content detail

Belajar dari Kearifan Sekolahnya Arief

Post by: 10/04/2015 0 comments 1129 views
sumber: http://www.adelaidenow.com.au/
sumber: http://www.adelaidenow.com.au/

“Belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu

Belajar sesudah dewasa, laksana mengukir di atas air

Jangan sedih yatim piatu, tiada punya ayah dan ibu

Tapi sedihlah tak punya ilmu, jalan yang mana yang mana hendak dituju.”

Saya teringat ketika guru saya menjelaskan pepatah ini. Kata beliau, belajar itu tidak terikat oleh waktu dan tempat. Tidak harus menunggu sesudah dewasa baru banyak belajar. Bahkan nabi Muhammad SAW mengatakan, tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahat. Belajar bisa dimulai sedini mungkin dan bahkan masa-masa dini ini merupakan saat-saat emas untuk belajar. Masa-masa mengukir di atas batu.

Perlu bertahun-tahun untuk meresapi dan mengamalkannnya. Saya bergumam, “Orang yang mendidik anak di masa dininya itu berarti sangat visioner, karena dia tahu bahwa apa yang dia didik sekarang akan membekas kuat dalam benak dan hati sang anak. Apa yang anak-anak tangkap akan tersimpan dengan baik dalam lumbung memori mereka hingga mereka dewasa. Dan itu akan membentuk perilaku dan kepribadian mereka.”

Saya baru melihat prinsip ini sebagai praktik pendidikan yang nyata ketika saya dan keluarga tinggal di Adelaide pada tahun 2011. Saya banyak belajar memahami prinsip ini melalui anak saya dan lingkungan pendidikan serta sosialnya. Tidak hanya memahami bahwa belajar itu penting sejak sedini mungkin, tetapi juga memahani hakikat sebenarnya dari belajar itu juga sangat penting.

Suatu hari, saya bersama istri mengantar Arief, anak kami, masuk ke salah satu childcare centre di Adelaide. Hati saya saat itu mengatakan: “Yes, akhirnya si Arief bisa ‘dititipkan’ dan saya bisa fokus melakukan pekerjaan lainnya.” Namun, Perkembangan Arief di sekolahnya menggelitik imaginasi-imaginasi saya mengenai ‘penitipan.’ Dan ini dimulai ketika baru seminggu di childcare centre itu, Arief sudah mulai berbicara sepatah dua kata. Ajaibnya lagi, dia berbicara dalam bahasa lokal. Maklum, ketika berangkat ke Adelaide, ia belum bisa bicara sama sekali, bahkan tidak bisa menyebut satu katapun dalam bahasa Indonesia.

Imajinasi saya itu kemudian terbawa untuk mencari tahu kenapa anakku dalam waktu yang singkat itu sudah bisa mulai berbicara? Saya akhirnya memberanikan untuk observasi di kelasnya sambil melihat apa yang dilakukan Arief di sekolah. Satu hal yang kami tangkap, komunikasi yang hangat dan interaktif tampak dalam hampir semua kegiatannya di kelas. Selama ini saya juga berkomunikasi dengan si buah hati itu. Tapi setelah mau jujur pada diri sendiri, ternyata memang komunikasi yang saya bangun dengan Arief tidak sehangat dan seinteraktif gurunya.

Imajinasi mengenai childcare centre sebagai tempat ‘penitipan’ berangsur mulai digoyahkan oleh perkembangan Arief itu. Ada suatu insiden menarik dalam perjalanan kami dari rumah ke satu shopping centre pada saat weekend. Arief sudah duduk di stroller. Tetapi, Arief mengatakan bahwa dia tak mau pergi sebelum mamanya memasang seat belt pengaman yang ada di strollernya. Tak lama setelah kami di mobil, Arief meminta kami mengenakan sabuk pengaman di mobil sebelum berangkat.

Pernah suatu saat kami lupa memasangnya, dia kontan marah. Hmmm, dalam pikirku, ada hal lain yang baru dalam Arief. Anak sekecil ini sudah mengerti tentang peraturan keselamatan. Usut punya usut, ternyata memang di kelasnya sudah dididik hal-hal yang menurut kami itu remeh: keselamatan diri (well-beings) si anak. Asumsi kami selama ini sebagai orang tua, ini sesuatu yang hanya bisa dimengerti oleh orang dewasa.

Tidak hanya di sekolah, tampaknya keseriusan untuk mendidik karakter anak sejak dini saya lihat sudah menjadi fenomena umum dalam lingkungan sosial tempat kami tinggal kala itu. Hal ajaib lain yang membuat kami semakin sadar adalah ketika kami dipanggil oleh guru kelas Arief. Ia guru mem-brief kami mengenai beberapa hal mengenai perilaku Arief selama di rumah. Alangkah malunya kami ketika ia menjelaskan bahwa Arief sudah diajarkan untuk memakai baju sendiri dan tidak lagi nyusu botol. Bahkan sudah dilakukan toilet training. Kami baru sadar dengan perilaku kami sebagai orang tua. Sebab, di rumah masih kami pakaikan diapers, kalau ke toilet juga masih kami temani, bahkan kami kasih botol untuk minum susu.

Hati kami terenyuh dan menjerit. Bukankah harusnya kami sebagai orang tua yang mengatakan itu kepada sang guru? Runtuhlah semua imajinasiku mengenai childcare centre sebagai tempat ‘penitipan’ sebagaimana yang sudah ada dalam praktik sosial di kampung kami. Saya merasa malu tetapi sangat bersyukur karena sudah ada yang mengingatkan. Kami ternyata disadarkan oleh anak kami sendiri.

Kejadian itu menjadi sebuah batu ukiran sejarah bagi kami sebagai keluarga. Semenjak itu tidak ada lagi yang sama di rumah. Kami semua menerapkan apa yang diterapkan guru di kelasnya. Kami semua secara tidak resmi sudah menjadi ‘murid’ di childcare centre itu. Arief sudah jauh lebih mandiri dari yang kami duga. Dia tidak perlu lagi pakai diapers, bisa pakai baju sendiri, bahkan pergi ke toilet sendiri.

Ada hal lain yang membuat kami hingga sekarang tidak bisa melupakan sekolah Arief dan juga Adelaide. Kami belajar bagaimana menjadi guru bagi anak sendiri melalui gurunya. Satu hal yang kami petik dari pengalaman Arief, guru bukan hanya menjadi tempat lumbung ilmu, tetapi juga lumbung kasih sayang yang universal. Tidak ada sekat-sekat dalam kasih sayang.

Kami belajar dari kearifan childcare centre tempat Arief belajar. Kami belajar dari keariefan gurunya. Kami belajar dari lingkungan sosial Arief. Kami belajar betapa pentingnya menanamkan pendidikan karakter sedini mungkin. Childcare Centre Arief dan lingkungan tempat kami tinggal menyadarkan kami betapa pentingnya belajar sedari dini. Begitupula belajar tidak hanya terbatas pada kegiatan akademik, tapi bagaimana pengajaran itu diterjemahkan dalam perilaku dan tindakan sehari-hari, sebagaimana yang kami lihat dalam pertumbuhan Arief. Kami mulai sedikit demi sedikit mengerti apa yang dimaksud dalam lagu qasidah di atas, “Belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu…”

 

Tulisan merupakan rangkuman dari tulisan Agus Salim (kandidat PhD di bidang diplomasi publik di University of Melbourne, Australia) yang dimuat dalam buku Sekolah itu Asik (2014). Tulisan lengkap dapat dibaca dalam buku tersebut.

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Loading...