content detail

Brooklyn Free School di Clinton Avenue Menerapkan Sekolah Demokratis, Apa itu?

Post by: 25/04/2015 0 comments 1026 views
sumber: http://www.nytimes.com/
sumber: http://www.nytimes.com/

Ujian Nasional (UN) untuk tingkat SMA/SMK/MA sederajat baru saja berakhir. Ada perasaan lega, para siswa, guru, dan orang tua bisa jadi bernafas lega setelah gelaran ujian di akhir studi. Sebaliknya, pemerintah, khususnya yang menangani pendidikan sibuk dengan evaluasi dan kritik yang membanjir setelah pelaksanaan UN. Sejak lama, UN dikritik karena dianggap membebani siswa. Lalu adakah sistem pendidikan di dunia yang memberikan kebebasan kepada siswanya?

Siang itu, suasana Brooklyn Free School di Clinton Avenue, Brooklyn, New York, terlihat kacau. Sekitar 80 orang anak yang berusia 4-18 tahun terlihat mondar-mandir tak teratur. Mereka naik turun tangga dengan ribut. Kecuali kelompok termuda, mereka berada di ruangan tersendiri memilih kegiatan yang diminatinya, beberapa anak terlihat sedang menggambar, bekerja di laptop, membaca buku, bermain permainan video, berlatih atau membangun set untuk pertunjutan teater adaptasi dari “Hairspray.”

Sementara itu, di kelas lain sekelompok anak berusia 9 tahun belajar budaya Afrika Barat pada abad 19. Mereka bersama dengan para penasihat mereka (guru disebut “penasihat” di Brooklyn Free School). Di dapur, beberapa remaja membuat kue yang rencananya akan dijual untuk mendapat uang untuk teater. Seorang gadis kecil menyapu sebuah ruangan kosong sendirian, sementara yang lain membawa keluar sampah yang dapat didaur ulang.

Sekolah ini mungkin terlihat kacau karena masing-masing anak menentukan sendiri kegiatan yang ingin dilakukan. Tidak ada yang memberitahu murid-murid itu apa yang harus dilakukan hari ini atau hari berikutnya. Terinspirasi dari filsafat pendidikan demokratis pada tahun 1600an, tidak ada kurikulum wajib, nilai, pekerjaan rumah atau ujian di Brooklyn Free School. Para murid memilih apa dan bagaimana mereka ingin belajar.

Setiap individu memiliki hak setara

Brooklyn Free School menerapkan sistem sekolah demokratis. Selain anak-anak memiliki kebebasan mengekspresikan dirinya, mereka juga setara dengan para staf. Salah satu dari persyaratan yang sedikit aneh adalah kehadiran pada pertemuan tata kelola demokratis mingguan di sekolah, di mana suara murid setara dengan para staf. Tidak semua memberikan perhatian, tapi mereka harus hadir.

Meski terlihat sangat bebas, sekolah ini tetap memberlakukan beberapa peraturan yang bersifat fleksibel. Murid-murid tetap memiliki ruang untuk memilih dan belajar mewujudkannya.

Banyak orang meragukan apakah anak-anak dapat menguasai hal-hal yang perlu mereka ketahui tanpa kurikulum wajib. Sementara itu, para advokat mengatakan sekolah bebas ini tidak untuk semua orang. Namun mereka mengatakan ini bentuk pendidikan yang mempercayai keinginan mendasar anak-anak untuk belajar dan memupuk pemikiran independen dan kritis yang diandalkan oleh demokrasi.

Dalam operasi selama 11 tahun, Brooklyn Free School telah meluluskan sekitar 24 murid dan sebagian besar telah kuliah. Murid-murid mencalonkan diri untuk kelulusan dan menulis transkrip SMA mereka sendiri. Beberapa memilih untuk mengambil ujian-ujian negara terstandardisasi dan ujian masuk universitas.

Noah Zeines, 14, mengatakan ia telah mengambil pelajaran mitologi Yunani dan matematika pada kelas-kelas siklus musim dingin, dan akan mulai mempelajari fisika dan kimia. Bagi siswa yang tertarik pada matematika disediakan jam pelajaran tambahan yang mendukung keterampilan individu. Di sisi lain, bila lebih tertarik pada bidang-bidang humaniora, sekolah ini menyediakan kelas filsafat, ekonomi dan psikologi. Tahun ini, para murid juga menginisiasi kelas-kelas geometri, studi Afrika dan penulisan analitis, untuk membantu mereka mendaftar universitas.

Selain memiliki keragaman dalam materi pelajaran, sekolah ini juga terdiri dari individu-individu yang sangat beragam. Sekitar setengah dari murid adalah berasal dari etnik Afrika Amerika atau Latino. Untuk pembayaran, sekolah ini menerapkan subsidi silang, sepertiga murid membayar di bawah US$500 per tahun dan sepertiga lainnya sekitar $10.000, sementara sisanya $22.000.

Sekolah ini dirasa sangat menyenangkan bagi para siswa. Amalia Schwarzchild mengatakan ketertarikannya pada sejarah dan studi perbandingan agama dapat terpuaskan di sekolah ini. Ia yang tak suka pada kuis dan ujian sangat menikmati suasana belajar di Brooklyn Free School. Selain itu, ia merasa sangat dihargai sebagai individu, ia punya kebebasan untuk menentukan targetnya dan mewujudkannya.

Sekolah-sekolah demokratis seperti ini dapat ditemukan di 33 negara, termasuk Korea Selatan, Jepang, India, Inggris, Jerman, Israel dan Brazil, menurut Organisasi Sumber Daya Pendidikan Alternatif. Mayoritasnya sekolah demokratis, berada di Amerika Serikat.

Kapan ya hadir di Indonesia? Sudah siapkah kita pelajar untuk bertanggung jawab pada diri sendiri?

 

Tulisan ini sebelumnya dimuat di isigood.com.

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Loading...