content detail

19 Tips Membuat Ngobrol Jadi Asyik Sama Anak

Post by: 26/03/2015 0 comments 938 views
sumber: http://cantiq.us/
sumber: http://cantiq.us/

Kemampuan orang tua di dalam mengobrol dengan anak, dan kualitas obrolan tersebut akan sangat mempengaruhi kehidupan anak di masa kini dan masa depan. Dari sebuah obrolan asyik antara orang tua dan anak, banyak hal akan tergali, dan banyak hal yang bisa dipersiapkan untuk mengantarkan anak menapaki kehidupan masa depan mereka. Begitu pula, bagi orang tuanya, akan menghasilkan berlimpah manfaat bagi keluarga mereka.

Tips dibawah ini dirangkum dari berbagai diskusi dan pengalaman praktis beberapa orang tua bersama anak-anak mereka.

1. Mengobrol jangan hanya pas anak-anak kita ada masalah, atau pas kita butuh/ingin menasehati anak. Kalau hal ini yang kerap terjadi, maka kitalah yang “butuh” ngobrol, bukan anak-anak kita yang membutuhkan kita sebagai ‘teman mengobrol’. Misalnya, setiap kali ngobrol isinya hanya menegur mengapa prestasi belajarnya turun. Harap menjadi perhatian: Masalah atau problematika yang dialami seorang anak sangat mungkin berawal/disebabkan dari masalah kita, yang tanpa kita sadari terpancar dari keseharian kita. Anak-anak kita akan menangkap dan memaknai pancaran masalah kehidupan orang tuanya tergantung daya tangkap dan imajinasi pemaknaan mereka.

2.Dengarkan mereka. Orang tua harus benar-benar hadir untuk menjadi pendengar yang baik. Ikuti dan arahkan segala ocehan dan perkataan anak kita.

 3. Amati gesture (bahasa tubuh) anak ketika bercerita. Berilah reaksi positif dan ciptakan gesture orang tua yang mampu mengimbangi gesture anak ketika bercerita sesuatu.

 4. Masuklah ke dalam level substansi, jangan hanya di kulit luarnya saja. Karena lama-kelamaan anak akan mampu berpikir, kenapa yang ditanyakan orang tuanya topiknya itu-itu aja. Akhirnya anak akan merasa orang tua melakukannya hanya untuk formalitas atau basa-basi. Oleh karena itu, disinilah pentingnya orang tua agar mampu menciptakan pertanyaan-pertanyaan yang cerdas dan dinamis disesuaikan dengan alur dan dinamika pembicaraan. Caranya, masuklah ke dalam kehidupan mereka, buatlah mereka mau membuka pintu kehidupannya untuk dimasuki secara bijak oleh orang tuanya.

5. Lakukan kapan saja dan di mana saja, jangan hanya di rumah. Kalau hanya dilakukan di rumah maka akan tercipta sebuah “rutinitas” di benak anak-anak kita. Maknanya akan lain, karena seolah-olah akan menjadi sekolah kedua (yang membebani mereka). Lakukanlah di perjalanan, di tempat umum, dan tempat-tempat lain yang mampu memancing fokus dan keriangan mereka. Fokus dan rasa riang gembira inilah kunci masuknya pesan-pesan moral dari orang tua.

6. Gunakan kata-kata dan kalimat-kalimat yang mengandung kebaikan dan inspirasi. Jangan ajari mereka menjelek-jelekkan orang lain atau selalu membahas hal-hal negatif yang biasanya tak jauh-jauh dari keluhan dan kekuatiran dalam hidup. Lebih baik, pujilah orang lain secara proporsional, faktual dan wajar untuk menginpirasi anak kita agar meniru kebaikan-kebaikan yang dilakukan orang lain.

7. Pilihlah topik yang pas. Jangan terlalu memaksakan topik yang tidak pas dengan situasi dan kondisi. Tapi jangan ragu apabila anda sebagai orang tua merasa wajib melakukannya saat itu juga.

8. Orang tua harus update dengan perkembangan atau trend dunia anak-anak kita masa kini. Hal ini sangat memudahkan orang tua untuk masuk ke dunia mereka. Dengan kata lain, chemistry-nya akan semakin ‘dapat’ ketika mengobrol.

9. Lakukan dengan konsisten, jangan sampai terlalu lama tidak berhubungan dengan mereka. Konsistensi inilah yang akan membentuk pola pikir dan kecerdasan pribadi mereka. Bisa dibayangkan apabila ada seorang orang tua yang mampu dengan konsisten mengucapkan 2000 kata baik dan berkualitas per hari. Dan orang tua lain hanya 200 kata per hari. Dalam beberapa tahun kedepan, ada seorang anak yang telah mendengar 20 juta kata kebaikan dan seorang anak lainnya mendengar 2 juta kata. Ditinjau dari aspek kuantitas, maka 20 juta kata akan mencetak hasil yang lebih mendalam.

10. Mengobrol sambil menemani anak-anak kita belajar. Jangan cukup hanya dengan mengandalkan kursus Matematika atau kursus mata pelajaran lainnya. Ajarilah mereka secara langsung. Buatlah metode pengajaran yang simple dan solutif bagi anak. Karena kemampuan anak di dalam menangkap dan memahami pelajaran berbeda-beda. Hati-hati, terkadang metode kita tidak cocok dan kadang berlawanan dengan metode yang digunakan guru-guru mereka di sekolah.

11. Mengobrol sambil memuji dan memberi penghargaan atas prestasi anak. Orang tua jangan terlalu mendewa-dewakan prestasi belajar (kognitif) anak. Berilah juga perhatian dan penghargaan kepada prestasi soft-skill dan peningkatan kualitas budi pekerti mereka. Lakukanlah hal ini dalam setiap obrolan dengan mereka. Misalnya selain memuji prestasi belajar dan ranking di kelas, berilah pujian yang tulus pada kebiasaan anak yang sering tersenyum, berlaku sopan di sekolah dan rajin membantu teman-temannya. Hal ini dapat ditanyakan kepada guru-guru dan teman-temannya di sekolah.

12. Jangan terlalu sering membanding-bandingkan apa yang dicapai anak kita, dengan prestasi anak-anak lain. Apalagi bila dilakukan dengan nada mengintimidasi anak yang mengakibatkan munculnya rasa rendah diri dan tidak pede yang berujung pada perasaan tertekan. Namun terkadang tidak salah bila kita memberi challenge atau tantangan yang realistis dan terukur kepada anak. Tips-nya, kalau kita beri mereka tantangan, maka harus disertai bimbingan dan arahan bagi mereka. Sehingga mereka merasa orang tuanya berada di pihaknya untuk bersama-sama menaklukkan tantangan tersebut.

13. Ketika mengobrol, tidak salah bila orang tua terkadang menegur dan memarahi anak kalau memang harus dilakukan oleh orang tua. Tapi jangan sampai emosi orang tua ikut terpancing terlalu jauh. Berbuat kesalahan adalah bagian dari pembelajaran hidup. Jadi, buatlah pemaknaan tentang kesalahan mereka, sehingga bisa membangkitkan rasa tanggung jawab mereka terhadap akibat dari kesalahan mereka. Kuncinya, tumbuhkan rasa patuh pada diri anak terhadap orang tuanya, tanpa menimbulkan gap kedekatan hati diantara orang tua dan anak.

14. Jangan pernah merasa capek untuk mengulang-ulang sesuatu. Karena pada dasarnya inilah falsafah dasar di dalam mendidik anak. Yaitu di dalam mengajari dan membentuk seorang anak memang sudah menjadi kodrat bagi orang tua untuk mengulang, dan mengulang, dan mengulangnya terus hingga tercapai tujuannya. Kuncinya adalah kesabaran dan metode cerdas. Hati-hati, kadang anak menjadi bosan ketika diingatkan berulang-ulang tentang suatu hal. Perhatikan perubahan emosi mereka, dan lakukan improvisasi pembicaraan, tergantung dari situasi dan kondisi yang berkembang dan tergantung dari karakter anak.

15. Beri perhatian khusus kepada hobi anak kita. Bila memungkinkan, lakukanlah hobi tersebut bersama-sama dengan anak kita. Sehingga kita akan memiliki kesempatan yang lebih terbuka untuk membangun pembicaraan yang hangat, asyik dan kondusif.

16. Berikan senyum ikhlas dan penuh doa ketika kita mengobrol dengan anak. Jaga pernafasan kita agar tetap tenang dalam keadaan apapun dan secapek/sepenat apapun karena beban kerja di kantor. Ingat, anak bukan tempat pelampiasan masalah pekerjaan orang tua di kantor.

17. Pahami aspek-aspek penting untuk memancing perhatian mereka, yaitu 1) Memahami substansi dan materi obrolan, 2) Intonasi bicara, 3) Gesture tubuh (Bahasa Tubuh). Mana yang ampuh diantara ketiga aspek tersebut untuk memancing perhatian anak ketika mengobrol? Menurut sebuah survey, urutannya sebagai berikut: Gesture (Bahasa Tubuh) sekitar 50%, intonasi bicara 30% dan subtansi/materi obrolan 20%. Silakan dipraktekkan, apakah cocok dengan karakter anda dan anak anda.

18. Ajak mereka kadang melihat ke “atas”, kadang melihat ke “bawah”. Anak-anak dibiasakan menengok keberhasilan anak atau keluarga lain, untuk menginspirasi mereka. Mereka harus dibiasakan pula melihat anak dan keluarga lain yang kurang beruntung, untuk melatih mereka bersyukur atas segala karunia-Nya.

19. Berilah tauladan yang baik. Cara inilah yang paling ampuh, yaitu memberi contoh dan dilakukan terus menerus. Anak kita akan merekam tauladan kita dengan seluruh panca inderanya dan tertanam menjadi sebuah inspirasi. Setelah itu, obrolan akan makin asyik dan bermakna.

Inggar Irawati, Dosen JTSL Fakultas Teknik UGM, Ibu dari dua orang anak, Pecinta Lingkungan, Penggiat Konstruksi Bambu, Pejuang Beasiswa Tunas Indonesia Jepang

Tulisan ini pernah dimuat di isigood.com.

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Loading...