk pembelajaran sekaligus mengenalkan Indonesia di sekolahnya yang multikultur.

Sebagai seseorang yang menekuni bidang psikologi perkembangan dan pendidikan, saya memandang perlunya pendidikan Indonesia menggali kebudayaan lokal untuk menumbuhkan nilai-nilai kebaikan dan karakter anak-anak dengan tetap memperhatikan kesesuaian dengan perkembangan psikologi mereka.

Dalam kegiatan membatik misalnya, kegiatan membatik jumputan bisa saja menggunakan alat-alat bermain yang akrab dengan anak-anak, misalnya bola plastik.

Selain tidak berbahaya, bola ini sesuai dengan perkembangan anak-anak dan disukai oleh anak-anak kelas bawah.

Dengan membatik, anak-anak melatih psikomotor halusnya dan merangsang otak di bagian limbik untuk mengelola emosinya. Maka membatik sangat bermanfaat dalam melatih kesabaran dan ketahanan diri.
Tarian tradisional selain bermanfaat untuk kesehatan fisik dan meningkatkan konsentrasi belajar, juga merangsang kepekaan.

Novi Candra juga adalah Dosen Fakultas Psikologi UGM Yogyakarta
Novi Candra juga adalah Dosen Fakultas Psikologi UGM Yogyakarta. Foto: GSM

Bahkan dalam workshop para guru juga diminta untuk berkreasi memodifikasi tarian dengan tema tertentu seperti tema binatang atau tema cuaca, yang sangat mungkin nanti dapat dipraktekkan langsung di kelas-kelas mereka untuk menumbuhkan kreativitas anak-anak.

Jadi semua aktivitas penumbuhan karakter ini baik yang dari Australia ataupun Indonesia memiliki dasar-dasar psikologi perkembangan anak.

Bahkan permainan tradisional sederhana seperti egrang mampu melatih empati anak-anak karena mereka berlatih bagaimana berjalan berhati-hati menggunakan bambu tanpa harus mengenai orang lain.

Diharapkan kegiatan seni dan budaya tidak hanya diajarkan sebagai kegiatan ekstra kurikuler, namun benar-benar memiliki porsi besar dalam intrakulikuler pembelajaran. Atau bahkan menjadi salah satu metode pembelajaran yang menjadi keunikan bangsa ini karena mampu diintegrasikan dengan penumbuhan karakter pada setiap refleksinya.

Guru Indonesia peserta workshop mengapresiasi workshop yang dilaksanakan GSM karena mendapat pengetahuan baru dan ketrampilan praktis bagaimana implementasi karakter dasar anak di sekolah gabungan antara hasil belajar dari sekolah Australia dan hasil penggalian budaya Indonesia sendiri.

 

Kegiatan ini memang dirancang agar guru dari dua negara mampu melakukan kolaborasi dan pengembangan bersama dalam pembelajaran dan penumbuhan karakter generasi kedua bangsa.

 

Muhammad Nur Rizal, salah seorang pendiri GSM menegaskan bahwa kegiatan belajar bersama antara guru Australia-Indonesia ini dapat memberi manfaat pada kedua belah pihak.

Bagi guru Australia, materi dan kegiatan ini diharapkan mengayakan salah satu kurikulum Australia tentang ‘Understanding Asia’.

Sementara bagi guru dan sekolah Indonesia aktivitas ini juga diharapkan memberi kesempatan memiiki ketrampilan penumbuhan karakter yang komprehensif. Mulai dari membangun pola pikir sampai manajemen perilaku yang didapat dari budaya lokal untuk dikomunikasikan dengan ilmu yang didapat dari luar budayanya.

* Novi Candra, Dosen Fakultas Psikologi UGM Yogyakarta dan salah seorang pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan, sebelumnya Studi S3 di University of Melbourne. Tulisan ini merupakan pendapat pribadi.

Sumber:

http://www.australiaplus.com/indonesian/studi-nad-inovasi/guru-australia-belajar-penumbuhan-karakter-melalui-budaya-lokal/8830434

22/12/2016 0 comments 1301 views

Gerakan Sekolah Menyenangkan dan Program BRIDGE Australia di Indonesia

Novi Candra (kiri), Muhammad Nur Rizal (keduanya dari GSM) dan Konsul Australia di Makassar Richard Mathews<br />Foto: Istimewa

Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) yang terinspirasi dari penyelenggaran pendidikan di Australia semakin banyak diminta menjelaskan konsep tersebut kepada berbagai kalangan pendidikan di Indonesia. Pendirinya Muhammad Nur Rizal baru-baru ini berbicara di Makassar (Sulawesi Selatan).

“Kerjasama di bidang pendidikan melalui program pertukaran guru seperti program Building Relationships through Intercultural Dialogue and Growing Engagement (BRIDGE) perlu diperluas kemanfaatannya.

Tidak hanya guru yang terlibat di program itu yang dapat merasakan kelebihan program ini melainkan seluruh warga sekolah termasuk siswa, guru lainnya hingga lingkungan di sekitarnya.

Jadi tidak cukup hanya membangun satu manusianya, namun diperlukan membangun ekosistem sekolahnya, “ungkapan yang saya kemukakan pada acara seminar yang diselenggarakan oleh Konsulat Jendral Australia di Makasar di depan alumni Autralia baik dosen, aktivis, guru program Bridge serta Dinas Pendidikan di Makassar (Sulawesi Selatan) baru-baru ini.

Sebagai Pendiri Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), kami diundang oleh Konsulat di Makasar untuk berbagi tips dan pengalaman bagaimana memulai perubahan di sekolah sekolah jejaring di Yogyakarta untuk membuat sekolah lebih menyenangkan dan memanusiakan seperti ajaran Ki Hadjar Dewantoro lalu.

Harapannya gerakan yang kami pelopori dapat menular di sekolah sekolah di Makassar.

 

“Seminar ini diselenggarakan dalam rangka menginisiasi program pengembangan untuk pendidikan dasar dan menengah di Makassar”, papar Konsul Jendral Richard Mathews, yang sebelumnya berprofesi sebagai guru bahasa Indonesia di Melbourne, saat membuka acara tersebut.

 

Dalam sambutannya disampaikan bahwa Konsulat yang baru diresmikan beberapa bulan lalu ini berkepentingan untuk memfasilitasi program pendidikan yang telah dirancang oleh pemerintah Australia dan Indonesia seperti Program Bridge untuk berkembang di Makasar.

Dalam paparan kami, saya mengajak peserta untuk menerapkan ilmu, pengalaman dan wawasan yang diperoleh selama di Australia kepada masyarakat atau lingkungan dimana mereka bekerja.

Bagi guru diharapkan mampu untuk membawa iklim atau lingkungan belajar yang positif dari Australia ke dalam pembelajaran di kelas atau sekolah.

Bagi dosen atau aktivis dapat mengaplikasikan berbagai filosofi dan teori baru ke dalam kurikulum kampus atau kegiatan pengabdian masyarakat.

Sedangkan bagi Dinas, untuk lebih terbuka dan mendukung berbagai ide perubahan yang dibawa oleh para alumni Bridge di Makassar.

Cara atau pendekatan itu akan memberikan kemanfaatan kepada masyarakat yang lebih luas.

 

Dengan semakin banyaknya masyarakat yang paham dan toleran atas kemajemukan kultur atau pola pikir yang berkembang, ini akan berguna untuk menjembatani hubungan antar warga atas berbagai kecurigaan atau ketidakpahaman yang terjadi selama ini.

 

Lebih luas, hal ini bermanfaat untuk memastikan kualitas hubungan Indonesia dan Australia yang kadang naik turun seperti permainan roller coster.

Selama sesi diskusi, banyak dari peserta yang menanyakan bagaimana memulai gerakan ini? apa hambatan dan tantangannya? serta bagaimana pendanaannya?

Kami bersama guru-guru di Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) memilih untuk berbuat melakukan pertukaran sistem dan praktik pendidikan yang telah dilakukan.

Sifatnya mutual dan melalui pendekatan bottom up dimana materi pelatihan didasarkan pada kebutuhan dan persoalan sehari-hari di kelas atau sekolah seperti kekerasan, bully, tidak fokus belajar hingga persoalan penerapan kurikulum 2013.

Indonesia bisa belajar dari sistem pendidikan Australia yang sudah ‘personalised learning‘ serta fit dengan tantangan perubahan kedepan, sedangkan Australia dapat belajar tentang ragam bahasa dan budaya Indonesia.

 

Yang kami lakukan tidak berhenti pada bertukar pengalaman dan pengetahuan saja, melainkan menerapkan sistem atau praktek pendidikan dari Australia ke dalam pembelajaran di kelas atau sekolah dengan konteks dan seting Indonesia.

 

Hal ini kami yakini selain dapat meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, juga efektif untuk membangun toleransi dan jembatan antarwarga kedua negara. Dampaknya tidak hanya bersifat personal melainkan lintas negara.

Agar gerakan ini terus berdampak nyata, setelah workshop kami mendorong dan memfasilitasi guru jejaring GSM untuk menyelenggarakan kelas berbagai praktek perubahan baik melalui tatap muka (offline) ataupun online menggunakan Whatsap atau Facebook.

Setiap perubahan yang dilakukan, kita apresiasi bersama dan dibagikan kepada publik atau guru guru lain untuk menginspirasi bagi yang belum berubah. Guru dapat saling menyampaikan masukan atau feedback untuk perbaikan kedepan sehingga proses evaluasi menjadi mudah dilakukan.

Muhammad Nur Rizal (kiri) dan Richard Mathews<br />Foto: Istimewa

Memberikan ruang kemerdekaan bagi untuk berinovasi

Selama pelatihan dan proses pendampingan, platform di gerakan kami adalah menggali inspirasi baru (mindset dan inovasi pembelajaran baru) dan memberikan ruang kemerdekaan bagi guru untuk berinovasi.

Saat pelaksanaan, perubahan didasari oleh semangat kolaborasi dan gotong royong bukan kompetisi antar sekolah seperti sekolah favorit atau non favorit, sekolah di kota atau desa.

Tidak ada dana khusus yang diperoleh dari institusi tertentu untuk memulai gerakan ini, melainkan hasil Crowd Funding, dimana setiap sekolah atau guru yang terlibat wajib mendanai dirinya sendiri.

Saat workshop berlangsung, tempat pelaksanaannya juga dilaksanakan secara bergiliran di sekolah yang berbeda.

Jikapun ada institusi atau pihak lain yang ingin menyumbang, sifatnya adhoc bukan utama.

Seketika peserta terhenyak, hening mendengar jawaban kami tentang gotong royong pendanaan ini.

Selalu saja jika kita berkata tentang perubahan, maka hambatannya adalah dana dan keterbatasan kondisi sekolah.

Padahal bukan itu. Perubahan adalah bagaimana kita melakukan satu hal kecil, namun tujuannya besar kemudian dibagikan untuk memberikan pesan bahwa perubahan itu dapat dilakukan. That is a change!

 

Kami juga mengingatkan, jika ingin berubah, bergaulah dengan kelompok.yang juga ingin perubahan agar selalu positif, optimis dan tak pernah merasa sendiri.

 

Di akhir sesi kami sampaikan bahwa jika Tujuan dan Skala Program Bridge diperluas seperti yang dilakukan di GSM, maka perubahannya akan dirasakan nyata oleh masyarakat luas.

Dan akan menjadi upaya konkrit dalam meningkatkan kualitas interaksi dan hubungan kedua warga negara.

 * Muhammad Nur Rizal PhD, Dosen Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan mendapat gelar PhD dari Monash University, Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan, sering diundang untuk sharing pengalaman kepada para alumni Australia yang diselenggarakan baik oleh Kedutaan Besar atau Konsulat Australia di Indonesia

Sumber: http://www.australiaplus.com/indonesian/studi-nad-inovasi/gerakan-gerakan-sekolah-menyenangkan-dan-program-bridge-austral/8138016

23/08/2016 3 comments 1224 views

Sekolah Menyenangkan

Hak Seluruh Anak Indonesia

Berikut merupakan kutipan wawancara antara Kanti (PhD mamaindonesia.com) dengan Novi Candra (Gerakan Sekolah Menyenangkan)

 

Mbak Novi, apa saja kesibukan sekarang? 

Kesibukan saya setelah kembali ke Indonesia tentu saja menjalankan 3 darma perguruan tinggi yaitu mengajar, meneliti dan melakukan pengabdian masyarakat. Saya kembali mengajar psikologi perkembangan di Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada.

Nah selain itu, untuk pengabdian masyarakat kebetulan karena ada Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), maka saya terus bekerja sosial bersama para guru guru,volunteer orangtua juga mahasiswa untuk bersama sama mengembalikan sekolah Indonesia menjadi tempat yang menyenangkan dan manusiawi buat anak-anak Indonesia.

Biasanya saya akan keliling ke sekolah sekolah dasar yang menjadi jejaring untuk berbagi tentang sekolah menyenangkan dan manusiawi abad 21, kompetensi apa yang mesti dimiliki oleh anak-anak dan juga bagi guru.

Di bulan Mei yang lalu GSM bekerja sama dengan Clayton North Primary School (CNPS), sekolah anak kami di Melbourne dulu, mengadakan workshop selama 5 hari bagi 75 guru dan kepala sekolah calon sekolah model yang telah lolos seleksi di Yogyakarta.

Sekolah model ini akan didampingi untuk membuat perubahan dari penciptaan lingkungan belajar yang positif, pelibatan anak-anak dalam proses pendidikan dan belajar, pelibatan komunitas dan orangtua, manajemen kelas, pengajaran menyenangkan abad 21 juga model assesmennya.

Perubahan ini nantinya akan diriset bersama oleh UGM dan juga Monash University. Semua aktivitas ini alhamdulillah bisa terlaksana karena gotong royong semua pihak. CNPS membiayai sendiri para gurunya, demikian juga Monash dan UGM, serta para guru iuran untuk membiayai workshopnya.

Foto: Seusai workshop bersama salah seorang guru dari Melbourne yang berbagi ide, ilmu dan pengalaman tentang sekolah menyenangkan
Foto: Seusai workshop bersama salah seorang guru dari Melbourne yang berbagi ide, ilmu dan pengalaman tentang sekolah menyenangkan

Boleh cerita sedikit tentang proses kelahiran Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM)? Apa tujuan utama dari GSM?

GSM berdiri tahun 2013 ketika saya dan mas Rizal (suami) studi di Melbourne. Gerakan ini lahir karena kami melihat ada gap antara pendidikan di Indonesia dan pendidikan di negara Australia.

Saat itu kami menyaksikan betapa anak anak sangat bahagia di sekolah dan memiliki antusiasisme tinggi sebagai pembelajar mandiri.

Mereka juga diberi ruang oleh sekolah dalam mengembangkan kompetensi uniknya. Kami juga melihat bagaimana pendidikan dasar juga mestinya adalah waktu dimana ditumbuhkan kecintaan anak anak pada belajar, ilmu pengetahuan, sumber-sumber belajar, serta tak lupa menumbuhkan karakter-karakter poistif dalam diri anak-anak. Kondisi ini berbeda dengan kebanyakan sekolah di Indonesia yang kami temui (terutama sekolah negeri).

Mungkin sudah banyak juga sekolah menyenangkan seperti sekolah anak-anak kami di Melbourne, namun biasanya kalau di Indonesia itu harganya mahal dan hanya bisa diakses oleh masyarakat menengah ke atas.

Di sela-sela kesibukan thesis, saya luangkan untuk selalu sit-in di kelas anak anak dan menjadi volunteer orangtua agar saya dapat belajar dari sekolah tersebut. Karena itulah kami ingin membawa pulang ilmu tersebut untuk kami bagi kepada para guru di Indonesia lewat GSM.

Harapan: Saya ingin semua anak Indonesia bisa menikmati suasana kelas yang menyenangkan yang dapat membantu mereka menikmati proses belajarnya di sekolah
Harapan: Saya ingin semua anak Indonesia bisa menikmati suasana kelas yang menyenangkan yang dapat membantu mereka menikmati proses belajarnya di sekolah

Awalnya itu berangkat dari sebuah program sederhana bernama ‘Berbagi Satu Mimpi’. Kami kumpulkan cerita-cerita tentang praktek baik pendidikan Australia yang ditulis oleh para orangtua yang diantaranya juga adalah mahasiswa PhD Indonesia yg ada di Australia. Cerita itu lalu diterbitkan dalam buku berjudul ‘Sekolah itu Asyik’.

Saat ini kami juga akan mempublish satu buku lagi berjudul ‘Sekolah nir Kekerasan: Inspirasi dari 4 Benua’.

Sejak itu kami bergerak membagikan praktek baik tersebut untuk sekolah di Indonesia sampai beberapa sekolah melakukan perubahan dan membuat jejaring atas inisiatif sendiri.

Jadi GSM adalah gerakan akar rumput pendidikan bertujuan menjadikan sekolah Indonesia menjadi tempat menyenangkan dan manusiawi untuk belajar anak anak Indonesia, untuk menumbuhkan kompetensi abad 21 (kreatif, kolaborasi, berpikir kritis dan komunikasi).

Seperti apa mbak menggambarkan kondisi pendidikan di Indonesia — apa sajakah kekuatan dan kelemahannya, serta potensi ke depan?

Selain aksesibilitas yang tidak merata, kualitas pendidikan yang tidak merata pun menjadi isu.

Pendidikan Indonesia secara umum masih berorientasi pada hasil bukan proses (makanya nilai sangat penting di Indonesia), pendidikan Indonesia juga masih untuk tujuan standarisasi bukan pengembangan kompetensi (makanya masih banyak testing-testing/ulangan), pendidikan kita juga masih mengutamakan kognitif bukan kompetensi utuh dan terakhir pendidikan kita masih berpusat pada guru belum berpusat pada anak anak sebagai pembelajar.

Padahal kita memiliki kekuatan luar biasa yaitu anak-anak Indonesia yang potensial, guru guru yang ingin melakukan perubahan serta kekayaan budaya yang luar biasa yang dapat memperkaya konsep pendidikan Indonesia.

Kelemahannya: sistem birokrasi yang masih lemah. Pemerintah selalu menyatakan bahwa pendidikan adalah yang utama namun bebarengan dengan itu terobosan yang dibuat pun belum optimal.

Pak mantan Menteri Anies Baswedan sebetulnya sudah memberikan dukungan untuk gerakan sekolah menyenangkan yang ikut menyemangati kami untuk terus bergerak dari bawah.

Nah sekarang dengan pergantian Menteri, apakah mewujudkan sekolah menyenangkan tetap menjadi salah satu fokus kebijakan atau tidak, saya tetap yakin anak-anak Indonesia membutuhkannya.

Sekolah semestinya mampu menjadi rumah kedua bagi anak anak kita. Dan kita tidak sedang bicara satu, dua, tiga atau puluhan sekolah yang telah menyenangkan, kita berbicara tentang sebagian besar sekolah di Indonesia.

Terkait ide sekolah penuh hari (full day school), menurut saya tak apa sekolah lebih lama asal membuat anak anak bahagia. Namun pernahkan kita bertanya apa yang membuat mereka bahagia dan tak bahagia di sekolah? Kadang banyak hal tak terpikirkan dari sudut pandang mereka.

Foto: Ekspresi antusias anak-anak saat belajar dengan cara yang lebih menyenangkan (SD Muh Sidoarum)
Foto: Ekspresi antusias anak-anak saat belajar dengan cara yang lebih menyenangkan (SD Muh Sidoarum)

Apa saja rintangan/tantangan yang dihadapi GSM? Apa harapan mbak ke depannya?

Tantangannya adalah mindset lama yang dimiliki oleh para pendidik, orangtua dan masyarakat bahwa pendidikan yang berkualitas adalah yang berstandarisasi melalui ujian dan anak-anak yang hebat adalah anak-anak yang pintar secara akademis.

Ke depan kami berharap GSM mampu mengubah mindset bahwa setiap anak adalah manusia yang memiliki keunikan untuk dikembangkan, oleh karenanya nilai bukan segala-galanya.

Kami berharap sekolah Indonesia ke depan adalah tempat menumbuhkan manusia manusia yang berjiwa, peduli pada lingkungannya juga mampu memberi manfaat pada sekitarnya. Bukan manusia yang memiliki nilai akademik tinggi namun kering jiwa dan tak peduli dengan sekitarnya.

Juga mindset bahwa guru Indonesia itu ‘kurang pintar’ sehingga tidak sanggup membuat inovasi, imbasnya adalah pendekatan yang dilakukan oleh pemerintah selalu top-down.

Ada banyak guru Indonesia yang memiliki kreativitas dan kemampuan menginspirasi, oleh karenanya ke depan GSM berharap mampu membantu para guru bahwa sejatinya mereka adalah juga pembelajar yang mampu berinovasi dan mengispirasi.

Foto: Salah satu sesi saya bersama para guru yang bersemangat untuk perubahan demi anak-anak didiknya (Guru SD Kalam Kudus Yogyakarta)
Foto: Salah satu sesi saya bersama para guru yang bersemangat untuk perubahan demi anak-anak didiknya (Guru SD Kalam Kudus Yogyakarta)

Tiga kata yang paling pas untuk menggambarkan perempuan?

Perempuan adalah.. sumber kehidupan, kekuatan dan kebijaksanaan.

Kanti, buat saya pribadi mengetahui banyak hal tentang bangsa ini membuat saya merefleksi bahwa perjalanan sebagai PhD student sekaligus PhD yang seorang ibu bukan sekadar perjalanan meraih sebuah gelar doktor.

Tapi bagi saya perjalanan saya sebagai PhD adalah perjalanan spiritual yang justru mengingatkan bahwa gelar doktor pun tidak akan berarti apa apa jika kita tidak melakukan sesuatu yang sangat sederhana yang dibutuhkan bangsa kita.

Terima kasih mbak Novi!

Thanks Kanti buat kesempatannya. Sukses selalu.

Sumber:

https://phdmamaindonesia.com

13/06/2016 0 comments 667 views

MERUBAH ORANG LEBIH PENTING

 

Oleh: Agung Wibawanto

 

Bagi yang belum sempat membaca Profile Prof John Loughran (Dean of Faculty of Education Monash University of Australia) di Swara Kampus KR Edisi Selasa (7/6) yang lalu, berikut naskah asli saat Swara Kampus KR mewawancarai Prof John Loughran

 

Foto : Prof John Loughran
Foto : Prof John Loughran

 

Di sela kesibukannya sebagai Dekan Fakultas Pendidikan Monash University, Prof John Loughran menyempatkan diri menjadi pembicara seminar Sekolah Menyenangkan dan Manusiawi yang diselenggarakan oleh Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) di MM UGM, Senin (30/5). Swara Kampus KR berkesempatan melakukan interview singkat kepada John Loughran. Berikut liputan wawancara selengkapnya:

 

Bagi Anda, apa pentingnya pendidikan untuk kehidupan manusia?
Pendidikan menciptakan kesempatan bagi orang untuk mengendalikan kehidupan mereka. Dengan dididik, peluang, ide-ide dan kemungkinan dapat lebih dipahami dan diambil untuk membentuk apa yang kita lakukan, bagaimana dan mengapa. Pendidikan memberikan kesempatan menjadi anggota informasi dari masyarakat dan untuk berkontribusi secara positif membentuk dunia di sekitar kita.

 

Apa alasan Anda sehingga memutuskan untuk bekerjasama dengan Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM)?
Alasan saya memutuskan bekerja dengan GSM adalah karena orang-orang yang terlibat, gairah, minat dan keterlibatan mereka dan kejujuran pendekatan mereka. Mereka memiliki kepedulian yang nyata untuk belajar yang berkualitas dan itu adalah sesuatu yang beresonansi kuat dengan saya sebagai seorang pendidik. Ini benar-benar penting dan GSM berniat baik, orang-orang jujur berusaha untuk meningkatkan pembelajaran dari orang lain. Itu adalah suatu hal yang baik untuk melihat dan terlibat.

 

Apa pendapat Anda tentang pendidikan di Indonesia?
Saya bukan ahli tentang pendidikan di Indonesia tapi saya sadar melalui GSM perhatian untuk meningkatkan pengajaran dan pembelajaran. Itu adalah keinginan yang sama seperti di Australia. Kedua negara mungkin berbeda dalam hal pengembangan kualitas pengajaran dan pembelajaran, tapi pada akhirnya, keinginan untuk student centered, peserta didik aktif yang mampu bertanggungjawab untuk belajar dan tindakan mereka sangat penting. Mendorong maju dengan itu agenda (pendidikan) di Indonesia benar-benar penting.

 

Apa perbedaan antara pendidikan di Australia dengan di Indonesia?
Pendidikan di Australia mungkin resource-nya lebih tinggi daripada di Indonesia, tapi yang penting bagi kedua negara adalah tentang maksud pengembangan pendidikan. Itu berarti bahwa guru perlu kesempatan untuk pengembangan profesional berkelanjutan sehingga mereka dapat belajar bagaimana mendukung pembelajaran siswa.

Mengajar yang baik menuntut kerja dan membutuhkan keterampilan canggih, pengetahuan dan kemampuan yang perlu terus-menerus diasah. Ketika guru ditantang tentang perkembangan ajaran mereka itu mempengaruhi secara dramatis cara mereka mendukung pembelajaran siswa mereka. Jadi mendukung pengembangan guru merupakan hal terpenting untuk mendukung peningkatan belajar siswa.

 

Ini pertanyaan klasik, bagi anda mana yang lebih penting? Sebuah sistem yang baik atau sumber daya manusia dengan baik?
Dan jawaban klasik saya adalah untuk berinvestasi pada orang. Sumber daya manusia yang paling penting, sistem harus dirancang untuk mendukung sumber daya manusia yang membuat sistem kerja terbaik.

 

Pertanyaan terakhir, apa pesan atau harapan anda kepada para guru ataupun mahasiswa program pendidikan (calon guru) di Indonesia?
Pesan saya adalah: belajar mengajar harus ada dalam hubungan dua arah dengan dekat. Mengajar harus mempengaruhi belajar dan pembelajaran harus membentuk mengajar, dengan demikian karya guru dan siswa bersama-sama adalah pengalaman kolaboratif, bijaksana dan bermakna dan memang itulah sekolah yang seharusnya. Sebuah hubungan yang kuat dibangun atas rasa hormat, kepercayaan dan pembangunan untuk semua.

 

Profil Prof John Loughran di Swara Kampus Kedaulatan Rakyat edisi Selasa (7/6)
Profil Prof John Loughran di Swara Kampus Kedaulatan Rakyat edisi Selasa (7/6)
03/06/2016 0 comments 949 views

UGM – Monash University Pererat Kerjasama untuk Sekolah Menyenangkan di Indonesia

Foto: Penandatanganan MOU antara Monash-UGM-GSM-Clayton North Primary School
Foto: Penandatanganan MOU kerjasama antara Monash-UGM-GSM-Clayton North Primary School: Dari kiri Mohammad Nur Rizal (GSM), Danang Sri Hadmoko (UGM), Ken Chatterton Wakil Kepsek CPNS, Paripurna Wakil Rektor UGM dan John Lougran Dekan Fakultas Pendidikan Monash

 

Dua universitas dari Australia dan Indonesia, Monash University dan Universitas Gadjah Mada secara resmi setuju bekerjasama membantu pengembangan pendidikan masa depan yang menyenangkan dan manusiawi.

Diwakili oleh Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Alumni UGM, Dr. Paripurna dan Profesor John Lougran, Dekan Fakultas Pendidikan Monash University, kedua universitas meresmikan kerjasama riset untuk mendukung pengembangan pendidikan masa depan yang menyenangkan dan manusiawi yang digagas oleh Gerakan Sekolah Menyenangkan hari Senin (30/5/2016) di Auditorium MM UGM Yogyakarta.

Selain penandatanganan kerjasama, acara yang dihadiri ratusan peserta berasal dari kalangan pendidik, kepala sekolah, orang tua, mahasiswa, akademisi serta perwakilan pemerintah dilanjukan oleh seminar yang bertema “Revolusi Mental melalui Transformasi Sekolah untuk Pendidikan yang Menyenangkan dan Manusiawi”.

Dalam keterangan yang disampaikan kepada ABC Australia Plus Indonesia, disebutkan bahwa dengan penuh antusias, peserta yang memenuhi ruangan menyimak paparan yang disampaikan oleh Prof J John Loughan dari Monash University, Prof Laksono dari  UGM, Ken Chatterton dari CNPS (Clayton North Primary School) dan Dr. Muhammad N Rizal sebagai Ketua GSM (Gerakan Sekolah Menyenangkan) yang dipandu oleh Prof. Tina Afiatin dan Novi Candra, keduanya dosen Psikologi UGM.

Suara keempat pembicara dengan pandangannya masing-masing sama yakni menegaskan bahwa esensi pendidikan itu untuk membangun manusia bukan mengajar untuk mendapatkan nilai tinggi, yang lebih mencerminkan kemampuan anak menghapal isi buku ataupun catatan dari guru.

Hal itu dapat tercapai ketika anak dilatih untuk dapat “memprediksi”, “mengamati” sekaligus “menjelaskan” fenomena yang terjadi melalui pengetahuan yang dimilikinya. Sehingga anak akan memiliki kemampuan “mencipta’ dari sekedar “mengeja”, kata Professor Lougran”.

Sedangkan, Professor Laksono menyarankan agar pengajaran sekolah tidak boleh tercerabut dari akarnya agar muncul konsep pendidikan yang “reflektif partisipatoris.

Ilmu yang dipelajari digunakan untuk mengidentifikasi masalah di sekelilingnya, sekaligus mengidentifikasi diri untuk membangun kesejarahan baru.

Ken Chatterton juga mengungkapkan efek negatif testing dan testing yang menceritakan hlangnya keceriaan dan inisiatif anak didiknya mendadak menjadi pendiam dan susah bergaul sekembalinya sekolah di negara asalnya.

“Kemana hakekat keguruan ketika mengajar hanya berorientasi pada nilai ujian nasional tinggi namun lupa mengajarkan anak-anak “critical thinking’dan kreativitas? ”, Rizal melanjutkan pertanyaannya, “Untuk siapa bapak-ibu mengajar? memenuhi target dinas pendidikan, tuntutan orang tua atau ingin mengajar anak-anak?“.

Mereka butuh ruang bermain dan bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya. Mengeksplorasi apa saja yang terjadi di sekelilingnya. Sehingga ilmu dan pengetahuan yang diperolehnya di sekolah dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan sederhana dalam kehidupan sehari-harinya.

Sekolah harus mengajarkan kemandirian dengan mendekatkan ilmu pada realitas sosialnya. Sekolah harus menjadi pusat saling belajar bagaimana memanusiakan anak-anak dilakukan. Sekolah harus menjadi tempat yang menyenangkan untuk menumbuhkan sikap disiplin dan karakter positif untuk bekal ketrampilan hidupnya kelak.

Rizal menambahkan bahwa “sekolah menyenangkan itu bukan sekolah senang-senang saja, melainkan tempat yang membuat anak bahagia untuk mengembangkan diri dengan pola pembelajaran nyata serta mengakomodasi setiap jengkal potensi anak anak dalam iklim belajar yang positif dan saling menghargai.”

 

“Ujian boleh dilakukan namun bukan ukuran keberhasilan, melainkan salah satu cara mengukur kesungguhan anak dalam belajar. Yang terpenting adalah pengukuran proses belajar bukan hasil akhir. Sehingga kemampuan komunikasi, kolaborasi (teamwork) dan ketrampilan problem solver” (menyelesaikan masalah) anak dapat tergali optimal.” Muhammad Nur Rizal

 

Rizal menambahkan bahwa launching kerjasama riset ini merupakan lanjutan kegiatan workshop seminggu untuk peningkatan kualitas guru-guru.

Lebih dari dua puluh sekolah lolos seleksi untuk menjadi sekolah model sekolah menyenangkan di Propinsi Yogyakarta dan sekitarnya.

Guru-guru ini dilatih oleh GSM bersama tiga guru dari Clayton North Primary School, yakni Ken Chatterton, Joane Weston dan Josie Burt yang datang ke Indonesia dengan biaya sendiri.

Materi pelatihannya dari merubah mindset hingga skill praktis dari membuat visi sekolah yang terukur dan dapat diimplementasikan secara nyata menjadi kebijakan sekolah, iklim belajar positif hingga model dan evaluasi (assessment) pembelajaran yang menyenangkan dan manusiawi.

Foto: Seminar di Gedung MM UGM
Foto: Seminar di Gedung MM UGM

Guru-guru itu bahkan diharuskan untuk mempraktikkan seluruh materi yang diwujudkan dalam rencana belajar kepada murid-murid sekaligus mendapatkan “feedback” langsung dari anak-anak tersebut.

Dan yang perlu bapak-ibu ketahui, “bahwa seluruh pembiayaan operasional workshop ditanggung bersama melalui iuran guru-guru tersebut”, ujar Rizal.

“GSM bertujuan untuk mengisi gap antara konsep dan praktis yang justru minim dikembangkan oleh pemerintah “, lanjut Rizal.

Dari pendekatan gorong royong serta materi pengembangan guru-guru ala GSM kemudian diriset oleh peneliti dari UGM dan Monash untuk mendapatkan data akurat yang dapat digunakan sebagai acuan pengembangan selanjutnya.

Sehingga pengembangan ke depan didasarkan suara akar rumput dari guru-guru serta feedback langsung anak-anak dan komunitas orang tua yang terlibat.

 

“Kami menamakan kolaborasi ini “an educational partnership with a grass root approach to innovative school transformation” (kemitraan pendidikan dengan pendekatan akar rumput bagi tranformasi sekolah yang inovatif)”

 

“UGM akan selalu terdepan memfasilitasi inovasi riset yang diprakarsai oleh GSM ini. Selain kegiatan ini digagas oleh dosen UGM juga memiliki dampak nyata dan positif yang tidak hanya pada pengembangan ilmu pengetahuan, malainkan bagi pengabdian dan pengembangan masyarakat. Sesuai dengan visi dan cita-cita di statuta kampus kami,” tegas Wakil Rektor bidang Kerjasama dan Alumni UGM Dr Paripurna di akhir sambutannya.

Sumber : www.australiaplus.com

09/05/2016 0 comments 1516 views
Berikut merupakan tulisan dari ibu Ailis Safitri dari SD Muhammadiyah Macanan
Sleman yang merupakan salah satu sekolah dalam jaringan GSM.
Beliau berbagi pengalaman mengenai PR yang sering diberikan guru kepada siswanya.

13095771_1174752359221660_884549048293011474_n

PR KREATIF ABAD 21
Oleh Ailis Safitri

Saat anak lelah pulang sekolah lalu dilanjutkan dengan les ini itu, apa yg diharapkan guru untuk dilakukan seorang peserta didik di rumah? Ya, terkadang guru masih membebankan pekerjaan rumah (PR) dengan alasan agar si anak mau belajar. “Kalau tidak diberi PR, maka anak akan malas belajar di rumah…,” demikian komentar guru pada umumnya.

PR nya berupa mengulang pelajaran di sekolah (biasanya membaca dan menghafal), atau mengerjakan soal-soal di buku latihan, semuanya berkait dengan baca, tulis dan hitung. Sesungguhnya ada beberapa metode belajar di rumah untuk mengulang pelajaran di sekolah melalui bertutur atau bercerita (menceritakan kembali pelajaran yang ia terima di sekolah).

Penting ya mengulang kembali pelajaran di sekolah saat di rumah? Ya memang penting, namun jika itu saja yang diberikan maka si anak bisa jenuh atau bosan. Pengetahuan tidak hanya baca, tulis dan hitung dalam buku pelajaran, tapi juga bisa mengamati dan melakukan sesuatu. Sebagai contoh, si anak diberi PR untuk memperhatikan ibu memasak, jika ingin membantu boleh juga.

Saat di sekolah si anak diminta untuk bercerita pengalamannya mengamati ibu memasak, apa nama masakannya, apa saja bumbu yang digunakan, apa saja bahan masakannya, bagaimana cara memasaknya. Maka jadilah resep versi anak melalui sebuah pengamatan. Ia juga diperkenankan memberi tanggapan atau pendapat terhadap masakan ibunya tersebut.

Atau saat hari libur, mintalah si anak untuk ikut ibunya belanja ke pasar. Atau bisa juga mengamati dan membantu ayah mencuci kendaraan. Orangtua mengajak diskusi beberapa hal yang tidak dimengerti anak. Kemudian si anak akan menceritakan kembali pengalamannya tersebut dan tanyakan pelajaran penting apa yang ia dapatkan? Bukankah itu juga sebuah pembelajaran?

Banyak hal yang sifatnya tematik yang dapat dikerjakan anak saat di rumah sebagai sebuah PR. Contoh mengamati suasana di pasar, maka tema tersebut akan terkait dengan cara menghitung, berkomunikasi, ekonomi, pendidikan moral, dan sebagainya. Si Anak juga tidak hanya bisa “calistung” tapi juga melatih pengamatan, nalar/pikir serta mengetahui bagaimana bertindak.

Untuk itu kepada guru juga orangtua agar tidak memaknai belajar hanya dalam bentuk menghafal ulang ataupun mengerjakan soal-soal latihan, namun praktik juga penting. Agar anak menjadi terlatih logikanya dan mandiri. Bukan menghilangkan PR sekolah berupa latihan soal-soal, tapi dikurangi porsinya dan diganti dengan PR berupa praktik langsung.

Mintalah kepada orangtua untuk selalu mendampingi selama anak mengerjakan tugasnya tersebut. Bila ada hal-hal yang belum bisa terjawab oleh orangtua, maka pertanyaan dapat dibawa ke sekolah keesokan harinya. Si Anak bisa belajar (tanpa ia sadari sesungguhnya ia sedang belajar) dan komunikasi dengan orangtua dapat terjalin. Semoga bermanfaat 🙂

*Penulis : Ailis Safitri (SD Muhammadiyah Macanan, Sleman)

Loading...