content detail

Bersahabat dengan Kemajemukan

Post by: 17/03/2015 0 comments 1131 views
sumber: http://www.adelaidenow.com.au/
sumber: http://www.adelaidenow.com.au/

Aku tertegun mendengar penuturan guru kelas putriku, tentang perkembangan pesat selama hampir 9 bulan di kelas persiapan (setingkat TK nol besar) salah salah satu sekolah di Australia. Masih teringat hari-hari pertama putriku, Malika, mengikuti kelas dengan penuh kebingungan karena sama sekali belum bisa berbahasa Inggris. Ia memahami satu pun instruksi dari gurunya. Ia berbaris di kelas yang salah, mengantri di tempat yang salah, dan selalu terlambat mengerjakan pekerjaan di kelas, karena tidak mengerti apa yang harus dikerjakan.

“Tapi, lihatlah Malika sekarang. Ia seorang anak pandai yang riang dan punya banyak teman,” kata sang guru sambil tersenyum bangga, “It’s my pleasure to have her in my class.”

Setelah pertemuan itu, aku banyak berpikir tentang Malika dan sekolahnya, tentang guru dan anak-anak di kelasnya yang tampak begitu senang bersekolah. Aku ingat sekali, sejak hari pertama sekolah dimulai, tidak pernah satu kalipun Malika mogok sekolah. Seringkali di pagi hari kuamati dengan seksama sikapnya sambil membantunya mempersiapkan perlengkapan sekolah. Namun, setiap pagi pula kutemui hal yang sama, ia pergi ke sekolah dengan riang, tanpa beban, tanpa rasa takut.

Hal ini menguatkan apa yang selama ini diam-diam kuyakini dalam hati, bahwa para guru dan seluruh siswa di sekolahnya menerapkan sebuah nilai kehidupan yang sungguh penting: ketulusan menerima, menghargai dan mencintai setiap orang tanpa memandang perbedaan yang mereka miliki. Nilai yang tak asing bagi kita di Indonesia, bukan? Di negeri kita yang kaya akan kemajemukan, nilai toleransi dan saling mencintai diajarkan oleh semua agama dan diperkenalkan melalui kurikulum sekolah.

Di sekolah Malika, kesadaran semacam ini tidak diajarkan secara teori, namun dibangun terus menerus dan dijadikan rutinitas harian oleh semua anggota sekolah. Caranya bermacam-macam. Salah satu metode sederhana yang menarik perhatianku adalah bahwa ia dan setiap anak di kelasnya didorong untuk mengenali dirinya sendiri dan mencari tahu banyak hal di seputar kehidupannya, seperti struktur dan latar belakang keluarga, daerah asal serta budayanya, dan lain sebagainya. Suatu kali, misalnya, Malika pulang sekolah dan menanyakan padaku banyak hal tentang Indonesia. Kuceritakan padanya semua yang ingin diketahuinya, termasuk menunjukkan letak Indonesia di peta. Semua itu menarik perhatiannya dan didengarkannya dengan sungguh-sungguh.

Seiring dengan meningkatnya kemampuan Bahasa Inggris dan tingkat interaksinya dengan teman-temannya, ia mulai memahami bahwa teman-temannya ada yang berasal dari Malaysia, Vietnam, India, Inggris, dan negara-negara lain. Padaku ia sering bertanya tentang negara-negara tersebut dan mulai bisa menghubungkan dengan kebiasaan dan pola budaya teman-temannya. Yang terpenting bagi anak seusia Malika bukanlah pengetahuannya tentang negara-negara di dunia, tetapi kesadarannya bahwa dunia yang luas ini dihuni oleh orang-orang yang beraneka ragam. Sekali diperkenalkan, kesadaran ini akan terus tumbuh dan berkembang dalam diri anak-anak dan menjadikan mereka peka dalam menghadapi keberagaman yang mereka temui di lingkungan sosial. Kesadaran semacam ini sangat perlu dibangun dalam diri anak-anak sekolah di seluruh Indonesia mengingat kita merupakan bangsa yang akrab dengan kemajemukan.

Semangat persahabatan dapat dibangun melalui berbagai cara. Salah satu yang menarik adalah penyelenggaraan Harmony Day, yaitu semacam perayaan budaya yang menampilkan kemajemukan komunitas sekolah. Dalam acara ini, setiap orang, mulai dari para siswa, majelis guru hingga orangtua, diminta untuk berbusana tradisional negara masing-masing dan bersama-sama menikmati pentas budaya, seperti tari-tarian, yang ditampilkan oleh para siswa. Acara makan siangpun dikemas secara multikultural di mana tiap orangtua murid dapat menyumbangkan makanan khas negara masing-masing untuk dimakan bersama-sama. Menariknya, tiap penyumbang makanan diminta untuk menyiapkan catatan ringkas tentang kandungan makanan yang dibawa sehingga para siswa yang tidak boleh memakan makanan tertentu bisa mengetahui menu yang ingin dipilihnya.

Lagi-lagi aku terkesan oleh prosedur sederhana ini yang mencerminkan praktik nyata penghargaan terhadap perbedaan budaya dan agama dalam komunitas sekolah. Tradisi lain yang sarat nilai persahabatan yang diterapkan oleh sekolah Malika dan banyak sekolah di seluruh Australia adalah metode “buddy“. Dalam sistem ini, kepada setiap siswa baru diberikan seorang buddy atau sahabat, yaitu seorang anak dari kelas yang lebih tinggi yang berkewajiban membantu si anak baru mengenal lingkungan sekolah. Dari cerita Malika, aku mengetahui bahwa para kakak kelas yang menjadi buddy ini kadang-kadang diundang bergabung ke kelas siswa baru untuk membantu sahabat kecilnya mengerjakan tugas sekolah bersama-sama.

Metode ini efektif dalam menumbuhkan nilai-nilai positif dalam diri siswa yang menjadi buddy maupun siswa baru yang dibantunya. Seorang buddy akan belajar bertanggung jawab terhadap orang lain dan akhirnya akan termotivasi untuk lebih menghargai dirinya sendiri karena mampu membantu orang lain beradaptasi. Hal ini sesuai dengan banyak literatur pendidikan yang kubaca yang mengatakan bahwa kesempatan untuk membantu orang lain sangat penting diberikan pada anak-anak karena dapat menumbuhkan kepercayaan dirinya.

Hal penting ketiga yang kucatat dari sekolah Malika dalam meneladankan persahabatan adalah sikap guru yang hangat terhadap semua siswa dan orang tua siswa dengan latar belakang sosial apapun. Setiap pagi, guru berdiri di depan kelas menyapa setiap siswa yang masuk dengan ramah. Seringkali mereka terlibat percakapan dengan para orang tua siswa yang mengantar. Topiknya tidak selalu mengenai perkembangan anak-anak di kelas, tapi juga banyak hal lain di luar itu.

Pada akhirnya aku memahami kenapa Malika begitu mencintai sekolah. Aku tidak lagi heran kenapa masa-masa awal sekolah yang sulit tetap dilaluinya dengan riang. Sejak hari pertama bersekolah, ia jelas langsung merasa diterima dengan hangat oleh semua orang meskipun pada saat itu ia seorang anak baru yang berasal dari negeri yang jauh dan sama sekali belum bisa berkomunikasi dengan mereka. Semangat persahabatan telah menjadi dasar bagi komunitas sekolah untuk menerima dan mencintai perbedaan yang ada di antara setiap orang.

Jika dipikirkan dengan seksama, dua tahap pengembangan nilai toleransi dan saling mencintai yang diterapkan di sekolah Malika sungguh amat sederhana dan tidak membutuhkan waktu dan biaya khusus. Yang dibutuhkan hanyalah komitmen tulus para pendidik dan orang tua untuk terus menerus mengembangkan kesadaran akan pentingnya toleransi dan rasa saling mencintai yang sebetulnya secara alamiah telah dimiliki oleh anak-anak. Terinspirasi oleh Malika dan teman-teman kecilnya, serta guru-guru baik hati di sekolahnya, diam-diam aku berjanji untuk melakukan hal yang sama sebagai pendidik ketika kembali ke tanah air. Dengan pendidikan yang baik yang meneladankan toleransi secara nyata, suatu saat negeri kita akan dipimpin oleh generasi yang mampu merayakan kemajemukan Indonesia sebagai kekuatan yang menyatukan, bukan memecah belah.

 

Tulisan merupakan rangkuman dari tulisan Delita Sartika (Mahasiswi doktoral pada jurusan Languages, Literatures, Cultures and Linguistics di Monash University, Australia) yang dimuat dalam buku Sekolah itu Asik (2014). Tulisan lengkap dapat dibaca dalam buku tersebut.

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Loading...