Anti Kekerasan

16/04/2016 0 comments 606 views

Pelaksanaan Workshop Parenting Skill: Getting Closer To Your Children

 

Sabtu tanggal 16 April 2016 di Ruang G100 Fakultas Psikologi UGM Yogyakarta telah berlangsung acara workshop parenting skill: Getting Closer To Your Children dengan tema “Gadget”. Acara dimulai pukul 09.00 WIB dengan pembicara Dr. Neila Ramdhani, M.Si.,M.Ed.

 

Anak dan Gadget di Era Digital

 

Saat ini, Gadget diasosiasikan sebagai istilah produk-produk teknologi informasi seperti telepon genggam (HP), tablet, notebook, perangkat GPS, perangkat permainan (game player).

Indonesia sendiri telah menjadi Negara keempat di Asia yang paling tinggi dalam menggunakan internet dan menjadi Negara kedua terbesar dalam menggunakan facebook. Selain itu, sebanyak 4 juta penduduk Indonesia adalah pengguna Path serta pengguna media sosial lainnya yang juga sebagai salah satu fitur dalam gadget. termasuk juga game online dimana populasi tertinggi dalam menggunakan game online terletak di Jakarta dan Lampung.

 

Gadget dapat membuat anak menjadi kacanduan. biasanya anak-anak yang kecanduan gadget akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama gadget daripada berinteraksi dengan orang lain. kondisi tersebut menyebabkan seseorang kurang dalam bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain.

 

Dampak Positif dari Gadget:

1. Menambah pengetahuan tentang teknologi

2. mempermudah komunikasi terutama jarak jauh

3. memperluas jaringan pertemanan

4. sebagai hiburan

5. alat informatif

6. dapat menyimpan data.

 

Dampak Negatif dari Gadget:

1. efek radiasi yang mempengaruhi otak

2. rawan tindakan kejahatan

3. mengganggu perkembangan otak anak

4. menurunkan motivasi belajar anak

5. penyalahgunaan fitur

6. penurunan konsentrasi pada anak.

 

Jika ingin memperkenalkan gadget pada anak, beberapa ahli menyarankan sebaiknya mengenalkan fungsi dan operasi gadget pada anak saat usia 6 tahun. karena perkembangan anatomi otak anak sudah meningkat sebesar 95% otak dewasa.

 

Hal yang perlu diperhatikan:

1. penggunaan gadget harus sesuai dengan kebutuhan anak dan usia

2. perlu adanya kontrol waktu dari orang tua

3. penggunaan gadget berdasarkan manfaat

4. mengawasi adanya arus informasi dari gadget yang bersifat negatif

5. waspadai antisosial

6. waspadai adanya kecanduan.

13/04/2016 0 comments 699 views
Fakultas Psikologi UGM _ PSIKOLOGIA mempersembahkan acara Workshop Parenting : 
"GETTING CLOSER TO YOUR CHILDREN". Dalam Workshop tersebut, PSIKOLOGIA bekerjasama
dengan GSM sebagai Media Partner. Dalam workshop ini, kita bisa tahu bagaimana cara
membimbing anak dalam dunia internet dan cara menjauhkan anak dari bullying.

Melindungi anak-anak dari pengaruh buruk lingkungan membutuhkan strategi yang efektif. Menjadi orang dewasa yang berada di sekitar anak-anak adalah tantangan tersendiri. Isu mengenai bullying dan penggunaan gadget bagi anak menjadi hal penting yang perlu diperhatikan.

Berdasarkan data KPAI tahun 2011-2014, kasus bullying menduduki peringkat teratas pengaduan masyarakat dalam kategori kekerasan pada anak. Jumlahnya sekitar 25% dari total pengaduan di bidang pendidikan dari sebanyak 1.480 kasus yang dilaporkan. Sementara itu, penggunaan gadget yang kurang terkontrol memberi dampak negatif. Mulai dari bahaya radiasi terhadap mata, menurunnya tingkat produktivitas anak, kecanduan game, rentan terhadap pornografi dan kekerasan, sampai mengganggu konsentrasi anak dalam hal akademik. Lalu, bagaimana orang dewasa di sekitar anak berperan memberi perlindungan?

Magister Profesi Psikologi Klinis Fakultas Psikologi UGM mengadakan workshop parenting bertajuk “Getting Closer To Your Children”. Workshop akan diselenggarakan dalam dua hari, tanggal 16 April (Tema: Penggunaan gadget bagi anak) dan 17 April (Tema: Menghadapi bullying pada anak) 2016 di gedung G 100 Fakultas Psikologi UGM pukul 09.00-16.00. Workshop ditujukan untuk orangtua, guru, praktisi psikologi, dan akademisi.

Workshop mengenai penggunaan gadget akan menghadirkan pakar psikologi dan media, Dr. Neila Ramdhani M.Si, M.Ed, serta dokter spesialis tumbuh kembang anak. Materi diharapkan dapat meningkatkan pemahaman peserta mengenai perkembangan gadget, kasus gangguan kesehatan, adiksi pada gadget dan cara penangannya secara individu. Pemahaman terhadap dampak gadget pada kesehatan dan komunikasi keluarga diharapkan dapat meningkatkan keterampilan dalam mengatur penggunaan gadget secara efektif pada anak.

Sementara workshop mengenai bullying di sekolah akan menghadirkan pakar psikologi perkembangan, Dr. Maria Goretti Adiyanti, M.S, guru sekolah, serta mantan korban bullying. Materi akan difokuskan kepada meningkatkan pemahaman terhadap kasus bullying, penyebab, sampai dengan cara mengatasi kasus bullying pada anak.

Info lebih lanjut dan pendaftaran dapat menghubungi nomor 08561031266 dengan format: nama lengkap_instansi_pekerjaan_workshop gadget/bullying_no hp. Biaya pendaftaran ke nomor rekening 431666345 di bank BNI atas nama Arindah Arimoerti Dano. Konfirmasi pembayaran dapat dilakukan dengan mengirim bukti transfer ke psychologia101@gmail.com atau melalui sms/WA.

Poster Workshop Parenting
Poster Workshop Parenting
03/03/2016 0 comments 737 views

Tindak kekerasan di sekolah di Indonesia kadang menimbulkan kematian murid. Sekarang beberapa sekolah mulai menerapkan program ‘buddy” (teman) untuk menghilangkan kecenderungan ‘bullying’. Salah satunya adalah Yayasan Kalam Kudus di Yogyakarta yang mendapat inspirasi mengenai hal tersebut dari Australia.

Apakah Anda masih ingat satu saja dari sekian banyak  peristiwa kekerasan di sekolah di Indonesia?

Saya masih ingat dan menjadi “permenungan“ saya. Peristiswa itu dialami Renggo Kadapi (11) siswa kelas V SDN 09 Makassar, Jakarta Timur. Renggo yang mungkin calon pilot itu harus terengut nyawannya akibat dianiaya oleh kakak kelasnya. Peristiwa itu terjadi beberapa hari ketika kita memperingati Hari Pendidikan bulan Mei 2014.

Saya sebagai pendidik  “shock”. Ternyata penyebabnya sepele. Saat istirahat siang, Renggo tidak sengaja menjatuhkan pisang goreng coklat milik kakak kelas. Renggo  sudah meminta maaf dan mengganti pisang yang terjatuh.

Tapi itu belum cukup. Si kakak kelas bukannya memberi maaf, justru melakukan pemukulan yang bertubi-tubi ke perut Renggo hingga berakhir dengan kematian Renggo, si “calon” pilot tersebut.

Murid sekolah di SD Muhamadiyah Macanan Yogyakarta mulai menerapkan sistem buddy di sekolah mereka. (Foto: GSM)
Murid sekolah di SD Muhamadiyah Macanan Yogyakarta mulai menerapkan sistem buddy di sekolah mereka. (Foto: GSM)

Miris rasanya. Salah satu penyebabnya menurut saya karena atmosfer superior kakak kelas yang sengaja dan tidak sengaja dibangun dalam kerangka negatif.

Atmosfer “sok berkuasa” yang dilakukan kakak kelas terhadap adik kelas tentunya terbangun dalam jangka waktu lama. Dan atmosfer ini tidak hanya terjadi di bangku sekolah dasar (SD), namun juga SMP, SMA bahkan di dunia kampus.

Seperti kasus kematian akibat kerasan perpoloncoan yang dilakukan oleh mahasiswa senior ke yunior di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).

Kecenderungan superior dan sok berkuasa itu perlu dengan sengaja “dipangkas” dengan sebuah praktek positif yang berkesinambungan. Ada sebuah praktek bagus, bernama “Buddy program” yang saya pelajari dari sekolah dasar di Australia.

Program ini diperkenalkan pada saya oleh Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) yang mengambil praktik baik dari pendidikan di Australia.

Dalam sistem “Buddy” yang diperkenalkan kepada saya dan guru-guru jejaring GSM, ‘kakak kelas’ bukanlah penguasa, tapi justru menjadi ‘buddy‘ yakni teman sekaligus pelindung.

Sebagai pelindung, selain menjadi teman terbaik, kakak kelas dilatih untuk membantu adik kelasnya ketika masa orientasi mulai pengenalan gedung dan tempat sekolah hingga mengantar sang adik saat pergi ke toilet.

Ide yang dikenalkan oleh Gerakan Sekolah Menyenangkan dicoba diadopsi oleh SD Kalam Kudus dengan sebuah kegiatan.

Dengan harapan, kegiatan ini bisa jadi langkah awal untuk system buddy ini menjadi sebuah budaya. Kegiatan ini digelar setelah kakak kelas menyelesaikan ujian akhir sekolah (UAS).

Kakak kelas VI mengajak adik kelas, (dalam kegiatan ini adik kelas TK).  Kakak kelas masing-masing mengajak satu adik kelas  untuk berkeliling ke lokasi SD.

Murid sekolah SD Kalam Kudus Yogyakarta melakukan tur di sekolah sebagai bagian dari program buddy. (Foto: GSM)
Murid sekolah SD Kalam Kudus Yogyakarta melakukan tur di sekolah sebagai bagian dari program buddy. (Foto: GSM)

Kakak kelas menggandeng adik kelas berkeliling sambil mengenalkan lokasi SD kepada adik TK. Perjalanan diakhiri dengan ruangan perpustakaan. Di perpustakaan itu adik kelas bisa memilih buku yang disukai, lalu kakak kelas akan membacakan buku cerita untuk adik kelas.

Kegiatan ini setidaknya mengarahkan agar kakak kelas menjadi pengayom bukan peguasa. Kakak kelas menjadi sahabat atau buddy bukan “preman”.

Kegiatan yang dilaksanakan  berdampak langsung kepada adik kelas calon kelas 1 SD. Mereka menjadi tidak takut lagi pada kakak kelas. Kakak kelas pun merasa menjadi “pengayom” atau pelindung bagi adik-adik kelas. Kegiatan ini akan dirintis untuk dilakukan beberapa kali sehingga menjadi sebuah gerakan budaya.

Tidak hanya itu, Kepala SD Kalam Kudus terus mensosialisasikan bahwa kakak kelas  WAJIB menjadi kakak bagi adik kelas.  Saat upacara atau ibadah hal ini terus diingatkan.

“Siapa di sini yang menjadi adik tunggal?” Banyak anak yang mengangkat tangan.

“Nah kalian  mungkin di rumah  tidak punya adik, tapi di sekolah kalian memiliki adik”. Murid di Kalam Kudus akan menerapkan program “buddy” atau sahabat ini. Ayo coba kita hitung, adik-adik kita ya.  “Kakak kelas 1 pasti punya adik TK”, “kakak kelas 2 punya adik kelas 1dan TK”,  “kakak kelas 3 punya adik TK, kelas1 dan 2. Demikian seterusnya, bahwa kakak kelas VI punya adik TK hingga kelas 5,” begitulah biasanya yang saya sampaikan sebagai kepala sekolah saat upacara.

Penyemaian sistem “buddy” ini memanglah tidak mudah di tengah fakta tontonan TV  yang sepertinya “menghalalkan” kekerasan.

Meski begitu, sistem buddy yang mengenalkan kakak kelas sebagai pengayom dan sobat bagi adik kelas harus terus dilakukan agar menjadi sebuah budaya. Indah rasanya semua murid adalah saudara sebagai kakak dan adik. Kakak kelasku menjadi pengayom atau “buddy“ku.

Saling berbagi, saling menghargai dan belajar sehingga kisah Renggo Kadafi tidak akan terulang lagi sampai kapanpun.

 

* Tulisan ini adalah pendapat pribadi. Lily Halim, S.Pd, Kepala Sekolah SD Kalam Kudus Yogyakarta (salah satu sekolah jejaring GSM)

 

Link terkait :

#Australia Plus ABC – detikNews

#news.metrotvnews.com

12/02/2016 0 comments 771 views

images buddy

       Di sekolah di Australia ada berbagai macam cara dalam mencegah bullying. Salah satu cara dalam mengatasi dan mencegah terjadinya bullying adalah dengan menerapkan  sistem “buddy”.  Sistem buddy adalah cara dalam menghormati keberadaan anggota (siswa) baru di sekolahnya. Yaitu dengan cara siswa senior diwajibkan membantu, menemani, dan menjaga siswa yunior jika mengalami kesulitan dan membutuhkan bantuan saat di sekolah. Misalnya menemani siswa yunior pergi ke toilet dan sekaligus sebagai tempat bertanya segala hal yang belum diketahui.

images

     Sistem buddy merupakan praktik baik sederhana untuk mengenalkan nilai-nilai pendidikan karakter seperti saling menghormati, menghargai, melindungi sesama teman di sekolah. Dengan menerapkan nilai-nilai pendidikan karakter tersebut, sekolah juga dapat mengajarkan anak untuk bertanggung jawab dan memiliki jiwa kepemimpinan. Selain itu juga dapat menciptakan sekolah yang aman dan menyenangkan bagi anak.

009afb3a6ac49b91dd9cd6daff8d3d2c

             Jika sistem buddy ini dapat diterapkan di sekolah-sekolah di Indonesia, khususnya di Yogyakarta, maka bukan tidak mungkin sekolah akan menjadi tempat yang menyenangkan dan aman untuk anak sekolah. Khususnya untuk siswa baru yang membutuhkan bantuan dalam beradaptasi dan melalui masa transisi di sekolah yang baru.

           GSM melalui project sosial yang akan berlangsung di tahun 2016 ini, akan membantu mengubah sekolah- sekolah menjadi menyenangkan dan aman, terutama di sekolah-sekolah yang telah dipilih untuk menjadi sekolah model di Yogyakarta. Salah satunya dengan cara meningkatkan keterampilan guru dalam meng”engage” anak untuk menerapkan sistem buddy ini di sekolah.

09/02/2016 0 comments 840 views

Hasil diskusi GSM dengan Volunteer di Melbourne

IMG_6547

Menciptakan sekolah yang aman, nyaman, dan disiplin sangatlah penting agar siswa dapat mencapai prestasi yang terbaik dan guru dapat menampilkan kinerja yang terbaik. Namun di tahun-tahun terakhir ini, banyak sekali hal-hal yang tidak nyaman yang sering terjadi di sekolah, seperti tindakan kekerasan terhadap siswa yang lebih lemah (bullying). Bullying adalah suatu situasi dimana seorang siswa atau lebih secara terus menerus melakukan tindakan yang menyebabkan siswa lain menderita. Agar kekerasan terhadap siswa yang lebih lemah ini tidak terjadi maka perlu dibuat aturan sekolah untuk melindungi siswa korban kekerasan.

Berdasar dari kejadian yang membuat sekolah tidak nyaman tersebut, GSM yang sangat peduli terhadap pendidikan di Indonesia, terutama dalam menciptakan sekolah yang aman dan menyenangkan. Banyak project yang akan digarap GSM untuk menciptakan sekolah aman dan menyenangkan di tahun 2016 ini. Berikut merupakan salah satu action dari GSM yang telah berdiskusi dengan volunteer di Melbourne mengenai cara mengatasi bullying di Australia, yang nantinya dapat dipraktikkan di sekolah-sekolah di Indonesia.

IMG_6548

Pak Anton Alimin merupakan volunteer GSM yang sudah tinggal selama kurang lebih 20 tahun & bekerja sebagai pengajar TAFE di Melbourne. Sekitar awal bulan januari lalu, di SD Muhammadiyah Macanan Yogyakarta, Pak Anton Alimin dan keluarga berdiskusi dengan Bu Dian Fikriani Operational Manager dari GSM. Dalam diskusi tersebut membahas mengenai praktik baik mengatasi bullying di Australia. Ada beberapa cara yang dilakukan sekolah di Aussie untuk mengatasi bullying, diantaranya:

images buddy

  1. Ada kontrak di awal semester tentang apa yg boleh & tdk boleh dilakukan, ditandatangani oleh wali kelas, Kepsek, & murid. Kontrak tersebut diperbarui setiap tahun.
  2. Adanya sistem buddy, anak prep/usia TK di sekolah kita dipasangkan dengan anak kelas 5 SD utk jadi buddy selama 1 tahun.
  3. Ada guru piket di halaman sekolah selama break/istirahat. Guru piket dikasih tanda & piket waktu masuk sekolah, waktu main, & pulang sekolah.
  4. Misal ada guru yg ditunjuk untuk jadi konselor. Guru tersebut bisa dihubungi anak untuk konsultasi jika ada masalah.
  5. Trust license. Setiap Siswa diberikan 10 poin. Jika anak melanggar peraturan maka akan dikurangi poinnya & diberi ‘hukuman’ misal tdk boleh ikut field trip, tinggal dalam kelas selama break/istirahat, mengerjakan tugas tambahan, dll.

IMG_6549

Itulah cara dalam mengatasi dan mencegah terjadinya bullying di sekolah Aussie. GSM berharap cara-cara tersebut nantinya dapat dipraktikkan di sekolah-sekolah di Indonesia, terutama di sekolah-sekolah yang telah dipilih untuk menjadi sekolah model di Yogyakarta.

09/03/2015 1 comments 1185 views
sumber: http://web1.uisd.net/
sumber: http://web1.uisd.net/

Adakah diantara anda yang dulu kerap dinakali dan dikerjai oleh kakak kelasnya di SD yang ukuran tubuhnya sudah jauh lebih besar daripada ukuran tubuh kita saat itu? Seringkali mereka melakukannya beramai-ramai? Uang jajan kita diminta dengan paksa? Mereka berbuat jahil, mengejek dan mentertawakan kita hingga malas sekali rasanya berangkat ke sekolah di pagi hari? Semua kenakalan-kenakalan kakak kelas terpaksa menjadi bagian dari kehidupan kita, tanpa berani lapor kepada bapak/ibu guru? Bahkan ketika melapor, kenakalan mereka justru makin menjadi-jadi, terutama dilakukan diluar sekolah? Ketika bel tanda istirahat siang berbunyi, kita malas keluar kelas, tapi lama-kelamaan malas juga bertahan di dalam kelas?

Bicara tentang bully di SD, saya jadi teringat suatu peristiwa di tahun 2010, saat pertama kali anak saya masuk kelas 1 SD di sebuah sekolah dasar negeri di Jepang, yaitu ‘SD Nada’ atau ‘Nada Shougakkou’ di daerah Rokkomichi, di kota Kobe. Dengan kemampuan Bahasa Jepang yang sangat minim, anak seumur 7 tahun harus masuk ke kelas yang dipenuhi oleh anak-anak Jepang yang sama sekali tidak paham Bahasa Inggris, apalagi Bahasa Indonesia. Sebetulnya, perjuangan kami begitu berat untuk meyakinkan dia agar mau masuk sekolah. Anak saya merasa takut tidak punya teman, dan mengalami kesendirian diantara orang-orang asing.

Pada hari pertama masuk sekolah, bisa dibayangkan betapa tertekan perasaannya ketika semua anak tertawa-tertawa mendengar canda gurunya, sedangkan dia hanya bisa terbengong karena tidak tahu apa yang mereka tertawakan.

Dan untuk mempelajari Bahasa Jepang, ternyata sangat membutuhkan waktu dan effort untuk mencapai level tertentu sehingga mampu berkomunikasi dengan orang Jepang. Apalagi, Bahasa Jepang-nya yang diucapkan oleh anak-anak SD di Jepang ternyata jauh lebih sulit dipahami oleh orang asing dibanding ketika diucapkan oleh orang-orang dewasa di Jepang. Anak-anak sepertinya memiliki bahasa slank mereka sendiri. Saya dan ibunya hanya bisa terus berdoa semoga Tuhan memberi kami kekuatan dan kemudahan.

Selang beberapa hari kemudian, guru wali murid kelas anak saya – Ibu Takeuchi – tiba-tiba mendatangi apartemen yang kami tinggali. Pada waktu itu sekitar pukul 6 sore, ketika saya membukakan pintu lalu menemui Takeuchi Sensei (istilah sensei berarti guru atau dokter) berdiri di depan pintu langsung mengucapkan “Sumimasen, sumimasen”, alias ‘maaf, maaf’. Awalnya saya berpikir dia meminta maaf karena mengganggu waktu kami sekeluarga di luar jam kerja. Makanya langsung saya jawab “iie, iie, daijoubu”, yang artinya ‘tidak apa-apa’’.

Namun anehnya dia tetap melanjutkan permintaan maafnya, sambil membungkuk-bungkuk hampir 90 derajat dan menyebut-nyebut nama anak saya. Sedikit-sedikit saya mulai faham mengapa dia sampai seperti itu. Saya pernah mendengar bahwa meminta maaf sambil membungkuk hampir 90 derajat merupakan tradisi di Jepang ketika seseorang meminta maaf atas sebuah kesalahan yang cukup serius, atau menyakiti hati/perasaan seseorang. Pasti tadi siang terjadi sebuah masalah yang cukup serius dengan anak saya di sekolah.

Kemudian saya sempatkan sekilas melirik dan mengamati kondisi anak saya. Hasil pengamatan saya adalah, tidak ada tanda-tanda fisik maupun psikis apapun yang membuat saya kuatir. Dia tetap ceria bermain kereta-kereta-an dengan adiknya.

Justru yang saya simpulkan sementara adalah, anak saya sebenarnya ‘is fine-fine aja’, dan kini malah saatnya saya yang tidak ‘is fine-fine aja’. Karena harus berkonsentrasi penuh mempraktekkan kemampuan Bahasa Jepang saya yang juga masih minim. Dan kali ini harus digunakan untuk membahas sebuah permasalahan serius. Jujur saja, inilah yang justru membuat saya lebih deg-deg-an, hehe. Sejurus kemudian, saya persilakan Ibu Takeuchi masuk ke ruang tamu kami.

Singkat cerita, dia meminta maaf karena anak saya di-bully kakak kelasnya di sekolah. Saya tadinya sempat kuatir juga, tetapi setelah ditelaah lebih jauh, dan saya tanyakan pelan-pelan ke anak saya, ternyata tidak. Sama sekali bukan pem-bully-an. Anak saya tidak menganggap ada masalah serius, apalagi sampai di-bully. Tapi dasar orang Jepang, mereka sangat concern sekali dengan bully di sekolah. Bagi mereka bully adalah masalah yang super serius.

Kejadian yang sebenarnya hanyalah sebuah kesalahpahaman yang diakibatkan salah  komunikasi dalam Bahasa Jepang. Kakak-kakak kelas anak saya tadinya berusaha menerangkan sesuatu kepada anak saya, dituturkan dalam bahasa Jepang tentunya. Namun, anak saya tidak memahami mereka ngomong apa, lalu menjawab sekenanya. Nah, jawaban sekenanya itulah yang membuat mereka mendadak tertawa terpingkal-pingkal. Karena merasa ditertawakan, anak saya jadi agak hopeless karena merasa sulit berkomunikasi, dan menampakkan muka agak ditekuk, lalu seketika itu pergi meninggalkan mereka.

Ternyata, gara-gara mendadak pergi meninggalkan mereka, anak saya tidak menyangka kalau kakak-kakak kelasnya yang tadinya tertawa terpingkal-pingkal mendadak berubah menjadi khawatir dan dicekam ketakutan. Mereka takut kalau anak saya marah, ngambek dan sedih karena tersakiti hatinya. Bagi mereka, itu adalah sebuah kesalahan yang dapat dikategorikan bully, alias menyakiti perasaan seorang anak lain. Apalagi, mereka ditugaskan gurunya untuk membimbing dan membantu anak saya beradaptasi di sekolah.

Ketika mereka melaporkan kejadian itu kepada gurunya, dan ketika sang guru tidak mampu berkomunikasi dengan anak saya, akhirnya Ibu Takeuchi melakukan sesuatu yang sudah menjadi aturan di Jepang. Yaitu mendatangi apartemen kami, meminta maaf dan menjelaskan semuanya agar tidak terulang lagi kejadian serupa kedepannya. Inilah Standard Operating Procedure (SOP) yang diangkat dari budaya saling memahami dan saling membantu di Jepang. Mereka ingin menciptakan budaya tersebut sejak usia dini pada anak-anak SD.

Di Jepang, setiap siswa kelas 3, 4 dan 5 diwajibkan untuk membimbing adik-adik kelasnya. Mereka bahkan dilatih dan diberi tanggung jawab melindungi adik-adik kelas sejak berangkat jalan kaki bersama dari rumah masing-masing. Anak-anak SD di Jepang wajib berjalan kaki ketika berangkat ke sekolah, dan diwajibkan pula pulang bersama-sama dengan teman-teman dan kakak kelas yang rumahnya saling berdekatan.

Jadi, setiap pagi kita bisa melihat anak-anak di Jepang berkumpul di sebuah meeting point di dekat rumah masing-masing, lalu berangkat bersama-sama. Waktu rata-rata yang mereka tempuh untuk mencapai sekolah adalah 10 menit. Jadi, saya tidak mungkin menyekolahkan anak saya di sebuah SD di Jepang yang jaraknya jauh dari apartemen, hanya karena SD tersebut lebih favorit daripada SD dekat rumah. Di Jepang, kualitas setiap SD negeri dibuat sama, sesuai dengan standard nasional.

Tidak hanya di Jepang, ternyata SD di Australia juga menerapkan konsep yang hampir serupa, yaitu program “buddy”.

Bahkan mereka sudah mulai menularkannya ke beberapa SD di Indonesia. Hasilnya sangat luar biasa. Menyambut ajakan pemerintah Indonesia, mahasiswa Indonesia di Australia yang tergabung dalam Perhimpunan Indonesia Belajar (PIB) meluncurkan “Gerakan Sekolah Menyenangkan”. Inilah gerakan untuk mengembalikan akar sekolah sebagai tempat menyenangkan bukan sekadar penghasil nilai ujian.

Bulan September 2014 lalu, PIB bekerjasama dengan Universitas Ahmad Dahlan di Yogyakarta melaksanakan pelatihan praktik baik pendidikan (inspirasi dari sekolah di Australia) kepada guru-guru.

Salah satu sekolah yang mengikuti sharing inspirasi praktik baik adalah Sekolah Dasar Muhammadiyah Pakem yang terletak di kaki Gunung Merapi.

Dalam kesempatan korespondensi dengan Novi Candra (mahasiswa PhD Melbourne University, yang juga Project Leader Sekolah Menyenangkan PIB) menceritakan bahwa sekolah yang banyak diisi oleh siswa-siswi dari keluarga petani dan sopir truk tersebut mulai menerapkan beberapa praktik baik (buddy) tersebut.

Di sekolah tersebut, guru mulai memberikan tanda bintang kepada murid sebagai bentuk apresiasi atas pencapaian, baik berupa diraihnya prestasi akademik maupun sikap baik peserta didik. Selain itu, bentuk prestasi juga akan terus diberikan setiap minggunya di setiap upacara bendera kepada siswa yang aktif dan memiliki perilaku terpuji, sebagaimana disampaikan Novi.

Sejak menerapkan program “buddy”, yakni setiap siswa senior menjadi pelindung adik kelasnya, kenakalan menurun tajam karena setiap kakak kelas merasa memiliki tanggung jawab untuk melindungi “adik buddy” nya. Alih-alih bersekongkol untuk mengganggu, kakak kelas ini malah saling bekerjasama menjaga adik-adik kelasnya agar tidak mengalami kesusahan di sekolah.

 

Wikan Sakarinto, Pejuang Beasiswa tunas-indonesia.org – Dosen SV-UGM – Owner of Fasnetgama Training Center (fasnetgama.co.id) – Ketua Yayasan Tunas Indonesia Jepang

Tulisan ini sebelumnya pernah dipublikasikan di isigood.com. Tautannya dapat dilihat di sini.

Loading...