Sekolah Nir Kekerasan

08/02/2018 0 comments 37 views

Dari kacamata positif rencana kehadiran Perguruan Tinggi Asing (PTA) di Indonesia bisa jadi solusi menumbuhkan sinergi dan kolaborasi, dengan perguruan tinggi Indonesia dalam mengantisipasi tuntutan perubahan.

Kebijakan untuk PTA di Indonesia belakangan jadi isu hangat dalam dunia pendidikan. Rencana itu diungkapkan langsung oleh Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir.

Didukung oleh Undang-undang Nomor 12 Tahun 2013 tentang Pendidikan Tinggi yang telah mengatur akses masuk PTA ke Indonesia, Nasir ingin mengawalinya dengan memberi izin kepada lima hingga sepuluh PTA untuk membuka kampusnya di Tanah Air.

Respons positif maupun negatif pun mewarnai rencana kebijakan ini. Beberapa kampus tak mempermasalahkan kehadiran PTA, sementara lainnya menolak dengan beragam alasan.

Mereka yang tak mempermasalahkan percaya bahwa kehadiran PTA merupakan fenomena globalisasi yang harus disambut positif dan kompetitif, sementara mereka yang menolak memandang PTA bisa mematikan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Negeri Swasta (PTS) yang sudah mapan di Indonesia.

Sebagai pelaku pendidikan, pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), Muhammad Nur Rizal, tentu tak ingin lepas memberi respons atas rencana dibukanya PTA. Melalui wawancara yang dilakukan pada Senin (5/2), Rizal menyambut positif kehadiran PTA dan korelasinya dengan GSM.

Mari simak wawancara selengkapnya berikut ini!

Bagaimana respons Anda terhadap kebijakan izin PTA di Indonesia? Terkejut atau justru memaklumi?

Ide pendirian PTA di Indonesia bukanlah hal baru melainkan sudah muncul sejak lama, tapi prosesnya terganjal oleh regulasi saat itu. Namun seiring perubahan lingkungan kehidupan di dunia yang semakin disruptif, gagasan tersebut kembali diapungkan. Pemerintah memerlukan benchmark dari pendirian PTA di Indonesia untuk membangun perguruan tinggi Indonesia agar lebih adaptif dan tidak tertinggal atau bahkan punah tergilas perubahan. Ambil contoh seperti Kodak, SMS, Kantor Pos, retailer, dan masih banyak lagi.

Oleh karena itu, jika dilihat dari kacamata positif keberadaan PTA di Indonesia diharapkan bisa dimanfaatkan untuk menumbuhkan sinergi dan kolaborasi dengan perguruan tinggi Indonesia dalam mengantisipasi tuntutan perubahan. Asal jangan “salah asuh”, regulasi yang ada justru berpotensi menambah iklim kapitalisasi pendidikan yang hanya akan dinikmati oleh segelintir elite masyarakat saja.

Apakah situasi pendidikan Indonesia saat ini menuntut dibukanya PTA?

Meskipun angka partisipasi kasar pendidikan tinggi di Indonesia naik sepuluh kali lipat dari 3,34 persen menjadi 31,28 persen sejak 30 tahun terakhir, namun perlu diikuti peningkatan kualitas lulusannya.

Perguruan tinggi yang ada di Indonesia memerlukan mitra dalam menyiapkan diri menghadapi perubahan serta menciptakan keselarasan antara lulusan, kebutuhan dunia kerja, dan masyarakat saat ini. Mengapa? Karena selain kualifikasi lulusannya masih rendah yang ditunjukkan oleh tingginya angka pengangguran sarjana, yakni sekitar 695 ribu jiwa berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada Februari 2016, juga dituntut untuk menyiapkan kompetensi lulusan perguruan tinggi lokal agar siap berkompetisi menghadapi pergeseran dunia kerja yang lebih membutuhkan high-skilled workers di sektor jasa berbasis teknologi digital.

Data Mckensey Global Institute (2016) menunjukkan bahwa sekitar 52,6 juta pekerjaan di Indonesia berpotensi hilang dan hanya sekitar 3,7 juta pekerjaan baru di bidang ekonomi digital akan tercipta akibat disrupsi inovasi. Dari jumlah pekerjaan tersebut, sekitar 60 persen akan membutuhkan teknologi otomatisasi atau digitalisasi serta sekitar 30 persen pekerjaan di dunia akan digantikan oleh mesin berteknologi tinggi serta Artificial Intelligence (AI).

Pergeseran ciri atau kebutuhan dunia kerja yang semakin disruptif tentu saja membutuhkan kompetensi lulusan yang lebih terampil hidup, memiliki specific-softskills dengan kompetensi abad 21, di mana tidak selalu berbanding lurus dengan kualifikasi pendidikan (S-1 hingga S-3).

Keberadaan PTA di Indonesia diharapkan akan mempercepat proses internasionalisasi proses pendidikan tinggi agar mahasiswa Indonesia tidak perlu studi ke luar negeri untuk mengenyam pendidikan dengan sistem lebih maju dan kekinian. Oleh karena itu, regulasi perizinan perlu diikuti dengan program perluasan akses (beasiswa) bagi mahasiswa yang berasal dari kalangan miskin atau umum dengan persyaratan tertentu. Program beasiswa PTA di Indonesia ini akan meningkatkan akses pendidikan tinggi yang berkualitas, mengurangi inequality pengembangan sumber daya manusia di Indonesia dengan biaya lebih murah serta mendorong perputaran ekonomi di Indonesia.

Perizinan PTA di Indonesia berpeluang meningkatkan kolaborasi riset dengan perguruan tinggi lokal untuk kepentingan inovasi riset di berbagai bidang atau perkembangan keilmuan dasar (murni). Sehingga sistem pendidikan perguruan tinggi di Indonesia akan lebih adaptif dan fleksibel dalam menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan domestik maupun global.

Apakah keberadaan PTA di Indonesia nantinya sesuai dengan era disrupsi saat ini?

Memang tidak ada yang mampu menjamin apakah perguruan tinggi asing sesuai dengan era disrupsi saat ini. Oleh karena itu regulasi yang berbasis prinsip-prinsip disrupsi inovatif perlu diberlakukan dalam memilih PTA yang boleh beroperasi di tanah air.

Prinsip-prinsip itu antara lain, pertama, terbuka (opennes). PTA menerapkan teknologi digital dalam pengajaran yang mampu menembus tembok ruang kelas, batas-batas kampus, dan bahkan negara, yang sering dikenal Massive Open Online  Courses (MOOCs). Bahkan yang lebih disruptif lagi yakni inisiasi Virtual Learning (VR) yang memungkinkan mahasiswa dapat mengikuti kuliah seorang professor dari kampus terkemuka dunia secara virtual melalui sistem daring di rumahnya

Kedua, Student centered Learning (SCL), pembelajarannya terpusat pada mahasiswa yang akan merangsang kreativitas dan keminatan mereka untuk mencapai tujuan jangka panjang. Metode ini akan lebih menggugah mahasiswa untuk belajar sendiri karena prosesnya menyenangkan, menantang dan mampu membangun kegairahan dan kegigigihan. Dosen bukan lagi sebagai sumber ilmu melainkan memfasilitasi mahasiswa untuk lebih aktif dalam mencari informasi dan pengetahuan baik daring maupun tidak.

Ketiga, pendidikan dan penelitiannya bercorak multidisiplin, interdisiplin, di mana suatu permasalahan dianalisis dan diselesaikan dari berbagai perspektif keilmuan secara terpadu-terintegrasi, bukan monodisiplin berbasis fakultatif.

Terakhir, kurikulum yang berbasis kompetensi, vokasional, dengan sistem magang. Kurikulum perlu diredefinisi dalam menyiapkan mahasiswa memasuki era disrupsi yang tidak menentu serta mengacak-acak tatanan lama menjadi tatanan baru.

Prinsip-prinsip diatas akan berdampak sangat mendasar bagi keseluruhan sistem pendidikan tinggi kita.

Adakah indikasi unsur politik dalam kebijakan izin PTA? 

Tentu saja, setiap kebijakan publik tidak terlepas dan akan menuai protes. Salah satu contohnya adalah penolakan dari kampus-kampus lokal yang berpotensi punah akibat kebijakan izin operasi PTA.

Namun, jika kita tilik dari peluang dan tantangan global dimana masyarakat atau negara semakin enggan bekerjasama justru semakin meluasnya sikap populisme atau radikalisme, kondisi ini memerlukan jembatan kerjasama di bidang pendidikan untuk mempererat tali hubungan antar warga dunia.

Program student mobility, pertukaran mahasiswa, beasiswa ke luar negeri hingga izin beroperasinya PTA adalah salah satu sarana untuk membangun saling kesepemahaman antar manusia melalui pendidikan dan kebudayaan, yang pada akhirnya berujung pada kerjasama di bidang perdagangan dan pemerintahan.

Mungkinkah PTA menjadi solusi untuk menggantikan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) lokal yang kurang berkualitas, guna meningkatkan standar pendidikan?

Setiap upaya disrupsi inovasi seperti PTA di Indonesia akan memengaruhi eksistensi perguruan tinggi yang malas atau tidak ingin menyesuaikan diri untuk berubah atau berbenah. Salah satu karakteristik disrupsi adalah membangun tatanan baru untuk menggantikan tatanan lama yang sudah tidak sesuai tuntutan perubahan lingkungan atau masyarakat.

Pada era disrupsi dan kemajuan teknologi internet saat ini, masyarakat akan menuntut peningkatan proses atau mutu pendidikan secara cepat dan praktis. Selain itu eksternal faktor seperti beroperasinya PTA di Indonesia diharapkan dapat menciptakan langkah strategis membangun perguruan tinggi riset dunia di Indonesia meskipun berpotensi mematikan kampus lain, baik negeri atau swasta yang kurang berkualitas.

Perubahan mendasar yang telah dilakukan oleh PTA dalam belajar mengajar hingga penelitian yang lebih modern  dalam menyiapkan mahasiswa untuk menghadapi kebutuhan dunia kerja yang semakin berubah, perlu diadopsi tanpa meninggalkan akar keindonesiaan. Era disrupsi inovasi memaksa pendidikan tinggi untuk meninggalkan model bisnis pembelajaran dan penelitian (as usual) jika tidak ingin menjadi ancaman yang dapat memorak-porandakan kegiatan dan bahkan hingga keberadaan perguruan tinggi Indonesia, termasuk kampus swasta.

Tuntutan lingkungan kehidupan serta kebutuhan dunia kerja di era lubernya informasi ini membutuhkan sederet keahlian serta pengetahuan yang baru dan berbeda dari sebelumnya yang harus dimiliki mahasiswa baik S-1, S-2, maupun S-3. Era disrupsi menuntut mahasiswa membekali dirinya dengan kemampuan berpikir kritis, inovatif-kreatif, kolaboratif, multikulturalisme serta pengetahuan multidisiplin dan interdisipliner.

Kebutuhan keterampilan mahasiswa yang baru tersebut akan berdampak pada komposisi atau demografi mahasiswa. Komposisi yang berubah akan berdampak pada perubahan struktur kurikulum, proses belajar mengajar, penelitian hingga pengelolaan sumber daya manusia di pendidikan tinggi. Perguruan tinggi yang tidak siap untuk menyesuaikan diri dengan perubahan global yang akan punah dengan sendirinya.

Lantas bagaimana dengan fenomena menjamurnya lembaga pendidikan asing di level lebih bawah? SD, SMP, SMA, yang biasanya dibalut status “sekolah internasional”?

Sebenarnya, fenomena keberadaan lembaga pendidikan asing justru sudah terjadi sejak lama di pendidikan dasar dan menengah. Menjamurnya sekolah berstatus “internasional” seolah menjadi jawaban atas kebutuhan kelompok masyarakat menengah ke atas yang memandang bahwa sistem pendidikan dasar nasional sudah tidak sesuai dengan perubahan zaman.

Tuntutan akademis yang terlalu menonjolkan aspek hafalan atau memori, disadari tidak akan membangun keunikan atau potensi yang setiap anak. Padahal era disrupsi inovasi lebih menuntut keterampilan anak (siswa) lebih pada aspek softskills, karakter, dan ketrampilan hidup. Ketika sekolah-sekolah negeri atau sekolah nasional tidak sanggup menghadirkan keterampilan yang dibutuhkan di masa depan, “sekolah internasional” menagkap peluang dengan menawarkan solusinya meskipun dengan biaya sangat mahal.

Mungkinkah fenomena yang sama hadir pada level perguruan tinggi di Indonesia?

Fenomena yang sama terjadi di perguruan tinggi yang kemudian di respons oleh berbagai pihak, yakni pemerintah sebagai regulator yang memberikan izin operasi PTA. PTA sebagai penyedia jasa serta masyarakat sebagai konsumen yang membutuhkan pelayanan pendidikan tinggi yang baru dan sesuai dengan konteks masa depan.

Terkait dengan GSM, apakah lembaga pendidikan asing memang dibutuhkan untuk merangsang kampanye model pembelajaran GSM?

Jadi, keberadaan pendidikan asing memiliki dua mata pisau. Pertama, dampaknya justru memperluas stigma pendidikan nasional yang telah terkapitalisasi jika masyarakat hanya menjadi konsumen globalisasi. Kedua, keberadaannya akan menyadarkan masyarakat bahwa tantangan pendidikan sudah berbeda yang menuntut proses belajar mengajar yang baru dengan outcome pendidikan yang dapat bersaing di abad 21.

Munculnya GSM, sebagai respons atas keresahan melihat orientasi sistem pendidikan dasar dan menengah nasional yang salah dan tidak sesuai kebutuhan abad 21. GSM akan menawarkan perubahan mindset atau proses belajar-mengajar yang setara dengan lembaga pendidikan asing tersebut, namun terjangkau untuk seluruh kalangan masyarakat Indonesia. Hal itu bisa terjadi karena proses adopsi pendidikan global yang dilakukan telah disesuaikan dengan nilai-nilai keindonesiaan dan dilaksanakan oleh komunitas pendidikan Indonesia sendiri, seperti guru, mahasiswa, dosen, aktivis dan orang tua siswa.

Apa yang dilakukan GSM sesuai dengan prinsip “Think Globally, Act locally and Collaborate internationally”.  GSM mendorong agar stake holder sekolah seperti guru, orang tua, murid, dan pemangku kebijakan untuk memiliki perspektif global atas permasalahan yang dialami dunia yang semakin terhubung, dengan terbuka bekerjasama secara internasional dengan guru-guru Australia atau dunia dalam menyelesaikan permasalahan dengan solusi yang bersifat lokal sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia.

GSM bertujuan untuk membekali siswa atau guru dan masyarakat dengan pengetahuan dan ketrampilan baru agar mampu bersaing dan memetik manfaat yang sebanyak-banyaknya dari globalisasi.

 

07/02/2018 0 comments 29 views

Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), Muhammad Nur Rizal, memberi pandangannya terhadap fenomena sikap buruk siswa terhadap gurunya dalam dunia pendidikan di Indonesia belakangan ini.

Baru-baru ini terjadi satu kejadian memilukan saat seorang murid melakukan pemukulan kepada seorang guru yang akhirnya merenggut nyawa sang guru. Sistem pendidikan menjadi salah satu faktor kuat yang dinilai mengakibatkan ini bisa terjadi.

Tentu banyak aspek yang harus dilihat dari kejadian ini. Dari aspek psikologi misalkan, efek otak remaja memang membutuhkan satu eksistensi diri.

Khususnya, dari satu bagian korteks yang memang membutuhkan efek-efek eksistensi dan kebahagiaan. Bila itu tidak didapatkan di sekolah, anak-anak tentu tidak memiliki ruang untuk membangun emosi secara seimbang.

Menurut pengamat pendidikan dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Muhammad Nur Rizal, hal itu dikarenakan anak-anak membutuhkan luapan, dan bila ketidakhadiran ruang itu di rumah sama seperti di sekolah, tuntutan itu semakin menguat. Baik dari sekolah, rumah dan mungkin masyarakat.

“Karena masyarakat itu hanya melihat mereka yang nilainya tinggi, sehingga anak ini merasa tidak punya eksistensi dan benefit kepada lingkungan sekitar, anak kemudian lari mencari aspek kebahagiaan itu,” kata Rizal saat dihubungi Republika, Senin (5/2).

Pengaruh Media Sosial

Sayangnya, lanjut Rizal, pencarian itu mungkin malah menemukannya ke suplemen lain yang tidak baik seperti kekerasan atau pemukulan. Terlebih, ada satu aspek lain yang menguatkan itu yaitu efek dari media sosial.

Terbukanya informasi turut mengakibatkan hal-hal seperti itu, mengingat berita yang dulu dibatasi saat ini begitu mudah diakses. Menengok ke belakang, di era Presiden Soeharto malah mungkin berita-berita itu tidak akan ditayangkan.

Rizal melihat, saat ini terjadi satu connecting cognitive karena kita semua terhubung satu sama lain melalui internet dan media sosial. Apalagi, dengan biaya internet dan teknologi yang semakin terjangkau.

“Kita semakin mudah menjangkau informasi itu, dan ketika kita memperoleh berita membunuh dan sebagainya itu biasa, karena diberitakan seolah itu biasa, anak-anak jadi lebih mudah memperoleh informasi kekerasan,” ujar Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) tersebut.

Ketika informasi itu mudah diperoleh, bukan tidak mungkin anak-anak memiliki ide kreatif yang terbilang negatif. Misalkan, anak memiliki pola pikir kalau pemukulan bisa dilakukan di luar rumah, perlawanan bisa dilakukan di dalam rumah, dan lain-lain.

Ia berpendapat, terbukanya hubungan kognitif dengan media sosial ini semakin meningkatkan kemungkinan kekerasan itu terjadi. Terlebih, seperti sekarang saat kemampuan berpikir kritis dan mencari eksistensinya tidak sehat secara emosi.

Pola Pikir Lama

Sebagai pendidik, Rizal melihat apa yang terjadi merupakan akumulasi mengingat teguran yang dilakukan sang guru kemungkinan berulang kali terjadi dan membuat emosinya terpendam. Dari sisi pendidik, mungkin pula sang guru memiliki pola pikir lama yaitu hak menegur.

“Tapi, ketika guru punya perspektif berbeda terkait karakter anak muda di era milenial, guru ini akan memandang apa yang dilakukan anak semata-mata negatif,” kata Rizal.
Padahal, tidur itu tentu merupakan suatu proses alamiah, tergantung bagaimana melihatnya. Karenanya, jangan-jangan pendekatan pembelajaran atau memang tidak tersalurkan stimulan-stimulan yang menantang otak anak, sehingga anak itu tertidur.

Artinya, banyak aspek yang harus dilihat karena guru perlu juga mencoba merubah gayanya mengajar, dari model lama ke model milenial. Sebab, anak milenial tidak bisa diceramahi melainkan lewat mentorship.

“Anak milenial itu tidak bisa dimarahi atau ditegur, tapi dibangun sisi positifnya, mereka tidak senang diungkit hal-hal negatifnya, tapi senang bila dibangun hal-hal positifnya,” ujar Rizal.

Artinya, guru di era milenial memang harus banyak memberikan apresiasi kepada anak atau murid. Sebagai manusia, mungkin mereka salah, tapi salah itu tidak harus selalu diungkit karena mereka tidak bisa menerima itu.

Sistem Pendidikan yang Kurang Adaptif

Selain itu, ia melihat, anak-anak di era ini memerlukan purpose of life, jadi ketika pengajaran harus dikaitkan dengan arti kehidupan kepada anak. Sehingga, penting bagi guru mengetahui latar belakang anak murid.

“Dengan mengetahui latar belakang anak, pengajaran nanti bisa dikaitkan dengan anak itu, itu tantangan pendidik, bagaimana anak dapat melihat pendidikan sebagai penyelesai persoalan-persoalan kehidupannya,” kata Rizal.

Menurut Rizal, kondisi itu yang terjadi saat ini, di mana sistem pendidikan malah mengalineasi pendidikan dengan persoalan nyata. Itu membuat pola pikir anak membenarkannya bebuat baik di sekolah, tapi berbuat seenaknya saat di luar sekolah.

Saat itu terjadi split personality, dan ketika personalitas negatif yang muncul, tentu anak bisa lepas kendali. Apalagi, ketika ruang emosi tidak dikelola dengan baik, dan saat itu muncul tentu bisa menghasilkan kekerasan.

Dulu, ia mengingatkan, ada tekanan sosial yang membuat anak tidak berani melawan guru, dan tekanan itu yang menghalangi anak melakukan kejahatan. Sekarang, ketika kognitif terbuka, ketakutan itu semakin berkurang.

Itu banyak dikarenakan anak yang semakin sering mendengar berita kekerasan, yang malah banyak diapresiasi kelompok-kelompok tertentu belakangan ini. Pola pikir anak malah senang karena diberitakan, dicari, seakan menjadi gangster, orang kuat atau sangat laki-laki.

Tanpa sadar, itu mempengaruhi ruang emosi, dan ketika split personality terjadi sangat mungkin kekerasan pula yang muncul. “Jadi, saya melihat guru dan murid jadi korban sistem pendidikan yang ada,” ujar Rizal.

Rizal melihat, sistem pendidikan yang dimiliki Indonesia sampai saat ini masih kurang adaptif dengan perubahan yang sangat cepat terjadi. Mulai dari perubahan ke era digital, sampai perubahan informasi yang begitu berlebih.

Penekanan sistem pendidikan yang ada dirasa terlalu terpacu kepada kognitif, apalagi kognitif itu berada di arah level rendah. Sistem pendidikan yang ada kurang menekankan pendidikan karakter dan daya juang.

“Mental kurang, dan kemiskinan aspek itu ada di sekolah-sekolah atau lembaga pendidikan Indonesia, dan ini bisa diisi secara salah melalui efek internet dan globalisasi,” kata Rizal.

Sumber: Guru dan Murid Jadi Korban Sistem Pendidikan | Republika

23/08/2017 0 comments 416 views

Sebuah workshop pendidikan yang melibatkan guru dari Australia dan Indonesia dilangsungkan di Yogyakarta belum lama ini. Mereka belajar budaya lokal yang bisa digunakan untuk pelajaran di sekolah masing-masing. Salah satu penggagas workshop Novi Candra menuliskannya untuk Australia Plus.

Ini adalah tahun keempat dua orang guru dari Clayton North Primary School  (CNPS), Victoria (Australia) bekerja sama dengan Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) bertandang ke Yogyakarta. Tujuannya untuk melakukan workshop pelatihan guru dalam menciptakan suasana sekolah yang positif, menyenangkan dan mendidik karakter.

Workshop kali ini ditekankan pada melatih ketrampilan para guru dalam menumbuhkan karakter di sekolah, juga manajemen perilaku anak-anak menggunakan konsep-konsep sekolah menyenangkan.

Workshop yang dilakukan oleh GSM ini memang dirancang unik dibanding pelatihan lainnya di Yogyakarta.

Keunikan pertama adalah biasanya sekolah ditunjuk oleh Dinas Pendidikan untuk ikut pelatihan, namun untuk ini mereka harus mengikuti seleksi.

Kedua, jika biasanya pelatihan guru dilaksanakan di hotel, maka pelatihan di GSM dilaksanakan di sekolah–sekolah yang dengan sukarela menawarkan diri.

Keunikan ketiga, ini adalah workshop swadaya dari para guru sendiri baik guru Indonesia maupun guru Australia.

Kalau biasanya workshop guru di Indonesia, para guru diberi uang transpor, maka di workshop ini para guru justru iuran sendiri untuk makan siang menggunakan dana operasional sekolah.

Joanne Malorry Weston belajar menari bersama guru lainnya
Joanne Malorry Weston belajar menari bersama guru lainnya                            Foto: GSM

 

Sementara dari pihak Australia, guru-guru yang telah datang ke Indonesia beberapa kali ini menggunakan biaya mereka sendiri.

Ini semua dilandasi pada pemikiran bahwa guru dan sekolah adalah komunitas yang berdaya dan mampu memberdayakan diri sendiri bahkan komunitas lain.

Namun demikian ada keunikan baru yang tidak ditemui di pelatihan sebelumnya. Yakni pertama, banyaknya keterlibatan sekolah negeri dibandingkan sekolah swasta yang mendaftar dan lolos seleksi serta keterlibatan sekolah-sekolah lain dari luar Propinsi Yogyakarta.

Mereka mengirimkan 3 hingga 5 gurunya untuk mengikuti 5 hari pelatihan.

Mereka berasal dari sekolah di Kota Semarang, Temanggung, Rembang dan Salatiga dan bahkan ada beberapa sekolah yang mendaftar yang berasal dari Kalimantan hingga Sulawesi.

Yang kedua adalah kesempatan belajar bersama dan bertukar materi khususnya mengenai penumbuhan karakter di budaya masing-masing.

Para guru Indonesia mendapat ilmu dari guru Australia tentang bagaimana melatih implementasi karakter dasar anak-anak di sekolah Australia di hari 1-3.

Di hari ke-4 giliran guru Indonesia melatih dan mempresentasikan penumbuhan karakter anak-anak melalui kesenian dan budaya lokal yang dimiliki Indonesia seperti tari tradisional Jawa yang dilatihkan SDN Serayu Yogya, musik angklung yang diajarkan oleh SD Muhammadiyah Mantaran Yogya dan membatik yang dikenalkan oleh SD Lab UNES Semarang.

Selain itu mereka juga dikenalkan berbagai permainan tradisional seperti egrang dan dakon saat mereka melakukan workshop di SDN Karangmloko 2 Yogya.

Josie Burt salah satu guru Clayton Nort Primary School (CPNS) bermain angklung
Josie Burt salah satu guru Clayton Nort Primary School (CPNS) bermain angklung. Foto: GSM

 

Josie Burt salah seorang guru CNPS tampak takjub mengetahui betapa kayanya budaya Indonesia.

“Tampaknya mudah menari tarian Jawa, tetapi sebenarnya memerlukan ketrampilan tinggi dan juga ketekunan,” begitu kurang lebih ujarnya dalam Bahasa Inggris.

Guru lainnya Joanne Mallory Weston juga terkesan dengan nilai-nilai karakter yang tersimpan pada setiap kesenian Indonesia, seperti Tari Klasik Jawa yang melatih kesabaran dan kepekaan, juga membatik yang sangat bermanfaat bagi regulasi emosi.

Mereka terlihat sangat menikmati setiap kegiatan budaya yang dilatihkan hari itu, mereka asyik menari, bermain angklung dan mencoba membatik sampai proses finishingnya.

Di akhir acara salah satu sekolah SD Lab UNES Semarang memberikan kenang-kenangan berupa canting kepada Joanne dan Josie.

Kedua guru Australia itu mengatakan bahwa mereka akan mencobanya saat di CNPS untuk pembelajaran sekaligus mengenalkan Indonesia di sekolahnya yang multikultur.

Sebagai seseorang yang menekuni bidang psikologi perkembangan dan pendidikan, saya memandang perlunya pendidikan Indonesia menggali kebudayaan lokal untuk menumbuhkan nilai-nilai kebaikan dan karakter anak-anak dengan tetap memperhatikan kesesuaian dengan perkembangan psikologi mereka.

Dalam kegiatan membatik misalnya, kegiatan membatik jumputan bisa saja menggunakan alat-alat bermain yang akrab dengan anak-anak, misalnya bola plastik.

Selain tidak berbahaya, bola ini sesuai dengan perkembangan anak-anak dan disukai oleh anak-anak kelas bawah.

Dengan membatik, anak-anak melatih psikomotor halusnya dan merangsang otak di bagian limbik untuk mengelola emosinya. Maka membatik sangat bermanfaat dalam melatih kesabaran dan ketahanan diri.
Tarian tradisional selain bermanfaat untuk kesehatan fisik dan meningkatkan konsentrasi belajar, juga merangsang kepekaan.

Novi Candra juga adalah Dosen Fakultas Psikologi UGM Yogyakarta
Novi Candra juga adalah Dosen Fakultas Psikologi UGM Yogyakarta. Foto: GSM

Bahkan dalam workshop para guru juga diminta untuk berkreasi memodifikasi tarian dengan tema tertentu seperti tema binatang atau tema cuaca, yang sangat mungkin nanti dapat dipraktekkan langsung di kelas-kelas mereka untuk menumbuhkan kreativitas anak-anak.

Jadi semua aktivitas penumbuhan karakter ini baik yang dari Australia ataupun Indonesia memiliki dasar-dasar psikologi perkembangan anak.

Bahkan permainan tradisional sederhana seperti egrang mampu melatih empati anak-anak karena mereka berlatih bagaimana berjalan berhati-hati menggunakan bambu tanpa harus mengenai orang lain.

Diharapkan kegiatan seni dan budaya tidak hanya diajarkan sebagai kegiatan ekstra kurikuler, namun benar-benar memiliki porsi besar dalam intrakulikuler pembelajaran. Atau bahkan menjadi salah satu metode pembelajaran yang menjadi keunikan bangsa ini karena mampu diintegrasikan dengan penumbuhan karakter pada setiap refleksinya.

Guru Indonesia peserta workshop mengapresiasi workshop yang dilaksanakan GSM karena mendapat pengetahuan baru dan ketrampilan praktis bagaimana implementasi karakter dasar anak di sekolah gabungan antara hasil belajar dari sekolah Australia dan hasil penggalian budaya Indonesia sendiri.

 

Kegiatan ini memang dirancang agar guru dari dua negara mampu melakukan kolaborasi dan pengembangan bersama dalam pembelajaran dan penumbuhan karakter generasi kedua bangsa.

 

Muhammad Nur Rizal, salah seorang pendiri GSM menegaskan bahwa kegiatan belajar bersama antara guru Australia-Indonesia ini dapat memberi manfaat pada kedua belah pihak.

Bagi guru Australia, materi dan kegiatan ini diharapkan mengayakan salah satu kurikulum Australia tentang ‘Understanding Asia’.

Sementara bagi guru dan sekolah Indonesia aktivitas ini juga diharapkan memberi kesempatan memiiki ketrampilan penumbuhan karakter yang komprehensif. Mulai dari membangun pola pikir sampai manajemen perilaku yang didapat dari budaya lokal untuk dikomunikasikan dengan ilmu yang didapat dari luar budayanya.

* Novi Candra, Dosen Fakultas Psikologi UGM Yogyakarta dan salah seorang pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan, sebelumnya Studi S3 di University of Melbourne. Tulisan ini merupakan pendapat pribadi.

Sumber:

http://www.australiaplus.com/indonesian/studi-nad-inovasi/guru-australia-belajar-penumbuhan-karakter-melalui-budaya-lokal/8830434

07/06/2017 0 comments 518 views

” P E N G U M U M A N “

 

Bagi sekolah yang belum sempat mendaftar sebagai calon sekolah model GSM batch 2, jangan khawatir , karena waktu pendaftaran seleksi sekolah model GSM diperpanjang hingga tanggal 20 Juni 2017.

Syaratnya pun juga semakin mudah, hanya dengan mengisi formulir yang telah kami sediakan pada link di bawah.

======   Ayooo….buruan daftar… 🙂   ======

 

Seleksi Sekolah Model GSM Batch 2

==> Untuk Sekolah Dasar (SD) di Indonesia

Ingin menjadi salah satu sekolah model dampingan GSM?

Ikuti seleksi Sekolah Model GSM (Gerakan Sekolah menyenangkan) batch 2. Sekolah Anda akan didampingi oleh Guru-Guru dari Australia, Dosen UGM dan Monash University dalam program GSM.

Dengan Cara mengisi Form pada link berikut:

tinyurl.com/PendaftaranSekolahGSM

Pendaftaran paling lambat tanggal 20 Juni 2017.

Poster rekrutmen sekolah model GSM – baru

Informasi dan Pendaftaran:
Ninik  0811 2863 97
gerakansekolahmenyenangkan@gmail.com

15/12/2016 0 comments 602 views

Baru saja Wakil Presiden Jusuf Kalla menolak usulan moratorium ujian nasional (UN) yang disampaikan Mendikbud Muhadjir Efendy. Moratorium ini diusulkan sebagai tindak lanjut memenuhi putusan Mahkamah Agung (MA) tahun 2009 agar memenuhi standar pelayanan, kualitas guru, serta infrastruktur sekolah.

Pemerintah masih menganggap UN tetap di butuhkan untuk mengevaluasi standar disasi mutu pendidikan nasional dan memastikan kesungguhan siswa belajar. Kemungkinan penolakan moratorium juga karena belum ditemukannya cara assessment mutu selain UN.

Seolah-olah hanya mengalihkan kewenang an pusat ke daerah dengan mengganti UN menjadi ujian daerah atau ujian sekolah rasa nasional.

Namun, layakkah UN digunakan sebagai satu-satunya indikator mengukur kesuksesan belajar siswa ketika pemenuhan standar pelayanan dan akses ke sekolah belum merata? Apalagi pada praktiknya, UN marak kecurangan. UN bahkan dijadikan kepentingan kampanye politik calon kepala daerah.

Walaupun saat ini dipakai untuk pemetaan sekolah, UN masih digunakan untuk seleksi masuk ke jenjang sekolah lebih tinggi. UN menghadirkan tekanan psikologis bagi siswa, guru, hingga orang tua.

Di sisi lain, UN sebagai alat mengukur mu tu pendidikan secara kognitif, hasilnya ma sih mengecewakan. Selama 15 tahun ini, mutu pendidikan kita masih rendah dibandingkan negara lain.

Hasil studi Program for International Student Assessment (PISA) yang menguji kemampuan siswa usia 15 tahun di bidang ba hasa, matematika, dan IPA, Indonesia berada di peringkat 39 dari 41 negara pada 2000 dan di posisi 69 dari 76 negara pada 2015.

Menurut PISA, kurang dari satu persen siswa Indonesia yang mampu menggunakan pengetahuan untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan kognitif siswa Indonesia sangat rendah untuk mengob servasi permasalahan, bahkan menggunakan kemampuan logika untuk menganalisis dan memecahkan persoalan.

Muncul pertanyaan, apakah UN mampu menjadi alat ukur efektif untuk menguji kebijakan pendidikan secara substantif? Selama ini, UN dilaksanakan untuk mengukur kemampuan siswa menyerap materi pelajaran dengan menghafal isi buku.

Padahal, menurut taxonomy bloom, kemampuan menghafal berada dalam level bawah kemampuan kognitif seseorang, yang dibedakan dalam lima tahapan: memahami, menghafal, mengaplikasikan, menganalisis, dan mengevaluasi serta mencipta.

Hasil tes PISA terbaru yang menyatakan, hampir seluruh siswa Indonesia tidak memiliki kemampuan kognisi orde tinggi, yakni meng aplikasi, mengevaluasi, mencipta. Ke depan, kita perlu mengkaji kembali bentuk ataupun konsep UN agar mampu menjawab kebutuhan mendatang.

Kita perlu perubahan sistem pengujian yang lebih fundamental, sehingga terjadi revolusi belajar untuk menghasilkan revolusi cara berpikir. Inilah yang sejatinya revolusi mental seperti kampanye Presiden Jokowi.

Penilaian sebagai tolok ukur keberhasilan pembelajaran dan pelaksanaan kurikulum memiliki fungsi sangat penting. Dengan paradigma baru, instrumen pengukuran digunakan untuk menilai multikompetensi siswa secara komprehensif.

Variabel pengukurannya tidak boleh tung gal hanya mengukur kemampuan menghafal, tetapi sejalan dengan kompetensi abad ke-21, yakni meliputi penilaian kete ram pilan berpikir kritis, kreatif, pemecahan masalah, hingga penilaian pengetahuan dan penilaian sikap, perilaku serta karakter.

Kurikulum juga perlu dibenahi. Secara kon sep perubahan Kurikulum 2013 yang meng gunakan pendekatan tematik dan saintifik ditujukan untuk menjawab tantangan ke depan. Namun, apakah pelaksanaannya sudah benar?

Secara praktis, keterampilan guru untuk melaksanakan Kurikulum 2013 masih rendah. Buku referensi juga masih terpusat dan gagal memberikan otonomi kepada guru untuk melatih anak mengaplikasikan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk menjawab kebutuhan itu, sekolah se baiknya diberi kewenangan membuat kurikulum sendiri agar pelaksanaan pembe lajaran di kelas berjalan sesuai kondisi lapangan.

Perubahan kurikulum harus diikuti oleh reformasi pengembangan guru. Pengembangan guru saat ini menggunakan pendekatan top down. Guru dievaluasi melalui ujian daring atau sertifikasi saja yang hasilnya tidak berpengaruh bagi pembelajaran di kelas.

Dibutuhkan reformasi pengembangan kompetensi guru dengan pendekatan bottom up. Pada pelaksanaan pembinaan, guru perlu dili batkan guna mengidentifikasi permasalahan nyata. Kemudian, diterjemahkan dalam inovasi pembelajaran.

Sejalan dengan hasil penelitian Engstrom (2006), penelitian di Gerakan Sekolah Menye nangkan (GSM) kepada guru-guru jejaring menyebutkan, model pengembangan kolaborasi antarguru dengan memberikan ruang kemerdekaan untuk berinovasi, melalui konsep kepemimpinan guru dapat mengubah pembelajaran di kelas secara nyata.

Pendekatan menggunakan pembelajaran praktis dan dipraktikkan di tingkat kelas ataupun sekolah akan lebih bermakna bagi guru dan sekolah. Guru merasa tidak terisolasi selama pelatihan dan membawa praktik ino vasi pembelajaran ke kelas ataupun ke dalam sekolah.

Ketika kami menanyakan persepsi peserta didik yang mendapatkan sistem pembelajaran ala GSM, siswa merasa lebih bahagia dan menyenangkan di kelas. Motivasi belajar dan kepercayaan diri mereka meningkat.

Siswa, guru, dan kepala sekolah merasa dihargai dan diberi ruang emosi dan fisik yang seimbang. Suasana sekolah pun menjadi lebih positif dan partisipatif.

Melalui metode pembelajaran yang baru, siswa akan diukur tingkat pemahaman juga keterampilannya, serta kemampuan mengapli kasikan pengetahuan . Pem belajaran jadi lebih menantang dan menye nangkan .

Reformasi UN haruslah utuh agar berdampak pada proses pembelajaran yang menyenangkan dan penciptaan iklim belajar atau ekosistem sekolah yang kondusif.

Lingkungan ini menjadi tempat bagi siswa mengembangkan kompetensi secara holistik serta tidak kehilangan roh sebagai manusia.

Reformasi UN haruslah strategis untuk memenuhi pemerataan standar layanan dan arah pendidikan masa depan, agar bangsa ini memiliki daya saing dan kelenturan saat mengalami bonus demografi.

Muhammad Nur Rizal,PhD
Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan, Dosen Universitas Gadjah Mada

Sumber:www.republika.co.id/berita/koran/opini-koran/16/12/10/ohygo220-un-dan-mutu-pendidikan

10/12/2016 0 comments 583 views

_Tanggapan Muhammad Nur Rizal, PhD (Dosen UGM & Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan) tentang Moratorium Ujian Nasional_

Banyak yang kecewa atas penolakan moratorium UN baik karena esensi ataupun berbagai problemnya.

Di sisi lain saya memahami bahwa sebagai sebuah negara membutuhkan alat evaluasi nasional pendidikan sama seperti di negara2 US, eropa, australia bahkan asia lainnya.

Namun di negara negara itu, evaluasi ditujukan mengukur kualitas proses belajarnya. Jika buruk yang diperbaiki program pengembangan sekolahnya sehingga siswa tidak terbebani, stres atau frustasi.

Di Indonesia, UN lebih berperan untuk menentukan nasib atau masa depan anak. Walau sekarang bukan penentu kelulusan lagi, namun masih untuk alat seleksi ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi mengakibatkan peran (sekolah, pengawas, dinas, kementrian) menjadi “alat penekan kesuksesan” bukan “pelayan atau pengayom”.

Akses ke sekolah khususnya sekolah negeri sangat ditentukan oleh nilai UN.

UN tidak memeratakan mutu justru melahirkan ketimpangan antara sekolah favorit & non favorit.

Kapitalisme pendidikan menggurita (bimbingan tes) dan menghasilkan budaya pragmatisme.

Di titik inilah peran UN sebagai evaluasi nasional gagal atau miskonsepsi.

Tapi bukan berarti kita harus menghilangkan UN. Yang diperbaiki paradigma fungsinya.
1) Kembalikan fungsi UN utk pemetaan saja, bukan syarat seleksi masuk.
2) Rombak UN menjadi sistem pengujian yang lebih fundamental yang mendorong perubahan ‘revolusi belajar’ untuk menghasilkan ‘revolusi cara berpikir’

Tujuannya untuk membangun karakter & kompetensi siswa lebih holistik, dan tidak tercerabut dari esensi kemanusiaannya.

Tentu saja dua fungsi ini punya dampak luas dan memerlukan kajian yang lebih holistik.

Semoga usulan sederhana ini didengar oleh pemangku negeri.

Itulah yang sedang diperjuangkan oleh guru guru di jejaring Gerakan Sekolah Menyenangkan.

 

*Tulisan ini merupakan pendapat pribadi Muhammad Nur Rizal, phD (Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan dan Dosen Teknik UGM)

10/11/2016 0 comments 902 views
Cover depan buku Nir Kekerasan
Cover depan buku Nir Kekerasan

Judul               : Sekolah Nir Kekerasan

Penulis           : Novi Poespita Candra, dkk

Penerbit         : Ifada Press, Yogyakarta

Terbit              : I, September 2016

Tebal               : xvi + 232 halaman

ISBN               : 978-602-73558-2-8

Bermula dari keprihatinan terhadap tindak kekerasan anak yang sudah memasuki tahap gawat darurat, sebuah organisasi berlabel Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) akhirnya terketuk hati. Mereka mewujudkan aksi keprihatinan  melalui pelatihan-pelatihan dan penerbitan sebuah buku berjudul Sekolah Nir Kekerasan.

Buku ini ditulis  para diaspora Indonesia. Di dalamnya diulas  pengalaman praktis para orangtua dan pemerhati pendidikan. Para penulis bercerita tentang potret di belahan dunia,  sekolah menjadi tempat menyenangkan dan aman bagi anak.

Jika ditelisik dari kumpulan tulisan dalam buku ini, Australia merupakan negara yang menaruh perhatian besar terhadap kekerasan anak. Keseriusan itu tecermin dari penetapan hari khusus setiap 20 Maret bernama National Day Action Against Bullying and Violence. Tujuannya membangkitkan kesadaran kolektif guna memerangi aksi kekerasan  (hlm 184).

Dalam ranah praktis, di Australia kultur positif di sekolah dibangun sejak dini. Misalnya, pola-pola pembelajaran apresiatif, empati, dan peduli. Konsep Buddy (teman) adalah salah satunya. Buddy memberi pendampingan pada siswa baru agar bisa beradaptasi dengan suasana serbabaru. Seorang Buddy  biasanya setahun lebih tua dari siswa baru. Konsep ini secara alamiah melatih  senior agar melindungi  yunior. Dengan kata lain, menjadi kuat tidak harus menganiaya yang lemah (hlm 63-64).

Metode cukup unik juga diterapkan di Kanada. Siswa SD dididik untuk saling menghormati tak hanya antarteman, tapi juga semua jenis pekerjaan. Seminggu sekali siswa diajak bermain peran terkait aktivitas keseharian dan beberapa pekerjaan tertentu. Seting bermain dibuat seolah nyata dengan menyelipkan nilai-nilai moral dalam permainan. Dari sinilah siswa belajar menghormati orang lain, sabar mengantre, saling menolong, sopan santun, dan bertanggung jawab (hlm 122).

Lain negara beda pula metodenya. Di Norwegia untuk tingkat SD peringkat kelas dan pencapaian akademis bukan menjadi prioritas. Ujian tiap semester dilaksanakan  untuk memetakan kemampuan akademis siswa. Hasil akhir (rapor) hanya berisi grafik disertai komentar guru.

Hal tersebut diterapkan agar belajar menjadi kegiatan sukacita,  bukan semata-mata mengejar angka. Sosialisme pergaulan, kebahagiaan, ketenangan, dan rasa aman ketika siswa di sekolah menjadi fokus pendidikan  Norwegia, khususnya pendidikan dasar sebagai pondasi utama (hlm 9-10).

Sekolah tingkat dasar di mancanegara memperlakukan dan mendidik anak-anak dengan penuh perhatian. Dengan kondisi seperti itu tentu sekolah akhirnya menjadi taman yang menyenangkan bagi anak. Hal tersebut, sejatinya sembilan dekade silam pernah dilontarkan Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hadjar Dewantoro. Taman merupakan metafora tempat menyenangkan yang menjadi bagian dari proses tumbuh kembang sang anak.

Hal senada juga pernah dituangkan oleh mendiang YB Mangunwijaya dalam bukunya Pendidikan Pemerdekaan(2004). Menurut Romo Mangun, dari segala jenjang pendidikan, sekolah dasar (SD) adalah segalanya. Salah satu obsesi Romo Mangun, SD harus dikembangkan dan diselenggarakan sebaik-baiknya. Anak menjadi subjek. Orientasi diarahkan pada perkembangan psikologi anak.

Di titik ini sepatutnya kita renungkan goresan indah seorang pendidik dan ahli konseling keluarga tersohor, Dorothy Law Nolte dalam puisi bertajuk Children Learn What They Live. Anak-anak akan belajar dan tumbuh berkembang dari lingkungannya. Jika anak dibesarkan dengan celaan, dia belajar memaki. Sebaliknya, jika anak dibesarkan dengan pujian,  akan belajar menghargai.

 

Diresensi Ahmad Jauhari, staf di Yayasan Tarbiyatul Wathon, Campurejo, Panceng, Gresik, Jatim.

Sumber:

http://www.koran-jakarta.com/sekolah-sebagai-taman-yang-menyenangkan/

critical thinking
01/10/2016 0 comments 699 views
Revolusi teknologi komunikasi dan informasi telah mengubah struktur sosial masyarakat saat ini. Dengan teknologi internet, dunia sudah tidak lagi memiliki batasan ruang dan waktu. Banyaknya informasi yang disuguhkan menuntut pengguna internet (terutama anak-anak dan remaja) untuk bisa memilah milah informasi secara kritis agar tidak terjerumus dalam paham radikalisme.

Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) hadir untuk mengubah pola pikir masyarakat terutama orangtua dan guru di sekolah untuk mempersiapkan generasi yang kritis dan melek digital. Dengan menyediakan sekolah yang menyenangkan bagi anak-anak, hormon dophamine (kebutuhan mendapatkan rasa senang yang tinggi) pada anak akan terfasilitasi baik di sekolah atau keluarga. Sehingga mereka tidak gampang mencari kesenangan lain yang berseliweran di dunia digital, seperti terpancing mengikuti paham radikalisme yang memanfaatkan kemajuan teknologi.

Revolusi teknologi komunikasi dan informasi telah mengubah struktur sosial masyarakat saat ini. Dengan teknologi, dunia sudah tidak lagi memiliki batasan ruang dan waktu.

Riset Pew Research Center di Amerika pada 2011 menyebutkan bahwa teknologi telah merasuk ke segala sendi kehidupan masyarakat. Survei tersebut menemukan bahwa 70 persen masyarakat, menganggap internet memiliki pengaruh besar untuk merespons perkembangan isu tertentu. Angka yang sama menyatakan, internet dapat digunakan untuk meluaskan jejaring pertemanan atau keanggotaan komunitas yang lebih luas.

Seperti telah dimuat di harian Republika yang berjudul KBRI Seoul Gelar Nonton Bareng Jihad Selfie. Di film tersebut, diceritakan pola baru rekrutmen anggota ISIS, yang memanfaatkan media internet.

Melalui teknologi internet, ISIS menyebarkan informasi dengan mudah dan cepat tanpa melalui proses verifikasi yang seharusnya. Berdasarkan data yang dipublikasikan WeAreSocial pada 2016, pengguna internet di dunia telah mencapai hampir separuh jumlah penduduk di bumi, yakni 3,4 miliar dari total 7,4 miliar.

Data lain di Indonesia juga menunjukkan, sekitar 46 persen pemakai internet diisi anak-anak remaja SMA atau 70 persen oleh kalangan usia 20 tahunan. Sangat masuk akal, jika target ISIS adalah menyebarluaskan propaganda ideologi mereka, melalui kampanye media yang pragmatis dan dibutuhkan anak-anak muda di dunia.

Apa yang terjadi di benak anak-anak muda itu? Mengapa mereka gampang tergiur oleh propaganda ISIS atau kelompok sejenisnya? Urie Bronfenbrenner (1917) menjelaskan, perkembangan anak-anak atau remaja sangat dipengaruhi lingkungan terdekat (mikro) hingga lebih luas (makro), bahkan lingkungan kronosistem, yakni lingkungan sosiohistoris anak.

Sementara itu, kebutuhan utama anak-anak muda atau remaja adalah menyangkut pemenuhan identitas diri, eksistensi, dan tantangan baru. Tayangan video jihad oleh ISIS di internet berpotensi membuka katup pemenuhan akan tantangan baru tersebut.

Secara sosiohistoris, tayangan video itu tidak lagi menakutkan bagi mereka yang lahir di era digital. Berbeda dengan orang tua yang lahir sebelumnya. Mereka cenderung takut atau akan menghindari tayangan itu.

Bagi kalangan anak muda itu, unggahan video jihad berhasil mendekatkan gap atau jarak psikologis mereka terhadap aktivitas perang, seperti layaknya tayangan reality show yang menghibur.

Hasrat mereka untuk bergabung ke ISIS justru menjadi tantangan, seolah terlibat perang dalam video games dengan medan laga yang nyata. Mereka merasa lebih eksis karena merasa terlibat untuk membuat sejarah peradaban baru dengan berjihad.

Perkembangan teknologi internet juga memungkinkan, seseorang dapat membuat keputusan dengan cepat tanpa pikir panjang. Hal ini disebabkan dua faktor: keberadaan mesin pencari informasi dan faktor internal diri yang tidak kritis untuk memilah derasnya informasi.

Mesin pencari informasi seperti Google memungkinkan penggunanya, dengan mudah dan cepat memperoleh informasi yang diinginkan. Hanya dengan sekali klik menekan tombol enter, informasi telah tersaji di depan mata.

Kecepatan akses ini pada akhirnya akan melahirkan generasi baru yang disebut Generasi one klik atau generasi instan, yakni generasi yang membutuhkan kecepatan tinggi untuk mendapatkan yang diinginkan. Mereka cenderung cepat putus asa ketika prosesnya lambat dan memakan waktu lama.

Generasi instan ini akan banyak menimbulkan dampak negatif daripada positif. Khususnya, kepada anak-anak muda yang galau dan cepat putus asa. Ketika generasi ini berjumpa dengan sesuatu yang menyangkut kebijakan atau program pemerintah, mereka cenderung apatis.

Gap atau waktu tunggu inilah yang dapat dimanfaatkan pihak lain, yang sok populis dengan bersuara lantang menawarkan obat penawar instan. ISIS atau kelompok sejenisnya adalah kaum sok populis itu. Mereka menawarkan jihad yang disertai ayat-ayat agama sebagai obat mujarab.

ISIS percaya bahwa para generasi instan ini akan memilih bergabung dengan mereka, sebagai jalan pembebasan yang lebih masuk akal, daripada menunggu kebijakan negara yang lambat.

Faktor kedua adalah rendahnya kemampuan berpikir kritis. Beyer (1985) mendefinisikan bahwa kemampuan berpikir kritis adalah kemampuan menilai valid tidaknya suatu informasi. Sedangkan Chance (1986) menambahkan, berpikir kritis adalah kemampuan menganalisis fakta secara utuh, dan menggunakannya untuk membuat solusi atas suatu masalah.

Bagi mereka yang tergoda ISIS, melimpahnya informasi sebagai dampak teknologi internet tidak otomatis membuka cakrawala berpikir mereka. Terbuka lebarnya kanal informasi ini justru digunakan untuk memperkuat ideologi atau menyuburkan nilai-nilai keyakinannya.

Alih-alih ingin membaca pemikiran yang berbeda, wawasan mereka justru menyempit oleh dalamnya bacaan yang tersedia di internet. Kedalaman informasi itu terkadang digunakan untuk menjustifikasi pihak lain bersalah, atau menghukum kepada siapa saja yang berseberangan.

Padahal, Islam mengajarkan kepada umatnya untuk bertabayun, yakni mencari pendapat lain ketika menerima berita yang masih simpang siur. Makna tabayun sejalan dengan pengertian berpikir kritis, yakni kemampuan mengevaluasi berbagai informasi sebelum membuat keputusan yang solutif dan komprehensif.

Berpikir kritis atau tabayun tidak dilakukan oleh mereka yang tergiur ISIS. Berpikir kritis memahami keberagaman informasi dan budaya literasi digital, perlu digalakkan di sekolah-sekolah, khususnya pendidikan dasar dan keluarga, sebagai fondasi pengembangan karakter positif anak.

Pendidikan di sekolah tidak boleh mengukur prestasi anak hanya dari angka atau nilai ujian, melainkan harus merangsang kekritisan berpikir. Budaya dan pembelajaran di sekolah perlu diperbanyak dengan memantik pertanyaan dan diskusi agar anak-anak berusaha mencari jawaban dari berbagai referensi.

Mereka didorong untuk mendekatkan ilmu pengetahuan dengan kasus-kasus sehari-hari, melalui berbagai kegiatan eksperimentasi atau studi lapangan. Anak-anak itu harus dipaksa mengaktifkan otak dan seluruh pancaindranya untuk belajar. Jika tidak, anak-anak akan malas berpikir ketika menghadapi persoalan nyata karena terbiasa mengikuti petunjuk guru atau kunci jawaban.

Dorongan untuk membaca beragam sumber ilmu akan membantu anak-anak terbiasa berpikir berbeda, sekaligus memiliki kemampuan berdialog dan bertukar pikiran secara terbuka. Mempersiapkan generasi yang kritis dan melek digital adalah kunci, agar mereka tidak gampang terpancing paham radikalisme yang memanfaatkan kemajuan teknologi.

 

MUHAMMAD NUR RIZAL

Inisiator Gerakan Sekolah Menyenangkan, Pengajar di Teknik Elektro dan Teknologi Informasi UGM

 

Sumber:

Koran Republika edisi 24 September 2016.

http://www.republika.co.id/berita/koran/opini-koran/16/09/24/oe06g65-critical-thinking-dan-radikalisme

05/09/2016 0 comments 1358 views

Penerapan Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM)  di beberapa sekolah di Yogyakarta telah dimulai dan telah merubah lingkungan di sekolah-sekolah tersebut. Banyak kepala sekolah dan guru yang baru mengetahui adanya cara belajar yang baru.

 

Berikut rekaman wawancara antara sbs dengan founder Gerakan Sekolah Menyenangkan Muhammad Nur Rizal, Ph.D terkait perkembangan penerapan konsep sekolah menyenangkan yang telah menghasilkan perubahan-perubahan di sekolah, seperti setting kelas, pelibatan secara aktif siswa, model belajar, dll.

 

Rekaman

 

Dalam wawancara tersebut  Muhammad Nur Rizal menjelaskan bahwa sekolah yang tergabung dalam jejaring GSM dapat dipantau/didampingi perubahannya melalui forum kunjungan di sekolah-sekolah dan juga forum group di WhatsApp (WA).

Kita menggunakan teknologi, karena kita pahami bahwa teknologi bisa melakukan penetrasi untuk media sosial baru. Dalam hal ini sekolah-sekolah, sehingga pendampingan yang kita lakukan kita diundang biasanya oleh sekolah itu untuk melihat dan mengunjungi perubahan-perubahan yang dilakukan kemudian kita memberikan masukan-masukan terhadap perubahan yang terjadi, itu pertama secara fisik.

Contoh yang dilakukan anak-anak di SD Negeri Tiimbulharjo di Yogyakarta dimana kelas mereka didesain untuk memiliki ruang bergerak dan berkolaborasi
Contoh yang dilakukan anak-anak di SD Negeri Tiimbulharjo di Yogyakarta dimana kelas mereka didesain untuk memiliki ruang bergerak dan berkolaborasi dalam sebuah project

Yang kedua dengan teknologi kita punya group WA yang kemudian kita dorong mereka men-sharing kan / meng-upload kan perubahan yang terjadi. Misalnya, ada sekolah yang tidak punya atap di kelasnya, kemudian anak-anak dan guru menaruh hasil kreasi project anak-anak di pojok-pojok kelas ataupun digantung di ruang ruang kelas yang tidak beratap. Kemudian mereka membuat target belajar sendiri. Mereka membuat bagaimana membuat anak-anak itu dibangun literasinya, dan banyak perubahan-perubahan lainnya. Dan itu kemudian menginspirasi sekolah-sekolah lain yang belum bergerak berubah untuk kemudian berubah.

Contoh setting kelas SD N Karangmloko 2
Contoh setting kelas SD N Karangmloko 2 beserta pajangan hasil karya anak di dinding kelas

Pendekatan kita , apresiasi inquiry approach, yakni kita mengapresiasi perubahan-perubahan yang terjadi dengan cara menselebrasi merayakan yang kemudian perubahan itu kita viralkan agar menjadi momentum perubahan yang besar. Jadi yang belum berubah tidak kita hukum, tidak kita coret dari sekolah jejaring, tapi kita tunggu untuk kita sadarkan bahwa ada komitmen (Muhammad Nur Rizal).

Contoh MI Muh Pengkol saat siswa memajang hasil karyanya di ruang-ruang atap
Contoh MI Muh Pengkol saat siswa memajang hasil karyanya di ruang-ruang atap

Untuk tanggapan siswa sendiri siswa merasa senang ketika ulangan diganti dengan projek tematik. Karena siswa lebih aktif dilibatkan, suasana lingkungan kelas sudah berubah sehingga lebih senang.

 

Sumber:

http://www.sbs.com.au/yourlanguage/indonesian/id/content/gerakan-sekolah-menyenangkan?language=id

03/09/2016 0 comments 765 views

Muhammad Nur Rizal adalah inisiator Gerakan Sekolah Menyenangkan dan baru-baru ini dia diundang ke Kedutaan Besar Australia di Jakarta untuk menjelaskan gerakan yang dibuatnya tersebut, dan bertukar pikiran dengan para pegiat dan pemerhati pendidikan.

Sudah dua kali saya diundang di Kedutaan Besar Australia di Jakarta dalam Program “Principle Leture Series” untuk bertukar pengetahuan dan pengalaman praktik sekolah yang menyenangkan dan aman kepada puluhan Kepala Sekolah, Pengawas serta Aktivis LSM Pendidikan di Jakarta.

Pada acara ini juga mengundang Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Komisi Perlindungan Anak Indonesia dan Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), gerakan akar rumput yang terinspirasi nilai-nilai sekolah Australia yang sejalan dengan Ajaran Ki Hadjar Dewantoro untuk diterapkan di Indonesia.

Sekitar dua puluh lebih sekolah dasar di Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi piloting sekolah jejaring GSM

Contoh yang dilakukan anak-anak di SD Negeri Tiimbulharjo di Yogyakarta dimana kelas mereka didesain untuk memiliki ruang bergerak dan berkolaborasi
Contoh yang dilakukan anak-anak di SD Negeri Tiimbulharjo di Yogyakarta dimana kelas mereka didesain untuk memiliki ruang bergerak dan berkolaborasi

Acara di Kedutaan Besar Australia di Jakarta ini mendapatkan tanggapan yang positif dari peserta. Berbagai pertanyaan yang diajukan menunjukkan ketertarikan mereka dengan isu yang dibahas.

Besarnya animo peserta oleh karena materi yang disampaikan sangat relevan dengan persoalan kekerasan atau bulying yang terjadi di sekolah-sekolah mereka.

Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebutkan bahwa lebih dari 80 persen anak di Indonesia mengalami kekerasan atau bullying.

Data serupa dilaporkan oleh Lembaga PLAN yang dirilis awal Maret 2015 menunjukkan fakta mencengangkan bahwa 84 persen anak di Indonesia mengalami kekerasan di sekolah.

Para peserta yang notabene adalah pendidik atau aktivis cukup terkejut dengan data kekerasan yang disampaikan oleh Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia yang turut menjadi pembicara.

Peserta mempertanyakan tindakan revolusioner apa yang harus dilakukan oleh bangsa ini untuk memutus mata rantai kekerasan di sekolah itu?

Pembicara lain dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI menjelaskan bahwa Pemerintah telah meluncurkan berbagai peraturan untuk menciptakan ekosistem sekolah yang kondusif, yakni Peraturan Mentri (Permen) Nomor 23/2015 tentang Program Penumbuhan Budi Pekerti dan Permen nomor 18 tahun 2016 tentang Program Pengenalan Lingkungan Sekolah untuk mengganti kegiatan ‘masa orientasi sekolah’ yang ditengarai sarat kekerasan oleh Kakak Senior kepada siswa baru.

“Kita menginginkan hal-hal praktis yang mudah dilakukan oleh guru dan siswa secara luas”  tanggap peserta diskusi.

SD Muhamadiyah Sidoarum di Yogyakarta menghargai keunikan dan bakat anak di kelas 6.
SD Muhamadiyah Sidoarum di Yogyakarta menghargai keunikan dan bakat anak di kelas 6.

Sebagai pembicara terakhir, saya menangkap keinginan kuat guru untuk merubah pola pendidikan yang selama ini terlalu menekan siswa yang berakibat pada maraknya kekerasan.

Indonesia memang sedang menghadapi peningkatan kekerasan akibat lunturnya sikap keberagaman dan kelenturan masyarakat terkait kompleksitas dan tekanan sosial saat ini.

Lembaga UNICEF PBB menyebutkan bahwa satu dari tiga anak perempuan atau satu dari empat anak laki-laki Indonesia mengalami kekerasan. Walaupun data ini tidak menggambarkan potret sesungguhnya, namun tren angkanya masih lebih tinggi dibandingkan di Asia.

“Dalam Gerakan Sekolah Menyenangkan ada beberapa prinsip dan praktik yang dapat membantu sekolah untuk mengurangi kekerasan dengan menciptakan budaya pembelajaran yang positif dan menyenangkan” jawab saya kepada peserta.

Prinsip pertama adalah menciptakan  ruang fisik dan emosi yang seimbang.

 

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Gerakan Sekolah Menyenangkan oleh Novi Candra, Dosen Psikologi UGM (Kandidat PhD di Universitas Melbourne) menyatakan bahwa ruang kelas yang kaku, kamar mandi yang kotor dan berbau, lorong yang gelap dan minimnya tempat bermain adalah faktor utama yang membuat anak tidak betah di sekolah.

 

Menurut penelitian tersebut, sering dijumpai bahwa kekerasan pada umumnya dilakukan di tempat-tempat yang gelap dan terpencil di sekolah. Jauh dari pengawasan guru atau orang tua seperti di kamar mandi, lorong sekolah atau kebun belakang sekolah.

Sehingga sekolah di jejaring GSM didorong untuk mendisain ulang lorong dan tempat bermain yang dimilikinya menjadi tempat untuk memajang hasil kreasi belajar anak-anak. Sehingga tempat itu menjadi lebih ramai dan meriah agar tidak lagi digunakan untuk melakukan tindakan kekerasan.

Ketika kamar mandi lebih bersih dan wangi, anak-anak tidak ragu untuk membersihkan diri mereka selama di sekolah. Dan ketika ruang kelasnya lebih dinamis dan memiliki ruang bergerak yang cukup, maka anak-anak akan lebih betah belajar karena kelasnya seolah menjadi rumah kedua mereka.

Prinsip kedua adalah membangun keterlibatan siswa (Student Engagement) dalam proses belajar akan menumbuhkan rasa kepemilikan dan tanggungjawab anak-anak selama di kelas atau sekolah.

Ketika anak dilibatkan dalam membuat berbagai kesepakatan belajar hingga membuat tata aturan kelas atau sekolah, anak-anak merasa dihargai sebagai warga komunitas sekolah. Peran mereka tidak lagi hanya sebagai “obyek” melainkan pelaku utama (subyek) di sekolah.

Anak-anak juga dilatih untuk menerapkan model konsekuensi – apresiasi bagi mereka yang melanggar atau mentaati kesepakatan.

*Tulisan ini merupakan pendapat pribadi. Muhammad Nur Rizal Alumni PhD Monash Australia dan Inisiator Gerakan Sekolah Menyenangkan.

Sumber:

Australiaplus.com

Loading...