Cerita Guru

28/11/2017 0 comments 38 views

Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) Muhammad Nur Rizal menilai pelatihan guru dalam rangka pembelajaran berbasis Kurikulum 2013 (K13) sudah dilakukan secara masal, belum efektif.

Sebab pembelajaran di sekolah masih belum menerapkan nilai-nilai utama di dalam K13.

Muhammad Nur Rizal menuturkan pelatihan guru K13 menurutnya masih formalitas. ’’Selama pendampingan sekolah peserta GSM, saya sering menanyakan langsung kepada guru peserta pelatihan,’’ katanya di sela pelatihan GSM di Rumah Pintar BSD, Serpong kemarin (21/11).

Dia mencontohkan pada pelatihan guru itu cenderung kegiatan-kegiatan formalitas yang dihabas. Seperti bagaimana guru membuat rencana proses pembelajaran (RPP) dan sejenisnya.

Guru dianggap berprestasi jika sudah menyusun dokumen-dokumen terkait pembelajaran. ’’Guyonan di kalangan guru, pelatihan K13 itu hanya ceramah dan tanda tangan,’’ katanya lantas tertawa.

Menurut Rizal tantangan guru saat ini semakin berat. Sehingga penerapan K13 harus benar-benar menyeluruh.

Mulai dari materi kurikulum, guru, sampai sistem di sekolah. Dia berharap Kemendikbud mengevaluasi sistem pelatihan guru K13 yang sudah berjalan saat ini.

Dia juga meminta Kemendikbud evaluasi penerapan K13 dari sisi siswanya. Rizal menjelaskan Kemendikbud perlu menanyakan kepada siswanya secara langsung. Apakah proses pembelajarannya sudah ada perubahan antara kurikulum sebelumnya dengan K13.

Rizal berharap pelatihan K13 benar-benar bisa mengubah pola pikir. Guru tidak boleh merasa sebagai pusat ilmu pengetahuan.

’’Kalau guru masih berpikiran seperti ini, tidak lama lagi akan dikalahkan oleh Google,’’ jelasnya. Menurut Rizal peran guru harus lebih luas lagi. Misalnya guru harus menjadi fasilitator, motivator, dan membantu siswa mengenali dirinya.

Dia berharap saat ini terjadi perubahan dalam dunia pendidikan. ’’Jadi tidak hanya kurikulumnya saja yang berubah menjadi K13,’’ jelasnya.

Sementara evaluasi dan model pembelajaran oleh guru masih tetap sama. Rizal mengatakan pendidikan harus dikawal sehingga Indonesia bisa memanen bonus demografi pada 2030 nanti.

Sekretaris Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikbud Nurzaman mengatakan, mereka terbuka terhadap masukan dari berbagai pihak.

Dia menjelaskan sistem pelatihan guru terkait K13 dibuat berjenjang. Mulai dari instruktur nasional sampai guru tingkat daerah.

Dia mengatakan pelatihan guru untuk K13 dijalankan pararel dengan rencana implementasi K13. Nurzaman mengatakan implementasi K13 dijalankan mulai tahun pelajaran 2015/2016 sampai tahun pelajaran 2019/2020 nanti.

Tahun ini sekolah yang menerapkan Kurikulum 2006 masih ada 40 persen. Sisanya sebanyak 60 persen sekolah menerapkan K13. Perinciannya adalah 35 persen sekolah (di kelas 1, 4, 7, dan 10), 19 persen sekolah (di kelas 1, 2, 4, 5, 7, 8, 10, dan 11), serta 6 persen sekolah (di semua kelas).

Sumber: https://www.jpnn.com/news/pelatihan-guru-k13-dinilai-hanya-formalitas?page=3

09/02/2017 1 comments 619 views
Pemanfaatan Hypnoterapi Dalam Pembelajaran
Oleh : Iwan A. Priyana

 

Sebagian besar aktifitas guru baik di dalam kelas maupun di luar kelas, saat  berinteraksi dengan muridnya adalah berbicara. Kata kata yang dikeluaran guru saat berbicara memiliki efek, baik positif maupun negatif. Di sinilah diperlukan kehati-hatian , sebab bisa saja kata-kata yang di kemukakan guru tersebut merupakan komentar negatif yang dapat membentuk mental blok siswa. Penelitian yang dilakukan Jack Can Field terhadap 100 orang anak berkaitan dengan komentar baik yang positif dan negatif yang diterimanya dalam satu hari; hasilnya, cukup mengejutkan , yaitu 460 komentar atau kritik destruktif diterima anak-anak, dan hanya 75 saja dari komentar positif yang diterimanya.
Lalu, apakah akibatnya bila seorang siswa sering menerima komentar negatif? Kata negatif yang sering di dengar oleh siswa yang dikemukakan oleh guru, juga orang tua akan tersimpan di dalam bawah sadar. Proses masuknya kata-kata negatf tersebut melalui pintu gerbang atau filter yang dikenal dengan istilah RAS (Reticular Activating System). Saat RAS dalam keadaan “terbuka” informasi masuk lalu  tersimpan dalam bawah sadar yang kelak akan mempengaruhi pola tingkah laku dan pikiran juga membentuk konsep diri seseorang.
Hal ini terjadi sebab, aktivitas kita sehari-hari 80 % aktivitas manusia dikendalikan oleh pikiran bawah sadar, dan hanya 20 % saja yang dikendalikan pikiran sadar.
Kata-kata negatif yang tersimpan dalam gudang bawah sadar tersebut bisa dibuang atau dihapus dengan cara seseorang masuk  dalam pikiran bawah sadar dengan membuka RAS nya. Untuk memasuki pikiran bawah sadar, diawali dengan menurunkan gelombang otak sehingga berada pada kondisi alpa. Untuk masuk ke dalam situasi ini, dapat dilakukan dengan hypnoterapi, pada saat itulah dimasukan sugesti sesuai dengan keinginan kita yakni membuang kata hal-hal negatif dan memasukkan hal-hal positif.
Foto: SMP N 1 Nagreg Bandung. Penerapan hypnoterapi dalam pembelajaran
Guru dapat beperan sebagai orang yang memasukkan sugesti tersebut dengan langkah-langkah berikut :
  1. Bawalah siswa dalam ruangan yang tenang , dan sejuk tidak terlalu bising. Ciptakan suasana tenang dan nyaman bagi siswa di ruangan itu.
  2. Jelaskanlah kepada siswa tujuan kegiatan tersebut yakni upaya untuk menghapus kata-kata atau hal negatif yang ada pada dirinya dan mengganti atau memasukkan hal postif  yang akan memberdayakan dirinya.
  3. Setelah siswa siap, siswa diminta untuk menarik nafas dan mengeluarkan perlahan-lahan beberapa menit, suara guru harus tenang dan lembut. Perintah menarik nafas dan mengeluarkannya dilakukan berkali-kali . Siswa diminta untuk menutup mata serta fokuskan perhatian pada nafas yang masuk melalui hidung.
  4. Setelah beberapa saat siswa menarik nafas ,pada saat itu guru memperhatikan raut wajah siswa. Jika seandainya siswa tampak lebih tenang dan raut wajahnya seakan-akan sudah tertidur, pada saat itu guru meminta siswa membayangkan  sebuah bola bundar yang kosong. Perintah itu lakukan berkali-kali, karena pikiran bawah sadar persis pikiran anak-anak sehingga perintah perlu di ulang-ulang dengan suara lembut.
  5. Langkah berikutnya adalah siswa diminta mengingat kembali hal-hal maupun komentar negatif yang menjadi yang telah membentuk konsep dirinya, lalu diminta membayangkan bahwa saat itu siswa sedang memasukkan hal negatif tersebut ke dalam bola tersebut. Setelah itu, siswa diminta untuk mengimajinasikan bola itu ia buang jauh-jauh. Kegiatan berikutnya sugestikan pada siswa bahwa dirinya telah membuang hal-hal negatif, dan saat itu siswa diminta untuk memasukkan hal-hal positif ke dalam dirinya, dan akan menjadi keyakinannya.
  6. Kegiatan terakhir siswa diminta membuka  mata perlahan-lahan dan sugestikan bahwa sekarang siswa lebih nyaman dan hanya memiliki hal-hal positif dalam dirinya.

 

Penulis:

Iwan A. Priyana

Pendidik di SMP N 1 Nagreg Bandung (salah satu guru dalam jejaring Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM))

22/08/2016 0 comments 856 views

Kolaborasi Siswa Aktif

Oleh: Ailis Safitri

Pembelajaran kolaborasi (Collaborative Learning) merupakan model pembelajaran yang menerapkan paradigma baru dalam teori-teori belajar. Pendekatan ini dapat digambarkan sebagai sebuah model pembelajaran dengan menumbuhkan siswa secara aktif untuk bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil dalam mencapai tujuan bersama.

Foto: SD Muhammadiyah Macanan - penerapan model pembelajaran kolaborasi
Foto: SD Muhammadiyah Macanan – penerapan model pembelajaran kolaborasi

Pendekatan kolaborasi bertujuan agar siswa dapat membangun pengetahuannya melalui dialog, saling membagi informasi sesama siswa dan guru sehingga siswa dapat meningkatkan kemampuan mental pada tingkat tinggi. Model ini digunakan pada setiap mata pelajaran terutama yang mungkin berkembang sharing of information di antara siswa.
Hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan belajar kolaboratif, para siswa bekerja sama menyelesaikan masalah yang sama, dan bukan secara individual menyelesaikan bagian-bagian yang terpisah dari masalah tersebut. Dengan demikian, selama berkolaborasi para siswa bekerja sama membangun pemahaman dan konsep yang sama menyelesaikan setiap bagian dari masalah atau tugas tersebut.

Foto: SD Muhammadiyah Macanan - penerapan model pembelajaran kolaborasi
Foto: SD Muhammadiyah Macanan – penerapan model pembelajaran kolaborasi

Dari sudut pandang ini, model belajar kolaboratif menjadi efisien karena setiap siswa dituntut untuk berfikir secara interaktif. Para ahli berpendapaat bahwa berfikir bukanlah sekedar memanipulasi objek-objek mental, melainkan juga interaksi dengan orang lain dan dengan lingkungan. Dalam kelas yang menerapkan model kolaboratif, guru membagi otoritas dengan siswa dalam berbagai cara khusus. Guru mendorong siswa menggunakan pengetahuan mereka, menghormati rekan kerjanya dan memfokuskan diri pada pemahaman tingkat tinggi.

Foto: SD Muhammadiyah Macanan - penerapan model pembelajaran kolaborasi
Foto: SD Muhammadiyah Macanan – penerapan model pembelajaran kolaborasi

Peran guru dalam model pembelajaran kolaboratif adalah sebagai mediator. Guru menghubungkan informasi baru terhadap pengalaman siswa dengan proses belajar di bidang lain, membantu siswa menentukan apa yang harus dilakukan jika siswa mengalami kesulitan dan membantu mereka belajar tentang bagaimana caranya belajar. Lebih dari itu, guru sebagai mediator menyesuaikan tingkat informasi siswa dan mendorong agar siswa memaksimalkan kemampuannya untuk bertanggung jawab atas proses belajar mengajar selanjutnya.

Foto: SD Muhammadiyah Macanan - penerapan model pembelajaran kolaborasi
Foto: SD Muhammadiyah Macanan – penerapan model pembelajaran kolaborasi

Kini belajar di sekolah menjadi lebih mudah, menggembirakan, asyik dan keren. Itulah metode pembelajaran yang tengah dikembangkan di Sekolah Dasar Muhammadiyah Macanan.

  

Penulis:

Ailis Safitri

Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Macanan, Sleman (sekolah dalam jaringan GSM)

22/08/2016 1 comments 746 views

 

Berikut merupakan tulisan dari salah satu guru SD Muhammadiyah Macanan, sekolah dalam jaringan GSM (Gerakan Sekolah Menyenangkan) mengenai "mindset" atau pola pikir antara konvensional dan modern terhadap pendidikan.

SOAL MINDSET

oleh : Ailis Safitri

Dunia pendidikan memang komplek, banyak hal yang harus dipikirkan, mulai dari pelaku, materi, budaya, lingkungan dan sebagainya. Satu yang saya ingin sharing adalah soal mindset, antara yang konvensional dengan yang modern (saya kategorikan saja demikian).

Yang berpikiran modern menganggap bahwa karakter jauh lebih utama untuk ditumbuhkembangkan ketimbang nilai. Orang tua modern jika ditanya, “menghendaki pendidikan anak yang seperti apa?” Maka jawabnya, “Ingin anak yang kreatif, terutama dapat mengatasi masalahnya sendiri,” demikian.

Foto: sd muh macanan - membaca jadi budaya
Foto: sd muh macanan – keterampilan – membaca jadi budaya

Sementara orang tua yang konvensional masih berharap agar anaknya menjadi pintar dengan ukuran mendapat nilai yang bagus, dengan alasan supaya bisa melanjutkan ke sekolah negeri (faktor gengsi dan biaya).

Orang tua modern lebih menekankan pendidikan anak yang memprioritaskan life skill, sementara yang konvensional lebih suka agar anaknya diberi pendidikan berkait dengan pelajaran.

sd muh macanan - belajar bersama kakak kelas
sd muh macanan – belajar keterampilan komputer (IT) bersama kakak kelas

Kondisi seperti ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi sekolah yang berada di pedesaan, di mana wali murid mayoritas berasal dari status sosial menengah kebawah. Pemikiran mereka masih sangat konvensional dan pragmatis, anak disekolahkan supaya pintar dan mendapat nilai yang bagus. Apabila nilainya jelek maka sekolah diminta pertanggungjawabannya.

Seperti sudah sama-sama diketahui bahwa materi pelajaran untuk tingkat sekolah dasar sekarang ini lebih ditekankan kepada pendidikan karakter (60-70%) dan pengetahuan (30-40%). Kurikulum pun sudah mulai dialihkan dari KTSP ke K13 (kurikulum 13). Namun jika masyarakat maupun guru masih memiliki mindset yang konvensional dan pragmatis yang lebih mengutamakan nilai, maka perjuangannya masih akan panjang.

Foto: sd muh macanan - belajar bersama kakak kelas
Foto: sd muh macanan – melatih keterampilan sosial dan komunikasi – belajar bersama kakak kelas

Beberapa strategi sesungguhnya sudah mulai diterapkan di banyak sekolah. Salah satunya dengan menerapkan metode pembelajarn bertingkat. Maksudnya kelas 1-4 menekankan pendidikan karakter, sementara kelas 5-6 lebih menekankan pengetahuan (drill). Atau pihak sekolah berani untuk tidak terlalu fokus kepada UN (khusus kelas 6, 9 dan 12), misalnya. Karena tidak pernah ada jaminan juga bila terlalu fokus kepada UN maka hasilnya akan bagus, sementara jika sekolah tidak terlalu fokus UN maka hasilnya akan jelek.

Hasil nilai evaluasi bagus atau jelek memang sangat bergantung kesiapan siswa. Namun apabila secara psikologis anak menjadi stress karena beban belajar yang tinggi, maka akan percuma juga. Inilah pentingnya merubah pola pikir masyarakat yang selama ini (justru) terlalu membebankan anak. Beberapa pengalaman menunjukkan bahwa anak yang nilainya bagus tidak kemudian menjadi jaminan berhasil dalam kehidupannya kelak.

sd muh macanan - pendidikan karakter - latihan antri
sd muh macanan – pendidikan karakter – latihan antri

Mari bekali anak tidak hanya dengan ilmu pengetahuan tapi juga keterampilan mengolah pikir, rasa dan sikap sehingga kelak ia siap menghadapi segala tantangan kehidupan yang dihadapi.

06/06/2016 1 comments 867 views

*Fair dalam Penilaian*

_Oleh: Fauzan, Zuqi, & Qoni_

 

Ternyata menjalani workshop seperti ini cukup melelahkan teman2. Berangkat pagi, pulang sore, malam nulis, pagi posting. Lelah juga teman2. Tapi kami heran, kenapa Joanne, Jesie dan Ken tidak pernah terlihat ya. Padahal mereka setelah mengisi workshop selalu saja diajak untuk berkunjung ke sekolah-sekolah lain yang notabene tidak dijadikan tempat workshop. Guru-guru Clayton North keren pokoknya. Kita tidak boleh kalah dong.

workshop day 4 di SD Kalam Kudus
workshop day 4 di SD Kalam Kudus

Sebelum memasuki materi, Pak Yudi kepala sekolah SD M Noyokerten terlebih dahulu memberikan refleksi tentang pembelajaran kemarin. Beliau mengatakan bahwa, “ada 2 hal yang ditekankan dalam pembelajaran menyenangkan, *yaitu pembelajaran berbasis nilai dan pembelajaran berbasis proses*”. Hasil yang diperoleh tidak akan kita petik sekarang, tapi dimasa yang akan datang. Sehingga kita tidak perlu risau anak kita sekarang tidak bisa, Insya Allah kita bisa. Seperti salah prinsip Nabi Muhammad SAW., bahwa kalau mereka tidak mau beriman, Insya Allah anaknya akan beriman, kalau tidak anaknya ya cucunya, kalau tidak cicitnya, dan seterusnya tidak pernah ada kata putus asa. Makanya dalam ajaran agama kita ada anjuran, *”gembirakanlah jangan kau takut-takuti dan mudahkanlah jangan kau persulit”*. Lama-lama kita malah ngomongin Pak Yudi ya. Udah kita masuk ke materi aja yuks.

student will dan kolom Know-want to know
student will dan kolom Know-want to know

Pada kesempatan ini kami mengupas tentang tema pembelajaran. Kami diberi 75 menit untuk mengulas learning tema.  Ada 3 hal penting yg akan kita capai:
1. Student Will *learnt key facts* about Australia (kami akan belajar fakta2 ttg Australia),
2. Student will *practise mapping* skills (memetakan /membuat map terkait fakta yg didapat)
3. Student will *practise classification* (belajar mengelompokkan fakta)
Untuk membantu kita menemukan fakta2 tersebut  Ken membuat rubrik yang berisi “*Know*/apa yang kita ketahui? , *Want to know*/apa yang ingin kita ketahui? , *Learnt* /apa yang sudah kita pelajari (KWL).

Pertama-tama kita diminta mengisi terlebih dahulu kolom Know dan Want to know sesuai selera masing2. Yang penting tentang Australia. Paling tidak 3 isian. Misalnya yang Know, _saya sudah tahu PM Australia bernama Malcom Turnbull, saya sudah tahu Australia satu-satunya negara yang berbentuk benua, dan lain sebagainya_. Yang Want to know juga harus kita isi. Waktu itu kami isinya seperti ini, _kami ingin tahu hubungan manusia dengan manusia di Australia_ . Maksudnya pola interaksi di Australia tu gimana. Yang jelas kami juga menuliskan, _bagaimana pendidikan SD, SMP, SMA sampai dengan kuliah disana.
Dan terakhir kami juga menulis tempat wisata yang rekomended untuk dikunjungi. Eh lagi2 yang jawab Pak Rizal, _”Paris, Denhag, Yunani, semua bagus, tapi Melbourne is the best”_. Wah, oke Pak Rizal. Kita berusaha ya, kalau ndak study kesana ya modus study banding ndak papa ya.

Setelah kami menuliskan Know dan Want to know, kami diminta mencari fakta-fakta tentang Australia yang sudah ditulis dalam post-it yang ditempel diberbagai sudut gedung SDK Kalam Kudus, tempat  kami workshop.

Fakta tentang Australia
Fakta tentang Australia

Kami mendapat fakta, ada _Australia negara kedua yang memberi hak suara pada perempuan tahun 1902, Australia terdiri dari 6 negara bagian dan 2 wilayah teritorial_, dan lain sebagainya.

Semuanya ada 12 fakta, tetapi kelompok kami hanya dapat 7 teman2. Kata Ken, ndak papa dapat berapapun akan dihargai. Setelah kami dapat beberapa fakta, kami diminta berdiskusi untuk mengklasifikasikan fakta-fakta tersebut. Tapi uniknya kami tidak diberi petunjuk klasifikasi berdasarkan apa. Terserah pokoknya. Wah, ini kalau di sekolah kita bisa rame ya. Asyik tuh. Hehehe. Fakta _memberi hak suara pada perempuan_, kami klasifikasikan dalam bidang politik. Sedangkan _Australia terdiri dari 6 negara bagian_, kami klasifikasikan ke dalam bidang geografi.

Kegiatan diksusi dalam workshop
Kegiatan diksusi dalam workshop

Dari beberapa kelompok yang telah berdiskusi, semua maju ke depan untuk mempresentasikan hasil diskusinya. Dan hasilnya sangat beragam jenis klasifikasinya. Namun semua diapresiasi oleh Ken. Ken bukan melihat jenis klasifikasi itu benar atau salah, namun *Ken melihat cara berpikir anak-anaknya yang nantinya sebagai bahan pertimbangan Ken dalam menyusun tema pembelajaran selanjutnya.* Ternyata cara berpikir Ken sangat berbeda dari kita yang terlalu fokus pada benar-salah ya. Ayo sadar teman2.

Baru setelah kami presentasi, Ken mempersilakan untuk menilai diri sendiri dengan rubrik yang telah disediakan Ken di depan. Ada *partisipasi dalam kelompok, ada pemahaman terhadap fakta-fakta, dan kemampuan dalam mapping*.

rubrik penilaian
rubrik penilaian dari Ken (narasumber)

Perlu kita pahami bersama bahwa *rubrik penilaian sudah harus kita beritahu ke anak di awal pembelajaran. Agar anak terpacu untuk mencapai the best. Juga untuk menjunjung fairplay. Atau keadilan dalam penilaian *. Wah, ini yang sering kita lupakan. Kita terlalu sering menutup kriteria penilaian.

 

#WorkshopGSM4

06/06/2016 0 comments 731 views

Terus Fokus, Selalu Ada Celah untuk Berubah

Oleh: Fauzan,  Zuqi, &  Qoni

Acara workshop hari ini menghadirkan narasumber baru yang tidak kalah menariknya. Beliau sangat energik, smart, ekspresif dan tentunya semangat sekali. Beliau adalah Ken Catterton. Wakil kepala sekolah Clayton North Primary School, sekolah pemerintah yang mendidik siswa dari berbagai negara. Ken sedianya datang bersama Joanne dan Jesie tempo hari. Akan tetapi Ken baru bisa hadir membersamai kami dihari ketiga ini, karena baru saja mendapat amanah seorang bayi.

Biar ndak ngalamun langsung saja kita ice breaking ya. Eh, maksudnya membahas ice breaking dari Joanne. Hehehe. Joanne kali ini memberikan ice breaking yang mungkin sudah sering kita dengar atau bahkan kita lakukan. Jesie memutar musik, kami diminta untuk berputar-putar, dan ketika musik berhenti Joanne mengucapkan sebuah angka, seketika itu juga kita harus membuat kelompok sesuai dengan angka yang disebutkan Joanne. Jika Joanne menyebutkan angka 3 maka kami harus membentuk kelompok dengan jumlah peserta 3 orang dan jika Joanne menyebutkan 8 maka kami juga harus membentuk kelompok dengan jumlah peserta 8 orang begitu seterusnya.

Apa yang kita pelajari bukan ice breakingnya teman2. Ketika kami selesai berkelompok, dan mungkin beberapa ada yang tidak mendapat kelompok, Joanne langsung memuji kelompok yang tercepat, “your group the fasttest”. Kelompok tersebut mendapat predikat “good student”. Dan Joanne tidak menyinggung sama sekali diantara kami yang tidak mendapat kelompok. Hebat kan teman2.

Ternyata ada makna tersembunyi dibalik itu.  Setiap kali kita mencontohkan ini adalah good student, *maka dengan sendirinya anak akan belajar meniru dan selalu mengingat hal baik/prestasi tersebut.* Luar biasa kan!!?

workshop hari ke 2
workshop hari ke 3 di SD N Percobaan 2

Kali ini Ken sebagai wakil kepala sekolah Clayton North Primary School memberikan pencerahan kepada kami tentang Visi Sekolah. Ken terlebih dahulu memaparkan Visi CNPS, kemudian juga meminta kami menuliskan visi sekolah kami masing2. Setelah ditulis, Ken memberikan cara kepada kami bagaimana menilai visi sekolah kami. _Wah, ternyata visi sekolah juga perlu dinilai teman2_. Bukan dinilai benar dan salahnya lho, *tapi dinilai sudah bagus atau belum visi sekolah kita*.

Parameter yang Ken gunakan untuk menilai ada *bahasa, merepresentasikan komunitas, dan aspirasional*. Kita mah tahunya kalau visi ya diawali kata _terwujudnya_, gitu kan. Hehehehe.
Dari segi bahasa, Ken menuturkan *visi yang bagus panjangnya kurang dari 10 kata.* Ingat ya, 10 kata bukan kalimat. Hahahaha. Sekolah kita gimana!? Kita cek aja bareng2 nanti yuks. Tapi besok aja.

Yang kedua _merepresentasikan komunitas_. Maksudnya, *kalau kita sudah mencantumkan keterlibatan masyarakat dan orangtua dalam visi sekolah, berarti visi kita sudah bagus.* Ken juga sempat memamerkan visi sekolahnya. *A Partnership That Nurtures*. Tuh kan sudah ada partnership berarti mereka selalu melibatkan masyarakat dan berbagai pihak. Kalau tidak ada pelibatan masyarakat dan orangtua, Ken hanya memberi 1 bintang. Kita mungkin malah bersyukur ya dapat bintang, lah kalau kebanyakan bintang di kepala ndak enak to.

_Yang ketiga_, aspirasional. *Visi yang kita susun harus menetapkan target yang lebih baik dari saat ini*. Kita harus berpikir agar sekolah kita tidak hanya good, tapi *excellent pada 5 tahun mendatang*. Pandangannya harus jauh, melihat peluang dan tantangan yang akan sekolah hadapi. Model penilaian tadi akan sangat membantu kita untuk memaknai kata sukses dalam perumusan visi.

Penilaian visi yang Ken contohkan pada kami dimulai dari self assessment. Kita menilai rumusan kita sendiri. Dari segi bahasa apakah good, better ataukah best. Begitu juga dari aspek representasi komunitas dan aspirasional. Metode ini juga dapat digunakan untuk penilaian karya anak2. Biasanya ketika anak2 diminta menilai diri sendiri terlebih dahulu, mereka akan menilai dengan nilai yang rendah.

Setelah self assessment selesai, dilanjutkan dengan peer assessment. Rumusan kita dinilai oleh teman sebaya. Sama dengan self assessment, penilaian juga menggunakan kategori good, better dan best atau kalau menggunakan bintang berarti good 1 bintang, better 2 bintang dan best 3 bintang. Teman sebaya juga harus memberikan saran. Apa yang perlu diperbaiki dari rumusan itu. Baru dikembalikan pada perumus dan diperbaiki. Setelah diperbaiki dinilai kembali oleh diri sendiri, kemudian teman sebaya, diperbaiki lagi, begitu seterusnya sampai menghasilkan rumusan visi yang excellent. Ken menegaskan bahwa, *kalau kita ingin mendapatkan visi sekolah yang excellent, perlu berkali-kali revisi rumusan visi sekolah*.

Ken juga menyampaikan pentingnya metode penilaian seperti ini diterapkan pada anak, *anak akan tahu sukses itu seperti apa, dan akan termotivasi berbuat yang terbaik*. Lalu kenapa dimulai dengan self assessment tidak langsung peer atau bahkan share dalam forum besar, *karena itu akan membuat anak tahu dan lebih mengerti jika dinilai orang lain*. Artinya anak tidak marah dengan penilaian orang lain, karena dia sedikit-banyak tahu kekurangannya pada waktu si anak menilai diri sendiri. Ini yang jarang kita sadari kan!?

#WorkshopGSM_3

01/06/2016 0 comments 749 views
Workshop hari ke-2 (Selasa, 24 mei 2016) di SD Muhammadiyah Noyokerten

*FAIL = First Attempt In Learning*

Oleh: Fauzan, Zuqi, & Qoni

.

Workshop dimulai dengan ice breaking yang cukup menarik. Joanne meminta kami untuk berdiri dengan 1 kaki, kemudian Joanne menyampaikan beberapa pertanyaan yang sederhana tentang anggota tubuh. Kita diminta menunjukkan bagian tubuh yang disebutkan Joanne.

Joanne ingin menunjukkan pada kami bahwa keseimbangan akan membantu kita menjadi nyaman. Begitu juga kelas. Tidak hanya siswa yang punya keinginan, tetapi keinginan itu harus diimbangi dengan peraturan. *Jika kelas tidak mempunyai peraturan, anak tidak akan nyaman. Karena anak tidak mempunyai tujuan*. Begitu kata Jesie.

Peraturan kelas yang sudah kita bahas kemarin adalah classroom agreement. Dimana peraturan ini dibuat setiap awal tahun dengan melibatkan seluruh siswa sebagai warga kelas. Nah, ternyata sebelum ada peraturan kelas tersebut, di Clayton North Primary School (CNPS) ada yang namanya Classroom Expectation atau ekspektasi kelas. Kita ingin kelas kita terlihat seperti apa ya. Semua dirembuk dengan warga kelas dan disepakati bersama. Barulah kalau sudah punya keinginan atau ekspektasi tadi, dibuatlah classroom agreement tadi atau peraturan kelas agar ekspektasi kelas tercapai. Ekspektasi kelas harus memakai kalimat yang positif.

workshop hari 2
workshop hari 2

Disinilah peran guru untuk meluruskan atau membetulkan setiap kalimat yang condong pada kalimat negatif menjadi kalimat positif. Contohnya ketika anak menyampaikan usulan ekspektasinya “sesama anak tidak boleh saling menyakiti”, guru bisa memperbaiki kalimat anak misalnya menjadi, “kita harus respek terhadap sesama”. Contoh lain ekspektasi kelas di CNPS misalnya, _kita akan saling memperhatikan, kita akan berbicara sopan, kita akan fokus dan menyelesaikan setiap tugas, kita akan peduli dengan saling menasehati, kita akan peduli dengan barang miliknya dan akan mengembalikan pada tepatnya_.

Josie menjelaskan bahwa anak yang melanggar classroom agreement dan classroom expectation cukup kita beri peringatan/teguran. Dan peringatan itupun tidak boleh disampaikan didepan teman2 nya. Cukup ketika si anak sendirian. Hal ini untuk menjaga kepercayaan diri anak dimata teman2 nya. Karena classroom expectation dan classroom agreement *bertujuan untuk menata keseharian anak*. Berbeda dengan code of conduct, anak yang terbukti melanggar tidak perlu diberi peringatan, melainkan langsung diberi hukuman. Entah itu kerja sosial atau diskors sesuai dengan level pelanggaran yang dilakukan anak. Walaupun berbeda, ekspektasi dan kesepakatan kelas tadi tetap harus sesuai dengan peraturan atau code of conduct.

Materi yang tidak kalah menarik adalah tentang display karya siswa. Yang berbeda dari CNPS adalah, mereka melakukan display karya anak *tidak berpatokan pada sisi artistik* seperti kita, melainkan berpatokan pada tujuan. Kalau kita kan biasanya, “ayo karyanya ditempel biar kelasnya bagus”. Di CNPS semua karya siswa dipajang, baik yang sempurna, maupun kurang sempurna. Hal ini bertujuan agar anak *mengerti akan kerja kerasnya*. Foto kegiatan pun mereka display disetiap sudut kelas. Ada yang ditempel di dinding, jendela, bahkan digantung dengan kawat.

Dengan ditempelnya karya anak2, mereka juga bisa melihat perkembangan belajarnya masing2. Ketika pertama belajar menulis, anak akan melihat tulisannya seperti itu, terkadang banyak yang keliru. Dan sekarang tulisan anak sudah lumayan bisa dibaca. Karya atau hasil kerja yang keliru, tidak perlu siswa perbaiki. Yang penting anak mengerti akan kesalahannya dan besok lagi tidak diulangi. Karena perasaan anak *”Dulu aku pernah salah” itu menjadi hal penting bagi anak*. Salah satu prinsip yang diajarkan Joanne pada anak2 nya adalah FAIL. First Attempt In Learning. Yang artinya kurang lebih *mencoba untuk pertama kalinya adalah belajar*. Singkat & sangat manjur untuk menanamkan pada anak sikap tidak takut gagal. Mencoba dan mencoba terus tanpa menyerah.

workshop hari2
workshop hari2

Sekarang kita masuk ke kegiatan pembelajaran. Clayton membiasakan gurunya untuk menuliskan Learning to Intention atau kalau di sekolah kita disebut indikator. Disana biasanya diawali dengan kata “kita akan mempelajari  . . .”. Misalnya kita akan mempelajari bilangan loncat. Nah, selain Learning to Intention tadi, guru juga menuliskan success criteria atau kalau di sekolah kita namanya tujuan pembelajaran. Biasanya diawali dengan kata “saya bisa. . .”. Kedua komponen ini ditulis guru didepan kelas agar anak bisa membaca dan mengingat terus tujuan pembelajaran hari ini. Sehingga semangat untuk mencapai atau menguasai tujuan pembelajaran mengalir terus. Kalau hanya diucapkan anak dan guru akan mudah lupa. Kedua komponen itu guru ambil dari kurikulum yang dibuat pemerintah. Guru menciptakan kedua komponen itu dengan kalimat sendiri yang mudah anak mengerti.

Setelah anak mengerti akan tujuan pembelajaran yang akan dilaksanakan hari ini, anak dipersilakan membuat personal goal, atau target capaian masing2 anak. Anak2 membuat personal goal dengan melihat tujuan pembelajaran dan kondisi anak. Misalnya dalam tujuan pembelajaran tertulis, “saya dapat menghitung bilangan loncat 3”. Anak bisa menulis, “aku bisa menghitung bilangan loncat 3 sampai dengan 42”. Sehingga disini tidak ada anak yang tidak tuntas pada tujuan pembelajaran, yang ada siswa tidak mencapai target yang telah dibuat. Misal targetnya menghitung sampai 40, tapi ternyata waktu evaluasi cuma sampai 30. Akan tetapi walaupun anak tidak mencapai target, anak tetap menyelesaikan tujuan pembelajaran, yang mana dapat disimpulkan kalau mereka telah tuntas.

Kami juga diajari bagaimana cara efektif menukar tempat duduk anak tanpa harus memaksa si A untuk duduk disini dan si B disana. Karena menurut Joanne dan Jesie, pertukaran tempat duduk dapat meminimalisir anak untuk nge-gang. Joanne meminta kami untuk berkumpul sesuai dengan warna baju yang kami pakai. Yang merah berkumpul dengan yang merah, biru dengan biru, dan lain sebagainya. Setelah semua berkumpul sesuai warna, Joanne meminta kami untuk membentuk kelompok yang beranggotakan masing2 warna baju. Ada yang merah 1 orang, biru seorang, hijau seorang dan seterusnya. Jesie menegaskan bahwa dikelas yang kita ampu masing2 bisa diterapkan sesuai konteksnya. Bisa memakai warna kaos kaki, tinggi badan, dan lain sebagainya.

workshop hari 2
workshop hari 2

Joanne dan Jesie juga mengajak kami untuk merasakan suasana kelas yang mereka ajar di Australia. Joanne menuliskan tugas untuk “menghitung dengan pola bilangan loncat”. Tidak lupa Joanne mengajak kami bermain terlebih dahulu dengan permainan tentang bilangan loncat. Setelah itu kami diminta membuat hitungan bilangan loncat. Kami dibebaskan mau membuat bilangan loncat berapa. Bisa 2, 3, 4, dan lain sebagainya. Kami tuliskan dikertas post-it agar bisa ditempel. Joanne memang sudah memperkirakan beberapa siswa akan sama dalam membuat pola. Misalnya si A membuat bilangan loncat 4, si B pun demikian. Akan tetapi yang membedakan disini adalah hitungannya. Misalnya si A hanya sampai 20, si B bisa sampai 30. Dan Joanne selalu membuat pujian yang detail untuk setiap anak didiknya. Tidak lupa hasil kerja mereka ditempel untuk dijadikan pelajaran berikutnya. Perlu kita pahami bersama, *Joanne dan Jesie tidak memberikan nilai dalam bentuk angka, akan tetapi semua diberi penghargaan lewat feedback yang detail kepada setiap anak.* Setelah itu kami diminta berdiskusi untuk membuat pola sendiri dan memberi alasan kenapa memilih pola tersebut. Misalnya waktu itu kami memilih pola bilangan loncat 4. Alasan kami adalah karena kami berjumlah 4 orang dalam satu kelompok.

Joanne memberikan pendapat bahwa dengan anak mengemukakan alasan, anak akan belajar untuk menyampaikan gagasannya masing2.

Di akhir pembelajaran, Joanne meminta anak didiknya untuk membuat self assessment dan ditempel didinding kelas mereka. Melihat dari personal goal yang telah dibuat, sampai mana anak2 bisa mencapainya. Dan tidak lupa juga untuk menuliskan apa yang perlu diperbaiki dan bagaimana usahanya untuk memperbaiki. Semua anak pastinya menuliskannya berbeda-beda, karena diawal mereka membuat personal goal juga berbeda. Baru setelah itu Joanne memberikan refleksi dan motivasi. Kalimatnya begini, *”Oke, hari ini kalian sudah bisa melakukan yang terbaik.

Walaupun ada yang baru sampai 10 atau 20 tidak apa-apa. Sekarang mari kita tantang diri kita sendiri untuk melebihi apa yang kita hasilkan hari ini”*. Didada kami cukup terasa energi kata-kata itu.

13/05/2016 0 comments 1654 views
Berikut merupakan tulisan dari ibu Ailis Safitri dari SD Muhammadiyah Macanan
Sleman yang merupakan salah satu sekolah dalam jaringan GSM.
Beliau berbagi tips mengenai pentingnya mengenalkan berbagai macam profesi pada anak sejak dini.

Mengenalkan profesi Pada Anak

Oleh Ailis Safitri

Cobalah eksperimen berikut ini. Minta kepada anak di kelas untuk menuliskan sebuah profesi, atau tuliskan profesinya nanti ketika sudah dewasa. Setelah itu kumpulkan dan teliti berapa anak yang menyebutkan atau menuliskan profesi di luar insinyur, dokter dan tentara? Hampir dapat dipastikan bahwa sebanyak 50% lebih anak-anak kita hanya mengenal ketiga profesi tadi.

Mengapa bisa demikian?

Setidaknya ada 3 penyebab sehingga mereka bisa demikian. Anak cenderung apa adanya. Apa yang disampaikan atau diajarkan guru, maka itulah yang menjadi pengetahuannya. Artinya, guru tidak mencoba untuk mengenalkan jenis profesi lain kepada siswanya, karena mungkin saja guru juga tidak memiliki referensi yang cukup.

Penyebab kedua, berkait dengan yang pertama tadi, anak sangat mendengarkan gurunya ketimbang orang lain bahkan orangtuanya sendiri. Jadi, meski ia mendapat referensi akan profesi lain dari orangtuanya, tetap saja yang ia jadikan patokan adalah apa yang disampaikan gurunya. (Anak lebih sering mengatakan, “Kata bu guru bukan begitu,” kepada orangtuanya, ketimbang, “Kata ibu/ayah tidak begitu,” kepada gurunya).

Penyebab terakhir dan mungkin paling esensi adalah dikarenakan anak belum terlalu memikir soal profesi. Mereka tidak pernah membayangkan bahwa kelak mereka harus bekerja. Apa itu bekerja dan pekerjaan? Perlukah mereka mengetahuinya? Belum. Belum saatnya mereka dipahamkan soal konsep bekerja. Yang perlu mereka ketahui hanyalah beragamnya profesi, agar mereka mulai memilih dan menyukai layaknya super hero.

Ya, terpenting adalah membangun angan dan imajinasi mereka sesuai dengan kesenangan dan bakat masing-masing. Sebuah profesi juga dapat diperkenalkan seperti super hero, tekankan betapa pentingnya, betapa jagonya profesi tersebut sehingga diperlukan karena bisa membantu orang banyak. Jadi yang diperkenalkan bukan teknis pekerjaannya melainkan fungsinya, agar anak mulai tertanamkan bahwa profesi itu bukan sekadar pekerjaan melainkan memiliki fungsi.

Contoh profesi guru, bukan sekadar sebuah pekerjaan mengajar di sekolah dari jam 7 hingga jam 2 siang, misalnya. Tapi kenalkan bahwa profesi guru itu fungsinya mencerdaskan anak bangsa. Kenalkan sebuah profesi layaknya seorang super hero, sehingga anak lebih tertarik.

Karena guru sulit mempresentasikan profesi lain kepada anak (hanya bisa memberi gambaran umum tentang sebuah profesi), maka ada baiknya dengan mengundang seseorang yang akan memperkenalkan profesinya, misal: seorang perawat, wartawan, polisi, pejabat publik, atlit, pelakon, dan sebagainya. Selain memperkenalkan apa dan bagaimana profesi tersebut, meyakinkan akan pentingnya profesi tersebut khususnya bagi banyak orang, juga melatih atau mengajak anak untuk praktik langsung agar lebih memahami profesi tersebut. Misalkan jika perawat maka anak diajarkan bagaimana cara memeriksa pasien, jika wartawan mengajarkan menulis, polisi mengajarkan cara mengatur lalu lintas, dan sebagainya. Lambat laun anak lebih memahami dan mengenal ternyata banyak sekali profesi yang ada.

Di beberapa sekolah sudah mulai dipraktikkan dengan sebutan program “Profile Day”. SD Muhammadiyah Macanan sendiri sudah pernah mengundang beberapa profesi seperti: penyiar, seniman, wartawan, guru, tentara, aktor, aktifis sosial dll.

Semoga bermanfaat 🙂

*Penulis : Ailis Safitri (SD Muhammadiyah Macanan, Sleman)

18/03/2016 0 comments 936 views

Salah satu prinsip kerja partisipasi dalam penyusunan renstra (rencana strategis) adalah penggunaan pola bottom-up dan bukannya top-down. Demikian yang dilakukan GSM dalam menentukan instrumen dan indikator program kerjanya. GSM tidak membuat modul untuk diterapkan ke sekolah-sekolah, melainkan pengalaman sekolah dijadikan dasar (model) sebagai bahan penyusunan modul.

Diskusi GSM, Kepala Sekolah, dan Guru
Diskusi GSM, Kepala Sekolah, dan Guru

Beberapa kepala sekolah/guru dari sekolah dampingan GSM tampak hadir di sekretariat GSM di Fastnet, Sekip UGM (17/3). Mereka saling berbagi pengalaman terhadap praktik di sekolah masing-masing. Setiap temuan baik kelebihan dan kekurangannya dibahas dan didiskusikan sehingga menjadi bahan pembelajaran bersama. Inilah salah satu pola monitoring yang dilakukan GSM, belajar bersama.

Diskusi GSM, Kepala Sekolah, dan Guru
Diskusi GSM, Kepala Sekolah, dan Guru

Kembali kepada agenda penyusunan instrumen dan indikator keberhasilan program. Masing-masing sekolah diminta untuk menceritakan dan menjelaskan apa yang paling diharapkan terhadap siswanya? Dari sekian banyak yang diharapkan tentu bisa jadi sama atau bisa juga berbeda antara satu sekolah dengan sekolah lainnya, “Prinsipnya menggunakan skala prioritas. Tidak perlu terlalu banyak yang penting realistis,” ucap Novi Candra.

Sekolah memang perlu dilatih untuk bisa menyusun rencana strategis-nya sendiri. Selama ini kepala sekolah dan guru kerap menyesuaikan dan menggunakan indikator yang sudah disiapkan oleh dinas. Dalam pola top-down seperti itu dikhawatirkan sekolah tidak bisa berkreasi dan guru tidak kreatif mengembangkan pemikirannya sendiri.

Diskusi GSM, Kepala Sekolah, dan Guru dalam penyusunan rencana strategis
Diskusi GSM, Kepala Sekolah, dan Guru dalam penyusunan rencana strategis

Sebaliknya dengan pola bottom-up, guru lebih bebas mengekspresikan kreatifitasnya yang selama ini sudah dipraktikkan di sekolah masing-masing. Mereka juga bisa saling belajar bila ada ide gagasan kreatif lainnya. Dari sekian ide kreatif disepakati bersama untuk dijadikan atau dibuatkan panduan atau semacam modul.

Kebutuhan penyusunan instrumen dan indikator ini juga didasari kepada pengalaman sekolah yang sekadar kreatif namun tidak ada ukuran yang jelas. Tanpa adanya ukuran yang jelas dalam pencapaiannya menyebabkan sekolah sulit melakukan evaluasi apakah sudah berhasil atau belum, seberapa besar capaiannya atau kekurangannya.

Diskusi GSM, Kepala Sekolah, dan Guru
Diskusi GSM, Kepala Sekolah, dan Guru

Semoga apa yang menjadi agenda GSM hari ini bisa lebih memberi motivasi bagi sekolah model GSM serta menginspirasi sekolah lainnya, bahwa setiap sekolah sesungguhnya memiliki keunggulan sesuai kompetensinya masing-masing, dan hal tersebut bisa menjadi pembelajaran bersama. Mari sama-sama kita majukan sekolah menjadi sekolah yang menyenangkan.

 

Penulis : Ailis Safitri (Kepala SD Muhammadiyah Macanan, Sleman)

28/08/2015 0 comments 1632 views

Teori perilaku dan psikologi akan membantu guru mendapatkan banyak ide dan wawasan untuk memahami siswa. Namun, cara terbaik untuk menjangkau mereka adalah dengan menunjukkan pada siswa bahwa guru benar-benar peduli. Bagaimana cara melakukannya?

Ketika pertama kali mengajar pada tahun 1993, saya sudah mengambil beberapa kursus psikologi perilaku dan merasa berpengalaman untuk menerapkannya. Saya sangat pandai dalam hal ini, bahkan beberapa guru yang lebih tua merasa iri dengan kemampuan saya dalam menerapkan teori psikologis dengan berhasil. Mereka tidak dapat memahami bagaimana seorang guru pemula usia dua puluhan sudah menguasai hal tersebut.

Rahasianya adalah tujukan pada siswa bahwa Anda peduli. Pada tahun 1960, salah satu pengusaha terkenal bernama Earl Nightingale pernah mengatakan: “Tidak ada kualitas yang lebih penting di dunia ini lebih dari menghargai. Ketika seseorang merasa dihargai dan disukai, mereka akan memberikan memberikan usaha, cinta, dan kehidupan mereka untuk mempertahankannya.”.

Apa yang ia katakan masih sesuai untuk diterapkan sampai saat ini. Bahkan mungkin ha tersebut adalah elemen paling penting untuk mendapatkan hati anak-anak. Hal tersebut dinamakan: kepedulian yang sungguh-sungguh. Sesederhana itu.

sumber: sungardk12.com
sumber: sungardk12.com

Saya tahu bahwa ilmu psikologi yang saya pelajari ketika kuliah dapat membantu dalam memahami anak dengan kebutuhan khusus, seperti gangguan kepribadian, masalah perilaku, dan sebagainya. Tapi usaha dalam memahami, semangat empati, dan cinta untuk siswa adalah hal yang akan memenangkan hati mereka.

Saya dapat memberi banyak bukti bahwa hal tersebut benar. Ada seorang mantan siswa saya yang menjadikan saya guru favoritnya ketika ia belajar di kelas saya. Ia tidak menghormati guru lain selain saya. Ia mengatakan kepada kepala sekolah dan guru lainnya bahwa ia tidak akan menjawab siapapun kecuali saya. Ia bahkan mau berjuang untuk saya jika diperlukan, dan kami menjadi teman yang baik.

Ada banyak contoh lain seperti hal di atas selama lebih dari 15 tahun pengalaman mengajar yang saya miliki. Beberapa anak kelihatannya tidak memiliki kesempatan kecuali di kelas saya, di mana mungkin saya memberi mereka penghargaan positif, dan itu menjadi satu-satunya yang pernah mereka dapatkan. Terkadang, orang-orang disekitar mereka sudah menyerah untuk mengatasi mereka. Bahkan beberapa orang tua lah yang menyerah. Anak-anak tersebut pun terkadang telah menyerah terhadap diri mereka sendiri. Tetapi saya berusaha membuat ruang di mana mereka merasa aman: aman untuk menjadi diri mereka sendiri, aman untuk berbagi, dan aman untuk mengungkapkan rahasia terdalam mereka. Ini adalah karena saya mau menerima mereka, dan saya hanya memiliki satu syarat, yaitu mereka mau berkembang.

Jika guru mau memahami sudut pandang empati dari pelaku criminal dan memahami sudut pandang korban, kita akan menjadi lebih baik dalam memahami siswa. Tetapi hal ini memang sulit dilakukan. Wajar saya, guru tentu juga tidak ingin mengabaikan anak-anak baik yang juga memiliki perjuangan mereka sendiri. Tetapi kita juge perlu menyelamatkan anak yang terlihat menyimpang untuk menyelamatkan masyarakat dari kemunduran. Dan semua hal tersebut dimulai dari ruang kelas, dengan guru yang peduli, dan seorang anak yang butuh dimengerti.

Mari mulai dari kita.

 

Disadur dari tulisan Deb Killion. Artikel asli dapat dilihat di sini.

Loading...