content detail

Bekal Sehat Bebas Sampah

Post by: 15/04/2015 0 comments 2109 views

Kebiasaan membawa uang saku dan jajan sangat popular di kalangan anak Sekolah Dasar (SD) di Indonesia. Jajanan favorit anak-anak biasanya adalah makanan kemasan yang mempunyai kemasan yang atraktif, warna yang menarik dan rasa yang cukup kuat. Bisa dikatakan jajanan tersebut sangat sedikit nutrisinya dan tentu tidak baik untuk kesehatan jika dikonsumsi terus menerus.

sumber: http://www.mirror.co.uk/
sumber: http://www.mirror.co.uk/

 

Penelitian dari Ikatan Dokter Indonesia menyebutkan bahwa 68% sample jajanan anak yang lazim dijual disekolah mengandung rhodamin, zat pewarna textile, borax atau tercemar kuman berbahaya. Lebih parahnya, data dari Badan POM menyebutkan bahwa keracunan pada anak-anak lebih sering terjadi di sekolah dibandingkan di lokasi lain.

Meskipun polemik bahaya jajanan anak-anak ini cukup serius, sepertinya belum ada solusi yang cukup tepat untuk mengatasinya. Solusi yang ada saat ini masih bersifat lokal berupa kebijakan sekolah, belum merupakan gerakan nasional. Beberapa sekolah sudah mulai berinisiatif untuk mengurangi kebiasaan siswa jajan sembarangan. Sekolah-sekolah ini misalnya menetapkan kebijakan yang melarang penjual makanan berjualan di sekitar sekolah, mewajibkan siswa untuk berbelanja di kantin resmi sekolah, menetapkan mata uang resmi sekolah yang hanya bisa digunakan di kantin sekolah dan mewajibkan siswa untuk membawa bekal ke sekolah.

Sebenarnya salah satu solusi yang sangat mudah adalah mewajibkan siswa untuk membawa bekal makanan ke sekolah. Tetapi, secara rata-rata hanya  39% anak SD yang membawa bekal makanan ke sekolah. Pada umumnya anak-anak mendapatkan uang saku yang bisa digunakan untuk jajan di sekolah.

Berbeda dengan di Australia, membawa bekal ke sekolah sangat umum dilakukan. Mereka biasa membawa dua jenis bekal, makanan ringan dan makanan berat untuk makan siang. Jika kadang-kadang tidak sempat untuk membuat bekal, orang tua bisa memesan makanan untuk anaknya melalui jasa catering yang siap mengantar makanan ke sekolah anak pada waktu makan siang. Dengan kebiasaan ini, sangat jarang ditemui anak membawa uang saku ke sekolah.

Di sekolah tertentu, bahkan ada aturan-aturan tentang makanan apa saja yang boleh dibawa ke sekolah. Di sekolah anak saya aturannnya adalah nude food policy. Makanan yang dibawa ke sekolah harus “telanjang”, artinya tidak boleh membawa makanan yang ada kemasannya. Tujuannya adalah supaya anak-anak membawa makanan rumahan yang segar, sehat, bernutrisi, tidak berkemasan sehingga mengurangi sampah yang dibuang di sekolah.

Nude food policy ini merupakan gerakan nasional yang diprakarsai oleh organisasi nirlaba yang mempromosikan kesehatan dan gaya hidup sehat di Australia. Gerakan ini mendapatkan dukungan yang luar biasa dari berbagai macam pihak, termasuk pemerintah, kalangan bisnis dan sekolah-sekolah di Australia. Dengan mengadopsi nude food policy, sekolah dinilai ikut berperan dalam menciptakan generasi sehat yang cinta lingkungan.

Lalu makanan apa saja yang bisa dibawa ke sekolah? Pada dasarnya semua jenis makanan yang tidak berkemasan bisa dibawa ke sekolah. Misalnya roti, pasta, mie, nasi dan lauk pauk, buah-buahan segar, atau makanan ringan tanpa kemasan. Makanan ini harus ditempatkan di kotak bekal dan tidak boleh dibawa menggunakan kemasan plastik. Biasanya di awal tahun ajaran baru, sekolah mengirimkan brosur tentang contoh-contoh makanan yang bisa dibawa kesekolah.

Sekolah sangat menganjurkan anak-anak untuk membawa bekal berupa buah dan sayur sayuran. Untuk meningkatkan minat anak pada buah dan sayur, pernah suatu waktu sekolah mengadakan fresh market day, dimana anak-anak diajak untuk mencicipi beberapa jenis sayuran dan buah-buahan segar di sekolah.

Setidaknya ada tiga manfaat yang bisa didapatkan oleh sekolah ketika mengadopsi kebijakan ini. Manfaat yang pertama adalah sekolah ikut berperan aktif dalam menciptakan generasi sehat dan kuat. Bukan merupakan keraguan bahwa kesehatan adalah salah satu kunci untuk menciptakan generasi unggulan. Sekolah, sebagai salah satu elemen penting dalam perkembangan generasi penerus, mempunyai tugas penting untuk mengajarkan gaya hidup sehat untuk anak-anak. Dengan mengharuskan membawa bekal, sekolah ikut berperan aktif dalam mengurangi kebiasaan anak jajan sembarangan, mengurangi bahaya keracuan makanan dan mengurangi dampak jangka panjang yang ditimbulkan oleh makanan kemasan pada anak-anak. Kebutuhan energi anak-anak untuk belajar dan bermain dapat dicukupi dengan bekal yang lebih sehat yang disiapkan dari rumah.

Manfaat yang kedua adalah sekolah ikut berperan dalam mengurangi sampah dan menanamkan kepedulian lingkungan para siswa. Dengan membawa makanan tanpa kemasan, sampah disekolah dapat dikurangi secara signifikan. Di Australia, sampah dan bahayanya terhadap lingkungan menjadi topik penting yang diajarkan di sekolah. Siswa diajarkan untuk memilah jenis sampah dan membuang sampah sesuai dengan jenisnya. Setidaknya ada tiga jenis tempat sampah di sekolah, yakni compost untuk sisa makanan, trash untuk sampah yang tidak bisa didaur ulang dan recycle untuk sampah yang bisa didaur ulang. Anak-anak sudah mengenal tanda-tanda sampah yang bisa untuk didaur ulang. Kebijakan membawa bekal tanpa kemasan bertujuan untuk mengurangi sampah yang tidak bisa didaur ulang yang akan mengganggu kestabilan ekosistem.

Manfaat yang ketiga adalah menghemat anggaran uang jajan dan mengajarkan anak untuk lebih bijaksana dalam menggunakan uang. Dengan membawa bekal dari rumah, orang tua tidak perlu memberikan uang saku pada anak-anak setiap hari. Di sekolah anak saya, hanya pada hari-hari tertentu sekolah akan menjual makanan kecil seperti pop-corn, es lilin, pie dll. Beberapa hari sebelumnya sekolah akan mengumumkan bahwa mereka akan berjualan di sekolah. Hanya pada saat itu, anak-anak akan membawa uang saku ke sekolah.

Kebijakan membawa bekal yang tidak berkemasan adalah kebijakan yang sangat sederhana. Tapi kebijakan ini mempunyai dampak yang luar biasa. Sekolah ikut serta dalam menciptakan generasi sehat yang cinta lingkungan. Menciptakan generasi yang cerdas, bertanggung jawab dan penuh empati adalah  suatu keniscayaan. Tetapi, kesehatan yang buruk bisa menjadi penghalang pencapaian tujuan tersebut. Makanan sehat adalah salah satu kunci untuk menciptakan generasi unggulan.

 

Tulisan merupakan rangkuman dari tulisan Aimatul Yumna (mahasiswa PhD dibidang Microfinance di Deakin University Australia) yang dimuat dalam buku Sekolah itu Asik (2014). Tulisan lengkap dapat dibaca dalam buku tersebut.

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Loading...