content detail

Bukan Sembarang Emas

Post by: 06/04/2015 0 comments 895 views
Kampus East Murray Area School dari pintu halaman depan
Kampus East Murray Area School dari pintu halaman depan

East Murray Area School, sekolah dasar yang terletak kurang lebih 200 km dari kota Adelaide, South Australia. Penulis berkesempatan mengunjungi sekolah ini sebagai bagian dari program ‘excursion’ ketika menempuh salah satu mata kuliah di Flinders University. Pak John, Pembina mata kuliah, sebelumnya telah banyak bercerita tentang sekolah ini. Dia menggambarkan sekolah ini sebagai ‘country school with excellent facilities’. “In the middle of nowhere, there’s a school with excellent facilities and programs,” kata Pak John. Di daerah pedalaman terdapat sekolah dengan program dan fasilitas unggulan, begitu kira-kira dalam bahasa kita. Menurut Pak John, pemerintah setempat justru mengalokasikan bantuan dana lebih besar kepada sekolah-sekolah yang memiliki akses terbatas.

Dari luar dan bentuk bangunan East Murray Area School, penulis tidak menangkap kesan sebagai sekolah yang representatif, melainkan malah terlihat seperti pabrik garam atau pabrik rokok. Disambut langsung oleh kepala sekolah, Pak Dr Benton Chapman, rombongan lalu dibawa ke ruang pertemuan untuk menerima penjelasan seputar sekolah dan melihat langsung program-program sekolah yang sedang berjalan. Disinilah mulai dirasakan keunikan sekolah ini. Aplikasi program-programnya mengedapankan perspektif bahwa sekolah adalah institusi sosial. Sekolah harus mampu menjembatani antara tata nilai di rumah dan sistem nilai yang berlaku di masyarakat. Seluruh warga sekolah, termasuk guru, perlu memprioritaskan pengoptimalan potensi peserta didik di sekolah dalam sebuah proses yang edukatif agar di masyarakat ada perubahan yang positif dan berarti. Relevansi dan harmonisasi antara sekolah dan masyarakat sangat penting untuk ditingkatkan agar rasa cinta peserta didik terhadap masyarakat tumbuh dan berkembang.

East Murray Area School dapat dijadikan rujukan untuk mengatasi ‘gap’ tersebut. Meski sekolah ini merupakan sekolah tingkat dasar, namun fasilitas-fasilitas dan program-program yang dicanangkannya lebih mirip SMK, seperti ekonomi perumahan, lokakarya teknologi, ICT, pusat kegiatan orang tua dan anak, perpustakaan masyarakat, berkebun, dan sebagainya. Yang paling menarik adalah peserta didik dan masyarakat setempat terlibat langsung didalamnya. Dalam program ekonomi perumahan dan lokakarya teknologi, misalnya, peserta didik diproyeksikan membuat sesuatu yang dapat digunakan untuk mendukung aktivitas sekolah dan masyarakat. Bahkan para peserta didik juga terlibat langsung dalam penyediaan air bersih, sebagai upaya sekolah membebaskan masyarakat dari persoalan tersedianya air bersih di daerah itu. Kurikulum sekolah ini juga mewajibkan peserta didik mempelajari bahasa Jepang karena Jepang adalah negara yang maju pesat dibidang teknologi.

Menurut Pak Benton, seluruh warga sekolah, mulai dari kepala sekolah, guru, hingga staf administrasi, harus dibekali pemahaman setidak-tidaknya tentang empat hal: sejarah sekolah, tradisi masyarakat, kebutuhan masyarakat, dan pengetahuan tentang lingkungan. Ditanya tentang kurikulum dan penilaian yang terkadang masih sentralistik, Pak Benton menanggapi, Salah satu sudut ruang peralatan ketrampilan East Murray Area School Yang terpenting adalah berupaya membuat kurikulum yang sentralistik itu tetap ‘hidup’ di konteks sekolah. Seluruh warga sekolah terus berupaya menemukan fleksibilitas muatan lokal dalam kurikulum, dengan tetap memperkenalkan prosedur menghadapi ujian nasional kepada peserta didik. Sama sekali tidak terlontar pernyataan kontradiktif dari Pak Benton terkait penyelenggaraan ujian nasional di South Australia.

Tentu saja semua berpulang kepada gaya kepemimpinan dan kreatifitas guru didalam merefleksikan hubungan yang ‘asyik’ antara model pendidikan yang dicanangkan dengan ‘tempat’ dimana sekolah itu berada, dan kemudian menyerahkan optimalisasi pengelolaan dan pemanfaatannya kepada generasi penerus. Dengan begitu, ketika sintesa keterkaitan ini semakin menguat, maka sikap arif peserta didik terhadap keunggulan lokal akan tertanam dalam dirinya. Freire mengistilahkan proses pendidikan seperti ini dengan dekolonisasi dan reinhabitasi, yang dapat membuat seseorang lebih manusiawi. Pengistilahan Freire ini tentu juga mengindikasikan ‘peringatan’ bahwa dunia pendidikan bisa saja memberi kontribusi bagi praktek-praktek kolonialisme dan ketidakadilan, jika proses yang dilaluinya tidak edukatif.

Merujuk pada istilah yang dikemukakan Gruenewald, East Murray Area School senyatanya mengaplikasikan apa yang disebut dengan ‘critical pedagogy of place’. Yakni sebuah proses pendidikan yang mengedepankan konteks dan tata nilai pembelajaran dari dan untuk ‘tempat’ tertentu secara spesifik (masyarakat). Sebuah ‘tempat’, menurut filosofi model pembelajaran ini, pastilah menjanjikan sesuatu, dan ‘tempat’ itu adalah mutiara terpendam yang perlu dieksplorasi agar dapat memberi manfaat bagi penanaman nilai-nilai sosial dan moral peserta didik. ‘Tempat’ adalah konteks dimana sebuah situasi bisa dipahami dan ditindaklanjuti. Secara natural, pemahaman seseorang terhadap konteks biasanya selalu mengawali pemahaman dia terhadap teks, dan pemahaman seseorang terhadap teks pada hakekatnya adalah kelanjutan dari pemahaman dia terhadap konteks. Model pembelajaran yang menganut filosofi ini bukan hanya naturalistik, tapi juga humanistik, karena akan mengarahkan peserta didik pada sebuah kesadaran (conscientizacao) akan pentingnya ‘tempat’ dimana mereka tinggal dan dibesarkan.

Lalu, mungkinkah program East Murray Area School ini diadaptasikan di Indonesia? Optimis, mungkin saja, karena ‘wadah’ program untuk itu sebetulnya sudah ada (program ‘life skills’ dan muatan lokal di setiap sekolah). Hanya saja sementara wadah itu mungkin masih ‘bocor’ sehingga belum menyisakan apapun. Penyebab ‘kebocoran’ itu bermacam-macam; diantaranya, sebagian besar sekolah masih memandang muatan lokal sebagai program pelengkap semata-mata, sebagai oposisi terhadap paradigma pendidikan yang berorientasi pada dunia kerja dan persaingan ekonomi dan sebagai kendala terhadap paradigma pembelajaran yang lebih terfokus pada mengajar demi ujian ketimbang mengajar demi kemampuan siswa. Bagaimanapun, setiap ‘kebocoran’ semestinya diatasi demi perubahan positif di masyarakat.

Apapun caranya, sangatlah penting bagi para pendidik untuk memahami bahwa pendidikan itu selalu bersifat sosio-politis, dan maka para pendidik harus dapat memberikan kesempatan yang maksimal kepada peserta didik agar menjadi agen perubahan sosial budaya yang mampu mengubah ‘tempat’ dan konteks masyarakat ke arah yang lebih baik. EMAS memang di East Murray Area, Adelaide Australia, tetapi bukan tidak mungkin EMAS-EMAS lain akan bermunculan di Indonesia, sebagai buah dari pemahaman reflektif terhadap proses pendidikan yang mengedepankan kearifan lokal.

 

Tulisan dan gambar merupakan rangkuman dari tulisan Sugiono (Kandidat PhD Social Justice In Education Deakin University Australia) yang dimuat dalam buku Sekolah itu Asik (2014). Tulisan lengkap dapat dibaca dalam buku tersebut.

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Loading...